Duren Sawit

Duren Sawit
Ular berkepala dua


__ADS_3

"Cepetan Daviiin!" teriak Shinta yang kesal melihat Davin seperti sengaja memperlambat langkahnya. Ia sudah berada di dekat tangga sedangkan Davin masih jauh di belakangnya.


"Ayo cepat sini ... liat, ada cogan," pinta seorang siswi kepada temannya. Dan mereka histeris sendiri setelah melihat sesuatu yang berada di bawah sana.


Shinta juga mendengar komentar-komentar yang dulu sering ia lontarkan ketika mengagumi ketampanan seorang pria.


"Eh eh itu ada cowo cakep banget. Nungguin siapa sih dia?"


"Ya Allah cakep bener. Seger deh liatnya siang-siang gini."


"Aduh iri aku tuh. Sumpah penasaran aku. Siapa sih yang dia tunggu?"


Shinta dulu juga sering seperti itu, sekarang sih boro-boro. Liat yang ganteng-ganteng hatinya mendadak seperti terkena ruqyah. Panaaassss aja bawaannya.


Karena mendengar semua siswi mengatakan hal yang sama, ia pun mencoba melihat sesuatu yang istimewa itu. Namun, ekspresi Shinta berbanding terbalik dari siswi yang lainnya, sebab yang dia lihat adalah seseorang yang tidak ingin ia temui lagi. Ya ... dia adalah Veno.


Veno terlihat berdiri sambil sandaran di pintu mobil sport miliknya dengan mengenakan setelan jas yang terkesan keren. Tangan sebelah kiri ia masukkan kedalan saku celana dan tangan kanan memegang sebuket bunga. Ia begitu tampak berwibawa apalagi dengan adanya kacamata hitam yang bertengger kukuh di hidungnya yang mancung.


"Alamaaakkk meleleh hati adek, Bang!" teriak seorang siswi yang berada di sebelah Shinta.


Veno langsung mengenali wajah Shinta di antara kerumuman siswi yang sedari tadi memandangnya. Ia lambaikan tangannya yang memegang sebuket bunga berwarna merah kepada Shinta dan melepaskan senyuman yang begitu indah..


""Oh my god ... oh my god ... oh my god. Hyun Bin itu mah ..." celetuk siswi yang lainnya.


"Bang Bin bin ... i love you!" teriak siswi yang ada di seberang Shinta.


Veno masih tetap melambaikan tangannya pada Shinta tanpa memandang wajah gadis lain yang heboh karenanya.


"Shin cepat turun, dong!" terik Veno yang ada di bawah sana.


Sontak saja semua murid yang tadinya memandang Veno, kini beralih memandang Shinta. Shinta pun tak sanggup menahan rasa malu. Ia tutup setengah mukanya dengan buku paket yang ia pegang, turun dengan tergesa-gesa melewati tangga menuju toilet. Ia tak bisa beradu pandang dengan siswi lain yang menatap tajam padanya.


Sudah sepuluh menitan Shinta berada di bilik toilet, ia sengaja menghindar agar tidak bertemu murid yang lain. Dan yang pasti berharap Veno bosan menunggunya dan pulang.


Setelah merasa cukul lama, Shinta beranjak dari duduknya hendak menggapai gagang pintu, namun gerakannya terhenti saat mendengar dua orang berbicara dan tertawa di luar sana. Suara yang begitu Shinta hapal. Mereka adalah Tasya dan Eka, teman sekelas Shinta. Awalnya Shinta ikutan tertawa saat mendengar celotehan mereka berdua. Tapi, ketika topik mereka berubah. Raut wajah Shinta juga ikut-ikutan berubah.

__ADS_1


"Eh Sa ... kamu liat gak coker (cowo keren) tadi. Asli gak pake palsu, baru kali ini aku liat sebening itu," ucap Eka.


"Ah biasa aja," sahut Sasa yang terdengar datar.


"Idih mata kamu tuh bermasalah. Cakep banget itu. Tapi kayaknya dia punya hubungan khusus deh sama Shinta. Soalnya aku dengan jelas dengar tu cogan (cowo ganteng) manggil namanya Shinta," ujar Eka yang terdengar tidak menyukainya.


"Ia aku juga gak suka sama dua kunyuk itu. Murid pindahan aja udah bikin gempar sekolah," sahut Sasa.


"Apalagi si Rianti. Muka udah pucet kaya mayat idup gitu masih aja caper ( cari perhatian) sama si guru baru. Mana pura-pura pingsan lagi pas di kelas tadi. kesel banget aku. Benci liat nya," tutur Sasa lagi.


Shinta yang berada di dalam toilet masih mendengarkan dengan seksama ghibahan dua wanita ular itu. Padahal kalau di kelas keliatan baik pada dirinya dan juga Rianti.


Sabar ... sabar, batin Shinta. Ia beberapa kali memejamkan mata mencoba meredam emosi yang sudah naik ke ubun-ubunnya.


Shinta bukan marah karena mereka mengejek dirinya. Ia kesal karena dua orang gadis itu telah menjelek-jelekkan Rianti yang jelas-jelas tidak pernah mencari masalah pada mereka. Bahkan Rianti bisa dibilang peduli. Rianti selalu meminjamkan catatan bahkan PR tanpa protes ataupun mengeluh.


"Ia aku juga gak suka tuh sama mereka berdua. Mereka udah kaya parasit aja di sekolah ini. udahlah kismin, masuk sekolah pun lewat jalur belakang. Mencoreng nama baik sekolah aja," ucap Eka tak kalah sinis menganggap mereka.


"Tuh buktinya si Davin aja sampe ngejar-ngejar dia. Apa sih kelebihan siluman wanita itu," cerca Eka lagi.


Shinta yang mendengar celaan demi celaan hanya bisa terdiam.


Ya ampun author ... kenapa kau ciptakan dua wanita itu di kehidupan kami. Tidakkah cukup cobaan yang telah kau tuliskan untukku dan juga Rianti. Rianti telah mengalami amnesia. Dan sekarang apa? Apa aku juga harus ikut-ikutan gila.


Tidak lama kemudian, suara Sasa dan Eka pun lenyap bertanda mereka telah pergi dari sana. Dengan perasaan emosi yang masih meletup-letup, Shinta keluar dari tempat persembunyiannya dan berjalan menuju gerbang sekolah yang sudah sepi.


Tiba-tiba tangan Shinta ditarik dengan kuat dari arah belakang dan tanpa bisa Shinta hentikan tubuhnya berputar, membentur tubuh orang yang menariknya. Shinta mendengus kesal karena orang yang menariknya adalah Veno. Si kaki tangan Ardi.


"Ih apaan sih tarik-tarik, sakit tau," sungut Shinta sambil menjauhkan dirinya dari tubuh Veno.


"Kamu kemana aja? Udah lama loh aku nungguin kamu. Bunga aja ampe layu begini," ucap Veno sambil menyerahkan bunga yang sudah tidak utuh lagi. Kelopak bunganya sudah bertaburan dan daunnya sudah terlepas dari batang.


Shinta tepiskan bunga itu dan memandang lekat mata Veno.


"Kamu ngapain sih ke sini? Trus ngapain tadi tebar-tebar pesona? Bikin malu aja. Kalo mau tebar pesona jangan bawa-bawa aku dong. Aku gak suka," tutur Shinta yang terdengar emosi. Perasaannya memang udah tidak karuan semenjak di toilet tadi, di tambah Veno yang sedang mengganggunya. Alamat lahar panas lah yang keluar dari bibir tipis Shinta.

__ADS_1


Veno hanya tersenyum. Melihat Shinta marah malah membuat Veno semakin gemas. Ia cubit pipi shinta hingga meringis kesakitan.


"Apaan sih sakit tau gak!" bentak shinta setelah menepis tangan Veno dari pipinya yang chubby.


"Kamu itu kalo lagi marah makin cantik tau gak. Aku makin sayang sama kamu," ucap Veno sambil menyentil hidung Shinta.


"Ih gila. Aku bukan sayangnya kamu ya. Udah sering di bilangin jugak. Bebal banget sih!" rutuk Shinta.


Veno hanya tersenyum. Mendapat celaan bahkan makian Shinta tidak membuatnya patah semangat. Ia malah makin getol mengejar Shinta.


"Ya udah yuk aku antar pulang."


"Gak usah! Aku bisa sendiri!" tolak Shinta.


"Udah jangan nolak! Kalo nolak berarti kamu siap aku cium, bagaimana?" ancam Veno sambil tersenyum licik.


Melihat Shinta yang hanya terdiam Veno pun menaikkan alisnya sebelah, makin mendekatkan wajahnya ke wajah Shinta. Tentu saja Shinta gugup dan dengan terpaksa meng-iyakan ajakan Veno.


***


Kita ngiklan dulu yukh.


ukir alis untuk ke kantor.


kantor di tutup karna libur


plis like dong karya author.


Gegara ini saya jadi lembur.


😁😁😁


gaje ya ... sory deh yang penting mah heppy.


Jangan lupa like dan vote nya serta komen ya geas

__ADS_1


😊


__ADS_2