Felix Sang Naga Hitam

Felix Sang Naga Hitam
Cara Pandang Yang Salah Bab 3


__ADS_3

Beberapa menit berlalu, aku merasakan keheningan didalam ruangan ini dan hanya mendengar suara kertas yang dibulak-balik dari buku yang dibaca Eli.


Aku menyibukan diriku dengan membaca catatan pelajaran yang telah ku tulis saat jam pelajaran sekolah waktu tadi.


Entah kenapa aku merasakan kenyaman di ruangan ini dan Eli juga terlihat nyaman dengan keheningan ini.


Apa mungkin Eli juga nyaman dengan keheningan ini?


Oh iya lupa, dia kan selalu berada di ruangan ini, pasti tentu dia sudah nyaman dengan suasana seperti ini.


Aku merasa mungkin Eli juga memiliki kepribadian yang sama sepertiku, yaitu suka dengan suasana hening dan suka menyendiri.


Tetapi aku bingung, kenapa dia menyukai suasana seperti ini dan kenapa dia selalu berada di ruangan ini.


Kenapa dia tidak memilih untuk berteman dengan banyak orang, padahal pasti banyak orang yang ingin menjadi temannya.


Mungkin dia memiliki alasan tersendiri, sama hal nya dengan diriku yang memiliki alasan tersendiri untuk menjadi penyendiri.


Sebenarnya aku penasaran ingin bertanya kepadanya kenapa dia betah dengan suasana seperti ini, tetapi aku memutuskan tidak jadi bertanya karena takut dikira mencampuri masalah kehidupannya.


Ketika ada orang yang ingin ikut campur dengan kehidupanku, maka aku juga pasti sangat benci pada orang itu.


Mungkin aku dan Eli memiliki masalah yang sama, yaitu benci dengan lingkungan pertemanan atau mungkin menghindar dari lingkungan pertemanan yang luas.


Baiklah aku tidak akan mempermasalahkan hal itu lagi dan aku akan memutuskan bahwa tempat ini adalah tempat ternyaman keduaku setelah kamarku.


Tiba-tiba Bu Yuni datang keruangan ini dan keheningan ruangan ini tiba-tiba menghilang.


“Akhirnya kalian bisa akur juga ya”


Lalu aku dan Eli menganggukkan kepala masing-masing.


“Hey Eli, gimana menurutmu si Devan ini?”


“Menurutku dia orangnya misterius dan menakutkan Bu”


“Eh kamu takut ya? Tapi kok Ibu lihat kamu tidak merasakan ketakutan sama sekali diwajahmu”


Lalu aku berbicara kepada Eli.


“Hey aku yang justrunya takut kepadamu, karena selama ini kau selalu sendirian diruangan ini, sama seperti hantu penunggu rumah kosong”


“Mana ada hantu secantik aku?”


“Iya ya terserah kamu”


Lalu Bu Yuni memotong pembicaraan kami.


“Sudah sudah jangan berantem, nanti kalian cepat pulang ya, karena bentar lagi gerbang sekolah mau ditutup”

__ADS_1


“Baik bu” ucap aku dan Eli.


Setelah itu Bu Yuni keluar lagi dari ruangan ini, dan setelah beberapa menit kemudian, datanglah seorang siswi cantik bernama Lisa, dia memiliki rambut berwarna hitam kecoklatan, dan dia juga adalah ketua kelas di kelasku.


Dia datang kesini sepertinya ada keperluan dengan Eli.


“Hey Eli ayok saatnya pulang”


“Eh Lisa ya, okey bentar”


Lalu Lisa menoleh kearahku seperti keheranan melihatku kenapa ada di ruangan ini.


“Eh kamu Devan kan, ngapain kamu disini?”


“Aku anggota baru Eskul ini”


“Eh serius?”


Lalu Lisa langsung menghampiri Eli dan bertanya.


“Eh memang benar dia anggota barumu Eli?”


“Ya begituh lah Lisa, dia disuruh Bu Yuni buat gabung ke Eskul ini”


“Oh begituh ya, eh kamu tau gak, dia itu orang yang aneh karena suka menyendiri dipojokan kelas”


“Ya dia memang aneh, punya pikiran buruk, misterius dan menakutkan”


“Hey kau yang menakutkan, selama ini kau selalu jadi penunggu ruangan ini kan?, Berarti sama saja seperti hantu penunggu rumah kosong”


“Mana ada hantu yang bisa sekolah dan memakai pakaian seragam ini? dasar anak aneh?”


“Justru kau yang aneh, muka gantengku ini kau bilang menakutkan? Sebaiknya periksa matamu”


“Kau juga sebaiknya periksa matamu, aku yang cantik dan manis ini masa dibilang hantu?”


Ya memang benar sih, Eli sangat cantik dan manis mau dilihat dari sudut manapun, tetapi tetap saja aku tidak akan mengakuinya dihadapannya demi harga diriku.


Lalu Lisa tertawa terbahak-bahak mendengar pentengkaran kami.


“Wah ternyata kamu bisa ngomong juga ya Devan, soalnya aku belum pernah dengar suaramu sama sekali selama di kelas”


“Aku hanya berbicara hal-hal yang penting saja, tidak sepertimu yang selalu membicarakan hal-hal yang tidak penting”


“Oh begituh ya, jadi selama ini kamu menganggap aku begituh ya?”


Lalu Lisa menghampiriku dengan senyuman yang aneh dan mulai mendekatkan wajahnya kepada wajahku.


Saat wajah Lisa sudah terlalu dekat denganku, aku menjadi risih dan berkata.

__ADS_1


“Hey jauhkan wajah burukmu dari wajahku”


Sebenarnya Lisa memiliki wajah yang cantik dan tak kalah cantiknya dari Eli, tetapi aku terpaksa berbicara wajahnya buruk agar dia segera menjauhkan wajahnya dari wajahku.


“Hahaha kamu memang sungguh aneh yah Devan”


“Justru kau yang aneh, seperti wanita murahan saja, tiba-tiba mendekatkan wajahmu ke wajahku”


Lalu Eli langsung tertawa ketika mendengar temannya dibilang cewek murahan olehku.


“Ya sudah yuk pulang Lisa, tinggalkan orang aneh ini”


Lalu Eli dan Lisa pergi keluar dari ruangan ini dan Lisa sepertinya marah kepadaku karena telah aku sebut cewek murahan.


Akupun tidak memperdulikan hal itu, dan aku juga bersiap-siap akan pulang juga.


Saat aku akan keluar pintu dari ruangan ini, tiba-tiba Lisa muncul dihadapanku dengan wajah penuh emosi dan dibelakangnya ada Eli yang sepertinya sedang menahan Lisa.


“Sudah sudah Lisa, yuk pulang saja, jangan berurusan sama orang aneh ini”


“Aku gak terima disebut cewek murahan sama orang ini”


Lalu aku berkata kepada Lisa.


“Hey Lisa, kamu juga kan sering menyebutku orang aneh, tetapi aku tidak marah”


“Kau memang aneh, tapi dengar ya, aku buka cewek murahan”


Lisa berbicara dengan wajah yang sangat menyeramkan bagaikan harimau yang akan memangsa seeokor kambing.


Aku memutuskan untuk meminta maaf kepada Lisa karena aku tidak ingin memperpanjang keributan yang tak berarti ini, akupun langsung menundukan kepala dan berkata.


“Maafkan aku Lisa karena aku telah menyebutmu cewek murahan, dan maafkan aku juga Eli karena aku telah menyebutmu hantu”


Setelah itu mereka langsung terdiam membatu ketika mendengar perkataan minta maafku, lalu Eli berkata.


“Ya aku juga minta maaf ya Dev, sekarang giliran kamu Lisa yang minta maaf, kalian kan teman sekelas, gak baik kalau berantem”


“Iya iya aku minta maaf ya Dev”


Lalu aku menganggukan kepalaku dan mereka langsung pergi meninggalkanku seperti kucing yang gagal menangkap tikus.


Hey apa yang aku lakukan?


Kenapa aku meminta maaf duluan?


Seharusnya merekalah yang minta maaf duluan bukannya aku.


Kenapa aku menjadi seperti ini?

__ADS_1


Hilang sudah harga diriku dihadapan mereka, baiklah lupakan saja kejadian hari ini, lebih baik aku segera pulang kerumah untuk menenangkan pikiran dan hatiku ini yang sedang kacau.


Semenjak aku menulis karya tulis yang buruk dan semenjak aku bertemu dengan gadis-gadis aneh itu, aku mengalami momen aneh yang sangat tidak jelas.


__ADS_2