Duren Sawit

Duren Sawit
Mencoba move on


__ADS_3

"Tentu saja tidak! Kau pikir aku gila hingga melakukan tindak kriminal seperti itu?" jawab Ardi yang tak terima di tuduh yang bukan-bukan oleh sepupunya sendiri.


"Jadi menurutmu kau itu waras! Menunggu dan merawat anak kecil hingga besar lalu ketika waktunya tiba bisa langsung kau panen! Udah kaya iklan kecap aja."


Ardi menatap jengah pada Veno yang tak habis-habis mengatakan hal yang buruk tentang dirinya.


"Tapi aku tidak melukai siapapun. Awalnya aku melakukan hal yang sama saat mengusir Doni. Ku kira dengan melalukan negosiasi dia akan menyerah terhadap Rianti. Namun ternyata responnya berbanding terbalik. Ia malah menantangku untuk mendapatkan Rianti secara adil."


"Lalu apakah itu alasanmu melenyapkannya!" ucap Veno yang memotong perkataan Ardi.


Brughh!


Ardi menggeprak meja dengan tatapan penuh kemarahan.


"Bukan aku pelakunya!" teriak Ardi. Mereka pun mendapat perhatian dari orang-orang yang berada di dalam cafe.


Ia meminum segelas air putih yang tersedia di atas meja. Mencoba meredam emosinya yang mulai terpancing karena kata-kata Veno.


"Aku benar-benar tidak tau. Waktu itu aku hendak menemui Amir sekali lagi untuk meyakinkan dia. Di saat itu aku melihat ada mobil yang mengikutinya, kemudian menabrak Amir terus kabur. Aku sudah mencari tau siapa pemilik mobil itu namun plat nomor kendaraan itu palsu."


Veno masih terdiam memutuskan untuk mempercayai atau tidak ucapan Ardi.


"Aku berkata benar. Tolonglah percaya aku. Bukan aku pelakunya," imbuh Ardi lagi.


Veno menghela napasnya.


"Baiklah aku percaya. Apa hanya mereka yang hadir di kehidupan Rianti?"


Kini nada bicara Veno sedikit santai. Ia pun menyeruput kopi hitam miliknya.


"Ada lagi, Arif namanya."


"Wah gak nyangka ternyata Rianti populer juga."

__ADS_1


Ardi menatap tajam pada Veno yang seolah-olah mengejek istrinya itu.


Veno yang di tatap tajam langsung bergidik ngeri.


"Woii santai Bro ... aku cuma bercanda," ucapnya cengegesan.


"Lalu bagaimana dengan Arif? Apa kau juga melemparkan uang segepok pada dia?"


Ardi mendengus kesal. Di saat serius Veno malah terdengar bercanda.


"Tidak! Aku tidak memberinya uang atau mengirimnya ke luar negeri. Aku mengirimnya ke dalam penjara," ucap Ardi dengan Suara datarnya.


Veno sontak terkejut mendengar jawaban dari Ardi.


"Whattt! Serius kamu."


Ia benar-benar tak menyangka, sepupunya yang ia kenal baik waktu kecil sekarang berubah kejam kalau menyangkut soal cinta.


"Dia itu pedofil, dia mendekati Rianti hanya untuk memuaskan nafsu bejatnya saja," ucap Ardi dengan nada yang tinggi.


"Trus apa bedanya kamu sama dia. Kalian sama-sama suka gadis yang di bawah umur."


"Ya beda lah! Kalau aku kan tulus mencintai Rianti. Menjaganya dari kejauhan hingga dia cukup umur." elak Ardi. Ia tak suka di samakan dengan Arif yang jelas-jelas pedofilia.


"Yang kamu cintai itu Stella, bukan Rianti. Jadi berhentilah mengatakan 'aku mencintainya'. Berhenti menipu diri sendiri. Nyatanya kamu bukan mencintai tapi malah menyakiti Rianti."


Ardi terdiam, rasanya ia ingin menyangkal ucapa Veno, tapi memang dia selalu aja menganggap Rianti itu Stella dan Stella itu Rianti. Dia tak bisa membedakan kenyataan dan halusinasi sehingga dia sendiri masih terjebak dengan masa lalunya.


"Cepatlah sadar dan perbaiki semuanya atau kau akan menyesal setelah kehilangan." Veno lagi-lagi menasehati Ardi yang sudah menjadi budak cinta. Yang tidak bisa membedakan mana halusinasi dan Realita.


"Aku tidak bisa, aku pernah mencobanya namun tidak berhasil. Di saat aku mencoba menerima Rianti, aku malah semakin merindukan Stella."


"Berusahalah sekuat tenaga memperbaiki masalah ini. Karena tidak ada rahasia yang abadi di dunia ini," ucap veno sambil menepuk pelan bahu sepupunya itu. Seakan memberi semangat serta dukungan. Veno pun pergi meninggalkan Ardi yang masih berusaha keras memikirkan kata-katanya.

__ADS_1


Pulang dari cafe Ardi memasuki rumah dengan gontainya. Entah bagaimana kata-kata Veno memenuhi seluruh kepalanya. Otaknya mengatakan kalau yang dikatakan Veno itu benar, namun hatinya malah mengatakan yang sebaliknya. Ia tidak tau jalan apa yang harus ia tempuh. Tapi yang jelas ia tidak ingin Rianti pergi darinya.


Ia masuk ke kamar dan mendapati istri belianya sudah tertidur pulas. Melihat wajah polos Rianti semakin menambah cinta sekaligus kesedihan.


Ia rebahkan tubuhnya di samping Rianti, dengan posisi setengah berbaring dengan siku menopang kepalanya. Ia rapikan anak rambut yang berantakan di wajah istrinya itu.


"Stella, tolong jangan maafin aku. Aku telah berani menduakan cintamu yang tulus padaku. Aku mengkhianati cinta kita. Aku akan melupakanmu dan mencoba bahagia bersama Rianti," guman Ardi.


Ia kecup kening Rianti dengan perlahan.


Tanpa ia sadari ada air yang jatuh dari pelupuk matanya sehingga mengenai pipi Rianti. Rianti yang semula tertidur pulas menjadi tersadar. Dengan cepat Ia menyeka air mata itu agar tidak terlihat oleh sang istri.


Rianti memicingkan matanya karena terkena cahaya lampu kamar. Setelah sekian detik barulah ia menyadari bahwa orang yang ada di sebelahnya adalah Ardi. Rianti tersenyum dan langsung memeluk pinggang suaminya itu.


"Mas aku barusan mimpi kalau kamu memberiku sebuket bunga warna putih, cantik banget. Rasanya aku berlarian dan kemudian terjatuh, namun kamu dengan penuh kasih menggendong dan mengobati lukaku," ucap Rianti sambari tersenyum dan mengeratkan pelukannya.


"Kaya film Hindia, Mas." Rianti pun tersenyum mengingat betapa konyol mimpinya barusan.


Ardi masih terdiam, air mata yang sudah ia tahan bertahun-tahun akhirnya luruh jua.


"Aku bahagia tau gak, Mas. Tidak di dunia nyata atau mimpi, kamu itu adalah malaikat pelindungku. Aku bahagia telah memilikimu. Malaikat tak bersayap. Aku mencintaimu, Mas."


Ardi masih terdiam, ia merasakan kepedihan karena secara tidak langsung telah menyakiti Rianti yang sudah tulus menerima dirinya.


Merasa tidak ada respon dari Ardi, Rianti mencoba mengendurkan pelukan untuk sekedar mendongak agar bisa melihat wajah suaminya. Namun dengan cepat Ardi menahan kepala Rianti agar tetap berada di dada bidangnya. Ia tidak ingin Rianti melihat dirinya yang sedang menangis. Ardi eratkan pelukannya, mencium lembut pucuk kepala Rianti dan mengusap pelan punggung istrinya itu.


"Mas juga sangat mencintai kamu. Jadi apapun yang terjadi kelak, tolong dengarkan penjelasan dari Mas dan jangan pergi jauh dari pandangan Mas, ya."


Rianti yang merasa aneh mendengar ucapan Ardi mencoba melepaskan pelukan, akan tetapi Ardi masih tidak melepaskannya.


"Tolong jangan bergerak. Tetaplah seperti ini sebentar lagi," ucapnya lirih.


Rianti yang berada dipelukan suaminya itu merasakan kehangatan. Ia hirup aroma tubuh maskulin Ardi, dan tanpa ia sadari, ia pun akhirnya kembali lagi ke alam mimpi.

__ADS_1


Ardi yang sejatinya memang telah lelah fisik dan pikiran pun ikut tertidur dalam pelukan Rianti.


__ADS_2