
Akhirnya kami telah sampai di toko buku dan aku langsung memarkirkan motorku di tempat parkir, kemudian Arimby berkata kepadaku.
“Yuk Feran kita masuk ke toko buku”
“Okey deh Arimby”
Kemudian aku dan Arimby langsung masuk ke toko buku itu, saat telah masuk ke toko buku, kami langsung pergi kearah rak buku yang berisi banyak novel, lalu Arimby berkata kepadaku.
“Eh kamu suka novel genre apa Feran?”
“Kalau aku sih tidak telalu memperhatikan genre novel, yang penting ceritanya menarik sajah”
“Oh begituh ya, aku juga sih tidak terlalu memikirkan genre kalau mau membeli novel, yang penting alur ceritanya menarik bagiku”
“Hehe begituh ya, berarti kemungkinan novel yang telah kita baca, kemungkinan banyak yang sama”
“Haha sepertinya begituh, ya sudah yuk kita lanjut memilih novel yang akan kita beli”
“Okey deh Arimby”
Kemudian aku dan Arimby lanjut memilih novel yang akan dibeli, hampir satu jam lamanya akhirnya kami semua berhasil memilih novel yang akan kita beli dan langsung membayarnya di kasir, setelah membayar di kasir, kami langsung pulang dengan sepeda motorku yang tadi telah aku parkiran di tempat parkir.
Saat sedang perjalan pulang menuju arah rumah Arimby, dia berkata kepadaku.
“Eh Feran makasih ya udah mau direpotin sama aku”
“Iyah gak apa-apa, santai sajah Arimby, lagian aku juga senang bisa nganter kamu ke toko buku”
“Eh begituh ya, syukurlah kalau kamu senang, aku pikir kamu tidak suka direpotin sama aku”
“Haha engga lah Arimby, malah aku senang, lagian aku juga sering ke toko buku sendirian kok waktu mau beli novel, tapi ternyata memang menyenangkan ya ketika ke toko buku bareng kamu”
“Eh emang kenapa kamu senang bareng aku saat pergi ke toko buku? Bukannya kata kamu, kamu lebih suka sendirian daripada harus berkumpul sama banyak orang”
__ADS_1
“Ya memang aku selalu sendirian dan suka dengan kesendirianku, tetapi entah kenapa aku ngerasa senang sajah ketika beli buku bareng kamu”
“Hehe begituh ya, aku juga senang kok beli buku bareng kamu, jujur biasanya juga aku selalu sendirian saat mau beli buku, tapi pas beli buku bareng kamu, aku jadi senang karena kita bisa saling memberi pendapat tentang buku novel apa yang akan kita beli, jadinya aku gak kebingungan lagi saat mau beli novel”
“Oh syukurlah kalau begitu, ya sudah nanti kapan-kapan kalau mau beli novel lagi, kita bareng lagi ya Arimby, biar kita bisa saling bertukar pikiran lagi saat sedang memilih novel yang akan kita beli”
“Okey deh siap Feran, eh besok jangan lupa ya, kita masing-masing bawa novel dari rumah ya buat tukeran novel”
“Okey deh Arimby, aku bakal bawa novel yang banyak pokoknya dari rumah”
“Haha begituh ya, besok aku juga bakal bawa novel yang banyak juga buat kamu Feran”
“Haha jadi gak sabar, akhirnya aku nanti bakal punya stok bacaan novel yang baru lagi”
“Hehe iyah aku juga jadi gak sabar, aku juga penasaran sama novel-novel yang udah kamu baca Feran”
“Ya aku juga, mudah-mudahan novel yang udah kita baca berbeda semua ya Arimby”
Setelah kami saling berbincang saat perjalanan pulang dengan motorku, kemudian Arimby berkata kepadaku.
“Eh Feran nanti didepan berhenti ya, rumah aku sudah dekat dari sini”
“Oh okey deh Arimby”
Kemudian kita berhenti di sebuah gang yang sepertinya itu adalah gang menuju rumah Arimby, kemudiam Arimby langsung turun dari motorku dan berkata.
“Makasih ya Feran udah memperbolehkan aku numpang di motormu”
“Iyah gak masalah Arimby, aku malah senang punya teman ngobrol saat pulang”
“Syukurlah kalau begitu, ya sudah aku langsung pulang ya Feran”
“Eh tunggu dulu, besok kamu pake kendaraan umum lagi buat berangkat sekolah?”
__ADS_1
“Iyah aku selalu pakai kendaraan umum kalau mau berangkat sekolah, emang kenapa Feran?”
“Ya sudah bareng aku sajah mau gak Arimby? Soalnya aku juga kalau mau berangkat sekolah selalu lewat sini juga”
“Eh begituh ya, ya sudah deh kalau memang gak ngerepotin kamu, aku mau bareng sama kamu ke sekolahnya”
“Oh sip deh kalau begitu, ya sudah besok jam setengah 7 pagi aku jemput kamu disini ya”
“Okey deh Feran, nanti malem jangan bergadang baca novel ya biar gak telat jemput akunya hehe”
“Haha okey deh Arimby”
“Eh Feran kita tukeran nomor HP yuk, biar nanti kita gampang kalau kita lagi mau berkomunikasi”
“Oh iya benar juga, kita belum tukeran nomor HP ya”
Kemudian kami berdua langsung saling tukeran nomor HP, dan setelah selesai, aku langsung berkata kepada Arimby.
“Ya sudah aku mau langsung pulang dulu ya Arimby”
“Okey deh Feran, hati-hati dijalan ya, jangan ngebut-ngebut bawa motornya”
“Okey deh Arimby”
Kemudian aku langsung pergi meninggalkan Arimby dengan sepeda motorku, saat aku sedang melihat kearah sepion motorku, aku masih melihat Arimby yang selalu melihat kearahku saat aku sedang mengendarai motorku menuju arah pulang, entah apa yang kurasakan saat ini, aku seperti ingin rasanya memiliki waktu yang lebih lama lagi dengan Arimby, apa mungkin Arimby juga memiliki perasaan yang sama denganku? Yaitu ingin memiliki waktu yang lebih lama lagi dengan kebersamaan kita ini.
Aku pulang dengan sepeda motoku sambil terus memikirkan momen-momen bersama Arimby, yaitu pada saat pertama kali aku bertemu pertama kalinya saat di perpustakaan, lalu saat dia mengakui kehebatanku tentang cara menghafal rumus matematika yang sulit, lalu tentang menceritakan alasan kita yang memilih menjadi penyendiri, lalu tentang hobi kita yang sama-sama memiliki hobi baca novel dan pokoknya masih banyak lagi pikiran-pikiran aku tentang Arimby.
Ya jujur baru pertama kali aku bisa seterbuka ini dengan seseorang, aku juga senang karena Arimby juga mau menerima aku menjadi temannya, padahal jujur sajah aku sebenarnya ingin dianggap lebih dari seorang teman oleh Arimby, tapi memang hal mustahil bagiku sih, karena memang aku dan dia baru sajah kenal dekat di hari ini sajah, aku juga tak yakin apakah hubungan kita kedepannya akan selalu baik-baik sajah atau malah sebaliknya.
Aku sangat senang ketika bisa dekat dengan Arimby, karena mungkin cuma dialah satu-satunya orang yang mau berteman denganku di sekolahku ini walau aku ini sering disebut aneh oleh banyak orang di sekolahku karena aku selalu sendirian dan rambutku juga selalu berantakan, tapi jujur aku sangat senang dan hampir tidak percaya kalaiu Arimby mau merapikan rambutku yang berantakan ini saat di perpustakaan, meskipun kita saat ini cuma sebatas teman sajah, aku berharap mungkin pertemanan ini akan terus berlanjut dan berubah menjadi sepasang kekasih.
Ya aku berharap kalau Arimby akan selalu nyaman dengan keberadaanku dan kemudian dia mau menjadi kekasihku suatu saat nanti.
__ADS_1