
Akhirnya kami sampai di rumahku, aku langsung mempersilahkan Clara masuk dan duduk di ruang tamu, aku memutuskan untuk menyiapkan air minum dan cemilan untuk Clara, saat aku sedang mempesiapkan itu di dapur, tiba-tiba HP ku berbunyi, ternyata itu telepon dari Liya.
“Halo Liya ada apa?”
“Kamu dimana sih Felix? Aku cariin kamu dari tadi di sekolah kok gak ada?”
“Eh maaf Liya, tadi aku langsung pulang, soalnya ada temanku yang mau mampir ke rumah”
“Oh pantesan, terus kenapa kamu gak kabarin aku waktu mau pulang duluan?”
“Kan waktu pagi kamu bilang mau pulang sendirian”
“Hmm iyah sih, ya sudah deh aku terpaksa pulang bareng Kak Reno”
Liya langsung menutup teleponnya, dan aku sudah tau kalau dia sedang marah kepadaku, sebenarnya aku gak salah-salah amat sih, karena memang waktu pagi dia bilang kepadaku mau pulang sendirian.
Aku langsung memberikan cemilan dan minuman dingin kepada Clara yang sedang duduk di ruang tamu, dia sepertinya sedang sibuk memainkan HP nya, ya aku langsung tau kalau dia sedang sibuk chatan dengan teman-temannya, karena orang seperti Clara pasti memiliki teman yang banyak.
“Eh makasih ya Felix, aku jadi gak enak, malah ngerepotin”
“Iyah santai saja Clara”
Clara langsung minum dan makan cemilan yang ku taruh di meja sambil sibuk memainkan HP nya, dia terlihat seperti adikku setelah semakin lama aku memperhatikannya, karena adikku selalu makan dan minum juga sambil memainkan game di HP.
“Eh Felix kenapa bengong?”
“Eh maaf-maaf, mau langsung belajar?”
“Ya sudah okey deh, biar pulangnya gak kesorean”
Kemudian Clara langsung mengeluarkan kertas hasil ujian matematika miliknya, dan aku langsung memeriksa dan memberitahu jawaban yang benar pada soal ujian yang dijawab salah olehnya, banyak sekali jawaban yang salah sehingga memakan waktu yang lama untuk membenarkan semua jawaban yang salah.
Sudah 1 jam berlalu, tetapi masih belum selesai aku membetulkan semua jawabannya, karena HP Clara selalu berbunyi sehingga kami tidak fokus untuk serius belajar, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar, aku bergegas membuka pintu dan ternyata itu adalah Liya.
“Eh Liya ada apa?”
“Eh engga ada apa-apa sih, aku cuma penasaran saja sama teman kamu yang mampir ke rumahmu”
Liya memang sudah sangat mengenal diriku, dan dia juga tau diriku yang tidak mempunyai teman sama sekali selain dirinya, oleh karena itu dia pasti sangat penasaran dengan temanku yang mampir ke rumahku.
“Oh gituh ya, ada-ada saja kamu Liya”
“Hehe ya aku cuma heran saja, pasti temanmu yang mampir ke rumahmu ini adalah orang yang aneh juga sama seperti dirimu ya?”
__ADS_1
Lalu tiba-tiba Clara muncul di belakangku dan berkata.
“Eh ternyata ada Liya, tenang saja kok aku bukan orang yang aneh hehe”
Liya langsung kaget ketika melihat Clara yang berada di rumahku ini, lalu Liya berkata.
“Eh kamu Clara kan? Teman sekelas Felix? Kok kamu ada disini?”
“Ya karena kami teman sekelas, jadinya aku mampir ke rumah Felix”
“Ya maksudnya aneh saja, kenapa kamu mau diajak berduaan sama Felix di rumahnya?”
“Karena kami mulai sekarang sudah berpacaran”
“Eh serius kalian pacaran?”
Aku kaget mendengar perkataan Clara yang seperti itu, aku langsung memutuskan untuk meluruskan perkataan Clara agar kesalah pahaman ini cepat berakhir.
“Kami gak pacaran Liya, aku cuma membantu dia belajar matematika”
“Tapi kenapa mesti di rumahmu? Kan di sekolah juga bisa?”
Lalu Clara memotong pembicaraan kami.
“Karena ini permintaan Felix, agar bisa berduaan denganku kalau belajar di rumahnya hehe”
“Haha tenang saja kok cuma bercanda”
Liya langsung memasang wajah cemberut ketika mendengar perkataan Clara yang seperti itu, kemudian aku memotong pembicaran mereka.
“Hey Clara jangan ngomong yang aneh-aneh lagi ya, nanti malah muncul gosip yang engga-engga”
“Hehe iyah maaf Felix, hey Liya kamu mau ikut belajar bareng kita juga gak?”
“Engga ah males, aku mau pulang saja”
Kemudian Liya langsung pergi ke rumahnya dengan wajah yang cemberut, lalu Clara berkata kepadaku.
“Hey kalian benar tak memiliki hubungan apapun?”
“Ya tentu saja, kami hanya berteman saja Clara”
“Oh begituh, tetapi sepertinya Liya cemburu kepadaku ketika aku mengaku pacarnu”
__ADS_1
“Entahlah aku juga tak tau, eh Clara kenapa kamu berbicara seperti tadi?”
“Ya sebenarnya aku sengaja bicara seperti itu, agar kakaknya Liya tidak selalu mendekatiku lagi”
“Eh maksudmu Kak Reno?”
“Iyah dia selalu mendekatiku dan mengirim surat cinta kepadaku”
“Oh begituh ya, pantes saja kamu seperti itu, ya sudah mau lanjut belajar lagi?”
“Hmm lanjut besok saja ya Felix hehe”
“Okey deh, ya sudah aku anter kamu pulang ya”
“Okey deh Felix, maaf ya ngerepotin kamu lagi”
Kemudian aku langsung pergi ke rumah Clara untuk mengantarnya pulang dengan sepeda motorku, saat di perjalanan, Clara berbicara kepadaku.
“Eh Felix kenapa kamu selalu terlihat murung sih di kelas? Terus tadi kenapa kamu ngeliatin aku terus pas aku lagi makan di rumah kamu?”
“Soalnya kamu mirip adikku pas kamu lagi makan Clara”
“Eh adikmu? Kan katanya waktu di kelas kamu adalah anak tunggal, dan aku juga gak lihat sama sekali adikmu waktu di rumahmu”
“Adikku meninggal sejak aku masih SMP, ya mungkin itu alasannya aku terlihat murung”
“Oh begituh ya, pasti kamu sangat menyayangi adikmu ya Felix?”
“Ya aku sangat menyayangi adikku, dan rasanya aku seperti masih tidak ikhlas kehilangan dia”
“Oh begituh ya, aku turut prihatin, pasti kamu selalu menangis ya saat sendirian di dalam kamar?”
“Sejujurnya saat ini aku sudah tidak bisa merasakan kesedihan lagi, atau lebih tepatnya sudah lupa caranya untuk menangis”
“Eh kamu serius? Kamu sudah lupa caranya untuk menangis? Kok bisa sih?”
“Ya setelah adikku wafat sejak aku masih SMP, aku terus menangis berlarut-larut di dalam kamar selama berhari-hari, lalu tibalah titik dimana air mataku sudah tidak bisa keluar lagi, bukan karena aku sudah tidak sedih lagi, tetapi sepertinya aku sudah lupa caranya untuk menangis, rasa sedih, marah dan senang yang biasa kurasakan saat dulu pun tiba-tiba menghilang, dan aku tidak bisa merasakannya lagi sampai sekarang”
“Eh begituh ya, maaf aku bertanya seperti itu ya Felix, pasti membuatmu teringat pengalaman yang menyedihkan lagi”
“Sebenarnya walau kamu tidak bertanya tentang hal itu, aku selalu mengingatnya sampai sekarang, malah aku senang ketika kamu mau mendengarkan ocehanku yang aneh ini”
“Hehe menurutku itu bukan ocehan aneh kok, setiap orang juga pasti memiliki pengalaman buruk, tetap semangat ya Felix, jangan murung terus”
__ADS_1
“Eh iya makasih Clara”
Karena kami sering bersama, akhirnya aku dan Clara berpacaran, aku nyaman sama Clara karena dia mirip dengan adikku yang telah meninggal, tetapi semenjak kita berpacaran, Liya kita memulai menjaga jarak padaku dan tidak sedekat seperti dulu lagi.