
Flasback on
Ardi dan Rianti berjalan meninggalkan Shinta dan Veno yang berada di lobi hotel. Ia pegang erat tangan Rianti seakan tak ingin jauh darinya. Rianti pun tak segan-segan bergelayut manja di lengan sang suami.
Semenjak menikah dengan Ardi tingkah Rianti sudah sedikit berdeda. Dia yang awalnya gadis lugu nan pendiam sekarang berubah 180 derajat menjadi gadis yang periang dan berani. Rianti selalu bersukur karena mendapakan suami yang seromantis dan sebaik Ardi.
Di dalam lift.
"Sayang, kok aku tadi gak liat kakak kamu?" tanya Ardi penasaran karena Reka tidak hadir dalam resepsi pernikahan mereka.
"Kak Reka? Mana mau ikut acara kayak beginian."
"Kak Reka itu orangnya selalu tertutup. Padahal dulu dia orangnya baik, suka tertawa. Tapi dia mulai berubah dua tahun belakangan. Pernah beberapa kali dia pingsan dan kata dokter dia terlalu banyak fikiran hingga hampir mendekati depresi. Tapi beruntunglah gak sampe ke sana. Cuma ya itu, sifatnya jadi berubah, dia lebih suka sendiri dan jadi pendiam," imbuhnya lagi.
Ardi hanya mengangguk pelan.
"Kalau abang kamu?" tanyanya lagi.
"Kalau bang Riko, dia masih kuliah mungkin dua bulan lagi selesai."
"Terus kamu kenapa gak ikutan kuliah?" tanya Ardi yang dari dulu penasaran akan keputusan Rianti yang memilih bekerja dari pada kuliah.
"Males aja Mas. Otakku gak kuat kalo harus belajar terus," ucapnya sambil cengengesan.
"Lagian biaya kuliah itu gak dikit. Bapak cuma guru SD yang gajinya gak seberapa. Kak Reka dan bang Riko bisa kuliah karena mereka cerdas terus dapat beasiswa juga."
"Kalo aku tetep maksain untuk kuliah tapi putus di tengah jalan, kan sayang. Bagus uangnya untuk keperluan adek-adek," jelas Rianti.
Ardi pun tersenyum mendengar jawaban Rianti yang menurutnya sudah bisa berpikir dewasa padahal umurnya masih muda.
Pintu lift pun terbuka dan mereka menelusuri lorong menuju kamar.
"Mas, bisakah kita pergi berbulan madu," tanya Rianti malu-malu sambil memeluk lengan Ardi.
Ardi tertegun dengan pertanyaan spontan dari Rianti. Pasalnya dia tidak pernah kepikiran tentang bulan madu mereka karena terlalu sibuk dengan urusan dan tugasnya sebagai pengajar.
__ADS_1
"Hmm ... baiklah. Mas juga udah izin dua minggu, jadi kita bisa pergi berbulan madu besok. Kamu mau pergi kemana aja pasti Mas turutin." Ardi mengelus-elus rambut pendek Rianti sembari tersenyum kecil.
"Benarkah ...."
Rianti tersenyum kegirangan dan melompat-lompat sedangkan tangannya masih memeluk lengan Ardi.
"Aku mau ke Bali. Bisa?"
Ardi hanya memgangguk sambil menahan tubuhnya yang ikutan bergoyang karen Rianti tak henti-hentinya melompat.
"Udah-udah jangan lompat-lompat. Entar ada yang copot, Mas juga yang repot," ucapnya sambil mengulum senyuman.
Rianti terlihat berpikir sejenak setelah mendengar perkataan Ardi namun masih tak mengerti maksudnya. Ia hentikan langkahnya.
"Apa yang copot, Mas?" tanya Rianti dengan ekspresi polosnya.
Ardi hanya tersenyum sambil melirik dua gundukan yang ada di dada Rianti.
Rianti memasang wajah cemberut karena tau apa yang di maksud Ardi. Ia pun melepaskan lengan Ardi dan mengambil cardlock untuk membuka pintu kamar.
Ardi semakin gemas melihat tingkah istrinya yang malu-malu tapi mau. Ia pun membuka pintu dan tanpa aba-aba Rianti telah melompat ke dalam pelukannya. Ia kalungkan tangannya ke leher Ardi dan kakinya berada di pinggang Ardi.
"Kamu nakal ..." ucap Ardi sambil menyentil hidung Rianti dengan hidungnya.
"Kan Mas gurunya. Aku sih nurut aja," celetuk Rianti asal yang direspon senyuman oleh Ardi.
Ardi menutup pintu dan berjalan dengan posisi yang masih menggendong istrinya. Ia rebahkan tubuh Rianti di atas lemari laci dan ketika hendak melancarkan aksinya terdengar seseorang mengetuk pintu kamar mereka.
"Mas ada yang dateng, aku buka dulu ya," pinta Rianti.
"Iya bukalah, Mas mau mandi dulu."
Ardi melepaskan dasi dan jas-nya, sedangkan Rianti yang membuka pintu kamar. Namun, Rianti sama sekali tak menemukan siapa pun yang berada di sana melainkan hanya sebuah kotak.
Siapa yang menaruh ini di sini? Bukankah semua kado udah di bawa pulang mang Udin, pikir Rianti.
__ADS_1
Rianti ambil kotak kecil itu dan menutup kembali pintu kamar.
"Siapa sayang?" tanya Ardi yang sedang berada di kamar mandi.
"Gak ada siapa-siapa, Mas. Cuma kotak kado," jawab Rianti yang sudah duduk di atas ranjang.
Rianti membuka kotak tersebut dengan hati yang was-was.
Mata Rianti membelalak lebar. Betapa terkejutnya ia setelah melihat isi kotak tersebut. Ada begitu banyak foto dirinya yang masih menggunakan seragam sekolah. Rianti amati foto itu satu per satu dengan perasaan yang tak tentu dan tangan yang sudah mulai gemetar. Begitu banyak fotonya bersama Arif, Doni dan Amir. Darahnya semakin mendidih ketika melihat ada foto Ardi yang sedang memberikan amplop kepada Doni di sebuah restoran. Kemudian foto Ardi bersama dengan Arif dan beberapa polisi. Mata Rianti mulai berkaca-kaca saat melihat Ardi sedang bebicara dengan Amir di depan sekolahnya. Di dalam kotak itu juga ada beberapa foto Ardi dan Stella yang sedang melangsungkan pernikahan di sebuah gedung.
Apa ini? Kenapa ada begitu banyak fotoku? Astaga ... apa jangan-jangan Mas Ardi telah mengincarku sejak lama? Terus siapa ini? Kenapa begitu mirip denganku?
Rianti melihat semua foto-foto Ardi yang terlihat bahagia bersama wanita yang begitu mirip dengan wajahnya.
Apa dia ini Stella? Ya Tuhan, berarti selama ini dia menganggapku sebagai Stella.
Air mata Rianti menetes dengan sendirinya. Masa lalu yang kelam kembali terlintas di benaknya. Tubuh Rianti melemah dan air mata terus saja mengalir tanpa bisa ia hentikan.
Rianti merasakan hatinya begitu sakit. Sesekali ia pukul dadanya yang seperti tidak bisa bernapas dengan normal. Ia sekarang mengerti alasan kenapa Ardi tiba-tiba muncul di kehidupannya.
"Sayang ... kamu kenapa?" tanya Ardi yang baru keluar dari kamar mandi.
Rianti masih tertunduk, menyeka air matanya yang terus saja mengalir. Ardi mendekati Rianti dan mendapati begitu banyak foto tentang masa lalunya dan juga Rianti. Ardi menyadari rahasia besarnya selama ini telah terbongkar dan tak mungkin lagi menyangkal semuanya.
"Sayang ... dengerin aku dulu," ucapnya yang terdengar memelas sambil mencoba meraih tangan Rianti.
Rianti sontak saja berdiri menjauhi Ardi. Seakan ia jijik bila bersentuhan dengan suaminya itu.
"Sayang ... tolong dengerin penjelasan Mas dulu ya ..." pinta Ardi seraya berjalan maju mendekati Rianti namun lagi-lagi Rianti mengelak mundur.
"Stop! Jangan dekati aku! Jangan kau sentuh tubuhku lagi!" Rianti menyeka air matanya. Berusaha sekuat tenaga untuk berdiri.
****
Hai gaes .... jangan lupa like komen dan vote nya ya. Terima kasih sudah mampir.
__ADS_1