
Mendengar tuduhan Ryan, sontak membuat Shinta menjadi gugup. Ia benar-benar tidak seperti itu namun tidak tau cara membuktikannya.
Shinta melepaskan tangannya dari lengan Veno, namun Veno menghentikannya. Mata mereka saling pandang, kemudian dengan cepat Veno meraih leher Shinta sehingga gadis itu sedikit mendongak. Tanpa ba bi bu ia mengesap bibir Shinta dengan bibirnya. Pagutan demi pagutan ia layangkan ke bibir kecil Shinta. ******* yang berawal lembut kemudian tanpa disadari menjadi sedikit naik level. Terdengar suara sorakan dari mahasiswi yang melihat adegan tak senonoh mereka.
Shinta yang diserang tiba-tiba tidak bisa berbuat apapun. Dia tidak tau harus berbuat apa karena ini adalah pengalaman pertamanya. Dia hanya terdiam membiarkan Veno memegang penuh kendali atas bibirnya yang masih perawan.
Ryan mendengus kesal dan mulai beranjak pergi. Ia merasa di permalukan oleh dua sejoli yang tak jelas hubungannya itu.
"Awas kalian!" ucapnya menggeram.
Kerumunan pun mulai menyepi dan hanya tinggal Shinta dan Veno di sana. Veno seperti lupa dengan tujuan utamanya mencium Shinta, ia seperti terlena hingga Shinta yang terlihat kehabisan nafas mendorong tubuhnya untuk menjauh.
"Udah Kak," ucap Shinta sambil mengatur napas yang terdengat terengah-engah. Shinta mengelap bibirnya yang terasa basah. Wajahnya mulai menghangat mengingat kejadian barusan.
Veno pun tak kalah canggung. Ia tak tau cara menyelesaikan masalah yang melibatkakan perasaan itu. Sejak kejadian di toko, Veno sudah menyadari bahwa gadis di hadapannya itu menyukai dirinya, di tambah kejadian barusan membuatnya tidak tau harus menjelaskan mulai dari mana.
Melihat wajah Shinta yang mulai bersemu merah membuat Veno menjadi serba salah. Ia tak ingin bertanya karena memang sudah tau jawabannya.
Gadis ini pasti baper ... astaga Veno, kau begitu bodoh!!!
"Ayo, ikut aku," ucapnya sambil menarik tangan gadis itu.
Shinta hanya menurut saja di tarik oleh pria yang menjadi pujaan hatinya.
"Masuk!" perintah Veno seraya membukakan pintu mobil kepada gadis kecil nan pendek itu.
Shinta ikuti instruksi itu tanpa perlawanan. Mobil pun melaju kencang menyusuri jalanan kota yang sudah lenggang. Sepanjang jalan mereka hanya terdiam, seakan hanyut dengan pikiran masing-masing.
Shinta yang sedari awal sudah terbawa perasaan tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan. Sesekali ia memandang pria tampan yang sekarang sudah menjadi pahlawan baginya.
"Jadi sekarang kita resmi pacaran?" tanya Shinta dengan malu-malu sambil memainkan jari telunjuk kiri dan kanannya.
Veno yang mendengar pertanyaan aneh tersebut mendadak menghentikan laju mobilnya. Shinta menjadi kaget dan memandang wajah Veno.
__ADS_1
"Aku masih waras, jadi tidak mungkin aku berkencan denganmu!" ucapnya sarkis
"Tapi ... tapi tadi kau menciumku, Kak." Shinta terlihat kewalahan menahan air matanya. Hatinya mendadak terasa teriris padahal baru saja berbunga-bunga.
"Aku hanya mengikuti kebohonganmu," ucap Veno dengan penuh penekanan. Ia palingkan tatapannya dari mata Shinta yang sudah berkaca-kaca.
"Kalau aku tidak melakukannya? Apa kau bisa keluar dari situasi menyebalkan seperti tadi?" imbuhnya lagi.
Shinta yang awalnya sedih kini menjadi terpancing emosi. Ia seka air matanya yang mengalir di pipi tirusnya.
"Emangnya aku pernah minta tolong padamu untuk membantuku?" ucap Shinta dengan nada setengah berteriak.
"Lalu, apa pernah aku minta kau untuk menciumku!!!"
"Tidak kan!!!"
"Mulai sekarang aku tidak akan pernah mau bertemu kamu! Tidak akan pernah menyukaimu lagi!" pekik Shinta.
"Daras pencuri brengsek!" Umpat Shinta. Shinta hendak membuka pintu mobil namun tertahan oleh tangan Veno yang memegang pergelangan tangannya.
"Aku memang brengsek, tapi aku tidak pernah mencuri apapun darimu." Sanggah Veno dengan wajah tak berdosa.
Shinta melepaskan pergelangan tangan Veno dengan kasar dan menatap tajam pria yang sebelumnya ia sukai itu.
"Dasar bedebah! Kau mencuri ciuman pertamaku!!! pekik Shinta.
Shinta keluar dari mobil dengan membanting keras pintu mobil sport milik Veno. Shinta berjalan keluar dengan hati yang berdegup kencang, aliran darahnya seakan mendidih. ia benar-benar tak tahan berlama-lama berdekatan dengan Veno. Dan beruntunglah ada seorang laki-laki yang menggunakan jaket ojek online menawarinya tumpangan. Tanpa banyak tanya dan tanpa menoleh ke belakang. Shinta pun pergi berlalu di telan tikungan yang ada di depan.
"Argh sial sial siaaal!!!" Umpat Veno yang masih duduk di dalam mobil.
****
H-4
__ADS_1
Di rumah Rianti.
Dewi begitu antusias mengurus segala perhelatan untuk acara pernikahan anaknya. Terlihat senyuman selalu menghiasi wajah ibu dari enam anak tersebut. Ia bahkan lupa kalau sebelumnya begitu menentang pernikahan dini Rianti.
Walaupun pernikahan tanpa resepsi, dan hanya mengundang tetangga dan kerabat dekat, tetap saja membuat keluarga dari pihak perempuan harus menyiapkan segala sesuatunya dengan matang.
"Reza, tolong kamu ambilin kebaya kakak kamu di rumahnya bu Evi. Katanya udah selesai di jahit," ucap dewi dengan suara setengah berteriak kepada anak bujangnya yang sedang berada di kamar. Reza sebenarnya merasa lelah karena baru saja pulang dari sekolah. Tapi dengan ikhlas ia menurut dan melaksanakan perintah dari sang ibu.
Di dalam kamar yang bernuansa pink dengan banyak aksesoris Hello Kitty di dalamnya, Rianti terlihat asik memegang ponsel.
Semenjak dipingit ia tidak tau harus berbuat apa. Rianti hanya boleh keluar kamar untuk makan dan kalau ingin ke kamar mandi saja. Jadi untuk membunuh rasa bosan yang kian melekat padanya, ia mengikuti saran Shinta. Menonton drama Korea yang sering Shinta bilang 'tontonan bagus yang bisa bikin baper'. Dan tentu saja, baru beberapa hari mengenal dunia drama, sudah bisa membuatnya ketagihan. Bahkan ada satu judul drama yang membuatnya nonton maraton sampai pagi.
Sekarang Rianti masih asik menonton drama yang berjudul Crush Landing On you yang di bintangi oleh Hyun Bin. Aktor favorite Shinta.
"Iparnya yoon se ri jahat! Aku tabok juga tu orang," ucap Rianti sambil memukul-mukul boneka beruangnya.
tok tok tok.
Terdengar seseorang mengetuk pintu kamar.
"Masuk!" teriak Rianti yang masih asyik melihat layar ponselnya. Dan masuklah Reza membawa kotak berwarna coklat yang lumayan besar.
"Kak, ini ada paketan. Tadi aku ketemu kurirnya di depan. Katanya untuk Kak Riri," ucap Reza sambil menyerahkan kotak coklat.
"Ya udah, Kak. Aku keluar dulu," pamit Reza. Ia pun keluar seraya menutup kembali pintu kamar Rianti.
Rianti penasaran. Ia bahkan beberapa kali memutar dan menggoyang-goyangkan kotak itu.
"Siapa ya? Kok gak ada nama pengirimnya?" Mendadak perasaannya tidak enak namun tetap memberanikan diri untuk membuka kotak itu.
Degh ....
Jantung Rianti seakan berhenti berdetak. Matanya terbuka lebar dan mulutnya ia tutup cepat-cepat agar tidak berteriak.
__ADS_1
****
Maaf kalau masih banyak kesalahan dalam penulisan atau tanda baca. silakan di krisan ya wan kawan. Terima kasih dan jangan lupa like and komen ya.