
Masalah adalah salah satu cara Tuhan agar kita mampu melihat yang tersembunyi, mengetahui apa yang ditutupi, memilih yang begitu ingin kita hindari. Sebab dari masalah, kita belajar apa arti sabar, percaya dan apa itu usaha.
Jangan pernah menyalahkan cinta, apalagi yang menjurus ke lembah hitam. Karena hakekat cinta itu sebenarnya suci. Namun, cara berpikir kita yang dangkal hingga akhirnya cinta itu berubah bentuk menjadi hina.
Begitu juga rumah tangga. Berawal dari cinta, kasih dan sayang, hingga akhirnya dua insan memutuskan untuk menapaki jalan yang penuh dengan bunga. Tapi ingatlah kawan, setiap jalan pasti ada kerikilnya. Yang sudah berubah bentuk menjadi rasa cemburu, curiga juga emosi. Semua bergandengan tangan. Bahu membahu membuatmu dewasa dalam menghadapi betapa kerasnya dunia yang tak akan pernah melembut padamu.
÷÷÷÷÷÷ Tulisan gaje dari author receh÷÷÷÷÷÷
Kelahiran sang calon bayi tinggal menunggu hari. Akan tetapi, karena banyak pertimbangan dan kondisi fisik Rianti yang tak memungkinkan, membuat keduanya mengikuti saran dokter untuk melahirkan dengan operasi sesar.
"Mas, aku boleh nanya?" ucap Rianti yang sedang berbaring manja di lengan kiri Ardi. Menghirup aroma mint tubuh sang suami. Ritual wajib sebelum menuju ke alam mimpi.
Ardi yang sedang membaca langsung menyimpannya buku yang ia pegang di atas nakas. Memiringkan tubuh, memeluk tubuh sang istri yang semakin hari makin membulat.
"Apa?" tanyanya balik seraya mengeratkan dekapan.
Rianti mendongak, menatap lekat wajah tampan suaminya.
"Sejak kapan Mas mulai mencintaiku? Bukankah dulu Mas sangat mencintai Stella," tanyanya penasaran.
Ekspresi Ardi berubah ke mode canggung. Menggaruk pelipisnya yang mendadak gatal.
Wah ... topik obrolannya berat banget nih.
Ardi membatin dengan perasaan was-was. Seakan dihadapkan dengan buah simalakama. Dimakan mati ibu. Tak dimakan mati ayah. Ardi tersenyum kecut, memandang Rianti yang melihatnya dengan serius.
"Kenapa bahas itu sih, Yang," ujarnya menengahi pertanyaan yang pasti akan berujung pertengkaran. Ia tau, kesalahan masa silamnya yang fatal tak bisa dilupakan dengan mudah. Akan tetapi, dia sudah berupaya semaksimal mungkin untuk berjalan maju, meninggalakn masa lalu yang kelam.
"Enggak ... aneh aja. Kamu yang bertahun-tahun gagal move on dari Stella mendadak bisa nerima aku. Emang apa yang menarik dari aku?"
Ardi tercekat, kembali dihadapkan dengan pertanyaan yang menjebak. Dijawab jujur, salah. Berbohong lebih salah. Ardi memutar otaknya, berusaha lolos dari pertanyaan yang bisa menimbulkan perang.
"Didunia ini ada banyak yang mendasari terciptanya rasa cinta. Cinta karena pandangan pertama, cinta karena nafsu, cinta karena iseng, cinta yang bermula dari persahabatan dan masih banyak lagi. Namun, pada kasus kita ini sepertinya cinta kita hadir karena terbiasa. Mas yang terbiasa melihatmu, perlahan bisa nyaman hingga akhirnya melupakan masa lalu. Dan sepertinya, Mas juga sudah terhipnotis dengan pesonamu," jelas Ardi panjang lebar seraya menjawel pelan hidung Rianti.
Mendengar penuturan logis dari Ardi membuatnya sedikit kecewa. Ia lepaskan pelukan dan perlahan mengubah posisi, menjadi duduk.
"Kok jawabnya gitu, kenapa gak bilang aku cantik, menawan atau sebagainya," terang Rianti. Bibirnya mengerucut bertanda mood baik sudah lenyap bagai debu terbawa angin. Rianti menunduk risau, meremas-remas kuat selimut yang menutupi perut. Menuruti rasa kesal sebab jawaban sang suami tak sesuai ekspektasi.
Sedangkan Ardi yang mendengar istrinya sedang menggerutu santun begitu hanya mengulum senyum, ia benarkan posisi. Ia duduk dan memeluk tubuh istrinya dari belakang. Ia usap pelan perut Rianti dan merasakan gerakan kecil dari dalam sana.
"Sayang, kecantikan itu relatif. Kekuatan cinta karena fisik itu begitu lemah. Kita ini suatu saat pasti akan menua. Kecantikan ataupun ketampanan pasti akan memudar di makan usia," jelas Ardi.
"Malah sebaliknya, cinta karena perasaan nyaman pada seseorang itulah yang langka. Sampai kapanpun akan tetap seperti itu. Tak akan lekang di makan waktu," tandasnya lagi.
Rianti mengerling, sedikit paham apa yang dikatakan suaminya. Masuk akal juga sih ....
"Tapi walaupun begitu, Mas akan terus mencintai kamu sampai kapanpun. Mari kita hidup bahagia tanpa mengungkit masa lalu. Bisa?" tanya Ardi seraya mengeratkan pelukan. Rianti mengangguk pelan. Mendengar penjelasan Ardi membuat perasaan hangat menjalar di hatinya. Makin sayang aku sama kamu, Mas. Terukir senyuman di bibirnya yang ranum.
Tiba-tiba perasaan hangat itu berubah drastis. Perut Rianti menerik, seolah ada angin bergerak-gerak di dalamnya. Sakit dan nyeri seakan-akan banyak paku menancap di tulang belakangnya. Ia pegang perut yang mengeras. Bersamaan dengan itu keluarlah keringat dingin yang mengucur deras.
"Arghhh ...."
Rianti mengerang seraya menegakkan tubuh.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Ardi keheranan setelah mengetahui bahasa tubuh istrinya yang berubah tajam.
"Mas, perut aku sakit banget ..." rintih Rianti dengan mata terpejam, melawan sakit yang begitu dahsyat dalam perutnya.
__ADS_1
"Mas, sepertinya aku harus ke toilet," terang Rianti lagi seraya mencengkram lengan suaminya yang masih berada dibelakang. Ia sibak selimut yang menutupi setengah badan. Akan tetapi rasa tak percaya membuatnya terkesiap, mata membulat dengan sempurna.
"Yang, kamu berdarah!" Seruan Ardi membuatnya tersadar.
"Argh ... iya, Mas. Sepertinya aku akan melahirkan sekarang ..." ucap Rianti terbata-bata. Ia shock.
****
Ardi menunggu di kursi rumah sakit dengan perasaan yang berkecamuk. Melihat istrinya yang begitu kesakitan membuat ketenangan seolah menguap ke udara. Wajahnya pias, seperti tak mendapat aliran darah. Ia berkali-kali duduk, berdiri, duduk lagi dan berdiri lagi. Mondar mandir di depan ruang operasi dengan hati yang tak henti berdoa untuk keselamatan calon bayi dan sang istri.
"Ardi, bagaimana keadaan Riri?" tanya Mahendra yang baru tiba. Ia sedikit terengah-engah karena berjalan setengah berlari.
"Masih di dalem, Yah," jawab Ardi yang terlihat jelas sedang resah dan gelisah.
"Kenapa bisa sekarang? Bukankah operasi sesar akan di lakukan tiga hari lagi?" tanya Mahendra dengan kening mengerut menyatu dengan keriput di wajah tuanya.
Tiba-tiba keluarkah seseorang dari dalam ruangan.
"Wali nyonya Rianti!" seru seorang perempuan yang berbaju serba putih.
"Iya, saya walinya, Dok." Dengan langkah lebar Ardi dekati sosok wanita yang ia kenal dengan nama Melati.
"Alhamdulillah, operasinya berjalan lancar. Istri dan anak kamu sehat, Ardi. Bayi perempuan dengan panjang 50 cm dan berat badan 3 kilogram," terang Melati seraya tersenyum tulus.
Perasaan lega langsung merayap di hati Ardi. Membuatnya berkali-kali mengucap syukur atas nikmat yang Tuhan limpahkan pada keluarga kecilnya. Bibir terus saja tertarik, memperlihatkan seulas senyum, ada sejuta arti di sana. Ia juga tak bisa menyembunyikan kebahagiaan hingga tanpa sadar ada air mengalir dari ujung matanya.
Di ruang observasi.
Dengan suara lirih Ardi mendekatkan diri di box bayinya. Ia kumandangkan azan di telinga kanan sang anak yang akan mengisi hari-hari di keluarga kecil mereka. Senyum Ardi terukir penuh ketika melihat bidadarinya mengeliat. Seakan paham akan doa yang ia lantunkan.
Aku bersyukur manjadi wanita yang melahirkan seorang anak dari suami yang super hebat seperti kamu, Mas Ardi.
Kini Ardi mendekati Rianti yang terbaring lemah dengan selang infus menancap di pergelangan tangan. Ia belai rambut halus sang istri. Menatap lekat bola mata itu.
"Sayang, terima kasih banyak." Ia kecup mesra kening Rianti, wanita hebat yang telah sudi mengandung dan melahirkan darah dagingnya.
Rianti hanya mengangguk, perasaan bahagianya tak bisa dirangkai dengan kata-kata. Kebisuan dan sorot mata Rianti menjadi saksi, bahwa rasa itu tak selamanya harus diucapkan. Mata keduanya berkaca, saling menatap dalam suka cita.
"Ekhmm ...."
Suara berat Mahendra membuyarkan tatapan cinta Rianti dan Ardi.
"Udah ada namanya belum ni, cucu kakek yang cantik jelita sejagat raya sedunia nyata maupun fana," ucap Mahendra bermetafora seraya memandang gemas wajah mungil sang cucu.
Sontak saja Rianti dan Ardi mengulum senyuman.
"Udah dong, Yah." Rianti menjawab dengan percaya diri.
"Siapa?" tanya Ardi dan Mahendra yang hampir bersamaan.
"Aku kasih nama dia Stella Diantisha."
Dalam sekejap, raut wajah ayah dan anak itu melongo. Tak percaya Rianti memberikan nama Stella kepada buah hatinya.
"Aku kasih nama Stella, karena berkat dialah aku bisa bertemu kalian. Orang-orang baik yang begitu menyayangiku. Dan aku bersykur untuk itu."
"Dan Diantisha itu singkatan dari Ardi, Rianti bersama selamanya," ucapnya kemudian.
__ADS_1
Ardi terharu, tak menyangka pikiran dewasa itu menyelusup di diri sang istri. Ia tatap kembali lekat mata Rianti. Mata polos yang begitu suci.
"Sayang ... terima kasih banyak. Bersamamu aku merasa utuh. Aku merasa paling sempurna bila kau selalu didekatku. Semakin hari rasa cintaku semakin bertambah. Aku ingin selalu bersamamu sampai maut memisahkan dan takdir menyatukan."
TAMAT.
Hai kawan. Bila berkenan mampir ke LUKA REKA ya.
Tanpa Reka sadari, seorang pria berjalan mendekati dirinya. Pria tampan barwajah oriental dan bertubuh tinggi semampai.
"Hallo ..." sapanya dari arah belakang. Suara yang terdengar berat dan mampu membuat jantung gadis itu seakan berhenti berdetak.
"Lama tidak bertemu," ucapnya seraya berjalan dan menghadap tepat di wajah Reka.
Reka mematung. Mendadak pikirannya menjadi kosong.
"Akhirnya aku menemukanmu. Aku tidak tau ternyata kamu tinggal di Jogja," imbuhnya lagi seraya tersenyum. Namun, bukan senyuman ramah yang keluar dari bibirnya melainkan seringaian yang tampak begitu menyeramkan.
Melihat orang yang ada di hadapannya membuat Reka seakan disambar petir di siang bolong. Keringat dingin langsung membasahi tubuhnya. Jari-jemarinya mendadak mati rasa, hingga tanpa sadar kantong yang ada di tangan Reka pun terlepas.
Reka langsung berlari, terus berlari seakan ada yang mengejar dan akan memakannya hidup-hidup. Ia tidak peduli dengan tatapan aneh orang lain kepada dirinya. Air matanya bahkan berguguran tanpa sempat ia seka. Otaknya terus saja mengatakan 'lari Reka, lari!'
Pria itu kembali tersenyum licik.
Pergilah! Pergi sejauh mungkin yang kau mampu, karena aku akan tetap menemukanmu di manapun ķamu berada.
"Hey! Ngapain lo di situ!" seru seorang wanita yang langsung membuyarkan tatapan jahatnya. Dia adalah Melati, teman seprofesinya. Melati turun dari mobil dan menghampiri Irwan yang sedang mematung di depan sebuah toko.
Ya, pria yang berhasil membuat Reka ketakutan adalah Irwan syahputra. Seorang dokter bedah syaraf berusia 34 tahun yang terlihat begitu kharismatik. Irwan sendiri adalah anak tunggal dari seorang pengusaha permata yang omsetnya bahkan sampai triliunan rupiah. Kinara Group, perusahaan terbesar yang berpusat di Jakarta.
"Eh elo, Mel. Ngapain ke sini?" tanyanya kepada sahabatnya itu.
"Elo tuh yang ngapain? Tadi katanya mau beli minum?" tanya Melati balik seraya menaikkan alisnya.
"Gak jadi," ucap Irwan singkat sambil memungut isi kantong belanjaan Reka yang berserakan di tanah, kemudian menggantungnya di atas motor Reka.
Melati semakin bingung akan sikap Irwan, namun memilih mengabaikannya karena ada hal yang lebih penting dari pada itu. Sebab tujuan awal mereka datang ke Jogja adalah untuk menghadiri sebuah seminar yang di adakan di salah satu hotel yang ada di sana.
"Kalo gitu, cepetan kita berangkat. Udah telat ni," rengek melati setelah melihat jam di tangannya yang sudah menunjukkan pukul delapan pagi.
"Sorry, Mel. Elo duluan aja ya. Gue masih ada urusan," elak Irwan. Ia ingin berjalan mencari Reka namun tertahan karena Melati meraih lengan tangannya.
"Lha gimana sih, kita kan perginya barengan. Nanti gue pulangnya sama siapa?" cicit Melati sembari bergelayut di lengan Irwan.
"Ya ampum, Mel. Elo tu udah 30 tahun. Masa iya masih manja sih. Taksi ada, yang online juga banyak. Masih bingung juga mau pulang pake apa!" ujar Irwan yang langsung mendapatkan pukulan kuat di bahunya.
Irwan lepaskan tangan Melati dan langsung berlari mencari gadis yang selama ini terus mengganggu pikirannya.
Melati berdecak kesal dengan sikap Irwan. Ia pun berjalan ke arah bahu jalan berharap dapat menemukan taksi.
"Ck ... temen gak setia kawan," gerutu Melati.
****
Sementara itu, Reka bersembunyi di celah antara dua bangunan. Ia duduk seraya memeluk lututnya. Tubuhnya gemetar hebat dan jantung masih bertabuh dengan cepat. Ia berkali-kali mengintip dari balik susunan keranjang bekas. Berharap tak akan ada yang menyadari keberadaanya di lorong sempit itu.
"Ibuk, Eka takut ..." lirihnya seraya menangis. Ia peluk lututnya dengan kuat dan sesekali menyeka airmata yang seperti tak ada habisnya.
__ADS_1