Felix Sang Naga Hitam

Felix Sang Naga Hitam
Cara Pandang Yang Salah Bab 4


__ADS_3

Keesokan harinya aku kembali bersekolah lagi seperti biasanya, namun di kelasku ini ada yang aneh karena Lisa si ketua kelas di kelasku ini selalu memperhatikanku.


Aku berusaha mengabaikannya dan pura-pura tidak lihat kalau dia selalu memperhatikanku.


Aku menjadi risih sebenarnya ketika Lisa selalu melihat kearahku, entah apa maksudnya?


Apa dia menyukaiku?


Ah mana mungkin, lagi-lagi aku berfikir ada gadis yang menyukaiku lagi.


Cukup hentikan sudah pikiran halusinasiku ini yang mengharapkan ada wanita yang menyukaiku, mana mungkin Lisa menyukaiku, mungkin dia hanya penasaran denganku gara-gara kejadian kemarin.


Jam pelajaran dimulai dan hari ini adalah giliran Bu Yuni yang akan mengajar di kelasku.


Bu Yuni mengajar Bahasa Indonesia di kelasku dan banyak murid cowok di kelasku yang selalu memperhatikan Bu Yuni karena dia sangat cantik dan menawan.


Murid-murid cowok di kelasku bagaikan burung elang yang sedang memantau mangsanya dari langit saat melihat Bu Yuni dan mereka terlihat sangat menjijikan.


Aku juga memang menyukai Bu Yuni tetapi aku tidak menunjukannya, tetapi teman-teman dikelasku malah menunjukannya tanpa tau malu, seharusnya mereka semua dihukum mati jika aku memiliki kuasa untuk itu.


Bu Yuni sepertinya sudah terbiasa dengan kelakuan para muridnya yang suka menggodanya, dan dia selalu mengabaikan mereka.


Aku salut terhadap Bu Yuni yang tahan dengan godaan para cowok-cowok menjijikan itu, jika aku menjadi Bu Yuni, mungkin lebih baik aku berhenti menjadi guru, mencari suami kaya dan menjadi ibu rumah tangga saja.


Mungkin itu jalan hidup yang sudah dipilih oleh Bu Yuni untuk menjadi seorang guru, dan menurutku dengan kecantikan Bu Yuni itu, dia bisa menjadi artis atau model.


Jam pulang sekolah pun tiba dan aku memutuskan untuk pergi ke ruangan Eskul Konsultan karena aku sudah menjadi anggotanya.


Saat aku akan keluar dari kelasku, tiba-tiba Lisa menghampiriku dan berkata.


“Eh Dev kamu mau ke ruang Eskul Konsultan ya?”


“Iyah Lisa, kenapa ya?”


“Oh cuma nanya saja”


“Okey deh”


Setelah itu aku langsung melanjutkan langkah kakiku menuju ruang Eskul dan Lisa juga kembali kepada perkumpulan teman-temannya yang menurutku itu adalah perkumpulan yang sangat tidak berguna.


Menurutku perkumpulan pertemanan itu pasti membicarakan hal-hal yang tidak penting dan tidak berguna.

__ADS_1


Kenapa di masa ini jika ada seseorang yang tidak memiliki kelompok pertemanan malah disebut aneh?


Padahal orang itu tidak merugikan sama sekali bagi lingkungan sekitarnya, sungguh hal yang tak masuk akal bagiku.


Tetapi biarlah orang-orang beranggapan seperti itu, yang aku harus lakukan saat ini yaitu menunggu waktu 3 tahun lagi agar aku segera lulus dari sekolah sehingga masa-masa buruk ini bisa kulewati.


Akhirnya aku tiba di ruangan Eskul dan langsung memasuki ruangan itu, disana sedang ada Eli yang sedang duduk sambil membaca bukunya sama seperti kemarin pada saat awal bertemu dengannya ditempat ini.


Eli langsung menyapaku dengan senyuman yang sangat manis bagaikan bidadari surga, senyumannya sangat hangat dan lembut dan membuat suasana disekitarku menjadi hangat dan nyaman.


“Selamat datang Devan, silahkan duduk”


“Oh iya makasih”


Akupun langsung duduk ditempat kemarin, yang posisi duduknya jauh dari Eli.


Aku sempat berfikir menyukai Eli tetapi aku memutuskan untuk tidak akan terjebak dengan kecantikannya karena takut kejadian saat SMP terulang kembali.


Aku kembali membulatkan tekadku lagi bahwa aku akan membenci semua cewek cantik dan tidak akan terpesona lagi oleh kecantikan mereka.


Karena kecantikan mereka mampu membuat tipu daya dan halusinasi yang menyebabkan aku jatuh cinta, dan ketika aku berhasil jatuh cinta kepadanya, pasti cewek cantik itu langsung menolakku dan bilang kalau kita lebih baik jadi teman saja.


Jadi begitulah kira-kira jalan berfikirku tentang cewek cantik, oleh karena itu aku harus berhati-hati terhadap cewek cantik seperti Eli, Lisa bahkan Bu Yuni agar aku tidak terjebak oleh kecantikan mereka.


Akupun duduk dengan santai di ruangan ini sambil membaca novel bergenre fantasi yang sengaja aku bawa dari rumah untuk menghabiskan waktu disini, dan Eli juga masih fokus membaca bukunya sama seperti kemarin.


Entah buku apa yang sedang dibaca oleh Eli, karena tidak terlihat jelas, karena posisi dudukku sangat jauh dari Eli sehingga aku tidak bisa melihat dengan jelas buku yang sedang dibacanya.


Aku memutuskan tidak akan bertanya tentang buku apa yang sedang dibaca oleh Eli karena takut disangka ingin mendekatinya, dan aku juga takut menganggunya karena dia seperti sedang fokus membaca buku itu.


Setelah beberapa menit berlalu, muncul kembali suasana hening dan nyaman di ruangan ini, suasana ini adalah suasana yang sangat aku sukai, karena tidak ada kebisingan yang mengganggu telingaku.


Hanya terdengar suara jam dinding, suara kertas dari buku yang dibolak-balik dan sesekali terdengar suara murid lainnya dari luar ruangan yang sedang mengobrol sambil berjalan.


Suara-suara itu sangat terdengar nyaman ditelingaku, mungkin Eli merasakan juga apa yang aku rasakan.


Menit demi menit berlalu dan aku berharap agar suasana seperti ini tidak akan cepat berakhir.


Tiba-tiba datanglah siswi berkacamata yang tak asing bagiku, dia adalah Utari murid dari kelas 3 A dan dia adalah ketua OSIS di sekolahku ini.


Semua murid di sekolah pasti mengenal dia karena dia adalah ketua OSIS, selain itu juga dia adalah cewek yang cantik dan pintar juga.

__ADS_1


Aku dengar dari orang-orang disekitarku, kalau dia mempunyai pacar anak kuliahan.


Utari langsung berbicara kepada Eli saat masuk ke ruangan ini.


“Maaf Eli, kamu lagi sibuk gak?”


“Oh engga sih, memang ada apa Kak Utari?”


“Eh ngomong-ngomong cowok itu siapa? (sambil menunjuk kearahku)”


“Oh dia anggota baru Eskul ini, namanya Devan dari kelas 1 F”


“Oh gituh ya, salam kenal ya Devan (sambil tersenyum kepadaku) nama aku Utari dari kelas 3 A”


Aku langsung menganggukan kepalaku dan terus melanjutkan membaca novel.


Utari langsung melanjutkan obrolannya dengan Eli


“Eli kamu mau ya jadi ketua OSIS buat ngegantiin saya”


“Maaf Kak saya gak berminat jadi Ketua OSIS”


“Begituh ya? Tapi coba kamu pikir-pikir lagi deh”


“Mohon maaf Kak saya gak berminat”


Utari terus memaksa Eli untuk menjadikannya ketua OSIS, tetapi Eli terus menolaknya.


Hal itu membuatku menjadi risih dan kesal terhadap Utari dan aku juga jadi tidak bisa fokus membaca novel, lalu aku memutuskan untuk berkata.


“Kak Utari maaf, jangan terus memaksa Eli, dia kan sudah bilang tidak mau”


Lalu mereka berduapun langsung menoleh kearahku, lalu Utari berkata.


“Ya saya tau memang salah karena terus memaksa Eli, tetapi saya terpaksa soalnya sebentar lagi kelas 3 akan sibuk menghadapi ujian, jadi harus cepat-cepat cari penggantiku”


“Oh begituh ya, jadi Kak Utari membutuhkan kandidat baru ya? Baiklah akan saya bantu carikan”


Akupun langsung keluar dari ruangan Eskul untuk mencari kandidat baru yang akan menjadi ketua OSIS, eh tapi tunggu, aku kan tidak mempunyai teman di sekolah ini, bagaimana caraku untuk mencari kandidat baru ya?


Memang bodoh diriku ini, untuk apa coba aku berkata akan membantu mencari kandidat baru.

__ADS_1


__ADS_2