
Di sebuah kafe yang masih berada di lokasi taman bermain. Rianti mengaduk-aduk jus apelnya dengan kasar. Banyaknya pengunjung yang berlalu lalang tak mempengaruhi perasaannya yang sedang tak karuan. Ia kesal, marah, dan sedih melebur menjadi satu. Bagaimana tidak? Yang direncanakan tak sesuai kenyataan. Bahkan lagu romantis yang di bawakan grup band di sana pun tak mampu memulihkan perasaannya yang sudah hancur berkeping-keping. Halusinansinya tentang indahnya berkencan langsung ambyar saat melihat sang suami hampir pingsan gara-gara phobianya. Apalagi sekarang dia hanya duduk sendiri menunggu Ardi yang telah pergi entah ke mana.
Niatnya mau senang-senang, tapi jadi kacau begini .... Rianti menghembuskan napas dengan perlahan. Sudah sejam ia menunggu tapi suaminya tak kunjung tiba.
Tiba-tiba masuklah sesosok pria yang ia kenal. Semua mata wanita entah tua maupun muda, hanya tertuju pada laki-laki itu. Dengan menggunakan tuxedo dan sebuket bunga di tangan ia hampiri Rianti dan mengulurkan tangannya. Orang-orang di sana bahkan memperhatikan pria rupawan dengan tatapan takjub. Meleleh hati adek bang .... Begitulah kira-kira pikiran para wanita yang ada di sana.
"Mas, apa-apaan ini? Kamu mau ngelamar aku lagi," ucap Rianti yang tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Matanya melotot namun ujung bibir terangkat serta pipi yang sudah berubah warna. Ardi masih tersenyum tanpa menjawab. Ia hanya menggerakkan ujung jarinya sebagai kode agar Rianti menyambut tangannya.
Rianti menggenggam tangan itu. Hangat ... seperti pipinya yang sudah memerah seperti tomat. Mereka kembali menjadi perhatian orang ramai.
Ardi tuntun istrinya hingga tibalah mereka di tepian danau yang terlihat gelap gulita.
"Mas ngapain kesini?" tanya Rianti lagi yang masih tidak mengerti arah kejutan sang suami.
Ardi menjentikkan jari dan langsung saja suasana yang gelap berubah menjadi berwarna-warni oleh lampu yang berkerlap-kerlip. Rianti menutup mulutnya, apalagi melihat jembatan yang ada di tengah danau menampakkan sinar lampu yang bertuliskan 'I LOVE YOU' di sana. Ia menitikkan air mata karena mendapat kejutan istimewa dari Ardi.
"Mas ... ini sungguh indah." Rianti masih menatap pemandangan cantik itu. Akan tetapi kejutannya tak hanya sampai di situ. Tidak berapa lama meluncurlah kembang api yang menggelegar di angkasa. Seolah membelah langit namun terlihat semakin indah. Merah, kuning, hijau, ungu dan warna lainnya menghiasi gelapnya malam. Percikan apinya memecah berkali-kali sehingga mata Rianti dan pengunjung lainnya terpesona dan bersorak gembira.
Ardi peluk tubuh Rianti dari belakang.
"Maafkan Mas ya. Mas harap ini setimpal dengan acara kencan kita yang mas gagalkan," ucapnya seraya mengecup pucuk kepala Rianti.
__ADS_1
****
Sementara itu di rumah kontrakan Andra. Shinta terlihat sumringah memilih pakaian yang hendak ia kenakan. Ia bahkan bersenandung mengikuti suara hatinya yang sedang gembira. Gadis itu keluarkan semua gaun yang dia punya dan mencobanya satu per satu seraya berputar-putar di depan kaca.
"Baiklah, aku pilih yang ini," ucapnya ketika memegang gaun selutut yang berwarna ungu muda.
Hampir sejam dia di dalam kamar. Mempersiapkan segalnya untuk bertemu seorang teman. Ya, teman dumay yang diam-diam ia kagumi. Shinta keluarkan semua peralatan make-up yang sudah lama ia simpan di bawah kolong tempat tidurnya. Sebab setelah scandalnya dengan Haikal. Ia memantapkan diri untuk tidak berusaha menarik minat para lelaki. Namun malam ini sedikit berbeda, si meloholic setuju untuk bertemu dengannya.
"Kamu mau kemana, Dek?" tanya Andra yang keheranan dengan tampilan adik sepupunya itu. Shinta begitu terlihat cantik dan feminim dengan gaun dan bandana di atas kepalanya, tak lupa heels yang menunjang betapa anggunnya penampilan Shinta.
"Aku mau ketemu temen, Bang," jawab Shinta seraya berjalan ke arah depan dengan langkah yang tergesa-gesa.
"Di mana?" tanya Andra dengan suara setengah berteriak karena sepupunya itu sudah berada di teras sedangkan dia sendiri masih di ruang TV.
Setelah menempuh perjalan hampir sepuluh menit, tibalah Shinta di tempat tujuan. Ia parkirkan sepeda motornya dan tak lupa merapikan rambut yang sedikit acak-acakan karna tertiup angin malam. Ia berjalan memasuki sebuah kafe yang lumayan besar namun sama sekali tak ada pengunjung di sana. Aneh, pikir Shinta namun ia tetap melangkah masuk.
Tiba-tiba datanglah seorang karyawan wanita menyapa dan menuntunnya ke sebuah meja yang sudah disulap sedemikian rupa. Begitu romantis dengan banyak lilin dan sebuket bunga mawar merah di atasnya. Shinta tentu saja keheranan namun mencoba untuk tenang. Sambil menunggu ia tuang air putih di dalam gelas yang ada di atas meja dan meminumnya hingga tandas.
Tidak berapa lama terdengar langkah seseorang dari arah pintu. Shinta memasang senyum terindahnya berharap yang datang adalah teman spesialnya. Namun sayang, senyum manis gadis berlesung pipi itu mendadak sirna setelah tau siapa sosok pria itu. Dia adalah Ryan, pria yang mempermalukannya beberapa bulan lalu.
"Hai, sudah lama nunggunya?" tanya Ryan dengan nada SKSD( sok kenal sok dekat). Ia duduk berhadapan dengan Shinta. Sedangkan Shinta langsung membuang muka seolah malas melihatnya.
__ADS_1
"Ngapain kamu ke sini?" tanya Shinta tanpa ekspresi. Ia masih menyimpan dendam pada Ryan.
"Jangan gitu dong ... bukannya kamu yang ngebet banget pengen ketemu aku. Lagian ini kan salah satu usaha papa aku. Jadi wajar dong kalo aku ke sini," ucap Ryan seraya tersenyum sinis padanya.
Mendengar penuturan Ryan sontak saja Shinta merasa tidak enak. Tubuhnya terasa panas dan keluar keringat yang begitu banyak. Ia merasa gerah padahal AC sudah berada pada suhu paling dingin. Ia pun kembali meminum air putih di atas meja, mencoba mengatasi suhu tubuhnya yang semakin naik.
Sial! Ternyata dia si dewa meloholic. Batin Shinta menggeram Ia kepalkan tangannya dan beranjak dari kursi hendak meninggalkan Ryan. Akan tetapi kakinya melemah, ia juga merasa pusing, mual dan hampir kehilangan kendali diri. Shinta terhuyung, namun masih berusaha berjalan menjauhi Ryan.
Ryan tersenyum licik ketika melihat keanehan pada sikap Shinta. Karena memang ini lah yang di inginkannya. Tanpa sepengetahuan Shinta, ia memasukkan sesuatu di dalam air putih itu. Dengan cepat ia menangkap tubuh Shinta yang melemah dan hampir terjatuh.
Ryan menoleh pada salah satu karyawan sebagai kode untuk membantunya membopong tubuh Shinta ke luar kafe dan masuk ke dalam mobilnya.
****
jeng
jeng
jeng
Apa yang terjadi???
__ADS_1
jangan lupa like sama komennya ya.. 😊