
Di ruang UKS.
Tanpa bosan Ardi menatap wajah Rianti yang masih terlelap. Sudah satu jam lamanya Rianti tertidur dan selama itu juga Ardi memandang wajah sang istri yang telah seminggu hanya bisa ia lihat dari kejauhan saja. Ia mendekati ranjang dan menyentuh dengan pelan mulai dari dahi, hidung, dan juga bibir Rianti dengan jari telunjuknya. Ardi begitu merindukan wajah istri belianya itu. Namun apalah daya, Rianti sama sekali tak mengingatnya dan itulah yang membuat Ardi semakin sedih dikala memandang wajah Rianti. Lagi-lagi ia mainkan telunjuknya di daerah pinggir bibir tipis Rianti kemudian mengecupnya dengan pelan. Terukirlah senyum pahit Ardi karena hanya bisa sebatas itu, padahal ia begitu inginkan lebih dari sekedar kecupan. Karena kelelehan, Ardi pun mencoba memejamkan mata dengan posisi duduk bersandar dengan kepala mereka yang sejajar.
Lima belas menit kemudian.
Ting ....
Ting ....
Ting ....
Ting ....
Rianti terbangun dari tidurnya ketika mendengar banyak notifikasi chat yang masuk ke ponsel Ardi. Ia mengerjapkan mata beberapa kali, mencoba memfokuskan pandangannya yang masih terlihat buram, betapa terkejutnya Riantu setelah melihat wajah Ardi tepat disebelahnya.
Rianti melirik jam di tangannya.
Gila udah jam 4 ... sudah berapa lama aku tertidur?
Rianti beranjak dari ranjangnya dan mendekati Ardi yang tertidur dengan posisi duduk. Ia pun berjongkok dan memandang lekat wajah sang guru.
Rianti seakan terlena dengan pria yang berada di hadapannya.
"Ganteng ..." gumamnya pelan. Lalu ia pun tersenyum sendiri melihat tampang Ardi yang bisa dibilang ciptaan tuhan paling sempurna. Kulit yang putih bersih, bulu mata yang lentik, alis yang tebal, hidung yang mancung dan juga rahang persegi membuatnya terlihat begitu maskulin.
Dengan wajah yang bersemu merah dan senyuman yang terukir di wajahnya ia beranikan diri untuk meraba wajah Ardi dengan jemarinya. Dan tentu saja jarinya berhenti tepat di bibir seksi si guru baru.
Melihat bibir yang begitu merah menggoda membuat Rianti membayangkan hal yang tidak-tidak. Dengan cepat dia memukul kepalanya pelan.
"Stop Rianti! Berhenti berhayal yang bukan-bukan! Dia ini guru lho. Tidakkah kau lihat dia itu tua. Umurnya mungkin dua kali lipat dari mu, dan pastilah dia sudah beristri. Sadarlah ... sadar!" gumamnya lagi.
Rianti beranjak dari posisinya, namun Ardi dengan cepat menarik tangan Rianti hingga Rianti mendarat tepat di dada bidang Ardi.
Wajah Ardi begitu dekat dengannya, bahkan saking dekat, Rianti bisa merasakan hembusan napas Ardi dan dapat menghirup aroma tubuh yang dia rasa begitu mengenalnya. Terasa pula detak jantung Ardi yang berdegup tak beraturan karena tangannya menyentuh dada Ardi yang keras.
"Aku seorang duda, Rianti. Dan maukah kamu menjadi istriku?" ucap Ardi dengan tulus yang seperti sebuah lamaran di telinga Rianti.
__ADS_1
Rianti membisu, masih memandang wajah Ardi yang seperti telah menghipnotisnya. Bahkan tanpa dirinya sadari dia masih berada di dalam dekapan Ardi.
Rasanya aku pernah mendengar ini, batin Rianti.
Ardi tatap lamat-lamat wajah Rianti yang begitu dekat dengannya dan begitu juga Rianti yang turut memandang intens mata indah Ardi.
Cup.
Sebuah kecupan hangat mendarat cepat di bibir Rianti.
Rianti tentu saja terkejut ketika Ardi yang mendadak menempelkan bibirnya. Ia refleks menjauh dari wajah sang guru.
"Maukah kamu menikah denganku," tanya Ardi lagi.
Mendengar pertanyaan yang sama tentu saja Rianti tercengang.
Ni guru gila atau amnesia. Gak liat apa aku masih sekolah gini.
"Maaf Pak, Bapak bercanda atau bagaimana? Ini bener-bener gak lucu ya, Pak," ucap Rianti sambil mengelap bibirnya. Ia tidak terima ciuman pertamanya diambil begitu saja oleh pria tua yang bahkan tidak ia kenal.
Ardi terhenyak, hatinya terasa terhempas di dasar jurang. Begitu sakit rasanya ketika orang yang di sayang masih menyimpan kenangan dan ingatan dari seorang mantan.
Ardi yang melihat Rianti berjalan menjauh langsung beranjak dari posisinya dan mengejar langkah Rianti.
"Tunggu, Ri. Saya antar kamu pulang."
"Gak perlu Pak, saya bisa minta jemput bang Aan," ucapnya sambil memasang wajah tak suka. Rianti pun melanjutkan langkahnya menuju gerbang.
Sekali lagi hati Ardi sakit seperti tercabik-cabik. Ia hembuskan napas beratn dan memegang pergelangan tangan Rianti.
"Ini udah sore loh,Ri. Kalau kamu minta jemput sekarang, kira-kira jam berapa kamu nyampe rumah? Sama saya aja. Saya gak akan macem-macem."
Akhirnya Rianti setuju dan mengikuti langkah Ardi menuju parkiran sekolah. Setelah tiba Ardi pun membukakan pintu mobilnya. Rianti yang diperlakukan manis seperti itu tentu saja merasa canggung dan senang secara bersamaan. Ia tahan napas ketika Ardi begitu dekat dengan dirinya, memasangkan seat bealt dan tersenyum manis.
Dert dert dert ...
Ardi merogoh saku celana, mengeluarkan ponselnya yang bergetar.
__ADS_1
"Tunggu sebentar ya ... saya angkat telpon dulu," ucapnya seraya berjalan agak menjauh dari mobil.
Melihat Perlakuan sang guru mengingatkan Rianti akan sosok Amir yang juga begitu baik dan manis kepadanya. Sosok laki-laki yang sudah dewasa di umurnya yang masih remaja.
"Amir ... kenapa kau begitu cepat pergi. Aku merindukanmu," ucapnya Lirih sambil menghapus air mata yang terlanjur menetes.
Tidak lama kemudian Ardi pun menghampiri Rianti sambil mengamati sekitar dan terlihat kekhawatiran di wajahnya. Ia tutup pelan pintu mobil Rianti dan kemudian ia pun masuk ke dalam mobil.
Sepanjang perjalanan Ardi hanya terdiam. Senyuman mendadak hilang dari wajahnya. Ia lebih sering memandang kaca spion hampir semenit sekali. Rianti yang memang mood-nya sedang tidak baik pun tidak memepermasalahkannya. Suasana hening, senyap, mereka hanyut dalam pikiran masing-masing.
Tibalah mereka di depan rumah kontrakan Andra.
"Ri, untuk sementara ini kamu jangan keluar rumah dulu ya, bahaya!" ucap Ardi ketika membukakan seat bealt yang melingkar di tubuh Rianti.
Rianti yang diperintah seperti itu, tentu saja bingung akan perkataan sang guru yang tidak ada hubungan dengan dirinya. Ia turun dari mobil dan memandang wajah Ardi yang terlihat khawatir.
"Mang kenapa, Pak? Apa masalahnya? Bagaimana bapak bisa tau saya akan dalam bahaya? Apa ada yang Bapak sembunyikan?" tanya Rianti beruntun.
Ardi mengelap wajahnya secara kasar dan langsung memegang bahu kecil istrinya itu.
"Rianti, tolong turuti perintah saya dan jangan banyak tanya. Bisa!"
Rianti terdiam, melihat wajah sang guru yang terlihat panik. Ia pun mengangguk pelan.
"Ok, sekarang saya akan pergi dan tolong kamu cepat masuk rumah!" perintahnya lagi.
Ardi pun berlalu mengendarai mobil sport miliknya keluar komplek.
Ketika hendak menyebrang jalan, Rianti tidak sengaja menabrak seseorang yang bertopi dan berbaju serba hitam. Ia tidak memperhatikan wajah orang itu. Dia hanya sibuk memungut buku-bukunya yang berserakan di aspal.
"Maaf, Pak. Saya tidak sengaja."
****
Eng ing engg
Siapakah dia. Hayu ... komen like and vote.. hehe
__ADS_1