Duren Sawit

Duren Sawit
Ngidam


__ADS_3

Seminggu sudah cerita Hotman berakhir. Namun, sikap Rianti yang tak terduga semakin menjadi. Ia bahkan pernah merengek seraya memeluk kaki Ardi agar bisa bertemu dengan pak Jokowi, orang nomor satu di Indonesia. Akan tetapi, Ardi yang telah hapal dengan perubahan sikap sang istri tidak terlalu memusingkannya. Karena ke esokan harinya, pasti Rianti akan melupakan keinginannya itu.


Satu hal yang di sukuri Ardi atas perubahan sikap Rianti. Ia menjadi ganas ketika di ranjang. Rianti lah yang memegang penuh kendali atas dirinya. Sistem tabur kemudian panen. Siang sabar kemudian malamnya ne*en. heheheh ....


Hari ini adalah hari minggu pagi. Setiap week end, Ardi selalu di rumah menemani sang nyonya, pemilik hatinya yang asyik dengan drama Korea. Sedangkan Ardi, merebahkan kepala di pangkuan Rianti seraya berkali-kali men-scroll layar di ponselnya.


"Mas liatin apaan?" tanya Rianti setelah memasukkan sebiji kacang polong ke dalam mulut. Ia penasaran karena sang suami begitu asyik dengan telepon genggamnya.


"Ini, Mas lagi baca berita, katanya Heru akan dieksekusi. Ternyata dia itu selain melakukan percobaan pembunuhan pada kita, dia juga rupanya seorang bandar narkoba yang jaringannya sudah keranah internasional," terang Ardi.


Otak Rianti yang berkapasitas kecil, tidak bisa menampung perkataan sedarhana suaminya. Ia hanya manggut-manggut seakan paham. Tapi sebenarnya tidak.


"Eh tapi kok bisa? Kan dia nya dipenjara. Kok bisa orang yang dikurung melakukan kejahatan lainnya?" cecar Rianti yang sudah di mode kepo. Ia mengerjap berkali-kali karena heran.


Ardi pun beranjak dari posisi enaknya. Tersungging senyum gemas melihat betapa polosnya pemikiran istri kecilnya itu.


"Ya bisa aja sayang. Seketat-ketatnya hukum, yang namanya penjahat tetap bisa menghindar, bahkan mengelabui oknum polisi. Tapi ingat pepatah lama, sepandai-pandainya melompat, pasti bakal terjatuh juga. Sepandai-pandai menyimpan bangkai pasti akan tercium juga," jelas Ardi yang langsung direspon tatapan tajam dari sang istri.


"Kok matanya gitu?" tanya Ardi yang tak paham kalau memori Rianti sudah flash back ke empat bulan yang lalu. Otaknya mungkin kecil seperti tubuhnya. Tapi, memori ingatan wanita lebih panjang dan lebih mulus seperti jalan tol. Hingga kerikil aja Rianti ingat jelas di mana lokasinya.


"Iya, persis kaya kamu," ucap Rianti ambigu seraya menekuk wajahnya. Ia pun beranjak dari sofa ruang tamu menuju halaman belakang rumah.


Nah ... sekarang kenapa aku nya yang merasa sedang dihukum mati, pikir Ardi.


Dengan wajah panik ia pun menyusul langkah Rianti yang sudah terlebih dahulu meninggalkan dirinya.


"Sayang, itu kan masa lalu. Mas 'kan udah dihukum, masa harus dihukum lagi," protes Ardi yang tak suka diabaikan oleh sang istri.


Rianti yang masih di mode jutek, menghentikan langkah dan memutar badan. Ia tatap tajam tubuh tegap Ardi yang berjalan mendekatinya.


"Aku tidak pernah membebaskanmu, Mas. Masa hukumanmu itu seumur hidup. Dan kalau ada satu kesalahan lagi ... junior kamu pasti akan aku potong tanpa tersisa," desis Rianti seraya melirik tajam pada bagian tengah-tengah paha Ardi. Ardi berjingkat kaget dan langsung menutup bagian itunya. "Kok gitu sih ngomongnya," ucap Ardi memelas.


Rianti kembali melangkahkan kaki. Sedangkan Ardi mencari Minah, memintanya menyiapkan cemilan untuk nyonya besarnya yang sedang marah.


Tibalah Rianti di halaman belakang yang luas. Ia duduk di kursi besi yang melingkari sebuah meja bulat di sana. Melihat bunga-bunga yang berwarna-warni membuat hatinya sedikit tenang. Ia tarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan perlahan. Tercium aroma harum yang dihasilkan oleh bunga yang entah berapa jenis sudah ia tanam di sana. Ia sapu sekeliling taman dengan matanya yang berbinar, takjub. Menikmati asrinya kebun belakang rumah. Tiba-tiba pandangan matanya terhenti pada pohon mangga yang lumayan tinggi.


"Kamu ngeliatin apa, yang?" tanya Ardi yang mencoba mengembalikan mood sang istri yang seperti roller coaster. Naik, turun dan melaju dengan cepat tanpa bisa direm kecuali sudah sampai tujuan.

__ADS_1


Namun, Rianti sama sekali tak menyahut. Matanya masih tertuju pada pohon mangga yang sedang berbuah. Ia bahkan beberapa kali menelan ludahnya yang terus saja ada. Seolah ada banjir bandang di dalam sana.


Makin dipandang makin ingin ia menyicipinya. Serasa buah yang asam itu sudah ada di dalam mulut.


Glegg. Lagi-lagi ia telan ludahnya sendiri.


Ia pandangi Ardi. Memasang wajah menggemaskan, mengerjap berkali-kali dan tak lupa senyum lebar hingga nampaklah giginya yang putih bersih. Jurus ampuh agar sang suami mau melakukan permintaannya.


Ardi yang melihat tatapan memohon dari sang istri langsung merasakan hawa tak enak. Merasa Rianti akan meminta yang aneh-aneh seperti hari-hari sebelumnya.


"kenapa ...?" tanya Ardi gugup.


"Mas, aku mau makan itu?" jawabnya seraya menunjuk pohon mangga yang sedang berbuah.


Ardi mengernyitkan dahi. Memijitnya yang mendadak terasa nyeri.


"Yang ... nanti Mas beliin saja ya? Lebih manis dan lebih besar daripada itu," jawab Ardi yang sudah harap-harap cemas.


"Gak! Pokoknya aku mau yang itu!" titah Rianti seraya menekuk wajahnya.


Bagaimana bisa dimakan kalo besarnya cuma kaya jempol begitu. Ardi menghembuskan napas. Tak habis pikir akan keinginan tidak masuk akal itu.


"Gak mau! Aku maunya itu, Mas," cicit Rianti lagi.


Kemudian datanglah Minah membawa nampan berisi jus stroberi dan segelas teh hangat serta biskuit Roma di atas piring. Minah yang tak sengaja mendengar perkelahian pasutri beda usia itu hanya mengulum senyum seraya menyajikan cemilan untuk sang majikan.


"Ya udah. Mas panggilin mang Udin dulu ya."


Ardi hendak beranjak dari kursi namun langsung ditahan Rianti. Lagi-lagi Ardi memandang istrinya dengan tatapan bingung.


"Kenapa lagi?"


"Aku gak mau. Aku maunya Mas yang manjat," perintahnya kemudian dengan wajah yang masih cemberut.


"Yang, Mas gak bisa manjat. Itu lumayan tinggi loh," terang Ardi lagi.


"Kok gak bisa. Naikin aku aja bisa. Yang jelas-jelas punya dua bukit dan lautan dalam," ucapnya yang terdengar ambigu.

__ADS_1


"Malah hampir tiap malam kamu manjatin aku. Dah gitu nyelamnya pun gak pernah bentar. Masa naik pohon gak bisa," ejek Rianti lagi. Ardi tercekat, tak menyangkan perkataan yang begitu vulgar keluar dari bibir tipis istrinya itu. Membuatnya salah tingkah dan kesusahan menelan ludahnya. Sedangkan Minah, setengah mati menahan tawanya.


Akhirnya dengan berat hati ia pun melakukan apa yang Rianti perintahkan. Dan dengan keberuntungan, ia pun bisa meraih buah kecil itu dengan kaki yang sudah gemetar hebat.


"Nih," ucap Ardi seraya menyerakan buah mangga yang hanya sebesar mata kaki.


Rianti dengan wajah sumringah mengambil buah mangga dari tangan suaminya. Matanya berbinar seolah telan melihat emas puluhan kilo. Dengan berjingkrak-jingkrak Rianti pun masuk ke dalam rumah untuk menyantap makanan tak biasa itu.


Minah mendekati Ardi yang membersihkan pakaiannya dari remehan batang pohon.


"Den, kayanya nyonya lagi ngidam deh," bisik Minah.


Ardi yang mendengar perkataan Minah langsung tercenung. Kelopak matanya terbuka lebar hingga bagian putihnya terlihat jelas. Kemudian tidak lama sudut mulutnya tertarik ke atas dan ke belakang. Ia merasa terkejut dan bahagia di saat bersamaan. Ia pun mencoba mengingat kapan terakhir istrinya itu menstruasi dan ingatannya mengatakan Rianti tidak pernah menstruasi semenjak ingatannya kembali.


Entah mendapat kekuatan dari mana, kakinya yang tadi melemah kini terasa telah mendapat suntikan tenanga dari yang maha kuasa. Ia pun melompat kegirangan dan berlari keliling halaman, seolah menang dalam sebuah pertandingan. Sebuah selebrasi hayalan yang membuat Ardi dan minah tersenyum senang.


****


Author : Kok kamu tau istrimu gak menstruasi?


Ardi : Ya tau lah. Orang tiap malam kita baku hantam mulu. 😅😅


Author : Kamu seneng?


Ardi : Ya iya lah ...


Author : Kalo gitu boleh dong biliin aku tiket untuk ketemu Hotman.


Ardi : ya elah ... Hotman lagi Homan lagi. Beli aja ndiri.


Author : Dih kamfett.. gue hantam juga lu..


Ardi : wkwkwk Kabuuuurrrr...


jangan lupa like sama komen ya. klo kagak gue tabok klean klean smua. 😁😁😁


hahaha ... blanjaaa eh salah.. bercanda maksudnya....😂

__ADS_1


__ADS_2