
Di IGD rumah sakit.
Ardi yang sedang banyak pikiran hanya terdiam saat di obati oleh seorang dokter. Dokter yang terlihat cantik dengan rambut panjang dikucir ke belakang, kulit mulus dan hidung yang mancung. Terlihat jelas nama Clara di jas kebanggaannya.
Clara beberapa kali mencuri pandang kepada Ardi, pasien yang mampu membuat hatinya bergetar padahal baru pertama kali bertemu. Hmm tampan, batin Clara sambil membalutkan perban ketangan Ardi.
Veno yang berada tak jauh dari Ardi melihat pemandangan yang berbau-bau pelakor. Ia pun memutuskan menghampiri Ardi yang terlihat sedang melamun.
"Egkhm."
Veno sengaja bersuara hingga membuyarkan tatapan Clara pada Ardi. Clara terlihat jadi salah tingkah, memaksakan senyuman. Setelah mengobati tangan Ardi dan memberikan resep obat, Clara pun pergi meninggalkan Ardi dan Veno yang masih duduk di salah satu ranjang di ruang IGD.
Ardi mendengus kesal menyesali perbuatannya. Beberapa kali ia menjambak rambutnya sendiri kemudian tertunduk dengan siku penopang kepalanya yang terasa berat.
"Aku sepertinya sudah gila! Bagaimana bisa aku berprilaku seperti hewan begitu," sesal Ardi.
"Rianti pasti makin membenciku, No." Imbuhnya lagi.
Veno hanya terdiam melihat Ardi yang begitu kacau. Ia Kasihan, tapi juga tak bisa berbuat apa-apa.
"Dasar bodoh! Bodoh! Bodoh!" rutuk Ardi sambil memukul kepalanya sendiri.
Veno menghela napasnya.
"Sudahlah. Berhenti menyalahkan diri sendiri. Nasi telah menjadi bubur. Ada masalah yang lebih penting dari permintaan maafmu."
Ardi memandang serius ke arah Veno yang duduk di sebelahnya.
"Apa maksudmu? Apa kau telah menemukan pelakunya!"
"Justru itu masalahnya. Pelakunya seperti sudah merencanakan ini sejak lama. Bayangkan saja, sekian banyak CCTV yang ada di hotel satu pun tak ada yang dapat menangkap gambarnya. Kamu berhati-hatilah dia sepertinya penjahat yang profesional. Kita juga tidak bisa melapor ke polisi. Kalaupun melapor kita tidak punya bukti. Dia tidak melakukan kejahatan. Dia hanya meletakkan foto di depan pintu kamarmu," jelas Veno.
Ardi menjadi semakin frustasi. Masalah satu belum selesai timbul lagi masalah lainnya. Ardi berpikir keras siapa yang menyimpan dendam padanya hingga merencanakan semua ini dengan rapi.
"Aku tidak tau, No. Kepalaku benar-benar serasa akan meledak." Ardi kembali menjambak rambutnya sendiri.
__ADS_1
"Kamu tidak bisa berpikir jernih karena terlalu kelelahan. Istirahatlah Ardi. Aku yang akan menggantikanmu untuk menjaga Rianti," ucap Veno lalu beranjak pergi.
Namun, belum sempat Ardi beristirahat satu notifikasi pesan chat masuk ke ponselnya. Setelah membuka pesan itu. Ardi berlari kencang menyusurin lorong rumah sakit. Raut wajahnya panik, ia sungguh terlihat ketakuatan.
Rianti ... bertahanlah sayang. Kumohon bertahan!
Ardi berlari seperti orang kesurupan. Ia tidak peduli dengan keadaan sekeliling. Bahkan beberapa kali hampir menabrak orang lain. Yang ada di fikirannya hanyalah keselamatan Rianti dan calon anaknya.
Veno yang berada tidak jauh dari IGD menjadi terkejut saat melihat Ardi berlari mendahuluinya. Veno yang penasaran akhirnya ikut berlari mengejar Ardi. Dan Shinta yang baru tiba di rumah sakit pun ikutan berlari setelah melihat Ardi dan Veno.
Ternyata orang yang mendorong tubuh Rianti mengirimkan foto kepada Ardi. Ia kirim foto Rianti yang sudah meringkuk di lantai porslen rumah sakit.
Tangismu adalah bahagiaku.
Itulah bunyi pesan singkat dari orang yang mencelakai Rianti
Dan sampailah Ardi di tangga darurat tempat Rianti tak sadarkan diri. Ia ketakutan melihat begitu banyak darah di lantai. Air matanya terjatuh, ia benar-benar takut kalau Rianti akan meninggalkannya. Ardi menepuk-nepuk pipi Rianti sambil memanggil namanya.
"Rianti sadarlah .... kumohon bangun Rianti!" ucap Ardi setengah berteriak.
"Ya Tuhan selamatkan anak dan istriku."
Pikiran Ardi benar-benar bercampur aduk. Ia begitu ketakutan hingga tak segan untuk berteriak. "Minggirr ... minggir!!!" Agar orang menepi dari jalannya.
Sambil menunggu Rianti diperiksa dokter, Ardi dan Veno bekerja keras untuk menemukan orang yang telah begitu kejam menyiksa Rianti. Tidak hanya polisi, Ardi bahkan melibatkan preman hingga detektive swasta demi menemukan pelakunya. Ia menggeram melihat pesan yang orang itu kirimkan padanya.
"Aku pasti akan menemukanmu meskipun kamu bersembunyi di lubang neraka sekalipun!" ucap Ardi dengan rahang yang mengatup dan tangan yang mengepal.
****
Mereka bertiga gelisah menunggu di depan ruang ICU. Beberapa saat kemudian keluarlah Melati dengan wajah tertunduk. Dia lah yang menangani Rianti dan merasa tak tega untuk mengatakan yang sebenarnya kepada Ardi.
Veno, Shinta Dan ardi menghampir Melati.
"Maafkan aku Ardi. Janin yang ada di rahim istrimu tak bisa tertolong," ucap Melati dengan wajah menyesal.
__ADS_1
Shinta shock dan hampir pingsan karenanya. Beruntunglah Veno dengan cepat menangkap tubuh Shinta dan menyadarkannya.
Sedangkan Ardi terduduk lemas di kursi panjang yang ada di sana. Ardi mencoba mencerna yang melati katakan. Hatinya kembali sakit tatkala menyadari kalau anak hasil cintanya dan Rianti begitu cepat di panggil yang maha kuasa. Ardi terdiam dan beberapa saat kemudian keluarlah bulir air matanya. Ia tak mampu menahan rasa sakit dan penyesalan karena kehilangan calon buah hatinya. Ardi tertunduk menangis tanpa suara mengingat kesalahan-kesalahan yang ia perbuat kepada Rianti.
"Ya Tuhan kenapa kau berikan aku cobaan yang sama. Kenapa?" gumam Ardi lirih.
Rasa sakitnya semakin menjadi ketika mengingat Stella yang juga meninggal membawa calon anaknya.
Veno yang melihat kepedihan di wajah Ardi ikut sedih dan prihatin atas cobaan yang menimpa Ardi. Sedangkan Shinta yang awalnya begitu membenci Ardi entah kenapa menjadi iba saat melihat Ardi menangis pilu seperti itu.
Setelah melalui serangkaian pemeriksaan Rianti akhirnya di pindahkan keruangan semula. Ia terpejam dalam damai, tertidur dengan nyenyaknya. Sedangkan Ardi yang memang tidak sempat beristirahat akhirnya ikutan tertidur di tepi ranjang sebelah kiri dan ada Shinta yang berada disebelah kanan Rianti. Mereka berdua sama-sama menggengam tangan Rianti.
Dua jam berselang.
Rianti membuka perlahan matanya. Ia merasakan sakit diseluruh tubuh. Apalagi perutnya yang terasa terkoyak. Ia usap-usap matanya yang terasa perih.
"Dimana aku?" ucapnya pelan.
Ardi yang merasa ada pergerakan di atas ranjang langsung membuka mata, terkejut saat melihat Rianti telah sadar.
"Kamu sudah bangun sayang," ucapnya sambil menggenggam tangan Rianti dan tersenyum.
Shinta yang berada di sebelah kanan Rianti pun terbangun dari tidurnya.
"Alhamdulillah kamu sudah sadar, Ri," ucap Shinta sambil memeluk tubuh Rianti. Ia seka air matanya yang terjatuh karena bahagia melihat Rianti telah sadar sepenuhnya.
Rianti menarik tangannya yang digenggam Ardi lalu berbicara pelan kepada Shinta.
"Shin, aku di mana? Dan kenapa ada om-om di sini?" tanya Rianti saat melihat ada Ardi dan Veno di dekatnya.
****
Nah loh ... kenapa itu?
Hayu jangan lupa like, komen dan vote nya.
__ADS_1