
Setelah tiba di ruang UKS, Ardi buru-buru meletakkan Rianti di atas ranjang lalu mencari sesuatu untuk pertolongan pertama. Dan beruntunglah ia dengan cepat menemukannya.
Ardi longgarkan seragam putih Rianti. Membuka kancing kemejanya dengan cepat dan mengosokkan minyak kayu putih. Pikirannya kacau-balau melihat mata Rianti yang masih terpejam. Tidak ada fikiran lain di otaknya. Dia hanya ingin sang istri cepat sadarkan diri. Ia gosokkan minyak ke perut, dada, punggung dan dahi Rianti.
"Ayolah sadar Ri, Mas beneran takut tau gak," ucap Ardi yang begitu terlihat panik sambil menggosok ulang dada Rianti dengan minyak.
Setelah selesai membaluri tubuh Rianti, tiba-tiba Ardi menelan ludahnya sendiri ketika memandang tubuh polos Rianti yang hanya berlapiskan bra berwarna merah muda.
Astaga ... aku benar-benar merindukan tubuh hangat ini.
Ardi masih memandangi tubuh dan wajah Rianti dengan seksama. Yang kalau di lihat-lihat lebih kurus dari sebelumnya.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Plakkk.
Ardi dengan cepat menampar pipinya sendiri berusaha sadar dari imajinasinya yang semakin liar.
"Sadarlah Ardi! Istri kamu sedang sakit. Tidakkah kau kasian dengan keadaannya? Bisa-bisanya kamu membayangkan hal mesum begitu!"
Ardi pun kembali mengancingkan kancing seragam Rianti dengan perlahan dan sesekali menelan saliva-nya.
Belum selesai memasukkan semua kancing ke lubangnya, Rianti ternyata membuka mata dan menatap tajam mata Ardi. Tanpa diduga, dan tanpa permisi pula, Rianti dorong dengan kuat tubuh Ardi hingga terjungkal kebelakang. Ia panik mendapati Ardi sedang memegang seragamnya dan kancing bajunya yang terbuka lebar hingga nampaklah sedikit bra miliknya.
Ardi menjadi gelagapan. Panik seolah telah terciduk berbuat mesum kepada seorang murid. Padahal mah istrinya sendiri, seharusnya sah sah saja, bukan?
"Bapak mau ngapain! Kenapa buka baju saya! Ini pelecehan seksual namanya!" tuding Rianti beruntun sambil mengancingkan dua kancing baju yang telah terbuka. Ia pandang wajah Ardi dengan tatapan begitu tajam seolah memandang seorang penjahat yang sedang mencari kesempatan dalam kesempitan ketika dirinya tidak sadarkan diri.
Ardi berdiri dan merapikan pakaiannya yang berantakan.
"Tidak, bukan begitu Rianti. Itu salah paham, tadi saya hanya ingin menggosokkan minyak agar kamu cepat sadar," elak Ardi yang mendadak takut dipandang seperti itu oleh istrinya sendiri.
Rianti masih tidak percaya. Dia sedang tak sadarkan diri, jadi apapun bisa orang lakukan tanpa dirinya sadari, pikir Rianti.
__ADS_1
"Percayalah, sumpah demi Tuhan ... saya tidak melakukan apapun pada tubuhmu," ucap Ardi mencoba meyakinkan Rianti.
Entah perasaan apa itu, mendadak Rianti langsung percaya, amarahnya langsung mereda. Ia bangkit dari duduknya hendak berjalan keluar ruangan. Baru dua langkah, pandangan Rianti mendadak buram dan sedikit kehilangan keseimbangan. Ardi yang berada tak jauh dari tubuh istrinya itu langsung sigap tanggap menangkap Rianti yang hampir terjatuh kelantai.
"Kamu gak apa-apa, kan? Kalau belum kuat jalan, istirahan aja dulu," ucapnya penuh perhatian.
Rianti yang di peluk seperti itu menjadi salah tingkah sendiri. Seharusnya ia marah, entah mengapa hatinya serasa berbunga-bunga. Alhasil pipinya pun terasa panas serta memerah bak kepiting rebus. Ia pun langsung melepaskan pelukan Ardi dan sedikit menjauhinya.
Ya Tuhan ... ada apa denganku? Apa aku sudah gila? Kenapa hati dan pikiranku tidak singkron sama sekali?
"Gak apa-apa kok, Pak. Udah mendingan," ucap Rianti sambil kembali duduk.
"Sekarang kamu istirahat aja dulu. Nanti saya yang minta izin sama guru yang lainnya. Jadi kamu tenang aja di sini ya ..." pinta Ardi dan hanya direspon anggukan kecil dari Rianti.
Tanpa mereka sadari, sedari tadi Shinta telah mengintip mereka dari kaca jendela. Ia sebenarnya masih membenci Ardi namun ketika melihat perlakuan lembutnya kepada Rianti membuat Shinta merasa bersalah dan terbesit kata 'Kasihan' di benaknya untuk Ardi. Shinta pun berjalan meninggalkan mereka berdua menuju kelasnya.
Sedangkan di dalam kelas, Veno duduk termenung menatap kosong ke arah papan tulis. Mengingat Rianti yang pingsan seperti itu membuatnya ikut merasa bersalah. Ia menyesal membawa-bawa Rianti ke dalam aksi balas dendamnya. Tapi soal perasaan, Davin tulus kok suka sama Rianti. Buktinya baru seminggu Rianti sekolah, Davin telah menyatakan cintanya sebanyak 14 kali.
"Vin ..." panggil Edo tanpa menoleh Davin.
"Hmm ... " sahut Davin yang sedang menopang kepala dengan kedua tangannya mirip girl band cherrybelle. Sedangkan mata masih fokus memandang papan tulis.
"Hmm ... " jawab Davin lagi.
"Udah lama nih kita gak kesana. Kamu sih sibuk terus ngejar-ngejar Rianti. Gak malu apa? Udah di tolak jugak," sungut Edo yang lagi-lagi tanpa menyadari sebenarnya Davin sedang tidak fokus pada dirinya.
"Hmm ... " jawab Davin lagi.
Edo yang awalnya sedang menggambar naruto menjadi kesal. Davin seperti tidak mendengarkan ucapannya.
"Eh nyet! Kamu dengerin aku gak sih! Dari tadi ham hem ham hem doang, udah kaya Nisa Sabbyaan aja," celetuk Edo sambil menepiskan satu tangan Davin hingga kepala Davin membentur meja.
"Ehh eh kenapa sih! Sakit tau gak!" Kesal Davin sambil mengusap-usap kepalanya yang kepentok meja.
"Kamu sih, di ajakin ngobrolalah gak fokus. Jadi gimana?" tanya Edo lagi.
"Gimana apanya?" Davin bertanya balik.
__ADS_1
"Kerumahnya si kribo, bwambwaaang," jawab Edo dengan nada suara naik satu oktaf.
"Kamu aja deh ... aku mau ngajakin ayang bebebh nge-date," jawab Davin santai.
****
Bel berbunyi dan para murid berbondong-bondong keluar kelas dengan memasang wajah sumringah. Entah sekolah kena kutukan apa, setiap jam pelajaran para murid selalu mengantuk seperti dinina bobo-kan oleh guru. Pas giliran bel berbunyi mata mereka langsung terbuka lebar seolah sudah puas berhibernasi.
Shinta memasuki ruang UKS dengan perlahan dan melihat Ardi sedang memandang sedih wajah Rianti yang sedang tertidur pulas.
"Ekhem ...."
Suara Shinta membuyarkan tatapan Ardi.
"Rianti masih tidur, Shin. Kamu pulang aja dulu nanti Rianti aku yang antar," pinta Ardi.
"O ya udah deh. Tapi nanti harus dianter ya. Awas kalo gak!" ancam Shinta.
Ardi hanya diam bertanda setuju. Pecuma menantang Shinta. Karena mencari masalah dengan Shinta sama saja dengan membuat marah istrinya.
Shinta pun keluar Ruang UKS dan ditabrak Davin hingga ia terhuyung dan jatuh ke lantai.
"Daviiiin! Kalau jalan liat-liat dong! Jadi kotor kan rok aku nih!" sungut Shinta sembari membersihkan debu dan pasir yang menempel di rok abu-abunya.
Davin yang mendengar omelan Shinta hanya tersenyum getir.
"Ia deh sorry ... aku buru-buru mau ketemu ayang bebeb."
"Eh tapi kok kamu keluarnya sendiri. Rianti mana?" tanya Davin sambil celingak celinguk kemudian memegang gagang pintu.
Dengan cepat Shinta mencegahnya.
"Rianti gak ada. Udah pulang kayaknya," ucap Shinta dengan wajah datar. Ia sengaja berbohong karena ingin memberikan waktu pada Ardi yang terlihat begitu merindukan Rianti.
"Yaudah antar aku aja yah. Motor aku lagi di service. Lagian rumah kita searah juga kan," pinta Shinta sambil mendorong punggung belakang Davin agar cepat melangkah meninggalkan Ardi dan Rianti yang masih di dalam ruangan.
"Eh kok bisa? Kapan? Sama siapa?" cecar Davin secara beruntun.
__ADS_1
****