Duren Sawit

Duren Sawit
Sasa


__ADS_3

Ardi berjalan sambil menggenggam tangan sang istri, sedangkan orang yang di pegang merasa begitu malu hingga ingin rasanya menenggelamkan wajahnya ke dalam perut bumi.


Semua murid memandang sinis pada Rianti. Menganggap dirinya punya hubungan khusus yang mengarah ke hal negatif dengan sang guru.


"Pak Ardi!"


Teriak seorang siswi yang tentu saja menghentikan langkah keduanya.


Rianti menarik tangannya dari genggaman Ardi. Menjadi salah tingkah sendiri kala tau yang memanggil Ardi adalah Sasa, teman sekelasnya. Akan tetapi? setelah mengingat apa yang di katakan Shinta tentang bagaimana munafiknya Sasa, membuat emosinya sedikit mencuat ke permukaan. Ia pandangi Sasa yang sedang berjalan mendekati mereka. Rianti mencoba tenang dan mengamati saja tingkah laku teman barunya itu.


"Pak Ardi, rumah Bapak di komplek bumi perkasa, kan?" tanyanya sambil tersenyum genit. Ia pandangi wajah Rianti dengan tatapan tak suka lalu kembali menatap wajah sang guru idolanya.


Ardi hanya terdiam melihat tatapan aneh salah satu siswinya itu. Begitu juga Rianti yang mulai merasakan panas di dada saat memandang dua kancing baju Sasa yang paling atas terbuka hingga nampak sedikit belahan bumi dara nante di sana. Ish ... murahan, batin Rianti. Ia makin tak tahan melihat gelagat Sasa yang persis seperti perempuan kecacingan.


"Menyebalkan!"desis Rianti lagi sambil memalingkan pandangannya ke arah lain, seakan malas menatap Sasa. Ia silangkan kedua lengannya ke dada, menggesekkan kakinya ke pasir dengan kasar berkali-kali hingga membuat suara yang terdengar sangat berisik.


Sasa kembali melirik penuh kebencian pada Rianti. Tapi mencoba memasang wajah ramah di depan Ardi


Ardi yang samar-samar mendengar umpatan Rianti dan melihat tingkah tak biasa itu pun mengulum senyumnya. Mengira kalau sang istri sekarang sedang terbakar api cemburu.


"Iya, kenapa?" tanya Ardi seolah tak tau niatan Sasa.


"Saya nebeng ya, Pak. Kan searah juga. Rumah saya gak jauh kok dari komplek Bapak tinggal," pintanya penuh harap sambil menyatukan kedua telapak tangannya di dekat dada, hinga belahan tadi yang mulanya nampak samar kini menjadi jelas terlihat.


Rianti benar-benar jengah akan tingkah Sasa, dan entah mendapat keberanian dari mana ia pun mulai bersuara.


"Sorry Sa, kita berdua lagi ada urusan," ucap Rianti dengan nada suara tak sukanya.


"Ih apaan sih. Aku kan nebengnya sama Pak Ardi, bukan sama kamu!" ucap Sasa yang tak segan-segan menampakkan warna aslinya. Ia manatap tajam pada gadis yang tidak di sukainya itu, dan Rianti pun melihat Sasa dengan pandangan sama.


Ardi mencoba menahan tawanya. Ia merasa sedang di perebutkan oleh kedua siswinya. Apalagi mendengar ada nada kemarahan dari suara Rianti membuatnya merasa bahagia setengah mati.


"Udah ... udah jangan berantem," sela Ardi mencoba menengahi pertempuran tak kasat mata antara Rianti dan Sasa.


"Maaf, Sa. Saya memang masih ada urusan, jadi belum mau pulang. Mending kamu pesan ojek online saja ya," pinta Ardi berharap muridnya itu tidak tersinggung.


Ekspresi Sasa mendadak lesu setelah mendengar penolakan dari sang guru. Ia pun berjalan pergi meninggalkan Ardi yang gagal ia rayu.


Ardi masih memandang punggung Sasa yang perlahan menghilang dari pandangannya.


"Ekhm ... tolong dong, Pak. Matanya di kondisikan. Kalau emang gak ikhlas, saya aja yang pulang pake ojol," ucap Rianti dengan suara ketusnya.


"Eh jangan dong. Kenapa, kamu cemburu?" tanya Ardi sambil membukakan pintu mobil untuk sang istri yang sedang merajuk.


"Apaan sih, Pak. Saya itu memang ada dendam pribadi ama Sasa, bukannya cemburu," sahut Rianti dengan menekankan kata 'cemburu'.

__ADS_1


Ardi hanya tersenyum getir, halusinasinya tentang Rianti yang cemburu menjadi ambyar sudah. Ia pun masuk kedalam mobil dan mengemudikan mobilnya perlahan keluar dari parkiran sekolah.


****


Satu bulan telah berlalu.


Ardi tetap sabar menunggu ingatan sang istri yang belum juga kembali. Ia hanya bisa menjaga dan mengawasinya dari kejauhan saja.


Hampir setiap jam orang yang ia sewa selalu mengirim foto-foto Rianti ketika berada di rumah, dan jikalau sedang bepergian, mereka selalu mengikuti tanpa sepengetahuan Rianti.


Dan Rianti yang selalu mendapatkan perhatian tulus dari sang guru sedikit demi sedikit mulai merasa nyaman. Ia merasa Ardi tau segalanya, memberikan sesuatu yang bahkan belum ia ucapkan.


Pernah suatu hari ketika jam pelajaran sedang berlangsung, Rianti merasakan nyeri yang sangat, amat, hebat di dalam perutnya. Sedangkan Shinta yang selalu bersamanya kebetulan sedang tidak masuk sekolah. Ia pun berjalan perlahan sambil membungkuk menuju ke arah toilet.


Ardi yang melihat gelagat aneh sang istri tentu saja merasa khawatir dan mengikutinya dari belakang. Takut kalau ada masalah dengan rahim Rianti di karena keguguran tempo hari.


Rianti masuk kedalam toilet dan tidak mendapati seorang pun di sana.


"Aaa bagaimana ini. Kanapa datengnya sekarang sih," sungut Rianti yang terlihat panik ketika mengetahui tamu bulanannya datang.


"Mana gak ada orang lagi."


Pikiran Rianti semakin resah. Ia ingin keluar namun noda darah sudah menempel di rok abu-abunya.


Perasaan Ardi semakin tidak karuan ketika Rianti tak kunjung keluar. Ia beranikan dirinya masuk ke dalam toilet yang di khususkan hanya untuk putri.


Tok tok tok.


"Ri, kamu gak kenapa-napa, kan?" tanyanya dengan nada khawatir.


Rianti yang memang sedang tidak baik-baik saja pun membuka pintu kamar kecilnya dan tersenyum getir.


"Saya baik-baik saja, Pak. Cuma ... cuma ... saya ... itu anu. Gimana ya bilangnya," ucap Rianti terbata-bata sambil menahan rasa malu dan nyeri di perutnya.


"Kalo baik-baik saja kenapa gak keluar?" tanya Ardi yang masih tidak paham situasi yang di hadapi sang istri.


"Gak bisa, Pak. Saya ... saya ...."


Lagi-lagi Rianti tak bisa menyelesaikan ucapannya.


Ardi sejenak berpikir dan langsung curiga kalau istrinya itu sedang datang bulan.


"Kamu mens?" tanya Ardi secara gamblang, terang-terangan dan tanpa di sensor pula.


Rianti tentu saja tercengang mendengar sang guru mengatakannya tanpa berkedip sama sekali.

__ADS_1


Gila ni guru. Kaya sedang menyebutin merek makanan ringan aja.


Ia hanya mengangguk pelan dan menunduk malu.


"Iya, Pak."


"Ya udah kamu tunggu sebentar," ucap Ardi kemudian berlalu meninggalkan Rianti.


Sepuluh menit kemudian Ardi tiba dengan membawa kantong kresek yang berisi pembalut berbagai macam warna.


"Ini, pakailah. Saya tidak tau mana yang cocok denganmu. Di sana juga ada yang bersayap dan tidak. Dan juga ada aroma mint dan yang biasa. Kamu pilih sendiri ya. O iya, saya juga udah beli underwear untuk kamu," ucapnya tanpa beban sambil menyerahkan sekantong pembalut berbagai merek ke tangan Rianti.


Rianti kembali di buat heran.


Ni guru emang sesuatu. Bagaimana bisa dia membeli ini tanpa malu sedikit pun.


Rianti menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian menutup pintu dan mengganti segalanya. Hampir lima menit ia di dalam namun masih enggan untuk keluar karena ada noda yang masih menempel, padahal sudah ia bersihkan dengan air.


"Kenapa masih di dalam?" tanya Ardi keheranan.


"Itu ... rok aku kotor," sahut Rianti pelan.


Ardi hanya ber oh tanpa bersuara. Ia lepas jas yang ia kenakan dan melilitkannya ke pinggang Rianti.


"Dah beres, kan," ucapnya sambil tersenyum.


Rianti malu sekaligus bersukur karena Ardi mampu menyelesaikan masalahnya.


Semenjak itu hubungan keduanya sedikit membaik. Dan Ardi sedikit bahagia karena istrinya tidak pernah lagi menyebutnya 'gila.'


*****


Netizen : Tenggelam pebinor timbullah pelakor. Kejem kamu Thor. 😒


Author : Gak lah, ini bukan kejam ya. Ini cuma cobaan. 😊😊


Netizen : Trus si Reka kok gak ada ceritanya.


Author : Ada kok, baru rilis satu bab kemaren. Mampir lah, like and di favoritkan. 😊


iklannya benar-benar gaje yah ...


Tapi gpp lah ya...


o iya tolong di like and komen ya wankawan ... lapak author sepi soalnya. hehehh authornya maksa 😁

__ADS_1


__ADS_2