Duren Sawit

Duren Sawit
Ingatan Rianti kembali


__ADS_3

Tubuh keduanya langsung roboh. Pikiran Rianti kosong, dengan cepat ia peluk tubuh Ardi yang tergeletak bersimbah darah.


"Pak Ardi, bangun Pak. Ayo bangun," ucap Rianti dengan suaranya yang bergetar. Ia goyangkan bahu Ardi berkali-kali.


Mata Rianti berkaca-kaca dan tubuhnya menjadi lemas seketika melihat perut Ardi yang terus saja mengeluarkan darah. Mendadak kepalanya merasakan sakit yang begitu dahsyat. Terlintas bayangan Ardi dan kenangan lainnya hingga membuat kepalanya seakan siap meledak kapan saja. Penglihatannya perlahan mulai samar.


Satu detik.


Dua detik.


Tiga detik.


Rianti pun tak sadarkan diri.


****


Di rumah sakit.


Telah berkumpul orang-orang terdekat Ardi. Mereka menunggu sambil berdoa untuk keselamatan dan kelancaran operasi yang telah berjalan hampir satu jam lamanya.


Terlihat jelas raut kesedihan di wajah tua Mahendra. Ia terduduk lemas di kursi panjang rumah sakit. Tenaganya seakan lenyap, bibirnya bergetar dan matanya masih berkaca-kaca. Ia tidak menduga akan berada di depan ruang operasi untuk yang kedua kalinya.


"Bertahanlah, Nak," ucap Mahendra lirih. Kini airmatanya terjun bebas tanpa bisa ia tahan. Hatinya begitu pilu jika membayangkan anak semata wayangnya akan pergi menyusul sang istri.


"Tidak akan ada hal buruk yang terjadi pada Ardi, Om. Ardi itu kuat, ia pasti bisa melewati semua ini," ucap Veno berharap pamannya itu akan berhenti khawatir.


Namun Mahendra hanya membisu. Ia masih memikirkan hal yang bukan-bukan akan terjadi pada anak semata wayangnya.


Tidak lama kemudian seorang seorang dokter keluar dari ruang operasi. Dengan langkah yang masih terasa berat, Manendra pun menghampiri sang dokter.


"Bagaimana keadaan anak saya, Dok?" tanya Mahendra yang berjalan dengan di papah oleh Veno.


"Oprasinya lancar, kita hanya perlu menunggunya sadar," ucap sang dokter yang mampu membuat hati Mahendra sedikit tenang. Ia pegang tangan sang dokter dan berkali-kali mengucapkan terima kasih karena telah menolong anaknya.


Sementara itu, Rianti masih tak sadarkan diri. Ia masih terbaring di ruang VIP rumah sakit. Shinta duduk di sebelah ranjang dan dengan sabar menunggu sahabatnya bagun, sesekali ia mengelap wajah Rianti yang berkeringat.

__ADS_1


"Bangun dong. Jangan bikin aku cemas. Katanya kita best friend," ucap Shinta lirih.


Sedangkan Andra memilih duduk di sofa. Entah kenapa melihat apa yang menimpa Rianti dan Ardi membuat hatinya tak karuan. Ia ingin memiliki Rianti seutuhnya namun ketika melihat perjuangan Ardi yang bahkan rela mengorbankan nyawa, membuat tekat Andra menciut. Ia seperti kalah bahkan sebelum berperang.


Andra dekati Shinta yang terlihat cemas dan mencoba menenangkannya. Namun bukannya tenang, sepupunya itu malah menangis tersedu-sedu dengan memeluk pinggangnya.


Tidak berapa lama, pintu terbuka dan masuklah Veno menghampiri keduanya.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Veno yang sudah berdiri di samping ranjang Rianti. Shinta hanya menggeleng pelan dan menyeka air matanya. Ia berdiri menghampiri Veno. Memukul tubuh tegap pria itu berkali-kali dengan tangannya yang lemah.


"Sebenarnya berapa banyak yang kalian rahasiakan? Kenapa Rianti selalu saja mengalami kemalangan?" tanyanya dengan suara yang gemetar. Ia ingin sekali memaki, menjambak bahkan memukulnya dengan kuat namun tenaganya seperti telah terkuras habis, bahkan untuk sekedar berdiri saja terasa begitu susah.


Veno hanya terdiam, membiarkan gadis pujaannya melampiaskan emosi di tubuh kekarnya. Setelah agak tenang, ia peluk tubuh Shinta dengan erat seraya mengecup pucuk kepalanya.


"Maaf ..." ucap Veno pelan.


Mendengar perkataan Veno membuat Andra meradang. Matanya seakan berapi-api dan darahnya terasa mendidih hingga ke ubun-ubun. Ia tarik paksa tubuh sang adik dari dekapan Veno.


"Apa dengan maaf bisa mengembalikan semuanya!" bentak Andra.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Dan siapa orang yang ingin mencelakai Rianti?" tanya Shinta. Sekarang nada bicaranya sudah terdengar tenang.


"Dia itu pembunuh bayaran yang di utus Heru, Mantannya Stella. Dia masih memiliki dendam pada Ardi karena mengira Ardilah yang merebut Stella darinya. Dan demi melancarkan niatnya untuk menghancurkan Ardi, ia mengincar Rianti. Titik lemah Ardi," jelas Veno panjang lebar tanpa ada yang ia tutupi lagi.


Mendengar penuturan itu, jantung Shinta kembali melemah. Ia pandangi wajah pucat Rianti yang terpejam. Gadis malang, batinnya.


"Lalu bagaimana dengan pelakunya?" Kini giliran Andra yang bertanya.


"Sudah meninggal karena luka tembak di bagian perut," jelas Veno lagi.


Namun tiba-tiba Rianti membuka mata dan langsung berteriak memanggil nama siaminya. Sontak saja ketiganya terkejut dan menghampiri Rianti yang telah sadarkan diri.


"Aku mau ketemu mas Ardi, Shinta. Aku ingin tau keadaannya. Dimana dia sekarang?" rengek Rianti kepada sahabatnya itu. Ia pun mencoba turun dari tempat tidur namun di halangi oleh Shinta.


"Tenanglah, Ri. Kamu itu masih sakit. Tidak baik seperti ini," ucap Shinta mencoba menenangkan Rianti yang terlihat panik.

__ADS_1


"Tidak Shinta. Aku tidak sakit. Aku sudah ingat semuanya. Aku ... aku ingin ketemu mas Ardi ..." Kini suara Rianti tersengar bergetar karena mencoba menahan airmatanya. Ia ingat semuanya dan ingin segera bertemu suami yang begitu mencintainya.


Merekapun berjalan menuju ruang observasi tempat Ardi di rawat. Dengan langkah yang tergesa-gesa Rianti buka pintu itu dan menemukan sang suami masih terpejam dengan alat infus terpasang di pergelangan tangan. Jantung Rianti melemah, dengan langkah perlahan ia dekati tubuh suaminya itu. Ia perhatikan dengan seksama wajah Ardi yang begitu pucat dan ada beberapa bekas goresan di pipinya. Tanpa bisa ditahan, airmatanya pun berderai. Ia tidak mampu melihat suami yang selalu merayu dan tersenyum manis kini terdiam seribu bahasa. Ia seka airmatanya yang tak henti-hentinya mengalir dan duduk di sebelah ranjang Ardi.


"Mas, bangun sayang. Kenapa kamu di sini?" ucap Rianti seraya membelai pipi dan rahang suaminya yang memar.


"Katanya kita mau kencan. Tapi kenapa kamu malah tiduran? Ayo Mas, bangun ... aku ingin kita pergi ke pantai. Kita bisa bermain ombak di sana ..." ucap Rianti lagi dengan suara bergetar karena menahan tangisnya.


"Mas, Ayo bangun ..." Rianti menggoyang bahu suaminya karena sang suami tak kunjung membuka mata. Akhirnya tangisnya pun kembalu pecah. Ia tak bisa menahan hatinya yang perih seperti di iris sembilu. Gadis itu sandarkan kepalanya yang terasa begitu berat serta manangis sesenggukan di bahu Ardi.


Semua orang yang melihat pemandangan yang menyayat hati itu tak mampu menahan kesedihan. Terutama Shinta, ia akhirnya menangis di pelukan Veno. Sedangkan Andra pun merasakan hal yang sama, begitu sakit melihat wanita yang di puja menangis pilu karena pria lain.


"Sudah, jangan menangis. Aku tidak akan mati semudah ini," ucap Ardi dengan suara seraknya. Ia belai rambut Rianti dengan pelan.


Rianti mengangkat kepalanya. Ia lega melihat Ardi yang sudah sadar dan tersenyum manis padanya. Tanpa melihat situasi dan kondisi, Rianti berikan ciuman bertubi-tubi pada pipi , kening dan tidak lupa bibir sang suami. Ia bahagia bisa mendapatkan suami yang begitu luar biasa.


"Aku mencintaimu, Mas," ucapnya setelah selesai menciumi setiap inci wajah Ardi.


****


Ardi : Thor kok cuma kecupan? Kasih yang lebih dong.


Author : Lalu kamu maunya yang gimana?


Ardi : Yang lebih panas lah. Si junior udah gak kuat puasanya. Pengen cepet celap-celup.


Author : Oo ya udah entar aku beliin teh celup sama roma kelapa.


Ardi : 😡😡


Author : Kabuuuuurrrr ...


oya jangan lupa tinggalin jempolnya ya wan kawan. heheheh ....


Dan mampir juga ke cerita ke dua ku yang berjudul LUKA REKA.

__ADS_1


Terima kasih 😊☺


__ADS_2