Duren Sawit

Duren Sawit
Mencari tersangka


__ADS_3

Cukup lama mereka terdiam dengan pikiran masing-masing.


"Jadi apa rencanamu sekarang?" tanya Veno yang juga menyandarkan kepalanya di dinding rumah sakit. Sebenarnya ia juga terlihat cemas dengan keadaan Rianti tapi lebih cemas ke pada Shinta yang otomatis akan lebih menjauhinya setelah kejadian ini.


Ardi terdengar menghela napas dan membuka matanya.


"Entahlah, aku bingung. Yang jelas aku akan tetap mempertahankan Rianti. Aku tidak ingin dia meninggalakanku, apa lagi ada anakku di rahimnya."


"Lalu orang tuanya?" tanya Veno tanpa memandang Ardi.


"Sebaiknya jangan dulu. Aku akan mengabarinya kalau situasi sudah terkendali. Memberitahukan kepada mereka sekarang tentang kejadian yang sebenarnya hanya akan membuat mereka mengambil Rianti dariku. Tidak! Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi," ucapnya sambil mengepalkan tangan.


Tidak lama Shinta pun keluar dari kamar rawat inap Rianti. Ia memilih duduk berhadapan dengan dua orang pria yang ia benci.


shinta menghembuskan napasnya lalu memejamkan mata. Ia juga frustasi akan situasi kacau yang tengah mereka hadapi.


"Aku belum sempat memberi tahu Riri tentang kandungannya," ucap Shinta dengan suara datarnya.


Ardi dan Veno hanya menatap heran pada Shinta yang sedang memejamkan mata.


"Aku tidak ingin Riri semakin tertekan dengan mendengar kabar kalau dia sedang mengandung anak dari pria yang telah memanfaatkannya," imbuh Shinta lagi.


Ardi dan Veno terdiam, seolah setuju dengan keputusan Shinta.


Karena memang sudah hampir subuh situasi pun masih lengang dan sunyi. Hanya beberapa perawat yang kadang melewati mereka ketika hendak mengecek keadaan pasien atau pun hanya sekedar mengganti infus.


Dari lorong rumah sakit terlihat Mahendra dengan setelan jas-nya yang rapi terlihat panik, mencari anak dan menantunya. Ia yang sedang melakukan perjalanan akan ke luar kota menjadi putar arah ketika Veno menelepon dan mengatakan semua yang terjadi.


"Ardi ... ada apa ini? Bagaimana keadaan mantu ayah?" ucap Mahendra ketika sampai di depan kamar Rianti. Raut wajahnya yang tua tak bisa menyembunyikan kekhawatiran akan keselamatan menantu kesayangannya itu.


Shinta yang awalnya sudah terlelap dalam posisi duduk jadi terkejut mendengar suara Mahendra. Ia betulkan posisi duduknya dan hanya memperhatikan obrolan ayah, anak dan keponakan itu.

__ADS_1


Mahendra duduk di tengah-tengah Ardi dan Veno.


"Rianti tidak apa-apa, Om. Cuma disuruh banyak istirahat dan menghindari stres," jelas Veno.


"Tapi bagaimana dia bisa mengetahuinya?" tanya Mahendra penasaran.


Shinta yang duduk di depan mereka menjadi menganga dengan mata terbuka lebar setelah mendengar pertanyaan Mahendra.


Whatt! Apa maksud perkataannya itu? Berarti dia juga tau kalau Ardi selama ini telah menipu Rianti. Lalu ...apakah orang-orang di sekitar mereka juga tau itu. Wah ... orang dari keluarga kaya memang sesuatu. Mereka bisa menyembunyikan apapun yang mereka mau.


Shinta berdecak kesal. Mendengar rahasia yang sebenarnya bukan rahasia lagi. Yang tidak tau hanya dirinya dan juga Rianti. Bahkan pembatu di rumah Rianti pun pasti sudah mengetahui rahasia besar itu.


Ardi menjambak rambutnya sendiri mengingat awal mula rahasia yang ia tutupi terbongkar begitu saja.


"Entah lah Yah, tadi sewaktu di hotel ada yang mengetuk pintu dan meletakkan kotak berisi semua foto masa laluku dan Rianti. Semua nya terbongkar Yah," ungkapnya dengan nada putus asa.


Tidak berapa lama ekspresi Ardi berubah total.


"Sialan! Siapa yang berani-beraninya mengusik kebahagiaanku!" ucapnya menggeram dan rahang yang mengatup kuat.


Ck, di saat seperti ini dia malah sibuk menyalahkan orang lain. Dan kalau aku adalah Rianti, sudah pasti aku akan meninggalkannya dan mencari pria lain di luar sana.


Ardi lelah berpikir menebak-nebak siapakah orang yang berani mengusik kebahagiannya dan hanya terlintas satu nama, yaitu Jessika. Bukan tanpa sebab Arsi mencurigainya. Ia pernah melihat pesan ancaman yang ia kirim kepada Rianti. Pesan yang Ardi buka secara diam-diam tanpa sepengatahuan sang istri. Ardi lagi-lagi menahan emosi. Tangannya ia kepalkan dengan kuat dan nampaklah kukunya yang memutih di dalam kepalan tangannya itu.


"Apa tidak ada orang yang kau curigai?" tanya Veno.


"Ada! Aku hanya perlu bukti untuk itu," ucap Ardi dengan yakin.


Ardi melihat jam di tangannya yang telah menunjukkan pukul 5 pagi.


"Veno kamu ke hotel cek semua CCTV yang ada," perintahnya.

__ADS_1


"Dan aku akan kerumah orang yang mencoba menghancurkan rumah tanggaku," ucap Ardi menggeram dan rahang yang mengatup kuat.


Ardi pun pergi dari rumah sakit dan menuju kediaman Jessika. Dengan emosi yang membuncah, ia mengemudi dengan kecepatan tinggi menerobos jalanan yang masih sepi. Ia lampiaskan kekesalannya dengan beberapa kali memukul setir mobil dan mengumpat senyaring-nyaringnya.


Ardi memencet bel berulang-ulang kali. Ia tekan bel rumah kediaman Iskandar untuk mencari Jessika.


"Pak Ardi ... ngapain ke sini?" tanya Jessika yang kelihatan baru bangun tidur dan menguap lebar di depan wajah Ardi.


Tanpa basa-basi Ardi keluarkan semua amarah yang ia tahan.


"Heh! Kamu jangan pura-pura bodoh! Kamu kan yang meletakkan kotak itu di hotel semalam. Jujur!" bentak Ardi dengan mata yang melotot tajam memandang Jessika.


Ardi yang telah dikuasai amarah tidak bisa lagi berpikir jernih. Ia seakan lupa denga titel kehormatannya sebagai pengajar. Yang ia ingat dengan jelas adalah predikat sebagai seorang suami yang ingin melindungi istri dan rumah tangganya.


Mendengar keributan di luar. Orang tua Jessika pun keluar rumah untuk melihat siapa yang datang.


"Hey hey hey ... ada apa ini ribut-ribut," ucap Iskandar, seorang pria paruh baya dengan banyak lemak yang bergelambir di perut. Ia mencoba menengahi pertengkaran antara anaknya dengan seorang laki-laki yang wajahnya sangat familiar bagi Iskandar.


"Aku hanya ingin tau dari mana kau mendapatkan semua itu!" ucap Ardi yang masih terdengar tinggi.


Jessika yang tidak tau menau maksud perkataan Ardi mencoba berpikir sejenak lalu kemudian menyeringai di hadapan Ardi.


"Apa maksud Anda Tuan Ardi yang terhormat. Aku merasa belum membalaskan dendamku kepada istri tercintamu itu," ucap Jessika dengan entengn sambil melipat kedua lengannya di dada.


"Apa istrimu sudah mati atau bagaimana? Baguslah ... jadi dia bisa menemani Amir di sana dan mendapat hukuman yang setimpal dari Amir," ucap Jessika sarkis.


Brakkkk!


Ardi memukul pintu rumah Jessika dengan tinjunya. Sontak saja Jessika sekeluarga menjadi kaget dan juga takut melihat ada banyak darah segar keluar dari buku jari-jari Ardi.


"Kau tau ... kau hampir membunuhnya juga anak yang ia kandung. Apa kau benar-benar ingin masuk penjara. Iya!" ancam Ardi.

__ADS_1


Jessika gelagapan mendengar gertakan Ardi. Ia juga ingin Rianti celaka, namun ia tidak ingin mempertanggung jawabkan sesuatu yang bukan perbuatan. Jessika menjadi gugup. Ekspresi yang awalnya seperti siap menantang maut kini terlihat menciut. Ia lepaskan tangannya dan malah bersembunyi di belakang tubuh sang ayah.


****


__ADS_2