Duren Sawit

Duren Sawit
seperti vampir


__ADS_3

"Yah Papi ...."


Veno mendengus kesal.


Shinta tersenyum puas.


Rasain! Mang enak.


"Beruntunglah kamu tidak pernah pergi ke kantor. Jadi karyawan tidak ada yang tau kalau kamu itu pewaris tunggal Baskoro Advertising Grup," terang Baskoro memasang wajah tenangnya.


Veno kembali terdiam, sebenarnya Ia ingin protes namun niat itu dia urungkan karena ada Shinta di sana.


"Ya udah Om, Shinta langsung pamit ya," ucap Shinta seraya mencium punggung tangan Baskoro.


Baskoro membelai-belai rambut Shinta dan menatap tajam pada Veno seakan memberinya kode. Veno lagi-lagi mendengus kesal.


Shinta yang tidak mengerti maksud tatapan itu hanya mengernyitkan dahi.


"Iya deh iya .... Shinta aku yang antar." Veno melongos mengambil kunci mobil yang ada di atas meja dan menggenggam tangan shinta.


"Tapi Kak ...."


Lagi-lagi ucapan Shinta terpotong.


"Stt jangan protes! Aku gak mau kena lahar panas!" ucap Veno sambil melirik sang ayah.


"Kamu tuh ya ...."


Ucapan Baskoro terhenti saat melihat sosok wanita yang dulu pernah ia sayangi masuk kedalam rumah bahkan sampai nyelonong ke meja makan.


"Hey hey hey ... ada apa ini pakai acara pegang tangan segala." Yulia melepaskan tangan Shinta dari genggaman Veno.


Baskoro dan Veno hanya saling pandang seakan tak percaya kalau Yulia ada di rumah mereka.


"Siapa gadis kampung ini!" ucap Yulia dengan nada sedikit tinggi sambil menunjuk Shinta.


Shinta terdiam melihat sosok wanita yang tak pernah ia temui namun lagsung mencaci maki dirinya. Tapi ia mencoba tenang, tak mau mencari ribut. Hanya senyum terpaksa yang ia berikan.


"Kamu pacaran sama dia!" Teriak Yulia sambil memandang tajam pada Veno.


"Cuma temen," jawab Veno datar.


Shinta yang mendengar jawaban Veno semakin sedih.


Ya Tuhan ... inikah yang di sebut terluka tapi tidak berdarah. Sakiiiitt ....


"Ya udah, bagus deh kalau cuma temen," ucap Yulia sambil membuang muka.


"Shinta, kamu tunggu di mobil dulu ya ... nanti aku nyusul," ucap Veno.


Shinta mengangguk dan langsung pergi keluar meninggalkan mereka bertiga.


"Kanapa Mami ke sini?" tanya Veno sambil berjalan menuju sofa yang tak jauh dari meja makan.


Yulia menyilangkan kedua lengannya di atas dada.

__ADS_1


"Karena kamu! Kenapa kamu belum juga menghubungi Jessika, ha! Padahal Mami sudah bilang pada keluarga Iskandar kalau kamu akan menemui anak gadis mereka," terang Yulia dengan suara angkuhnya yang khas.


"Kan aku gak pernah setuju. Mami yang mau, kenapa gak Mami aja yang ketemu," kilah Veno yang sudah mulai jengah dengan sang mami.


"Venoo!!!" pekik Yulia. Matanya melolot memandang Veno.


"Sudah sudah ... turuti saja Mami kamu." Baskoro menengahi pertengkaran.


"Tapi Pi ...." Ucapan Veno terhenti saat melihat tatapan tajam dari papinya.


"Bukankah kamu juga menginginkan wanita yang usianya tidak terlalu jauh darimu." Sindir Baskoro.


Venoenghela napas. ia tau tak akan menang jikalau menentang keinginan kedua orang tuanya


"Baiklah ... aku akan menemuinya. Tapi bukan berarti aku mau menikahinya." Nada bicara Veno penuh penekanan.


Yulia tersenyum mendekati Veno sambil mengusap rambut anaknya namun segera di tepis oleh Veno.


"Temui dia nanti malam di kampusnya. Nanti Mami kirim nomor hp Jessika. Hubungi dia ... inget! Bersikap baik!" ucap Yulia mengingatkan.


"Aku gak janji," sahut Veno datar seraya pergi meninggalkan ke dua orang tuanya.


Di luar rumah.


Shinta telah menunggu di dalam mobil sport milik Veno. Selama menunggu Veno, ia tak henti-hentinya menenangkan diri agar tidak terlihat jelas kesedihan yang ia rasakan.


Ck ... cinta tak berbalas, dihina pula, malang benar nasibku.


Kembali ia seka air matanya yang terjatuh.


Veno masuk ke dalam mobil dengan wajah yang ditekuk. Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang dan tanpa berbicara sepatah katapun pada Shinta. Shinta pun lebih memelih diam. Menata hatinya yang sudah tercabik-cabik.


Satu notifikasi chat masuk ke ponsel Shinta.


Rianti.


Shin, kamu masih tinggal di rumah Om Baskoro?


Shinta.


Udah enggak, ni lagi OTW balik ke kost.


Kenapa?


Rianti.


Entar malem aku jemput ya. Mas Ardi ngajakin ke Acara kampusnya. kamu mau kan nemenin aku?


Shinta mendadak tersenyum setelah membaca pesan dari Rianti. Ia pun langsung membalas pesan Rianti.


Oke.👌👌👌


Setelah tiba di depan kost.


Shinta mencoba bertanya untuk terakhir kalinya. Untuk mengakhiri cintanya yang bertepuk sebelah tangan.

__ADS_1


"Kenapa belom turun?" ucap Veno yang langsung membuyarkan lamunan Shinta.


Shinta menggeser tibuhnya. Ia pandang lekat mata Veno dan mata mereka beradu pandang untuk sesaat.


"Kak, apa kamu benar-benar tidak bisa menyukaiku?" tanyanya tanpa basa-basi.


"Iya ... aku tidak punya rasa yang spesial untukmu," jawab Veno dengan nada datar.


"Baiklah, Kak. Aku mengerti, sekarang pulanglah dan semoga selamat sampai tujuan," pamit Shinta seraya membuka pintu mobil. Ia pun melangkahkan kaki meninggalkan mobil Veno. Ia begitu susah menahan bulir air agar tidak menetes. Ia juga mempunyai harga diri dan tidak ingin harga dirinya jatuh lebih rendah lagi. Setelah tiba di kamar, barulah tangisan itu ia tumpahkan. Menangis dalam diam agar tidak ada yang tau betapa terluka hatinya saat ini.


****


Di sebuah cafe di dekat kampus, terlihat Veno sedang asik bermain game online di ponselnya.


"Hai ... kamu Veno, bukan?" tanya seorang wanita yang telah berdiri di depan meja Veno.


Veno yang awalnya begitu asyik dengan ponsel, kini memandang wanita yang sedang berdiri di depannya.


Bukankah cewe ini yang dicuekin Ardi tempo hari.


"Iya ... aku Veno. Apakah kamu Jessika?" tanya Veno balik.


Wanita itu mengangguk pelan dan langsung duduk di kursi yang ada di hadapan Veno.


"Mau pesan apa?" tanya Veno ramah kepada tamunya itu.


"Aku pesan coffe latte saja," jawab Jessika sekenanya.


"Ini ada acara apaan? Kok rame banget?" tanya Veno yang pensaran karena melihat banyak masasiswa yang berlalu lalang di sana.


"Oo ... ini kebetulan lagi merayakan ulang tahun kampus."


Jessika dan Veno akhirnya lambat laun menjadi akrab, sesekali tertawa dan menggoda satu sama lainnya. Hingga saat mata Veno melihat 2 orang gadis muda yang ia kenal masuk ke dalam kafe. Raut wajahnya berubah masam dan lebih banyak diam.


Rianti dan Shinta masuk ke dalam kafe yang sama dengan Veno. Hanya saja lokasi tempat mereka duduk sedikit berjauhan.


Rianti memesan jus apel dan strawbery kepada karyawan, dan tidak berapa lama pesanan mereka pun tiba.


"Ada Mas Veno tuh," ucap Rianti seakan menggoda sahabatnya itu.


Shinta yang tau sedang digoda tentu saja mendwngus kesal. Ia hisal sedikit jus stroberi yang sudah ada di depannya.


"Biarin aja, aku udah gak peduli! Aku udah di tolak 3 kali, jadi untuk apa masih mengharapkannya. Dia benar-benar tidak tertarik padaku," terang Shinta to the point.


Raut wajahnya menjadi kesal apalagi melihat Veno sedang tertawa bersama perempuan lain.


"Iya, mending seperti itu saja. Lupakan dia, karena ibunya itu sungguh menakutkan, aku jamin hidupmu akan menjadi seperti neraka."


Shinta terlihat kebingungan mendengar penuturan Rianti.


"Kamu udah pernah ketemu ibunya?" tanyanya penasara setelah melepaskan bibir dari sedotan jus.


"Iya, dan kau tau ... penampilannya sungguh luar biasa. Udah mirip banget Syahrini, cuma perkataan dan sikapnya bertolak belakang dengan syahrini asli yang lemah lembut, maju mundur cantik. Kalau ibunya si Veno itu udah kaya vampir, yang siap menghisap darahmu menjadi kering hanya dengan mendengar kata-kata pedas darinya," ucap Rianti sambil tertawa geli.


"Ish ... apaan sih kamu pake istilah Vampir segala. Tapi kalau memang benar begitu, berarti yang kerumah mereka tadi pagi emang mantan istrinya om Bas. Soalnya baru masuk rumah saja aku udah di hina abis-abisan. Di bilang kampungan," timpal Shinta.

__ADS_1


****


jangan lupa like komen n vote ya wan kawan. heheh .cukul Shinta aja yang perasaanya tak terbalas. kalo kalian jangan. hehehe


__ADS_2