
Sore harinya.
"Assalamualaikum ...."
Ardi membuka pintu rumah seraya mengembangkan senyumannya. Rasa lelah seakan pergi ketika memikirkan sang istri menyambutnya di balik pintu. Namun, mendadak senyumnya sirna sebab yang diharap tak kunjung menampakkan dirinya.
Kok gak ada.
Ardi membuka kaus kaki dan sepatunya. Ia berjalan ke arah kamar seraya mengendurkan dasi dan kemeja yang membalut tubuh tegapnya.
"Sayang ... Mas pulang ...."
Lagi-lagi tak ada jawaban. Ardi makin melebarkan langkah. Takut kalau sang istri tercinta jatuh, cidera, pingsan dan sebagainya. Pikirannya berkecamuk, tak biasa Rianti tidak menyambut kepulangannya. Ia buka pintu kamar dengan tergesa-gesa dan perlahan rasa khawatir sirna setelah melihat sang istri duduk di atas ranjang dengan posisi membelakanginya.
Ardi menghela napas lega, ia tersenyum melihat Rianti baik-baik saja. Ia berjalan dengan pelan melihat kamar yang tak seperti biasa. Ada beberapa poster berserakan di lantai, TV menyala dengan menampilkan beberapa pria berpakaian bak pelangi. Mereka bernyanyi sambil menari.
Apa ini? Batin Ardi setelah melihat semangkok rujak ceremai di atas meja. Ia pijit keningnya yang mendadak berdenyut seketika.
Tiba-tiba ide jail terlintas dipikiran Ardi. Ia pun berencana mengejutkan sang istri yang tak sadar akan kehadirannya. Ardi berjinjit, bahkan napas pun ia hembuskan dengan perlahan.
Satu ....
Dua ....
Tiga ....
"Duaaaarrrr ...."
Ardi mencengkram pelan bahu Rianti. Namun, sama sekali tak sesuai ekspektasi. Bukannya terkejut Rianti malah menangis sesenggukan.
Lah lah ... kok nangis. Apa aku terlalu ekstrim ya? Pikirnya. Ardi duduk di sebelah Rianti dan menangkup kedua pipi tirus sang istri. Ia hapus air yang terus saja mengalir di pipi Rianti.
"Sayang ... maafin Mas, Mas gak tau kalau kamu gak suka dikagetin," ucap Ardi lirih seraya menatap mata Istrinya yang sudah bengkak. Akan tetapi Rianti masih saja menangis. Ia lepaskan tangan Ardi dari pipinya dan langsung memeluk tubuh kekar Ardi.
"Ri ... jangan nagis lagi dong. Mas 'kan udah minta maaf," imbuh Ardi lagi seraya mengusap-usap rambut Rianti. Ia peluk erat tubuh Rianti yang sedang menangis pilu.
"Nih Mas ada berita baik. Mas udah dapat cuti. Dan ini tiket kita ke Bali. Jadi kita bisa berangkat besok lusa," terang Ardi seraya mengeluarkan amplop yang ia bawa. Ia lepaskan pelukan dan mencoba melihat ekspresi Rianti setelah tau keinginannya ke Bali akan terlaksana.
Namun bukannya senang, tangis Rianti malah semakin kencang.
__ADS_1
Ya ... salah lagi.
Ardi mengusap wajahnya dengan kasar. Tak tau harus berbuat apa untuk menenangkan Rianti yaang menangis. Bukan sekedar isakan ataupun sesenggukan. Namun, sudah seperti tangisan yang menjurus keteriakan. Begitu memekakkan telinga.
"Sayang ... hey, lihat Mas. Kamu sebenarnya kenapa?" Suara Ardi sedikit naik level mengimbangi tangisan Rianti yang semakin menjadi.
Rianti hapus air matanya, ia ambil tisu dan mengeluarkan semua cairan dalam hidungnya. Ia tarik napas perlahan agar bisa bicara dengan Ardi dari hati ke hati.
"Mas, aku gak mau ke Bali," ucapnya disela tangisan yang tersisa.
Nah loh ... kok bisa gini. Bukannya tadi dia ngotot pengen ke Bali. Ardi garuk tengkuknya yang tidak gatal. Ingin protes namun takut malah bikin stres. Ia urungkan niatnya itu dan mencoba mencari tau apa keinginan istrinya yang masih berada di usia labil.
Ardi hembuskan napas dengan lirih.
"Jadi kamu maunya ke mana?" tanya Ardi berusaha menekan suaranya agar tidak terdengar menggeram. Ia sebenarnya leleh seharian mengajar. Berharap pulang dapat bermanja ria dengan istri tercinta. Namun, lagi-lagi tak sesuai dengan harapan ya pemirsaahh.
"Aku mau ketemu bang Hotman," jawab Rianti sekenanya.
Ardi sontak saja berdiri. Rahangnya mengatup, bertanda emosi sudah naik ke ubun-ubun. Ia memandang tajam pada Rianti yang mengerjap berkali-kali kepadanya. Memperlihatkan mata polos yang setiap saat selalu mampu menghipnotisnya.
Namun tidak kali ini. Tatapan itu sama sekali tak berefek karena jantung Ardi sudah terlanjur bergemuruh. Seakan ada lomba tembak menembak brimob polri di sana.
Ardi melemah. Ia seakan lupa caranya bernapas.
"Mas, aku ingin ke Korea. Aku mau nyusul bang Hotman," cicit Rianti seraya berdiri dan bergelayut manja di lengan Ardi. Ia tak tau saja bahwa suaminya kini telah hangus terbakar api cemburu.
"Kamu selingkuh!!!" bentak Ardi seraya melelaskan tangannya. Ia tak bisa meredam emosinya yang terlanjur mencuat ke permukaan.
Rianti tercekat. Jantungnya melemah setelah di bentak seperti itu. Dan bulir air kembali menetes tanpa bisa ia hentikan.
"Sejak kapan hubunganmu dengan Hotman? Kok tega sih ngeduain Mas dengan pengacara itu? Apa kurangnya Mas? Masalah materi Mas lebih dari dia. Kalau wajah tentulah Mas juaranya. Jadi apa yang kamu lihat dari dia? Sampai-sampai kamu rela mau nyusul dia ke Korea sana," cecar Ardi. Kini suaranya melemah. Hatinya hancur sehancur-hancurnya, remuk, halus seperti debu yang terbawa angin.
Ardi terduduk, tertunduk lesu di samping ranjang. Ia topang kepalanya yang terasa berat memikirkan pengkhianatan dan penghinaan yang istrinya lakukan.
Rianti yang tak paham ucapan Ardi tentu saja melongo. Ia hapus air matanya dan menatap suaminya yang seperti setengah gila. Ia tak terima atas tuduhan tak berdasar suaminya. Ck ... selingkuh? Yang benar saja.
Rianti silangkan kedua lengannya di atas dada.
"Mas ngomong apaaan sih! Aku gak selingkuh, Mas. Aku juga gak ada niatan selingkuh walaupun banyak yang nawarin buat jadi simpenan aku!" ucap Rianti dengan nada tak suka yang cenderung ketus.
__ADS_1
Ardi angkat kepalanya dan memandang Rianti yang sudah melotot kepadanya. Ia tercekat, kesulitan menelan ludahnya sendiri.
"Terus siapa Hotman kalau bukan selingkuhan kamu?" kilah Ardi yang tak mau kalah.
Rianti melongos kesal. Ia berjalan menuju meja dan memungut selembar kertas tebal di sana.
"Hotman tu ini lho, Iniiii!!!!" jawab Rianti menggeram. Ia masih setia dengan emosi yang juga sudah naik tingkatan. Ia bahkan membuka lebar poster Cho Kyu-Hyun anggota boy band super junior ternama di Korea selatan. Ia sibak dengan lebar kertas itu hingga terkena wajah suami yang tak mempercayainya. Setelah puas, ia pun melempar poster itu dengan kasar di lantai.
Rianti kembali berdecak kesal
"Cih selingkuh! Hotman ... pengacara ... ya tuhan ... amit-amit."
Ardi di buat tak berkutik. Ia bersukur pikiran negatifnya barusan tak menjadi kenyataan. Namun, kenyataan bahwa sang istri telah marah lebih menakutkan baginya. Ia beranjak dari rajang dan memeluk tubuh Rianti dari belakang. Posisi pelukan yang begitu di sukai Rianti, back hug.
Sedangkan Rianti masih kesal, ia bahkan meronta dalam pelukan suaminya.
"Lepasin gak!" ucap Rianti masih tak terima dituduh yang bukan-bukan oleh suaminya sendiri.
"Iya deh maaf, Mas gak tau idol kamu juga bernama Hotman," ujar Ardi yang masih mengeratkan pelukannya. Ia tau kalau melepaskan sebelum baikan, masalah bakal makin runyam.
"Ya udah, besok kita ketemu Hotman deh. Kita ambil penerbangan sore aja, gimana?" bujuk Ardi berharap dapat menenangkan istrinya yang sedang merajuk.
"Gak jadi, aku udah gak mood," sahut Rianti ketus seraya menginjak keras kaki suaminya.
"Auw ...."
Ardi mengaduh kesakitan dan itulah kesempatan Rianti lepas dari pelukan Ardi.
"Rasain!!!" Rianti pun melongos pergi meninggalkan Ardi yang berjinjit menahan sakit.
"Sayang ... tunggu!" seru Ardi.
***
Author : Ya udah deh Ardi, bawa author aja yang ketemu Hotman di Korsel sana. plissss😯
Ardi : idih maless... gegara kamu niih kaki aku jadi bengkak gini. Kalo mau, pegi aja sendiri.😡
Author : ihh sengak banget ni anak. Gue santet online, jadi abu lu.
__ADS_1
hahahah iklan gaje. Tapi like sama komen kalian jangan gaje yah. heheh.