
Sayang ... tolong dengerin dulu, dengerin penjelasan Mas ya," ucap Ardi yang lagi-lagi terdengar lirih.
"Jelaskan! Apa yang perlu di jelaskan lagi. Apa kamu ingin menjelaskan betapa bodohnya aku. Iya!"
"Aku sudah tau segalanya. Kamu ternyata memanfaatkanku. Aku kira kamu benar-benar malaikat pelindungku, tapi ternyata aku salah. Aku salah besar!"
"Dan aku dengan bodohnya telah tertipu. Ku berikan semua cinta dan kepercayaanku padamu. Tapi apa ... apa ini!" Rianti lemparkan selembar foto Ardi bersama Stella yang ia pegang.
Air matanya kembali jatuh namun dengan cepat ia menyekanya.
"Aku tidak menyangka kamu tega menyabotase kehidupanku demi kebahagiaanmu sendiri. Kemana hati nuranimu?" Kini suara Rianti terdengar bergetar karena menahan tangisannya.
"Dengerin dulu penjelasan Mas. Mas melakukan semua itu demi kebaikanmu. Mas menyingkirkan Arif karena dia itu penjahat, dan Doni ... Mas hanya membantunya menolong perusahaan orang tuanya yang hampir bangkrut." Penjelasan Ardi terpotong karena Rianti menyelanya.
"Oo ... menolongnya dengan imbalan menjauhiku. Iya!"
Ardi lagi-lagi terdiam.
"Apa kau juga yang telah menabrak Amir. Kau menyingkirkannya karena dia tidak mau menerima tawaranmu."
Rianti mengingat dengan jelas sosok Amir dan kepribadiannya yang tidak akan bisa di suap dengan apapun.
"Tidak ... bukan aku yang membunuhnya," sanggah Ardi.
Ardi mencoba meraih tubuh Rianti namun lagi-lagi Rianti bisa mengelak dan dengan cepat meraih gunting yang ada di atas meja Rias.
"Stop! Jangan mendekat lagi atau aku tidak akan segan menyusul Stella," ancamnya sambil mengarahkan gunting ke arah perutnya sendiri.
"Sayang tolong jangan begini. Kita bisa bicarakan ini dengan baik-baik," ucap Ardi yang sedang mencari celah untuk mengambil gunting dari tangan Rianti.
"Cih! Jangan pernah panggil aku sayang lagi. Aku jijik! Apa jangan-jangan selama ini kamu menggapku adalah Stella dan bukannya aku, Rianti."
Rianti terlihat makin emosi melihat Ardi yang hanya terdiam tanpa membela diri.
"Ya benar ... kalau di ingat-ingat selama ini kamu memang tidak pernah memanggil namaku. Yang kau panggil hanya kata sayang ... sayang ... dan sayang. Apa jangan-jangan ketika bercinta denganku pun yang kau pikirkan adalah stella. Benar begitu!" Mata Rianti makin berkobar. Amarahnya seakan meletup, naik ke ubun-ubun.
Ardi lagi-lagi terdiam, tak bisa menyanggah perkataan Rianti yang benar adanya.
"Kamu penjahat. Kamu laki-laki brengsek!" Rianti mulai histeris dan menatap jengah pada Ardi.
"Tidak sayang, itu tidak benar. Aku akui aku salah. Awalnya aku menganggapmu itu Stella dan bukannya Rianti. Tapi percayalah, sekarang aku sudah melupakan Stella dan sudah mulai mencintaimu," ucap Ardi sambil mencoba mendekat, lagi-lagi kalah cepat dari Rianti.
__ADS_1
"Berhenti! Selangkah lagi kamu maju, gunting ini akan aku tusukkan ke perutku," ancam Rianti lagi. Matanya penuh kebencian terhadap Ardi. Orang yang ia kira tulus mencintainya sejak awal bertemu.
"Percaya ... hah! Bagaimana aku bisa mempercayai laki-laki pembohong juga brengsek sepertimu. Kau menghancurkan hidupku. Apa kau tau semua kesulitan yang aku alami dulu!"
Rianti kembali menghapus air mata yang lagi-lagi kembali mengalir. Ia mengingat masa lalunya yang kelam. Ketika dia di cap sebagai pembawa sial oleh seluruh siswa. Belum lagi teror dan ancaman yang tak henti-henti ia terima dari Siska, siswi yang menyukai Amir.
"Tenanglah dulu sayang. Letakkan dulu gunting itu dan kita bisa bicara baik-baik. Aku akan rela bila kau memukul bahkan melukaiku. Tapi tolong jangan kau lukai dirimu sendiri ya ...."
"Sudah aku katakan jangan panggil aku sayaaaaanggg!" teriaknya histeris.
Namun tiba-tiba Rianti melepaskan gunting dan langsung memegang perutnya.
"Arghhh ...."
Rianti merintih, terduduk di lantai.
Ardi panik, ia hampiri Rianti yang kesakitan.
"Sayang kamu kenapa?" Ardi terlihat shock ketika melihat ada darah segar mengalir dari area paha Rianti.
"Kamu berdarah sayang. Ayo kita kerumah sakit." Ardi mecoba mengangkat tubuh Rianti. Akan tetapi, dengan sisa tenaganya, Rianti mendorong tubuh suaminya itu hingga terjatuh kebelakang.
Flashback off.
Sepanjang pejalanan Ardi tak henti-hentinya menyadarkan Rianti. Ia usap-usap pipi istrinya itu.
"Sayang maafkan aku. Kumohon sadarlah. Makilah aku, kutuklah atau bunuh saja aku. Aku akan rela asal kau bangun sayang," ucap Ardi dengan suara lirihnya.
Ardi kembali teringat saat Stella yang tidak sadarkan diri di atas pangkuannya. Air matanya pun mengalir tak ingin kejadian yang sama terulang lagi.
"Veno tolong lebih cepat lagi," pinta Ardi.
Veno yang menyetir pun ikutan panik melihat Ardi yang tak henti-hentinya menyuruhnya mempercepat laju kendaraannya.
Sedangkan Shinta hanya terdiam dan berdoa akan keselamatan sahabatnya itu. Beberapa kali ia bertanya tentang apa yang telah terjadi namun tidak di jawab sama sekali oleh Ardi.
Setibanya di rumah sakit Rianti langsung di tangani oleh dokter yang bertugas.
Sambil menunggu, Ardi menceritakan segalanya. Shinta langsung meradang setelah mendengar kejadian sebenarnya. Ia hampiri Ardi hendak menjambak, mencakar dan memukul laki-laki yang telah menyakiti hati sahabatnya. Namun, dengan cepat Veno meraih lengannya.
"Tenanglah Shinta ... jangan seperti ini. Kita di rumah sakit," ucap Veno.
__ADS_1
"Apa katamu, tenang! Bagaimana aku bisa tenang dalam situasi seperti ini!"
Shinta yang masih tersulut emosi memandang wajah Veno yang sama sekali tidak terkejut akan penjelasan Ardi.
"Apa kamu dari awal sudah tau akan hal ini?" tanya Shinta pada Veno yang berdiri tak jauh darinya.
Veno terdiam, dan membisunya Veno makin membuat shinta meradang. Shinta pun bertepuk tangan sambil menatap penuh kebencian kepada dua bersaudara itu.
"Kalian hebat ... benar-benar hebat. Bisa-bisanya kalian berbuat serendah ini," ucapnya sarkis seraya tersenyum hambar.
Shinta tak henti-hentinya berdecak kesal melihat dua orang dewasa yang berpendidikan tinggi. Tapi tak bisa berperilaku sebagaimana mestinya.
Hingga akhirnya seorang dokter wanita keluar dari ruangan tempat Rianti di rawat.
"Siapa wali dari nyonya Rianti?"
Ardi yang terduduk lemas di kursi langsung berdiri dan menghampiri sang dokter.
"Saya Dok, saya suaminya," ucap Ardi dengan wajah yang terlihat kusut.
"Kamu Ardi, kan?" tanya dokter wanita itu dan ia pun membuka maskernya.
"Aku Melati, masih ingat tidak?" tanyanya lagi.
Namun Ardi seperti enggan untuk menyahut.
Melati yang memandang wajah kusut Ardi menjadi kasihan. Padahal dulu ia sangat membenci Ardi bahkan bersumpah tidak ingin menemuinya lagi.
"Tenanglah ... istrimu dan janin yang berada dalam rahimnya tidak apa-apa. Aku sudah memberikan obat penguat kandungan untuknya," jelas Melati.
Mereka bertiga tercengang mendengar kata 'janin dalam rahim Rianti'.
"Maksud kamu istri saya hamil!" pekik Ardi seakan tak percaya akan kata-kata yang baru ia dengar.
****
**Terima kasih sudah mampir ke karya saya.
Kalau suka tolong like dan vote ya. 😊
Biar saya lebih semangat up nya. 😊😊**
__ADS_1