
Veno yang merasa diabaikan menjadi sedikit emosi. Ia pegang lengan Shinta agar mau melihat wajahnya.
"Jawab!!!" bentaknya kemudian.
Shinta yang sebenarnya masih trauma dengan kejadian yang lalu mendadak menjadi takut. Apalagi setelah menatap mata Veno yang memerah manahan amarah.
"Dia temennya bang Aan," jawab Shinta dengan nada datarnya. Ia mencoba menyembunyikan ketakutannya di depan Veno.
Veno pun melepaskan cengkeraman
"Jangan dekati dia, aku tidak suka!" ucap Veno dengan nada memerintah.
Mendengar perkataan Veno membuat Shinta bertanya-tanya dalam hatinya.
Apa maksudnya itu? Manusia aneh! Suka-suka aku donk. Emang dia siapanya aku. Dasar playboy!
Shinta pandangi tubuh mantan pria idolanya. Lengan tangan yang ia lipat di dada seakan menantang Veno untuk berkelahi.
"Apa urusannya denganmu, Tuan Veno Damian Sanjaya?" tanyanya sarkas. Ia pandang Veno dengan tatapan tajam dan dagu yang sedikit terangkat.
"Bukankah wajar kalau aku dekat dengannya? Dia sepertinya masih single, muda, mapan dan juga sopan. Tidak seperti seseorang yang aku kenal. Pria arogan! Tapi beruntunglah sekarang dia jatuh miskin. Pergi bekerja saja menggunakan jasa ojek online." Sindir Shinta dan tampaklah senyuman menyeringai di wajah wanita yang berlesung pipi itu.
Melihat senyuman menyeringai Shinta tidak membuat Veno marah tapi malah sebaliknya. Veno merasakan jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya
Semenjak sebulan yang lalu gadis itu selalu mendominasi pikirannya. Membuatnya mengalami insomnia serta membuatnya tak bisa konsentrasi di kantor maupun di luar kantor. Veno menyadari kalau dirinya itu sudah jatuh cinta kepada Shinta, gadis yang di anggapnya masih kecil dan tak cocok dengannya.
Veno berusaha menyingkirkan perasaan yang sudah terlanjur timbul. Ia tidak ingin menjadi budak cinta dari seorang yang telah beberapa kali ia sakiti. Di tambah lagi Shinta seperti tidak menyukainya. Namun, tetap saja Shinta selalu saja memenuhi pikiran. Dan ketika melihat Shinta berbicara akrab dengan Toni membuatnya begitu marah dan cemburu.
__ADS_1
Veno tak mampu lagi menaham gejolak di dadanya. Perkataan dan sindiran Shinta seakan tak terdengar olehnya. Ia hanya merasakan detak jantungnya yang semakin tak beraturan. Dadanya serasa sesak dan napasnya mulai memburu. Bibir Shinta seakan memanggilnya untuk minta dicium.
Veno kalap mata.
Plak!
Sebuah tamparan panas mendarat di pipi Veno.
"Kau brengsek!" pekik Shinta.
"Sekarang kau adalah milikku, Shinta. Jadi jangan pernah kau mendekati Toni atau pria manapun kecuali aku!" ucap Veno penuh penegasan.
"Aku bukan barang. Aku bukan milikmu atau milik siapapun!" ucap Shinta yang berusaha menahan tangisnya.
Kemudian pintu lift terbuka, Shinta dengan cepat berlari meninggalkan Veno dan peralatannya di dalam lift. Ia berlari masuk ke dalam toilet. Menutup mulutnya rapat-rapat agar tangisannya tidak terdengar orang lain. Tidak pernah terbayangkan olehnya kalau Veno yang dulu dia sukai akan begitu kurang ajar dan kasar. Memaksakan kehendak tanpa mengindahkan penolakan.
****
Rianti terlihat gugup di dalam ruang tunggunya. Beberapa kali ia mencoba untuk tenang namun tetap saja tidak berhasil.
"Ayolah Ri ... santai ... santai ... ini pesta terakhirmu. Kalau kau gugup hasil fotomu tidak akan bagus. Ini resepsi seumur hidupmu. Tidak akan ada kesempatan seperti ini lagi. Ayolah ... tenang saja." Rianti bermonolog mencoba menghalau rasa kekhawatiran yang tidak jelas. Sesekali ia berputar ke kiri dan ke kanan melihat pantulan seluruh tubuhnya yang sudah terbalut gaun pengantin.
"Sayang ... kamu sudah siap?" tanya Ardi yang berjalan menghampirinya. Ia peluk tubuh kecil Rianti dari belakang dengan erat dan meletakkan dagunya di bahu sang istri.
Ardi melihat pantulan wajahnya dan Rianti. terlihat jelas kalau istrinya itu sedang gugup, bibirnya bergetar dan tangannya berkeringat.
Ardi putar tubuh Rianti hingga menghadapnya.
__ADS_1
"Sayang ... jangan gugup. Santailah, ada Mas di sini bersamamu. Jadi jangan takut. Mas tidak akan melepaskan tangan ini sampai kapanpun." ucapnya dengan lembut seraya mencium pelan punggung tangan istrinya itu.
"Mas aku rasanya gak kuat. Aku gak mau keluar. Aku takut merusak resepsi semegah ini. Bagaimana kalau aku mengacaukannya?"
"Di sana bahkan banyak tamu undangan rekan bisnis Ayah. Bagaimana kalau mereka tak menyukaiku dan membatalkan kontrak kerja. Lalu bagaimana denganmu. rekan-rekanmu pasti akan membulimu, Mas." Ucap Rianti beruntun. Ia benar-benar tak bisa menyembunyikan ketakutannya.
Ardi memeluk tubuh kecil istrinya yang sedang ketakutan dan membenamkan kepala Rianti ke dada bidangnya.
"Tenanglah sayang ... tenang. Tidak akan terjadi hal yang seperti itu. itu hanya ketakutanmu yang tak berdasar. Sini lihat pantulan wajahmu di cermin." Ardi membalikkan tubuh Rianti kembali menghadap ke cermin.
"Kau itu pantas dan layak bersanding dengan Mas. Kau cantik dan mas ganteng. Tidakkah kita ini padangan yang serasi. Kalau di liat-liat kamu itu mirip Yang zi dan Mas mirip Li xian." kelakarnya mencoba menenangkan perasaan gugup sang istri. Alhasil Ardi pun mendapat sikutan di perut dari Rianti yang membuatnya terkekeh geli.
"Ngawur kamu, Mas." Rianti pun ikutan tertawa.
Akhirnya merekapun naik ke atas pelaminan. Menyambut doa restu yang orang lain berikan. Rianti yang awalnya begitu takut lama-kelamaan menjadi menikmati acara. Karena Ardi benar-benar tidak melepaskan tangannya.
Tema yang di pilih oleh Rianti dan Ardi adalah pesta ala Eropa dengan tiang-tiang yang super besar di beberapa bagian. Sentuhan klasik makin kental lewat interior berwarna emas berpadu dengan putih yang membuat tampilan gedung semakin mewah.
Selaras dengan dekorasi dan tema modern yang di usung, busana pengantin dan keluarga pun memberi kesan simple namun tetap glamor. Ardi terlihat gagah dengan balutan tuksedo berwarna midnight blue rancangan Samuel wongso.
Sementara Rianti tampak cantik dengan makeup minimalis nan flawless bersama gaun putih yang berdisain A-line.
Terlihat wajah-wajah orang yang bahagia termasuk kedua orang tua Rianti dan ayahnya Ardi. Semua tamu undangan menikmati acara, tertawa dan bersenda gurau menikmati meriahnya acara di hotel bintang lima milik keluarga Mahendara. Hanya ada sepasang mata yang nampak tidak bahagia yaitu Andra. Ia begitu terlihat sedih melihat gadis pujaannya bersanding dengan orang lain.
****
jagan lupa like dan vote nya dong. 😊😊
__ADS_1