Felix Sang Naga Hitam

Felix Sang Naga Hitam
Cara Pandang Yang Salah Bab 5


__ADS_3

Apa yang harus aku lakukan ya?


Apa aku harus pulang saja?


Eh jika aku pulang, nanti aku disangka lari tanggung jawab, duh bingungnya diriku saat ini.


Ya sudahlah lebih baik aku berjalan menuju kelasku, siapa tau disana aku menemukan seseorang yang ingin menjadi Ketua OSIS.


Saat aku sedang berjalan menuju kelasku, tiba-tiba aku melihat Lisa yang sepertinya akan menuju ke ruang Eskul Konsultan untuk mengajak Eli pulang bareng lagi seperti kemarin.


Ya sudah aku akan mencoba bertanya kepada Lisa, siapa tau dia tertarik menjadi Ketua OSIS.


“Eh Lisa mau ke ruang Eskul Konsultan ya?”


“Iyah nih, mau mengajak Eli pulang bareng lagi”


“Oh gituh ya, Eh Lisa kamu tertarik jadi Ketua OSIS gak?”


“Eh tumben kamu ngomong gituh? Emang kenapa?”


“Soalnya tadi di ruang Eskul ada Kak Utari yang maksa Eli buat jadi Ketua OSIS, tapi Eli terus menolak ajakannya”


“Oh gituh ya”


“Iyah Lisa, Kak Utari harus cepat-cepat cari penggantinya karena kelas 3 sebentar lagi mau ujian”


“Oh gituh, sebenarnya sih mau, tapi gimana ya?”


Lisa pun seperti ragu-ragu untuk menjadi Ketua OSIS, lalu aku berinisiatif memuji kelebihan Lisa agar dia mulai yakin.


“Menurutku kamu pasti bisa jadi Ketua OSIS, maaf kemarin aku menyebutmu sering berbicara yang tak penting, padahal menurutku kamu itu memiliki kemampuan berbicara yang sangat baik didepan umum”


Lisa pun seperti malu-malu ketika aku puji seperti itu, karena terlihat dari ekspresi wajahnya dan tanganya selalu menggaruk-garuk pundaknya.


“Eh begituh ya, tapi kan jadi Ketua OSIS bukan cuma modal bisa bicara ajah”


“Kamu kan udah pengalaman jadi Ketua Kelas dan menurutku cara kepemimpinan kamu di kelas 1 F sudah sangat baik”


“Eh begituh ya?”


Lisa kembali lagi menunjukan ekspresi malunya dan itu membuat dia semakin imut, setelah itu dia memegang dagunya seperti sedang memikirkan sesuatu.


“Ya sudah aku mau coba menerima permintaan kamu, tetapi ada syaratnya”


“Eh emang apa syaratnya?”


Aku langsung kaget mendengar hal itu.


Apa mungkin syaratnya yaitu harus jadi pacarnya ya?


Eh pikiran macam apa ini?


Mana mungkin dia mau menjadi pacarku, sudahlah jangan berfikir yang aneh-aneh lagi.


“Syaratnya gini ajah, kalau misalnya aku berhasil jadi Ketua OSIS, aku pengen kamu jadi anggota OSIS juga ya buat ngebantu pekerjaanku”

__ADS_1


Eh syarat macam apa ini?


Kenapa dia menginginkan aku jadi anggota OSIS juga?


Apa karena biar bisa semakin dekat denganku?


Hentikan pikiran-pikiran yang aneh lagi, okey saatnya untuk fokus, mungkin dia menginginkan aku jadi anggota OSIS karena memang tidak mudah untuk mencari anggota OSIS jika dia sudah terpilih menjadi Ketua OSIS.


Baiklah aku terpaksa akan menerima permintaan Lisa demi harga diriku didepan Eli dan Utari.


“Okey deh aku terima”


Lalu kami berdua langsung menuju ke ruang Eskul Konsultan, setelah beberapa menit akhirnya aku sampai di ruangan itu.


Saat aku sampai di ruangan itu, aku masih melihat Utari yang masih terus memaksa Eli menjadi penggantinya, tetapi Eli sepertinya sudah sangat kesal karena sangat terlihat dari ekspresi wajahnya.


Akupun langsung menghampiri Utari dan berkata.


“Kak Utari, nih aku udah nemuin calonnya”


Utari langsung kaget mendengar aku berbicara itu.


“Eh Devan ya, mana calonnya?


Utari langsung terlihat senang dan Eli juga terlihat lega karena dari tadi terus dipaksa oleh Utari.


“Nih orangnya (aku sambil menunjut kearah Lisa yang sedang ada disampingku)”


“Eh kamu Lisa ya teman dekatnya Eli, beneran kamu minat?”


Lisa seperti malu-malu berbicara seperti itu dan dia juga seperti terlihat senang.


“Syukur deh, ya sudah nanti sore ke Ruang OSIS ya”


“Eh sore sekarang Kak? Memang nanti ngapain disana?”


“Nanti kamu pidato singkat aja didepan anggota OSIS yang lama, sekaligus buat ngeresmiin kamu jadi Ketua OSIS”


“Eh gituh ya, memang harus hari ini juga ya?”


“Iyah soalnya udah gak ada waktu lagi, ya udah nanti sore aku tunggu disana ya”


Utari langsung meninggalkan kami bertiga dan dia langsung berjalan cepat, sepertinya dia sedang banyak urusan yang harus dikerjakan.


Lisa langsung terlihat gelisah dan panik.


“Eli temenin aku ya nanti ke ruang OSIS sama bantuin aku bikin pidato, aku bingung nih”


“Eh gimana ya? Aku sekarang harus cepat-cepat pulang Lisa, kan kamu tau sendiri hari ini adalah jadwal aku les"


“Eh iyah sih,”


“Ya sudah aku pulang dulu ya”


Eli langsung meninggalkan kami berdua di ruangan ini.

__ADS_1


“Eh Dev kamu kan tadi yang minta aku buat jadi Ketua OSIS, kamu harus tanggung jawab pokoknya, kamu harus temenin aku ke ruang OSIS sama bantuin aku bikin pidato”


“Eh emm baiklah”


Aku terpaksa mengikuti keinginan Lisa karena ini semua berawal dari salahku juga yang malah berinisiatif meminta Lisa buat jadi Ketua OSIS.


Kenapa hal merumitkan seperti ini terjadi lagi?


Banyak hal-hal aneh yang menghampiriku dari kemarin, apa mungkin sebentar lagi aku akan mati?


Ya aku lebih baik mati saja daripada aku harus merasakan kejadian yang aneh dan merepotkan ini.


Eh tapi tunggu, kenapa aku jadi selemah ini?


Aku harus terus berfikir positif, mungkin ini adalah jalan untukku yang diberi tuhan agar kemampuan terpendamku bisa ku pamerkan.


Ya karena aku memiliki kemampuan membaca situasi yang baik dan bisa memahami lingkungan sekitar dengan benar.


Bahkan Bu Yuni pun mengakui kemampuanku sehingga menyuruhku untuk bergabung ke Eskul Konsultan.


“Hey Dev kok malah bengong, ayok bantu aku”


“Eh iyah maaf”


Aku dan Lisa akhirnya duduk bersebelahan di ruangan ini, jujur baru pertama kali aku bisa duduk dekat dengan seorang wanita, entah apa yang kurasakan saat ini, entah perasaan senang atau kesal, pokoknya semuanya jadi campur aduk.


“Coba kasih ide dong Dev, kira-kira isi pidatonya kaya gimana?”


“Okey bentar, biarkan aku berfikir”


Akupun berusaha memikirkan isi pidato, dari pengalaman dan pengamatan aku selama ini tentang kehidupan sekolah, akhirnya aku mendapatkan sebuah ide.


“Aku mempunya ide, tapi terserah kamu mau terima atau tidak ideku ini”


“Okey baiklah, aku akan coba dengarkan”


“Menurutku pidatomu harus berisi tentang hukuman-hukuman yang akan kamu buat jika kamu berhasil jadi Ketua OSIS, misalnya jika ada siswa yang membuang sampah sembarangan, maka harus kamu hukum disaat itu juga, jika siswa itu tidak ingin menerima hukuman, maka kamu akan melaporkan siswa itu kepada guru BK”


“Wah bagus juga idemu, baiklah aku akan tulis idemu”


Ternyata Lisa langsung menerima ideku tanpa pikir panjang, aku kira dia akan menolak ideku, lalu setelah itu dia langsung menulis pidatonya dengan lancar setelah menerima saran dariku.


“Sip deh, akhirnya beres juga, makasih ya buat sarannya”


“Eh iyah sama-sama”


“Hey Dev aku pikir kamu itu orang aneh, eh maaf-maaf hehe”


Lisa pun tersenyum manis kepadaku setelah mengejekku, tapi entah kenapa aku tidak marah.


“Oh iya gak apa-apa, eh tapi kamu ngerasa aneh gak?”


“Aneh kenapa Dev?”


“Aku cuma ngerasa aneh ajah, kenapa pemilihan Ketua OSIS dilakukan seperti ini, biasanya kan dipilih berdasarkan jumlah suara dari seluruh siswa”

__ADS_1


“Eh iya benar juga ya, aku baru sadar”


__ADS_2