Felix Sang Naga Hitam

Felix Sang Naga Hitam
Cara Pandang Yang Salah Bab 17


__ADS_3

Lalu Eli duduk di kursi yang berada di ruangan ini juga, tetapi duduknya tidak terlalu dekat denganku.


Saat si wakil ketua OSIS itu sedang duduk, dia berkata kepadaku.


“Jadi gimana? apa kamu mau menjadi anggota OSIS juga?” tanya Eli.


Eh Eli kenapa kamu selalu mengajakku menjadi anggota OSIS, padahal aku sama sekali tak ada kemampuan berorganisasi yang baik” ucapku dengan heran.


“Ya memang kamu tidak memiliki kemampuan yang cocok di OSIS, tetapi aku suka dengan kamu yang pandai menilai keburukan seseorang, sehingga saat kamu berada di OSIS, kamu bisa menjadi orang yang tepat untuk mengambil keputusan karena kamu pandai menilai situasi yang buruk” ucap Eli.


“Walaupun aku pandai menilai hal yang buruk, tetapi aku itu malas untuk melakukan kegiatan OSIS, karena aku itu tidak suka di sibukkan dengan hal-hal lain, apalagi di sibukkan dengan kegiatan OSIS” ucapku.


“Aku janji selama kamu menjadi anggota OSIS, kamu tidak akan di sibukkan dengan kegiatan OSIS apapun, dan tugasmu hanya sebagai menilai pendapat para anggota OSIS saat sedang diskusi” ucap Eli.


“Em baiklah aku pikir-pikir dulu penawaranmu ya” ucapku.


Lalu aku memutuskan untuk melanjutkan membaca novelku di ruangan ini, dan Eli juga sepertinya sedang membaca buku pelajarannya yang kegiatan itu sama seperti yang sering di lakuakn saat aku dan Eli masih menjadi anggota eskul konsultan.


Beberapa saat kemudian Lisa datang ke ruangan ini dan sepertinya dia memanggil Eli.


“Duh Eli aku cari kamu daritadi engga ketemu-ketemu, ternyata kamu sedang asik berduaan di ruangan ini sama si Devan” ucap Lisa dengan kesal.


“Eh maafin aku ya Lisa, emang kamu ada perlu apa mencariku?” tanya Eli dengan heran.


“Sekarang di ruangan OSIS sedang ada diskusi tentang masalah kekurangan anggota eskul di eskul basket, dan aku ingin kamu datang ke runagan OSIS sekarang untuk ikut berdiskusi memecahkan masalah sedikitnya anggota eskul basket” ucap Lisa.

__ADS_1


“Oh okey deh, ya udah kamu juga ikut Devan” ucap Eli kepadaku.


“Eh kenapa kamu mau aku ikut?” tanyaku dengan heran.


“Karena aku ingin kamu ikut ke diskusi OSIS dan ikut memberi pendapat juga mengenaik permasalahan ini” ucap Eli.


“Ya sebaiknya kamu ikut juga Devan, karena anggota OSIS saat ini masih sedikit, dan dengan kehadiranmu setidaknya membuat ruangan OSIS menjadi tidak terlalu sepi” ucap Lisa.


“Oh okey deh” ucapku dengan terpaksa.


Akhirnya aku, Eli dan Lisa langsung berjalan ke arah ruangan OSIS, dan kamu pergi ke ruangan OSIS dengan berjalan kaki.


Aku melihat Eli dan Lisa sedang mengobrol saat perjalanan menuju ruangan OSIS, dan aku memutuskan untuk tidak ikut campur dalam obrolan dua orang perempuan tersebut.


Beberapa saat kemudian akhirnya kami bertiga telah sampai di ruangan OSIS, dan saat aku sampai disana, ternyata di ruangan itu ada murid kelas 3C yang bernama Anton di murid yang menjadi ketua eskul basket.


Pantas saja Lisa dan Eli mengajakku ke ruangan ini juga, karena memang saat ini anggota OSIS cuma ada dua orang saja.


Kemudian saat kami semua sudah duduk di ruangan ini, dan diskusi pun akhirnya segera di mulai, dan rapat saat ini yang akan di bahas yaitu tentang cara membuat anggota eskul basket bertambah.


“Kedatangan aku kesini karena aku ingin meminta bantuan OSIS untuk membantu eskul basket agar memiliki anggota baru lagi” ucap Anton di ketua eskul basket.


Lalu Lisa menjawab “ya aku mengerti permintaan Kak Anton itu, tetapi kenapa Kak Anton terlihat buru-buru ingin memiliki anggota baru di eskul basket?” tanya Lisa.


“Karena bulan depan akan di adakan turnamen basket antar sekolah, oleh karena itu aku ingin segera mencari anggota baru, karena anggota yang sekarang jumlahnya sangat sedikit dan tidak memungkinkan untuk mengikuti turnamen tersebut dengan anggota kami yang sedikit ini” ucap Anton.

__ADS_1


“Baiklah OSIS akan berusaha membantu Kak Anton untuk mendapatkan anggota baru, lalu apakah ada yang punya ide untuk membantu masalah eskul basket ini?” tanya Lisa kepada semua orang yang ada disini.


Lalu Eli berkata “apa Kak Anton sebelumnya sudah melakukan upaya untuk mencari anggota baru?” tanya Eli kepada Anton.


“Sebelumnya saya sudah keliling tiap kelas untuk mengajak semua murid bergabung ke eskul basket, tetapi entah kenapa orang-orang itu seperti tidak tertarik dengan baskel” ucap Anton.


“Mungkin kita harus membuat eskul basket tertarik agar banyak orang ingin bergabung ke eskul basket, apa kau punya ide Devan?” tanya Eli kepadaku.


Aku terkejut dengan Eli yang tiba-tiba bertanya kepadaku, dan aku memutuskan untuk menjawab pertanyaan itu dengan apa yang aku pikirkan saat ini.


“Alasan orang-orang tidak ingin masuk ke eskul basket mungkin karena ketua basketnya kurang bisa menarik perhatian dan kurang berwibawa” ucapku.


Setelah aku menjawab seperti itu, semua orang yang berada disini langsung melihat ke arahku dengan wajah yang heran, dan sepertinya Anton marah kepadaku saat aku berbicara kalau dirinya tidak berwibawa.


Lalu Lisa berkata “eh Devan kamu harus berbicara yang sopan ya sama Kak Anton, kamu harus berpikir dulu sebelum berbicara” ucap Lisa dengan kesal keapdaku.


“Ya aku mengemukakan pendapatku saja, dan jika pendapatku tidak bisa di terima, ya tak masalah buatku juga” ucapku.


Lalu Eli berkata kepadaku “ya aku tau kamu itu adalah pendapatmu, tapi setidaknya kamu harus memikirkan perasaan orang lain saat akan mengemukakan pendapat” ucap Eli.


“Kenapa aku harus memperdulikan perasaan orang lain? kalau kita selalu pakai perasaan, maka masalah itu tidak akan cepat selesai” ucapku.


Lalu Anton berkata “ya memang pendapatmu sangat benar sekali Devan, aku merasa kalau aku gagal menjadi ketua eskul, sehingga banyak anggota yang keluar dari eskul ini dan memilih eskul yang lain” ucap Anton.


“Baguslah kalau Kak Anton sudah menyadari hal itu, karena sebelumnya aku pernah mendengar kalau para laki-laki di sekolah ini keluar dari eskul basket karena Kak Anton terlalu tegas dan galak saat ada anggota eskul yang terlambat datang, jadinya mereka lebih memilih keluar dari eskul basket ini karena selalu di marahin oleh Kak Anton” ucapku.

__ADS_1


“Oh begituh ya, terimakasih untuk nasihatmu Devan, memang perkataanmu itu sangat menyakitkan buatku, tetapi aku sadar itu semua adalah kesalahanku saja yang terlalu kasar saat menjadi ketua eskul, dan mungkin kedepannya saya akan menjadi ketua eskul yang tidak terlalu kasar lagi” ucap Anton.


__ADS_2