
Shinta yang mendengar perkataan Rianti langsung mengangguk penuh keyakinan, seolah sedang membela sahabatnya itu.
Melihat pembelaan yang Shinta berikan, membuat Jessika semakin meradang. Ia berjalan maju hendak melayangkan tangannya ke pipi Rianti, namun dengan cepat seseorang menahannya.
Jessika begitu terkejut saat orang yang menahan tangannya adalah Ardi, orang yang sudah lama ia suka.
"Pak Ardi ..." ucap Jessika terbata-bata. Ia mendadak takut kalau Ardi mengetahui perbuatannya yang bisa di bilang sangat kasar.
Ardi melepaskan tangan Jessika hingga ia hampir terjatuh.
"Pak Ardi sejak kapan ada di sini?" tanyanya.
"Sudah lumayan lama, sehingga saya bisa melihat sikap kasarmu itu," jawab Ardi seraya menatap tajam pada Jessika.
"Pak itu salah paham, saya hanya melakukan hal yang benar," elak Jessika
"Apa maksudmu dengan hal yang benar! Apa memukul orang itu bisa dibenarkan. Apalagi dengan alasan yang tidak masuk akal. Saya sebagai pendidik merasa gagal mendidikmu yang masih saja percaya dengan kata 'pembawa sial'. Apa itu yang kau pelajari selama bertahun-tahun! Apa itu yang kami ajarkan kepadamu!" ucap Ardi dengan nada penuh penekanan. Ia tidak terima istri tercintanya dipukul dan dipermalukan seperti itu. Ia dekati tubuh lunglai Rianti dan memeluknya erat.
"Saya benar, Pak. Dia itu memang pembawa sial. Bapak sebaiknya tidak dekat-dekat dengannya."
Mendengar perkataan Jessika membuat Ardi tersenyum sinis pada Jessika.
"Apa katamu! tidak boleh dekat dengannya? Bagaimana mungkin saya tidak boleh dekat denganya, kalau dia ini sebenarnya adalah istri saya." Ardi semakin mengeratkan pelukannya.
Mendengar pernyataan itu, Jessika menjadi terkejut begitu juga dengan mahasiswa yang dari tadi menyaksikan pertengkaran mereka.
"Apa! Bapak pasti bercanda, kan. Bagaimana bisa Bapak menikahi Rianti!"
"Tentu saja bisa, karena saya mencintainya. Jadi jangan sampai kau melukai atau mengusiknya lagi. Saya tidak akan tinggal diam. Camkan itu!"
Ardi pun menggenggam tangan Rianti dan berjalan keluar dari cafe. Setelah merasa cukup jauh dari keramaian, Ardi menghentikan langkahnya dan memilih duduk di bangku taman kampus. Ia pegang kedua bahu istrinya dan menatap dalam-dalam mata Rianti.
"Apakah sakit?" Ardi memegang pipi kiri Rianti yang masih terlihat memerah. Nampak raut kesedihan di wajahnya.
Rianti mengangguk kecil dan memegang tangan suaminya itu.
"Maafin aku Mas, dan terima kasih telah membelaku."
Ardi menarik wajah Rianti ke dalam dada bidangnya, dan mengusap pelan rambut sang istri.
"Sudah sepantasnya seorang suami melindungi istrinya. Mas akan melakukan itu sampai kapanpun. Jadi jangan pernah takut. Mas akan selalu berada di sisimu. Tidak peduli kau benar ataupun salah."
Ardi menghela napasnya dengan perlahan.
"Maafin aku. Ini bermula karena aku. Aku berjanji akan menebus semua kesalahan yang telah aku perbuat kepadamu, seumur hidupku." batin Ardi.
__ADS_1
Rianti hanya mengangguk pelan dan menyeka matanya yang mulai kembali berair.
"Ini lah yang membuat Mas cemas, Mas takut kalau sesuatu terjadi padamu di saat Mas tidak bersamamu, dan juga ... maafin Mas, Mas terlalu sibuk dengan urusan kampus sehingga lupa untuk menjagamu." Ardi mencium pucuk kepala Rianti dan mengeratkan pelukannya.
Rianti melepaskan pelukan Ardi.
"Kenapa?" tanya Ardi heran.
"Aku malu Mas, banyak orang yang ngeliatin kita," jawab Rianti.
Ardi melihat kesekeliling, dan memang benar banyak mahasiswa dan mahasiswi yang sedang melihat kemesraan mereka, bahkan ada beberapa dari mereka yang terlihat mengabadikan momen itu, dimana Ardi yang terkenal dingin, menjadi mendadak romantis kepada sang istri.
Ardi mencubit pelan pipi Rianti.
"Aw ... sakit Mas."
"Kau benar-benar menggemaskan," ucap Ardi sembari tersenyum puas.
"Ayo ikut, kita ke suatu tempat."
"Kemana Mas?"
"Rahasia."
Ardi pun menarik tangan istrinya dan berjalan menuju mobil.
Di dalam cafe.
Andra, Sinta dan Veno terlihat duduk berhadapan dengan tatapan tajam dari Andra. sedangkan Jessika telah pergi tidak lama setelah kepegian Ardi dan Rianti.
"Dek, sebenarnya siapa dia? Apa kalian berkencan?" tanya Andra sambil menatap tajam ke arah Veno. Ia sebenarnya masih marah atas perlakuan kasar Veno kepada adik sepupunya itu.
"Bukan siapa-siapa, Bang. Hanya kenalan saja." ucap Shinta dengan santainya.
Veno menatap tajam pada Shinta.
"Apa! Kenalan! Yang benar saja! Padahal jelas-jelas dia mengataka menyukaiku."
"Terus apa maksudnya dengan kejadian tempo hari?" Kini mata Andra menatap tajam kepada Shinta. Ia ingin tau tentang sesuatu yang Shinta sembunyikan darinya.
Ekspresi Shinta mendadak berubah, wajahnya menjadi pucat.
"Apa itu. Apa yang sebenarnya kamu coba sembunyikan?"
Andra semakin penasaran karena melihat gelagat Shinta yang semakin mencurigakan.
__ADS_1
"Hmm ... itu Bang ... hm aku ...."
Lagi-lagi ucapan Shinta terpotong karena dari arah pintu terlihat seorang wanita dengan suara yang hampir berteriak sedang memanggil nama Andra.
"Aghh sial!" desis Andra.
Wajahnya terlihat tidak senang dengan kehadiran wanita tersebut.
"Bukankah dia kak Ria."
Shinta sangat mengenal baik sosok Ria. Wanita yang selalu memberinya jajan dan cemilan saat sedang berkunjung ke rumah mereka. Wanita yang di anggap baik oleh Shinta dan keluarga Andra. Tapi entah mengapa mereka kemudian putus dan Andra memutuskan untuk kuliah ke luar negeri.
Andra membuka dompet dan mengeluarkan uang seratus ribu dan memberikannya kepada Shinta.
"Kamu pulang naik ojol aja ya, Dek. Abang gak bisa nganter," ucap Andra seraya pergi keluar cafe lewat pintu belakang.
Shinta pun mengambil ponsel hendak memesan ojek online, tapi dengan cepat Veno mengambil ponsel Shinta.
"Udah, aku aja yang anter," ucap Veno.
"Gak mau!" jawab Shinta ketus.
Shinta meraih ponsel yang ada di tangan Veno. Tapi Veno malah memasukkannya ke dalam saku celana.
"Kembaliin gak!"
"Gak mau! udah ikut aku aja," ucap Veno dengan nada sedikit memaksa.
Shinta pun akhirnya mengikuti langkah Veno menuju parkiran.
Selama perjalanan Shinta hanya diam menetralisir perasaannya.
"Ish ... apa maksudnya ini, bukankah tadi pagi ia mengatakan dengan lantang bahwa tidak akan menyukaiku. Tidak ada kesempatan untukku. Tapi kenapa sekarang begitu peduli denganku. Bagaimana aku bisa move on dari perasaan sukaku kepadanya? Sungguh menyebalkan!"
"Apakah masih terasa sakit," tanya Veno yang sedari tadi melihat Shinta sedang memijit-mijit lengan yang ia cengkram waktu di cafe tadi.
"Gak," jawab Shinta singkat.
"Tapi kenapa di pegangin terus?"
"Ya suka-suka aku donk. Tangan aku ini," jawab Shinta asal.
Veno terlihat mulai kesal dengan sikap Shinta.
"Yee ni anak, di baekin bukannya terima kasih malah nyolot."
__ADS_1
"Biarin! Emang aku ada gitu maksa kamu buat peduli dan baek sama aku. Gak ada, kan! Jadi biarin aku ngurus perasaan dan badan aku sendiri," ucap Shinta yang mulai ikut emosi.
"Tumben ni gadis labil manggil aku 'kamu'. Biasanya kalo manggil 'Mas' atau 'kakak'. Apa dia benar-benar marah soal tadi pagi?"