
Tibalah mereka di parkiran depan kafe. Ryan melihat ke sekeliling untuk memastikan niat jahatnya berjalan lancar dan kebetulan saja jalanan memang sedang sepi.
"Kamu pegang sebentar!" perintah Ryan pada salah satu karyawan ayahnya. Si karyawan hanya menurut, walaupun itu bertentangan dengan hati nuraninya. Ia kalungkan lengan Shinta ke lehernya dan memeluk pinggang gadis itu agar tidak terjatuh. Shinta terpejam hanya saja mulutnya yang tak henti-hentinya meracau.
Mereka pun membaringkan tubuh Shinta ke kursi penumpang mobil Ryan.
"Awas kalau papa sampai tau!" ancam Ryan pada si karyawan yang berperawakan kurus tinggi dan berkacamata itu.
Ryan melangkahkan kaki hendak membuka pintu mobil kemudi. Namun sebuah tangan memegang bahu kirinya. Ryan menoleh, tapi belum sempat mengenali siapa yang menyentuhnya tiba-tiba,
Bugh!!!
Sebuah pukulan telak mengenai pelipisnya. Tubuh Ryan membentur pintu mobil dan seketika juga darah segar mengalir dari alisnya. Ryan mengelap darah dengan punggung tangannya. Pandangannya berkunang-kunang. Ia pun mencoba mengenali siapa yang memukulnya secara tiba-tiba.
"Kau ...." Perkataan Ryan terpotong. Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya.
Bughh!!! Sebuah tinju mendarat kembali di pipi Ryan. Ryan terhuyung dan tersungkur ke tanah. Ia mencoba berdiri namun sosok itu kembali menyerang dan mencengkram kemeja kotak-kotak yang ia kenakan, menariknya dengan paksa hingga Ryan kembali berdiri.
"Iya ... ini aku, Veno!!!" Veno menggeram, rahangnya mengatup kuat. Ia kembali mendaratkan tinjunya ke perut Ryan hingga Ryan kembali roboh jatuh ke tanah untuk kedua kalinya.
Veno kalap mata, Ia pun mengungkung tubuh Ryan dan mendaratkan pukulan bertubi-tubi ke pipi Ryan. Ryan tak mampu bergerak. Darah segar mengalir dari hidung juga bibirnya. Ia hampir kehilangan kesadaran karena menerima pukulan Veno yang membabi buta.
"Apa yang kau lakukan!!!" bentak Veno.
Veno cengkran kembali kerah baju Ryan dengan kedua belah tangannya. Jantungnya semakin berdebar kuat dan aliran darah seolah pecah melihat Ryan tertawa sinis kepadanya.
Bugh!!! Tinjuan terakhir membuat Ryan tak sadarkan diri. Veno menoleh ke arah karyawan itu dan menatapnya dengan tatapan tajam.
"Bilang padanya, jika sekali lagi dia mengganggu Shinta, akan aku pastikan dia membusuk di penjara dan keluarganya, aku
pastikan akan bangkrut!!!" ancam Veno.
Si karyawan hanya mematung, ia kesusahan menelan ludahnya sendiri setelah melihat anak bosnya babak belur dihajar orang.
Veno pun membuka pintu mobil Ryan dan memindahkan tubuh Shinta ke dalam mobilnya.
Flash back.
__ADS_1
Veno memarkirkan mobilnya di halaman kontrakan Andra. Wajahnya berseri membayangkan bertemu dengan sang pujaan hati yang sudah seminggu tidak ia temui.
Veno mengetuk pintu rumah.
"Bang, Shinta ada?" tanya Veno dengan senyum mengembang di wajahnya.
"Gak ada!" jawab Andra tanpa ekspresi seraya mengunci pintu.
"Lha, Abang mau kemana? Terus Shintanya mana?" cecar Veno beruntun. Ia bingung melihat Andra yang sudah rapi seperti hendak pergi ke suatu tempat.
"Aku mau kencan," jawab Andra singkat. Ia sebenarnya masih tidak terima Shinta dekat dengan Veno. Namun setelah mendengar penjelasan Tony tentang bagaimana baiknya keluarga Veno, membuat Andra sedikit lebih ramah pada tamunya itu.
"Shinta barusan pergi. Belum lima menit, katanya dia mau ketemu seseorang di kafe permata yang ada di persimpangan jalan." jelas Andra kemudian naik ke atas motor ninja miliknya.
"O iya ... tolong berhenti panggil aku Abang. Geli tau gak! Kamu aja belum resmi sama Shinta. kalo udah resmi baru boleh," ucap Andra yang serasa menggantung di telinga Veno.
Veno menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Apa maksudnya itu? Apa dia udah ngerestuin atau bagaimana?
"Bang ... tunggu!" pekik Veno yang hendak bertanya lebih lanjut atas perkataan Andra barusan. Namun Andra telah lebih dulu melajukan motornya meninggalkan Veno.
"Kurang ajar sekali mereka!" Veno menggeram, ia pegang kuat setir mobilnya dan memarkirkannya di tepi jalan. Dengan langkah lebar dan mata menyipit tajam ia dekati pria yang mencoba macam-macam pada pada Shinta.
Flash back off.
Veno pasang sabuk pengaman pada Shinta.
"Shinta ... bangun," ucap Veno seraya memukul pelan pipi Shinta. Shinta membuka mata, ia tersenyum namun kembali meracau seperti orang yang sedang mabuk karena alkohol. Ia tangkup kuat wajah Veno dengan kedua tangannya kemudian menangis.
"Dasar bodoh! Payah! Nyebellin! Kamu itu penjahat! Aku benci kamu! Tapi aku tetap enggak bisa melupakanmu ..." ucap Shinta di sela tangisnya. Ia goyang-goyang kepala Veno hingga Veno merasa sedikit pusing karenanya. Tapi tidak lama kemudian Shinta kembali terpejam.
Veno mengusap wajahnya dengan kasar.
"Sialan! Obat apa yang mereka kasih ke Shinta hingga seperti ini," rutuk Veno. Ia pun menghidupkan mobilnya meninggalkan kafe.
Tibalah mereka di rumah kontrakan Shinta. Veno mencari kunci dalam tas Shinta.
__ADS_1
"Aghh sial!" desisnya ketika tak menemukan barang yang ia cari. Veno menjambak rambutnya sendiri, frustasi akan situasi yang ia hadapi.
Akhirnya Veno pun memutuskan membawa Shinta kerumahnya. Namun belum juga sampai rumah Veno kembali diuji. Pengaruh obat kembali menggerogoti tubuh dan pikiran Shinta. Ia kepanasan dan mendadak hasrat se*s nya meningkat. Shinta tak mampu menahannya. Ia lepaskan seat belt dan langsung menciumi pipi Veno dengan rakus.
"Hey ... apa yang kau lakukan Shinta!" bentak Veno yang khawatir Shinta akan terluka karena melepas sabuk pengamannya.
"Aku gak tahan ... tolong aku ..." lirih Shinta di telinga Veno, ia bahkan menggigit telinga itu hingga berdarah. Dan tentu saja Veno menjerit, ia kesakitan dan menghentikan mobilnya. Veno kembali memasangkan sabuk pengamanan pada Shinta yang sudah seperti kehilangan akal.
"Bahaya Shinta! Bentar lagi kita sampai," ucap Veno yang sudah terlihat panik. Ia tau kalau Shinta sedang on.
Veno kembali menghidupkan mesin mobilnya namun Shinta lagi-lagi membuat ulah, ia melepas sabuk pengamannya dan membuka bajunya hingga tampaklah underwear yang berwarna merah muda.
"Panas ... panas ..." ucap Shinta seraya menggeliat.
Veno kesulitan menelan ludahnya. Ya Tuhan ... kuatkan imanku. Batin Veno meronta. Bagaimana bisa aku bisa tenang dalam situasi yang tak normal ini.
Veno makin mempercepat laju mobilnya hingga akhirnya tibalah mereka di garasi. Ia balut tubuh Shinta yang setengah te*anjang dengan jaket miliknya dan menggendongnya masuk ke dalam rumah.
"Pi ... papi ..." panggil Veno. Namun tak ada yang menyahut. Apa papi pergi? Pikir Veno.
Veno pun membawa Shinta ke dalam kamar dan merebahkannya di atas kasur. Gadis itu masih menggeliat dan tak henti-hentinya meracau.
Veno siapkan segala sesuatu untuk menghilangkan pengaruh obat. Ia siapkan bak mandi dengan banyak es batu di dalamnya. Ketika hendak membawa Shinta ke dalam kamar mandi, kekuatan iman Veno kembali di uji Tuhan. Shinta mendadak membuka mata dan langsung menyerang.
*****
Eng ing eng ...
Apa.yang akan terjadi???
Apakah Veno bisa lurus? Atau malam membelok?
Nasib Shinta ada di tangan Veno yaa?
Dan nasib author ada di tangan klean-klean semua. heheheh... yuk mmpir juga ke cerita LUKA REKA 😊
jan lupa like and komen...
__ADS_1
😊😊