Duren Sawit

Duren Sawit
teror


__ADS_3

Degh ...


Kotak itu terlempar dari tangannya.


Rianti terperanjat melihat pemandangan mengerikan yang ada tepat di depan matanya. Jantung Rianti seakan berhenti berdetak, matanya terbuka lebar dan keringat dingin mengucur membasahi tubuh. Dengan perasaan yang masih berkecemuk ia amati sekeliling rumah dan menutup jendela kamarnya rapat-rapat.


Rianti menghembuskan napas perlahan dan mulai berjongkok memberanikan diri melihat kotak yang sudah terbuka itu. Ia melihat ada bangkai tikus dan ada beberapa foto dirinya dan foto Ardi. Di sana juga terlihat ada catatan kecil yang sudah bercampur dengan darah. Dengan perlahan ia ambil catatan kecil itu.


Loe mau mati atau tinggalin Ardi!


Sontak Rianti berteriak dan berlari keluar kamar.


"Buk ... ibuk ..." teriak Rianti seraya mencari Dewi. Dewi yang semula sedang berbincang dengan tetangga tentu saja kaget dan menghampiri sang anak yang sedang berlarian mencarinya. Semua orang berkumpul di ruang tengah melihat wajah Rianti yang memucat.


"Kenapa Ri? tanya Dewi yang baru datang dari arah teras. Melihat wajah anaknya yang ketakutan membuat Dewi keheranan.


"Kenapa sayang?" ucap Dewi sambil memegang kedua belah pipi Rianti. Ia heran melihat anaknya yang terlihat pucat. Rianti langsung memeluk tubuh Dewi dengan kuat. Ia peluk tubuh kurus ibunya itu. Semua orang yang ada di sana hanya bisa memandang satu sama lain tanpa bisa berkomentar. Rianti menangis sesenggukan di pelukan Dewi.


"Bu, Riri mau batalin pernikahan ini, Riri takut Bu. Riri di teror. Katanya kalau Riri masih melanjutkan pernikahan ini mereka akan membunuh kita semua," terang Riri secara beruntun, bibirnya bergetar dan matanya sudah berkaca-kaca.


Dewi dan semua orang yang mendengar penuturan dari Rianti menjadi bingung. Bahkan ada beberapa orang menatap aneh padanya. Dewi mencoba melepaskan pelukan Rianti yang begitu kuat dan memandang wajah anaknya yang sedang menangis.


"Kamu mimpi, Nak?" tanya Dewi yang sedang memandang bola mata Rianti.


"Minum dulu, Ri," ucap sang ayah sambil meletakkan segelas air putih di atas meja.


Rianti menggeleng sambil menghapus air matanya. Ia meminum segelas air putih yang ada di atas meja dan mencoba menjelaskan kejadian sebanarnya.


"Buk ... Pak ... Rianti beneran di teror Buk. Kalau tidak percaya, ayo ikut Riri," kata Rianti sambil menggandeng tangan Dewi menuju ke kamar dan di ikuti oleh Ady serta beberapa orang lainnya.


"Di sana ada bangkai tikus, Bu." Rianti menunjuk kotak berwarna coklat yang tergeletak di lantai kamarnya.


Wajah Ady dan Dewi terlihat tegang melihat kotak yang Rianti tunjuk, namun tetap saja mereka ingin mengetahui isi dari kotak yang di bilang Rianti adalah 'kotak bangkai tikus'.


Setelah mendekat dan membuka isi kotak tersebut, seketika wajah mereka yang awalnya begitu cemas menjadi tersenyum gemas. Rianti yang melihat perubahan ekspresi orang tuanya menjadi penasaran dan mulai berjalan mendekat.


"Kamu ini ada-ada aja. Masak gaun bagus begini di bilang bangkai tikus," ucap Dewi sambil memegang gaun putih dengan kedua tangannya.

__ADS_1


Apa ini? Bagaimana bisa? Bukankah tadi di sana ada bangkai tikus?


Rianti tak menegerti situasi apa yang ia hadapi saat ini. Ia pun mencoba melihat kesekeliling kamarnya.


kenapa jendelanya terbuka? perasaan tadi sudah aku tutup.


Ady membelai-belai rambut pendek Rianti.


"Kamu itu beneran bermimpi, Nak."


"Tapi tadi sungguhan bangkai tikus Pak ... Buk," rengek Rianti mencoba meyakinkan kedua orang tuanya.


Dewi memagang pundak Rianti.


"Grori sebelum menikah itu wajar, jadi jangan terlalu di pikirin yah. Banyakin istirahat dan istigfar aja, biar tenang," ucap Dewi seraya tersenyum tipis.


"Yukh Pak, kita keluar. Masih banyak pekerjaan yang menunggu untuk di selesaikan," ucap Dewi sambil menggandeng lengan suaminya dan berjalan keluar kamar.


Kini hanya Rianti seorang yang tersisa di dalam kamar. Ia bingung dan menatap kotak yang ada di dekat kakinya. Matanya kembali berkaca-kaca.


H-3


Rianti masih setia berada di dalam kamar bernuansa pink kesukaannya. Ia menatap jauh ke arah luar jendela. Pandangannya kosong dan mata yang terlihat sayu. Dia benar-benar tidak bisa tidur dan sekarang pun masih tampak kegelisahan menyelimuti wajahnya.


Rianti menscrol nama-nama orang yang ada di kontak ponselnya, kemudian menghubungi seseorang yang ia beri nama si duren sawit.


Nomor yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan ... mohon cobalah beberapa saat lagi.


"Hyufhhh ...."


Hanya desahan putus asa yang terdengar dari mulutnya.


Rianti merebahkan tubuhnya di atas kasur dan menatap langit-langit kamar.


"Kemana sih pria tua itu. Katanya sayang, katanya cinta, tapi pas diperlukan kenapa gak dateng-dateng," gerutu Rianti sambil meremas-remas selimutnya.


Rianti memang merasa takut akan deretan teror yang di terimanya. Namun perasaan rindu pada si calon suami lebih mendominasi. Karena kelelahan dan tidak tidur semalaman, membuat mata Rianti terasa berat dan akhirnya ia pun tertidur pulas.

__ADS_1


Dua jam berselang


Suara alaram membuat Rianti terbangun dari tidur singkatnya. Ia raih ponsel yang ada di nakas berharap mendapat pesan dari orang yang mengaku mencintainya. Namun nihil, tak ada satupun pesan atau telepon yang masuk ke ponselnya.


Rianti menghela napas. Ia mencoba menelepon Ardi sekali lagi. Tapi tetap saja hanya suara operator yang menjawab panggilan darinya.


Ting ....


Masuklah satu notif pesan dari nomor yang tidak terdaftar di ponselnya.


Ri keluar sebentar. Ada yang ingin aku kasih. by Ardi.


Terlihat senyum mengembang di wajah sayu gadis itu. Tanpa curiga ia pun keluar kamar dan berjalan perlahan agar tidak dilihat orang lain terutama sang ibu yang begitu keras menentangnya keluar dari kamar.


Rianti menunggu Ardi tiba dengan perasaan rindu yang menggebu-gebu. Ia menunggu sendirian di bawah lampu jalan di depan rumahnya.


"Kok lama," gurutu Rianti sambil melihat kesekeliling yang terlihat agak sepi.


Jalanan komplek memang tidak terlalu ramai apalagi sekarang waktu hampir menunjukkan jam 7 malam.


Rianti merasakan seseorang mendekatinya dari arah belakang. Senyum Rianti mengembang. Mungkin mas Ardi.


Belum sempat ia menoleh kebelakang, seseorang dari belakang telah menutup hidung dan mulutnya dengan kain. Seketika itu tubuh Rianti terasa lemah, pandangan matanya mulai buram dan akhirnya gelap.


****


Di dalam rumah semua orang sibuk mencari Rianti. Bahkan adik Rianti yang baru 7 tahun pun berteriak memanggil nama sang kakak.


"Pak bagaimana ini?" Suara Dewi mulai bergetar menahan tangis. Ia khawatir anak gadisnya itu akan terluka.


"Bapak udah lapor polisi, Bu. Tapi katanya harus nunggu 24 jam dulu," terang Ady yang tak kalah sedih atas hilangnya Rianti.


Kalau suka dengan cerita ini mohon di like ya...


Kalaupun tidak suka mohon tulis krisan nya di kolom komentar.


makasih karena sudah mampir..😊😊😊**

__ADS_1


__ADS_2