
Setelah aku dan Arimby saling curhat, kemudian aku merasakan kenyamanan saat didekat dengannya, mungkin disebabkan karena kami memiliki persamaan kepribadian yang sama, yaitu suka menyendiri dan menghidari lingkungan pertemanan yang luas.
Entah apa yang aku rasakan saat ini, aku juga sangat bingung karena baru pertama kali aku bisa nyaman dengan seorang wanita, apa mungkin Arimby juga nyaman dengan keberadaanku disini?
Tapi aku berfikir mana mungkin dia bisa menyukaiku, pasti dia tidak mungkin menyukaiku karena aku itu sering disebut cowok aneh, dan Arimby juga lebih cocok dengan laki-laki yang layaknya seperti pangeran.
Ya aku tak akan mengharapkan Arimby menyukaiku, karena aku sadar aku memiliki banyak kekuarangan, sedangkan Arimby memiliki banyak kelebihan karena dia adalah murid terpintar di kelas 2 dan dia juga sangat cantik.
Mungkin aku dan dia bisa nyaman karena memiliki persamaan kepribadian sajah, oleh karena itu aku bisa mengerti tentang kondisi dia yang sedang dialaminya.
Arimby pasti lebih menginginkan sesosok laki-laki yang baik, populer dan berjiwa sosial yang tinggi sehingga mampu membuat dirinya menjadi lebih baik lagi, dan aku juga merasa kalau aku tidak bisa menjadi lelaki yang diinginkan oleh Arimby, karena aku hanya menjadi beban baginya bila aku menjadi kekasihnya.
Kemudian saat aku sedang memikirkan hal-hal tersebut, tiba-tiba Arimby yang sedang duduk disampingku ini berkata kepadaku.
“Hey Feran kok kamu malah bengong sih?”
“Eh maaf Arimby, aku hanya sedang melatih imajinasiku sajah”
“Hah lagi berimajinasi? Pasti lagi berimajinasi tentang hal-hal yang jorok tentang aku ya?”
Lalu kemudian Arimby menutupi dadanya dengan kedua tangannya yang sepertinya tak ingin tubuhnya dilihat oleh diriku, lalu aku menjawab perkataan Arimby.
“Hey mana mungkin aku nafsu sama dadamu yang sangat kecil itu!”
Aku berkata seperti itu kepada Arimby karena kesal dituduh sedang berimajinasi hal-hal yang jorok, karena dada milik Arimby juga memang terlihat tidak terlalu menonjol, oleh karena itu aku berkata dadanya kecil untuk membalas ejekannya, sebenarnya tak masalah sih sama ukuran dadanya juga, malah aku tidak menyukai dada wanita yang terlalu besar.
Kemudian Arimby membalas perkataanku dengan nada marah, karena aku telah mengejeknya dengan menyebut ukuran dadanya yang sangat kecil.
“Hey Feran kau itu memang benar-benar cowok yang sangat kurang ajar ya! Perkataanmu itu sungguh tidak sopan ya!”
“Hey yang duluan mengejekku siapa? Kau kan? Aku hanya membalas ejekanmu sajah!”
“Ya habisnya wajahmu sangat aneh seperti sedang memikirkan sesuatu yang jorok sajah!”
“Mukaku memang aneh! Tapi dengar ya! Aku itu bukan cowok mesum!”
“Hey kau itu benar-benar aneh, menjijikan dan mesum!”
“Sudah kubilang aku tidak tertarik dengan tubuhmu, walau kau telanjang juga, aku tak akan nafsu kepadamu”
“Hey untuk apa aku telanjang didepanmu? Dasar otak mesum!”
Aku kemudian memutuskan untuk mengakhiri pertengkaran yang tak berarti ini, karena aku merasa tak mungkin bisa menang berdebat dengan seorang wanita, meskipun memang yang memulai pertengkaran ini dia duluan.
Kemudian aku berkata kepada Arimby yang sedang marah-marah kepadaku.
__ADS_1
“Maaf”
“Hah maaf untuk apa?”
“Maaf karena aku ingin mengakhiri pertengkaran yang tak berarti ini”
“Ya aku juga males bertengkar sama cowok aneh sepertimu”
“Haha ya sudah kita damai ya”
“Hah damai? Aku tak ingin berdamai sama cowok yang telah berkata kurang ajar kepadaku!”
“Lalu kau ingin apa? Kau ingin menjadikan aku musuhku?”
“Ya aku akan menjadikan kamu musuhmu!”
“Okey baiklah terserah kamu Arimby, padahal aku ingin berteman dengan kamu”
“Hah kenapa kau ingin berteman denganku?”
“Tidak ada alasan, aku hanya ingin berteman dengan kamu sajah”
“Hey aku tak ingin punya temen cowok mesum seperti kamu ya!”
“Ya sangat terlihat jelas!”
“Haha jadi aku terlihat seperti itu ya?”
Kemudian aku langsung duduk menjauh dari Arimby karena dari tadi dia selalu menyebutku cowok mesum, kemudian Arimby berkata kepadaku.
“Hey kenapa kau duduk menjauh?”
“Karena kau selalu menyebutku cowok mesum”
“Ya baguslah, jangan duduk dekat-dekat dengan aku!”
“Ya aku mulai sekarang akan menjauh dari kamu!”
“Sip deh, aku juga tak suka kalau kamu terlalu dekat denganku!”
“Ya mulai sekarang aku akan keluar dari eskul ini agar aku bisa menjauh dari kamu”
Kemudian Arimby langsung duduk mendekati aku dan berkata.
“Eh serius kamu mau keluar dari eskul ini Feran?”
__ADS_1
“Ya mungkin itu adalah pilihan terbaik untukku agar kamu tidak risih lagi dengan keberadaanku disini”
“Eh jangan dong, iya iya aku minta maaf, aku memang yang duluan ngejek kamu Feran, tapi aku hanya kesal sajah dengan perkataanmu yang kurang ajah kepadaku”
“Ya sudah kita lupakan sajah tentang kejadian barusan, lagian juga sebenarnya aku tak ingin keluar dari eskul ini, karena cuma disinilah eskul yang paling cocok untukku”
“Oh syukurlah kalau begitu, ya sudah mulai sekarang kita berteman ya Feran”
“Iyah okey kita jadi teman”
Aku senang akhirnya bisa berteman dengan Arimby, dan mungkin dialah satu-satunya orang di sekolah ini yang mau menjadi temanku.
Aku melihat Arimby yang terus tersenyum kepadaku dan hal itu membuatku menjadi salah tingkah, kemudian tiba-tiba Arimby merapikan rambutku dengan tangannya, dan itu membuatku langsung kaget dengan perlakuan Arimby kepadaku, kemudian aku berkata kepadanya.
“Hey Arimby apa yang kamu lakukan?”
“Kalau kau ingin jadi temanku, rambutmu harus rapih ya Feran”
“Eh begituh ya? Okey deh lakukan sesukamu sajah, nanti juga bakal berantakan lagi rambutku”
Kemudian Arimby terus merapikan rambutku yang terlihat berantakan ini, entah kenapa aku merasakan kenyaman dan ketenangan yang luar biasa ketika dia sedang merapikan rambutku dengan tangannya.
Apa mungkin Arimby menyukaiku ya?
Atau memang dia sudah terbiasa melakukan hal ini kepada cowok lain juga?
Eh tapi dia kan sama sepertiku, dia selalu menyendiri dan tidak memiliki seorang teman sama seperti diriku ini.
Entahlah apa yang kurasakan saat ini, karena baru kali ini aku dipelakukan seperti ini oleh seorang wanita, apalagi yang melakukan hal ini adalah wanita cantik seperti Arimby, kemudian aku berkata kepada Arimby.
“Arimby makasih ya”
“Makasih buat apa?”
“Udah mau ngerapihin rambutku yang berantakan ini”
“Iyah santai sajah, kan kita sekarang udah jadi teman”
“Oh begituh ya”
“Iyah Feran, ini juga sebagai tanda minta dariku karena telah mengejek kamu duluan, ya jujur sih saat pertama kali bertemu denganmu, aku merasa takut karena prilaku kamu yang sangat aneh, ya tapi setelah kita sudah saling curhat dan sudah bertengkar, aku menyadari kalau kamu itu memang cowok baik”
“Syukurlah kalau kamu sudah berfikiran seperti itu kepadaku Arimby”
“Iyah Feran”
__ADS_1