Duren Sawit

Duren Sawit
Percobaan pembunuhan


__ADS_3

"Kenapa tidak bisa!" Rianti seolah menantang suaminya.


Ardi beranjak dari ranjang dan masih menatap Rianti. Tatapan yang tidak pernah Rianti lihat sebelumnya. Biasa tatapan Ardi begitu teduh dan hangat tapi sekarang tatapannya seperti seorang pembunuh. Tajam dan tanpa ampun.


"Itu tidak akan pernah terjadi Rianti, tidak akan pernah! Ingat itu!"


Rianti beranjak dari kasur dan mendekati Ardi. Ia yang berniat tenang namun akhirnya gagal.


Ingin ngajak ribut! Ayook!


"Kenapa gak bisa! Kamu gak berhak ngatur-ngatur hudup aku! Dari awal aku adalah aku. Aku bukan milikmu! Karena cara licikmu aku berakhir berada di sampingmu. Aku tidak suka itu. Aku tidak suka!" ucap Rianti setengah berteriak.


Ardi mencoba meredam emosinya, beberapa kali ia menarik napas panjang dan memejamkan matanya. Mencoba tenang agar bisa bicara dari hati ke hati berharap dapat titik tengah soal problema rumah tangganya.


"Sayang ... jangan seperti ini. Ini tidak akan baik untuk janin yang kamu kandung," ucap Ardi pelan sambil memegang pelan perut Rianti.


Tapi percuma Rianti yang sudah terpancing emosi tidak bisa dijinakkan lagi. Di tambah hormon kehamilan membuat darah mudanya semakin meledak-ledak. Ia benar-benar siap untuk berperang. Berperang melawan keinginan Ardi. Kalau Ardi ingin jawab 'iya' Rianti pasti jawab 'tidak' terlepas itu salah atau benar. Yang jelas ia ingin berontak. Berontak untuk lepas dari Ardi.


Rianti tepis tangan Ardi dari perutnya.


"Jangan sentuh tubuhku. Aku dan anakku akan baik-baik saja selama aku tidak melihatmu. Melihatmu membuatku semakin sakit. Sakittt!" ucap Rianti sambil memukul-mukul dadanya. Sekuat tenaga ia tahan airmatanya. Ia tidak ingin menjadi Rianti yang cengeng, yang mudah di bodohi. "Aku ingin jadi kuat. Kuat tidak kuat pokoknya aku harus kuat." Itulah yang Rianti camkan dalam otaknya.


Rianti berjalan beberapa langkah membelakangi Ardi.


"Ceraikan aku!" pintanya tapi dengan nada memerintah.


Tiba-tiba dari arah belakang Rianti.


*Pra*ng!!


Ardi yang kalap mata menepis semua barang yang ada di nakas samping ranjang. Semua berserakan, gelas kaca, pot bunga hingga kue sudah tergeletak tak karuan di lantai porslen rumah sakit.


Rianti terkejut melihat kelakuan kasar Ardi yang tidak pernah sama sekali ia bayangkan.


Ardi berjalan maju mendakati Rianti. Rianti yang ketakutan melangkah mundur takut kalau Ardi menyerangnya.

__ADS_1


Dengan cepat Ardi mencengkram pergelangan tangan Rianti dengan kuat hingga Rianti meringis kesakitan. Tatapan Ardi begitu menakutkan dan napas yang terdengar tak beraturan. Ia benar-benar kalap mata. Ardi tarik pergelangan tangan Rianti dan menghempaskan tubuh Rianti di atas ranjang. Ia seperti kehilangan kendali dan dengan kasar mengungkung tubuh Rianti. Rianti ingin berteriak namun mulutnya sudah terlebih dulu di bekap Ardi dengan tangannya. Dan kedua tangan Rianti ia kunci dengan satu tangannya.


Ardi pandangi wajah istrinya yang ketakutan.


"Kau tidak akan pernah bisa lepas dariku. Aku tidak akan membiarkannya!" Suara Ardi terdengar tegas.


Lalu Ardi hendak menyerang leher Rianti, beruntunglah seseorang membuka pintu.


"Ardi! Apa yang kau lakukan!" seru Veno. Veno pun menarik tubuh Ardi dari atas ranjang hingga Ardi jatuh ke lantai.


"Apa kau gila! Kenapa kau serang istrimu sendiri!"


Ucapan Veno menyadarkan Ardi. Ia pandang Rianti yang meringkuk di kasur dan terlihat ketakutan akibat ulahnya.


"Sayang ... sayang maafin aku. Aku khilaf ..." ucapnya sambil meraih tangan Rianti, dengan cepat Rianti menarik tangannya dan menjauh dari Ardi.


Rianti benar-benar ketakutan melihat sisi lain dari seorang Ardi. Suami yang dikiranya malaikat tak bersayap. Tapi setelah melihat kejadian barusan membat Rianti yakin akan keputusannya yaitu bercerai.


"Rianti tolong maafkan Aku ya ... " pinta Ardi agar Rianti memaafkan kekasaran dan mengurungkan niat untuk meninggalkan dirinya.


Ardi benar-benar menyesal, kesalahan yang lalu belum termaafkan kini malah menambah list kesalahan barunya.


Ardi pun memposisikan dirinya berlutut di dekat ranjang Rianti. Ia tarik paksa tangan Rianti dan mengenggamnya.


"Sayang tolong maafkan aku. Aku benar-benar hilang akal. Aku janji akan berperilaku baik padamu. Tapi tolong jangan tinggalkan aku," ucap Ardi dengan suara lirih. Berharap dapat belas kasih dari Rianti, wanita yang ia cintai.


Rianti hanya terdiam melihat Ardi seperti itu. Tidak tega, akan tetapi lagi-lagi ego menguasai hatinya. Ia pun menarik tangannya dari genggaman Ardi.


Sedangkan Veno hanya termangu melihat pemandangan dramatis itu.


Jadi bucin benar-benar mengenaskan. Seorang dosen yang berpendidikan tinggi bisa berlutut di depan seorang wanita yang bahkan hanya lulusan SMA. Luar biasa ... dia bahkan tidak merasakan sakit saat ada luka menganga di tangannya.


Veno menggeleng-gelengkan kepala karena takjub akan kekuatan yang namanya cinta. Kata orang cinta itu buta. Cinta tidak peduli status usia atau apapun. Karena jatuh cinta membuat orang rela jatuh ke dasar yang paling dasar sekalipun.


"Ayo kita keluar dulu. Biarkan Rianti tenang dan kita obati lukamu," ucap Veno.

__ADS_1


Ardi awalnya menolak ajakan itu akan tetapi Veno memaksa dan akhirnya Ardi pun menurut juga.


Flashback off.


Dan akhirnya Rianti berakhir di tangga darurat. Ia menangis mengeluarkan segala kesedihan dan amarah yang tidak bisa ia keluarkan di saat bersama Ardi. Hampir setengah jam Rianti duduk termangu di tangga. Memikirkan nasib yang akan di hadapinya kelak.


Tiba-tiba terdengar seseorang membuka pintu dan berjalan mendekatinya. Belum sempat Rianti menoleh siapa yang datang, orang itu telah mendorong tubuh Rianti. Rianti berguling, menuruni anak tangga dengan posisi meringkuk melindungi perut. Entah berapa kali kepala dan punggungnya menghantam anak tangga. Sakit, remuk, pusing dan mual itulah yang Rianti rasakan sebelum akhirnya tubuhnya berhenti berguling karena menghantam dinding.


Ya Allah rahimku ... anakku ... anakku, selamatkan anakku.


Rianti mencoba berdiri. Baru saja mengangkat kepala semuanya terlihat buram. Ia pegangi kepalanya yang terasa pusing dan mendapati ada cairan yang menepel di telapak tangannya.


Astaga ... apa ini darah?


Rianti memfokuskan pandangan dan memang mendapati cairan yang ia pegang adalah darahnya.


Ya Allah ini darah!


"Tolong! Tolong aku ... Aghh sakit! Tolong! Apa ada orang di sana?" Teriak Rianti sambil memegang perutnya yang terasa begitu sakit. Namun, tak ada yang mendengar teriakannya.


Suasana masih sepi ... hening ... hanya terdengar suara rintihan Rianti yang menggeliat sambil memegang perutnya yang terasa sakit luar biasa.


Rianti menunggu.


Satu menit


Dua menit


Tiga menit


Akhirnya Rianti pun tergeletak tak sadarkan diri.


****


Eng ine eng ....

__ADS_1


Keguguran kah?


Hayu like dulu, komen dan vote. heheh


__ADS_2