Duren Sawit

Duren Sawit
Ombak saksi cinta kita


__ADS_3

"Sayang ... bangun, kita udah nyampe," ucap Ardi sambil menggoyang pelan bahu Rianti.


Rianti perlahan membuka mata yang masih terasa berat. Ia picingkan matanya mencoba memfokuskan pandangan yang masih terlihat buram.


"Mas jam berapa ini? Di mana kita sekarang?" tanya Rianti sambil mengusap-usap matanya. Ia ingat dengan jelas kalau suaminya mengatakan akan mengajak dirinya ketempat yang di sebut Ardi 'rahasia'.


Rianti melirik jam di tangannya.


"Mas ini jam 11 malem lho. Kita ada di mana?" ucap Rianti dengan suara khas orang baru bangun tidur.


Ardi hanya tersenyum seraya membuka seatbelt yang melingkar di tubuh Rianti, dan menuntunnya keluar dari mobil.


"Kejutaaaaaan ..." Ucap Ardi sambil tersenyum senang.


Rianti terkejut melihat pemandangan yang ada di depan matanya.


Pemandangan yang sudah lama ia inginkan namun tak bisa ia lihat. Ia merasa begitu senang hingga ada butiran air di ujung matanya. Ia peluk tubuh tinggi Ardi sambil melompat-lompat kegirangan, dan mengecup cepat bibir sang suami.


"Mas terima kasih. Aku mencintaimu," ucap Rianti penuh suka cita. Ia tersenyum lebar dan melepaskan alas kakinya agar bisa merasakan pasir menyentuh telapak kakinya.


Rianti pun langsung berlarian ke sana kemari, menikmati ombak yang sudah lama ia rindukan. Menghirup angin laut yang sejuk serta mendengarkan suara ombak yang menderu.


Tiba-tiba ia berteriak.


"Ardiiiii aku mencintaimuuuu."


Ardi hanya tersenyum gemas melihat tingkah istrinya yang masih belia itu. Ia peluk Rianti dari belakang namun lagi-lagi Rianti berteriak.


"Ardiiii i Love you."


Suara teriakan Rianti seolah menyatu dengan suara ombak.


Rianti membalik tubuhnya menghadap Ardi.


"Mas terima kasih banyak. Aku sangat bahagia. Aku ... aku sangat mencintaimu Mas."


Rianti pun memeluk tubuh Ardi sambil menangis haru.


"Hey kenapa menangis? Ini hadiah dariku, seharusnya disambut dengan suka cita bukannya air mata."


Ardi mengendurkan pelukannya untuk menghapus air mata dari wajah Rianti menggunakan ibu jarinya.


Ardi peluk lagi tubuh kecil Rianti.

__ADS_1


"Apa kau begitu menyukai pantai?" tanya Ardi sambil mengusap-usap rambut istrinya itu.


Rianti mengangguk pelan.


"Iya ... aku sangat menyukainya. Hanya saja bapak selalu melarangku. Bapak takut kalau aku hanyut terbawa ombak, sama seperti waktu umurku 5 tahun. Aku bahkan sempat koma selama semingu di rumah sakit."


Rianti melepaskan diri dari pelukan Ardi.


"Mas ... bolehkah aku bermain ombak?" pinta Rianti dan direspon senyuman serta anggukan dari Ardi.


Rianti tersenyum lebar dan lagi-lagi mencium bibir Ardi dengan cepat.


"Terima kasih Mas," ucapnya lalu berlari menuju ke tepian pantai.


Ardi mengikutinya dari belakang dan memegang sepatu kets milik Rianti di tangan kirinya.


"Aku juga bahagia melihatmu tersenyum seperti ini. Aku berharap kau tidak akan mengetahui rahasia besar yang aku sembunyikan. Tetaplah berada di sisiku, bersamaku selamanya."


Ardi tersenyum getir mengingat bagaimana dia menyingkirkan Doni setiawan dari hidup Rianti.


Siang itu di sebuah restoran, Ardi duduk berhadapan dengan Doni yang baru pulang sekolah dan masih menggunakan pakaian olahraga.


"Terimalah ini Doni, dan jangan pernah kembali hadir dalam kehidupan Rianti," ucap Ardi seraya mendorong amplop yang berisi uang.


"Bukankah orang tuamu hampir bangkrut karena ditipu oleh pamanmu sendiri." imbuhnya lagi.


Ardi menghela napas karena Doni


tak kunjung menerima tawarannya. Ia meneguk jus apel yang ada di meja.


"Aku bisa pastikan ayahmu akan bisa mempertahankan perusahaan percetakan milik keluarga kalian, dan aku juga akan mendukung finansialmu selama menempuh pendidikan di luar negeri. Bagaimana? Terimalah tawaranku. Kau tidak akan rugi apapun." Ardi kembali berusaha meyakinkan Doni.


"Tapi kenapa Rianti! Apa Anda punya niat jahat padanya! Mungkinkah Anda ini pedofil!" Doni menatap tajam dan penuh curiga kepada pria yang belasan tahun lebih tua darinya.


Ardi hanya tersenyum mendengar tudingan dari Doni.


"Tentu saja tidak. Kalau aku punya niat jahat padanya, pasti sudah dari awal aku melakukannya. Untuk apa aku repot-repot membujukmu bahkan menyelamatkan keluargamu dari kebangkrutan."


Doni terdiam, mencoba mencerna ucapan Ardi.


"Aku hanya akan menunggu waktu yang tepat agar bisa memilikinya," ucap Ardi dengan tulus.


"Aku yakin kau tidak akan membuat keluargamu jatuh miskin hanya karena perasaan sukamu kepada Rianti, bukan? Ini terimalah, dan hubungi aku selambat-lambatnya malam ini. Kalau kau tidak menghubungiku berarti kau tidak menerima tawaranku," ucap Ardi sambil memberikan kartu nama miliknya dan berlalu pergi meninggalkan restoran.

__ADS_1


"Mas ... Mas Ardi!"


Teriakan Rianti membuyarkan lamunan Ardi tentang kejadian 2 tahun lalu.


Ardi kembali tersenyum saat melihat Rianti melingkarkan kedua tangannya ke atas kepala, membentuknya hingga terlihat seperti hati.


"I love you, Mas!" Teriaknya lagi.


Meskipun sudah malam, namun senyum Rianti masih terlihat karena adanya cahaya remang-remang lampu di tepi jalan.


Ardi menghampiri Rianti yang masih asik bermain ombak, memakaikan jaketnya ke tubuh sang istri sambil memeluknya dari belakang.


"Kamu gak kedinginan? Kita naik ke atas yuk," pinta Ardi dan direspon anggukan kecil dari Rianti.


Mereka pun berjalan meninggalkan bibir pantai dan menuju restoran yang berada tidak jauh dari sana. Menikmati makanan tengah malam di sertai dengan semilir angin yang bertiup. Sesekali Ardi melayangkan gombalannya dan dibalas dengan senyuman manja oleh sang istri.


Rianti melihat ke sekitar restoran dan hanya merekalah yang menjadi tamu di sana.


"Mas restorannya bagus sekali, dekorasinya kelihatan sangat romantis. Coba Mas lihat, begitu banyak bunga dan lilin di ruangan terbuka kayak gini. Benar-benar nuansa yang begitu romantis. Mungkin saja ... sebelum kita tiba, ada yang melamar kekasihnya di sini," ucap Rianti setelah meneguk air putih dan mengelap bibirnya.


Ardi yang sudah selesai makan terlebih dahulu hanya merespon dengan senyuman perkataan Rianti. Ia menepukkan tangannya dua kali dan datanglah seorang pria berpakaian rapi, menghampiri mereka dengan membawa nampan yang berisi sebuket bunga.


Rianti sontak berdiri dengan menutup mulutnya menggunakan kedua telapak tangan. Ia pernah melihat adegan seperti itu di dalam drama, dan langsung bisa mengerti kalau suaminya itu sedang melamar dirinya.


"Kamu melamarku, Mas?" tanya Rianti dengan nada sedikit histeris.


Ardi mengambil bunga yang ada di nampan .


"Bukankah dulu Mas sudah melamarku? Dan sekarang kita bahkan sudah menikah." tanya Rianti yang tidak paham dengan situasinya sekarang.


Ardi beranjak dari tempat duduknya dan memberikan buket bunga mawar merah ke tangan Rianti.


"Dulu itu kan lamarannya kamu terima karena terpaksa, sebab ada unsur hutang di dalamnya. Dan sekarang Mas ingin melamarmu murni karena cinta."


Rianti masih terdiam, tak percaya dengan apa yang di lihatnya.


"Sekarang, malam ini juga, ombaklah yang menjadi saksi kita."


Ardi mengeluarkan kotak kecil dari saku celana lalu membukanya, ia berlutut dengan menekuk satu lututnya seraya berkata.


"Will you marry me?"


**

__ADS_1


__ADS_2