Duren Sawit

Duren Sawit
Sandiwara


__ADS_3

Sedangkan Ardi yang berdiri tak jauh dari mereka merasakan sakit hati dan juga cemburu. Bagaimana mungki Rianti tidak bisa melupakan dan masih menyimpan perasaan kepada Amir. Dirinya yang telah berusaha sekuat tenaga untuk mengambil hatinya malah tidak di ingat sama sekali.


Oh Tuhan, Apakah ini yang dirasakan Rianti saat tau kalau aku menganggapnya Stella, batin Ardi.


Setelah sedikit tenang, Rianti kendurkan pelukan dan menghapus air matanya. Ia lihat Ardi yang sedang memandang padanya dengan tatapan yang tidak bisa Rianti artikan.


Kenapa tu orang ngeliatin kayak gitu sih? Terus kenapa juga dengan hatiku yang rasanya tidak karuan begini? Ah ya sudah lah ... bodo amat, pikir Rianti.


"Shin, kayaknya ada yang salah dengan kepala aku deh. Aku sama sekali tidak mengingat teman-teman sekelas kita. Aku hanya mengingat ketika Amir dikabarkan meninggal," ucap Rianti lirih.


"Terus kenapa bisa aku berada di rumah sakit? Sebenarnya apa yang terjadi Shinta? Dan juga kenapa perutku rasanya begitu sakit?" tanyanya secara beruntun.


"Riri sayang, tenang dulu ... pertanyaanya jangan langsung ngegas gitu. Lebih baik sekarang kamu istirahat dulu ya ... Nanti aku jelasin," jawab Shinta sambil menatap mata Rianti yang terlihat bingung.


*****


Rianti yang mengingat dirinya masih bersekolah, membuat Ardi dan Shinta bekerja mati-matian menyulap suasana seperti dua tahun lalu. Tentu saja tidak mudah membuat sandiwara masal yang bisa dibilang mustahil. Namun, tidak ada yang tidak mungkin bila Ardi sudah membulatkan tekat, dan tentu saja Mahendra pun ikut andil di dalamnya. Ardi yakin bisa mengembalikan ingatan Rianti dan mendapatkan Rianti kembali ke dalam peluknya.


Mereka memanfaatkan semua koneksi, kolega, bahkan rekan bisnis demi memperlancar segalanya. Dari kepala sekolah Rianti dulu, guru-guru hingga TU pun ikutan membantu. Tentu saja mereka setuju melakukannya karena alasan kesehatan Rianti.


Sedangkan Rianti yang merasakan banyak kejanggalan, memilih percaya saja saat Shinta mengatakan dirinya tidak sengaja tertabrak mobilnya Ardi sehingga mengalami amnesia sementara, yang menyebabkan dirinya tidak bisa mengingat kejadian dua bulan lalu. Shinta juga mengarang cerita kalau mereka berdua baru-baru ini pindah sekolah karena Rianti yang memintanya sendiri. Dan soal orang tua Rianti, Shinta mengatakan sengaja tidak memberitahukan kebenarannya karena takut mereka akan cemas dan Rianti pun setuju atas keputusan yang Shinta ambil.


Hyuff ... ternyata aku sekarang udah jadi pembohong besar. Aktingku luar biasa hingga bisa membuat Rianti percaya, batin Shinta. Jujur ia tidak suka itu.


Dan di sinilah awal mula cerita absurd mereka. Dengan bantuan Eldi Wijaya, teman SMP Ardi yang sekarang menjabat sebagai kepala sekolah. Rianti dan Shinta bisa kembali mengenyam pendidikan, dan tentu saja bukan di sekolahnya yang dulu. Melainkan sekolah elit ternama di kota X, SMA DAMAI SEJAHTERA.

__ADS_1


Seminggu sudah masuk sekolah dan tinggal bersama Shinta di rumah Andra. Dan selama itu juga Ardi seperti kehilangan semangat hidup. Ia merasakan hampa hingga makan tak kenyang, tidur tak nyenyak dan mandi tak basah.


Ardi tidak bisa mengakui kalau dirinya adalah suami sah Rianti karena takut Rianti akan shock dan histeris lagi. Akhirnya ia pasrah dan mempercayakan istrinya itu kepada Shinta. Selama jauh dari Rianti, pikirannya tak tenang ketika mengingat Andra yang mengatakanan, "aku akan merebut Rianti darimu." Ardi pun jadi stres sendiri ketika membayangkan Andra sedang bermesraan dengan Rianti.


Belum lagi di sekolah ada Davin setiawan, keponakannya Haikal yang selalu menggoda Rianti. Ya ... si berondong yang begitu tergila-gila pada Rianti saat Rianti menjadi kasir dulu. Ardi pernah mengatakan kalau Rianti adalah istrinya kepada Davin namun Davin sepertinya tak perduli.


"Maaf ya Tuan Ardi yang terhormat. Jaman sekarang, tikung menikung sudah lumrah dan sah-sah saja. Kalau Rianti nya mau, kenapa tidak!" ucap Davin dengan percaya diri karena ia sendiri sudah tau perihal amnesia yang Rianti derita.


"Lagi pula dia sudah melupakanmu, bukan? Jadi tidak salah dong kalau aku berusaha agar dia hanya mengingatku," imbuh Davin lagi dengan ujung bibir yang terangkat sebelah seakan sedang mengejak Ardi.


Semalaman Ardi tidak bisa tidur. Dia selalu was-was akan kehadiran dua pebinor di sekitar Rianti.


"Rianti itu milikku! Dan hanya untukku! Jikalau ada yang berani mengambilnya, akan aku ambil kembali karena memang aku pemiliknya!" ucap Ardi menggeram.


"Anggap saja ini PDKT yang sebenarnya. Akan aku buktikan pada Shinta kalau aku bisa mendapatkan Rianti tanpa tipuan lagi," imbuhnya lagi sambil mengepalkan tangan dan rahang yang mengatup.


Ke esokan harinya.


Rianti dan Shinta sedang sarapan seperti biasanya. Rianti memesan mi rebus dan Shinta memesan bakso sedangkan minumannya mereka sama-sama memesan teh es. Dan setelah makanan mereka habis tak tersisa Riantin mencoba bertanya perihal dua orang pria yang sering bolak balik menemui Shinta.


"Shin, sebenarnya ada hubungan apa kamu sama pria bule itu?" tanya Rianti penasaran sebab tak sengaja semalam ia melihat Toni mengecup kening Shinta.


Shinta menghela napas dan meletakkan gelasnya yang hanya tinggal es batunya saja.


"Bang Toni? Hmm ... entah lah Ri, dia itu orangnya baik dan juga dewasa. Aku nyaman kalau dekat dia. Apalagi bang Aan begitu mempercayainya," jawab Shinta yang serasa menggantung menurut Rianti.

__ADS_1


"Kalau yang satunya lagi ... siapa ya namanya aku lupa?" tanya Rianti lagi. Pasalnya ketika Veno datang kerumah, mereka selalu terlihat bertengkar dan membuat Shinta menjadi murung dan terkadang menangis sendirian di kamar mandi.


"Veno maksud kamu? Hyuff ... itu lah biang keroknya," jawab Shinta asal.


"Bayangin aja ni ya ... dia udah nolak aku tiga kali berturut-turut. Dan sekarang saat aku sudah bisa move on dia malah hadir lagi. Aku janji pada diriku sendiri, aku tidak akan goyah dan tetap akan melupakannya," imbuhnya lagi dengan penuh kemantapan. Shinta pun pengunyah es batu yang ada di gelasnya. Ia mencoba mendinginkan hatinya yang sedikit emosi setelah membahas Veno, si mantan idolanya.


Rianti hanya terdiam mendengar curhatan hati Shinta tanpa menyanggah maupun menghakimi Shinta. Tiba-tiba dari arah belakang datanglah Davin yang langsung duduk di sebelah Rianti serta meletakkan lengannya di bahu Rianti.


"Hallo ... lagi ngomongin aku ya," ucapnya dengan percaya diri dan terlihatlah senyuman mengembang dari wajahnya.


"Ih Davin, lepas ah ... gak enak diliatin murid lain," ucap Rianti yang langsung melepaskan rangkulan Davin.


Rianti mulai risih, semenjak ia masuk sekolah Davin selalu bertingkah sok kenal dan sok dekat dengannya. Bahkan banyak yang menggosipkan mereka telah menjalin hubungan dan Rianti tidak suka itu. Namun, Davin sepertinya senang-senang saja bahkan itu lah yang ia inginkan.


"Duduknya jauh dikit dong Daviiin. Sempit nih!" ujar Rianti yang merasa gerah karena Davin duduknya terlalu menempel padanya. Ia pun mendorong tubuh Davin agar menjauh darinya.


Bukan Davin namanya kalau menuruti perkataan Rianti. Ia malah makin memepet tubuh Rianti hingga Rianti tidak bisa menggeser tubuhnya lagi.


Dari arah belakang datanglah Ardi yang langsung menarik paksa tubuh Davin hingga Davin terjungkal ke belakang kursi


"Mbak, pesan kopi lattenya satu," ucap Ardi kepada si empunya kantin. Dan dengan memasang wajah tak bersalahnya ia pun duduk di sebelah Rianti.


****


Hayoo ... jangan lupa like komen dan vote nya ya wan kawan. Like kalian sangat membatu author receh ini. Heheh

__ADS_1


__ADS_2