Duren Sawit

Duren Sawit
Kamu bukan malaikat


__ADS_3

Pagi hari.


Rianti mencari-cari keberadaan suaminya yang sudah tidak ada di dalam kamar ketika ia bangun.


"Mas ... mas Ardi ... kamu di mana mas?"


Rianti mencari kemana-mana, dari teras, kamar mandi, dapur, gudang, bahkan halaman belakang tempat menjemur pakaian.


"Apa mas Ardi ada di ruang kerja? Aku susul aja deh ...."


Rianti dengan perlahan melangkah naik anak tangga dan tiba di depan pintu ruang kerja Ardi.


"Baiklah mang, saya harap tidak ada satupun yang terlewat. Sembunyikan semuanya. Saya akan tiba di sana siang nanti."


Setelah mendengar perbincangan singkat itu Rianti hendak mengetuk pintu namun di kagetkan dengan keberadaan Ardi yang sudah membukanya


"Sayang ... kamu ngapain ke sini?" Ardi terlihat gugup.


"Aku nyariin Mas ... aku kira Mas ninggalin aku."


Ardi mencoba menetralisir kegugupannya dengan tersenyum dan memeluk tubuh kecil sang istri.


"Kamu itu pikirannya jangan ke mana-mana. Bagaimana bisa aku pergi ninggalin kebahagiaan aku, hmm ...." Ardi menyentil hidung Rianti dan menggandengnya turun dari lantai atas.


"Lalu Mas tadi nelpon siapa?" Rianti mendongak melihat wajah suaminya itu.


Ardi lagi-lagi terlihat gelagapan.


"Itu ... itu mang Udin. Mas bilang kita akan pindah kesana hari ini.'


"Hari ini? Kenapa mendadak? Bukankah kita akan ke tempatnya mas Veno."


"Sekalian aja ... hari ini kita ke tempat Veno dulu, habis itu langsung ke sana."


Ardi menuntun istrinya untuk duduk di kursi.


"Jadi ... sekarang kamu jangan banyak tanya ya ... kita sarapan dulu habis itu berkemas."


Rianti masih terdiam melihat suaminya dengan telaten membuatkannya roti isi selai coklat kesukaannya.


"Ini Tuan Putri," ucap Ardi seraya meletakkan roti di atas piring Rianti.


Lagi-lagi Rianti tersenyum mendapat perlakuan manis dari suami yang terpaut usia begitu jauh.


****


Di rumah Veno.


"Kamu udah sadar ...." Veno masuk ke dalam kamar dengan membawa nampan yang berisi bubur dan air putih.


"Iya, udah dari tadi ...."

__ADS_1


Shinta mencoba untuk duduk.


"Aww ...." Shinta meringis memegang kepalanya.


Veno langsung meletakkan nampan di atas nakas.


"Kamu jangan gerak-gerak dulu. Kamu itu masih belum pulih." Veno membantu Shinta untuk duduk dan memberi bantal di punggung Shinta.


"Aku di mana? Tadinya aku pikir, aku di rumah sakit tapi masa iya ada rumah sakit yang ruangannya sebesar ini."


"Udah jangan banyak mikir dulu ... ini kamu makan dulu buburnya." Veno meletakkan bubur di atas meja kecil yang ia letakkan di depan Shinta.


Shinta melihat bubur dan kemudian memandang Veno.


"Kamu yang bikin, Kak?" Shinta terlihat tak percaya.


"Ya enggak lah ... aku beli di depan komplek," jawab Veno yang sedang duduk di sebalah Shinta.


"Hmm ... sudah ku duga." Terlihat senyum menyeringai di wajah Shinta yang memar. Ia pun memakan dengan pelan bubur yang sudah hampir dingin itu tanpa tersisa.


"Alhamdulillahh ...." Shinta meletakkan gelas yang juga sudah ia minum airnya hingga kosong.


"Udah selesai, kan? Sekarang coba jelasin bagaimana ceritanya kamu berakhir seperti ini. Untung aja Rianti ngasih tau aku. Kalau gak, bagaimana nasibmu!" Veno berdecak kesal mengingat kejadian semalam.


"Ya gitu Kak. Pak Haikal salah paham. Dia kira, aku menyukainya."


"Sudah ku duga. Itu karena kamu terlalu agresif! Waktu pertama kali ketemu aku aja kamu udah berani ngomong yang bukan-bukan ... trus pas di rumah sakit juga kamu kayak gak punya harga diri. Jangan-jangan dengan Haikal pun kamu juga begitu." Veno manatap sinis pada Shinta.


"Iya aku tau. Akulah yang salah. Aku tak bisa menyembunyika perasaan suka pada seseorang. Aku tak pandai bersikap munafik. Aku begitu menyukai pria yang lebih tua. Tapi yang jelas, aku tidak pernah merayu pria beristri." Mata Shinta mulai berkaca-kaca.


Veno terdiam sejenak setelah mendengar penjelasan Shinta.


"Walaupun begitu dia harus tetap mendapat hukuman. Tapi kenapa kamu membiarkannya? Kamu itu bukan malaikat, karena malaikat tidak akan bertingkah sepertimu." Veno masih kesal mengingat tingkah Shinta beberapa hari yang lalu.


Shinta mengghela napasnya.


"Karena aku gak mau anaknya kekurangan kasih sayang seorang ayah ... aku gak mau mereka sama sama sepertiku yang hanya mendapat kasih sayang dari keluarga yang lain." Shinta menangis sesenggukan.


Veno menarik tubuh Shinta ke dalam pelukannya. Melihat Shinta menangis, membuat hatinya juga menjadi sakit.


"Sudah ... jangan nangis lagi. Maafin aku ya.. aku yang tidak pengertian..disaat kau sedang sakit begini aku malah memerahi dan menyudutkanmu." Veno membelai rambut panjang Shinta dengan lembut.


Tak berapa lama.


Ceklekk.


Pintu kamar terbuka dan sudah ada Baskoro di sana.


Baskoro tertegun melihat pemandangan yang tak biasa itu. Ia melihat seorang gadis muda sedang menangis dengan lebam di wajahnya, membuat Baskoro menatap tajam ke arah Veno.


Veno yang terkejut, langsung berdiri. Ia kesusahan menelan ludahny sendiri

__ADS_1


"Papi ... ini bukan seperti yang Papi fikirkan."


Baskoro memandang Shinta yang sedang menghapus jejak air matanya.


"Kamu kenapa? Siapa orang yang telah melakukan hal hina seperti ini!" Nada suara Baskoro terdengar tinggi.


"Maaf Om, Mas Veno tidak melakukan kesalahan. Malah sebaliknya, dialah yang menolong saya, kalau tidak ada Mas Veno entah bagaimana nasib saya." Shinta kembali menangis.


Mendengar pernyataan gadis itu membuat Baskoro sedikit tenang. Ia belai rambut Shinta.


"Iya jangan menangis. Om percaya padamu. Kalaupun Veno yang membuatmu selerti ini. Om lah yang akan memasukkannya ke penjara."


Baskoro menatap tajam pada veno.


"Ayo ikut papi keluar!"


Di ruang tamu, Veno menceritakan semuanya kepada Baskoro.


"Kasian gadis itu. Kalau dia mau, dia bisa tinggal sementara di sini sampai lukanya sembuh. Papi gak tega liatnya," ucap Baskoro.


Ting tong ... ting tong.


"Biar Veno aja Pi yang buka."


Di luar rumah terlihat Ardi dan Rianti sudah berdiri di balik pintu.


"Ayo silakan masuk," ucap Veno beramah-tamah dengan tamu sekaligus sepupunya itu.


Mareka bertiga pun masuk ke ruang tamu dan bertemu Baskoro di sana.


"Apa kabar Om," sapa Ardi yang di ikuti langkahnya oleh Rianti dari belakang.


Baskoro menyambut Ardi dan mempersilakan mereka untuk duduk. Wajah Ardi sedikit berubah saat Baskoro kelihatan sedang mengingat sesuatu ketika memandang istrinya.


"Kamu istrinya Ardi? Siapa namamu?" Baskoro memandang Rianti lalu kemudia memandang Ardi.


"Nama saya Rianti Om."


"Tapi kenapa wajah kamu sepertinya tidak asing ya ... rasa-rasanya Om pernah liat kamu, tapi di mana ya?"


Ardi dan Veno terlihat saling adu pandang.


"Mungkin di toko baju Om, soalnya dia pernah kerja di sana?" ucap Ardi seraya memandang Veno seakan memberi kode keras kepada sepupunya itu.


"Aaahh iya Pi ... dia ini temennya Shinta juga. Jadi dia kesini untuk melihat Shinta. Ayo Rianti ikut aku, Shinta sudah menunggumu di dalam.


****


Jangan lupa like dan komennya ya ....


Jangan jadi CCTV 😊😊😊

__ADS_1


__ADS_2