
Akhirnya kami semua telah sampai di ruang OSIS.
Saat aku masuk ternyata ruangannya sangat berantakan dan sudah ada semua anggota OSIS yang sedang duduk di kursinya masing-masing yang dihadapannya ada meja panjang untuk tempat diskusi seperti meja di ruangan Konsultan.
Lalu Utari berkata.
“Yuk silahkan masuk, maaf ruangannya berantakan”
Lisa dan aku langsung masuk ke ruangan OSIS dan duduk di kursi yang masih kosong.
Setelah semua orang duduk ditempatnya masing-masing, Utari langsung berkata.
“Yuk kita mulai acaranya untuk mempersingkat waktu, karena waktu sudah sore dan gerbang sekolah sudah mau ditutup, okey kita langsung pada intinya sajah ya, jadi saya sudah berhasil mendapatkan calon ketua OSIS yang akan menggantikan posisi saya, namanya adalah Lisa dari kelas 1F, mohon dukungan dan beri selamat kepada Lisa karena dia sudah mau menjadi Ketua OSIS”
Lalu kami semua yang ada di ruangan OSIS langsung bertepuk tangan kepada Lisa, Lalu ada salah satu anggota OSIS yang berkata.
“Eh maaf kalau laki-laki itu siapa? Apa dia calon Wakil Ketua OSIS? (sambil menunjuk kearahku)”
“Bukan, saya cuma teman sekelasnya Lisa”
Lalu Utari berkata.
“Ya dia itu adalah Devan dari kelas 1F, tadi dia membantuku mencari kandidat Ketua OSIS dan akhirnya berhasil menemukan Lisa”
Lalu semua anggota OSIS langsung seperti kagum dan heran kepadaku, tetapi aku tidak memperdulikannya dan berharap agar kejadian ini segera berakhir karena aku ingin cepat-cepat pulang.
Setelah itu Utari berkata lagi.
“Yuk Lisa sekarang giliran kamu buat pidato singkat”
“Oh iya baiklah Kak”
Lalu Lisa langsung berdiri dan seperti terlihat gugup, tetapi Lisa masih sanggup menutupi kegugupan itu.
Lisa langsung mulai berpidato.
“Sebelumnya terimakasih kepada Kak Utari yang telah mempersilahkanku menjadi Ketua OSIS, dan aku juga berterimakasih kepada Devan yang telah medukungku menjadi Ketua OSIS”
“Jujur pada awalnya aku ragu menjadi Ketua OSIS, dan setelah Devan dan Kak Utari meyakinkanku bahwa aku pasti bisa bisa menjadi Ketua OSIS, akhirnya rasa ragu dalam diriku menjadi berkurang”
“Aku juga seperti antara percaya dan tidak percaya bahwa kedepannya aku bakal jadi Ketua OSIS karena ini sangat mendadak sekali”
“Aku juga sudah mendengar kalau pemilihan Ketua OSIS terpaksa dilakukan seperti ini agar kejadian seperti tahun kemarin tidak terulang lagi”
__ADS_1
“Intinya aku berterimkasih kepada orang-orang yang telah mendukungku dan aku minta bimbingannya dari Kakak-Kakak kelas semua yang ada disini agar aku bisa menjadi Ketua OSIS yang baik seperti Kak Utari”
“Mungkin cukup sekian pidato singkat dari saya, bila ada kesalahan dari kata-kataku ini mohon dimaafkan, termikasih”
Kemudian Lisa langsung duduk dan aku baru sadar ternyata Lisa berpidatonya tanpa membaca catatan pidato yang telah dibuat tadi.
Aku juga mengerti sih kenapa dia tidak berpidato menggunakan catatan yang dibuat tadi, karena memang kurang pas karena isi catatannya yaitu tentang hukuman-hukuman jika ada siswa yang melanggar aturan sekolah.
Aku juga salut dengan Lisa karena mampu berbicara didepan banyak orang dengan lancar dan tanpa gerogi, mungkin kalau aku yang melakukannya pasti aku tidak akan sebaik Lisa.
Setelah Lisa berpidato, semua orang di ruangan langsung bertepuk tangan dan seperti kagum pada Lisa.
Aku juga ikut bertepuk tangan untuk Lisa, dan Lisa terlihat sangat senang karena telah mendapatkan banyak tepuk tangan.
Setelah itu Utari berkata.
“Selamat ya untuk kamu Lisa, kamu memang sepertinya sangat cocok untuk menjadi Ketua OSIS, aku suka cara berpidato kamu seperti itu”
“Iyah terimakasih Kak Utari”
“Mungkin dari semua anggota OSIS ada yang ingin mengatakan sesuatu?”
Lalu Utari menunggu beberapa detik takutnya ada anggota OSIS yang ingin menyampaikan sesuatu pada Lisa.
Lalu kami semua di ruangan bertepuk tangan, kemudian Utari berkata lagi.
“Yuk karena sudah sore, lebih baik kita akhiri saja, Lisa dan Devan boleh langsung pulang, nanti biar saya yang membuat laporan kepada Guru Pembina OSIS bahwa Lisa adalah Ketua OSIS yang baru”
Lalu Lisa menjawab.
“Oh iya baik Kak, eh maaf Kak saya mau nanya, Guru Pembina OSIS di sekolah ini siapa ya?”
“Oh iya maaf saya lupa kasih tahu, Guru Pembina OSIS di sekolah ini yaitu Bu Yuni, yang mengajar Bahasa Indonesia”
Aku langsung terkejut karena baru mengetahui bahwa Bu Yuni adalah Guru Pembina OSIS di sekolah ini.
Aku jadi teringat pada Bu Yuni yang telah menghukumku untuk masuk ke Eskul Konsultan.
Jika aku sudah menjadi anggota OSIS, maka aku akan sering bertemu dan berdiskusi dengan Bu Yuni.
Dia pasti sangat terkejut dengan kehadiranku menjadi anggota OSIS, entah ini hal yang baik atau hal yang buruk bagiku
Oh iya aku jadi lupa, bagaimana nasib Eskul Konsultan ya?.
__ADS_1
Jika aku dan Eli menjadi anggota OSIS, apakah Eskul Konsultan masih tetap ada?
Mungkin ini keputusan yang Eli harus buat, jika Eli setuju menjadi anggota OSIS, maka kemungkinan Eskul Konsultan ditiadakan.
Jika Eli masih ingin menghidupkan Eskul Konsultan, maka berarti Eli menolak untuk masuk kedalam struktur anggota OSIS.
Aku berharap agar Eskul Konsultan tetap ada, dan aku bersama Eli masih menjadi anggota Eskul Konsultan.
Aku berharap agar aku tidak jadi anggota OSIS dan memilih untuk menjadi anggota Eskul Konsultan sajah karena aku sangat nyaman disana.
Jika aku benar-benar menjadi anggota OSIS, maka aku akan disibukkan dengan kegiatan-kegiatan di sekolah dan pastinya akan membuatku banyak kehilangan waktu untuk bersantai.
Semoga sajah aku bisa cepat segera keluar dari anggota OSIS, dan semoga sajah aku masih tetap di Eskul Konsultan.
Semoga Eli memiliki pemikiran yang sama denganku, dan sepertinya Eli juga tidak suka disibukkan dengan kegiatan-kegiatan yang merepotkan.
Karena aku tahu kebiasaan Eli yang suka membaca buku di tempat yang sunyi sama hal nya dengan diriku.
Mungkin aku dan Eli memiliki kebiasaan dan pemikiran yang sama, dan harapanku saat ini yaitu aku ingin tidak terlibat dengan kegiatan OSIS.
Ya aku sadar ini semua juga berawal dari kesalahanku juga, yang menulis tentang hal-hal buruk di kehidupan SMA.
Mungkin ini karma untukku dan aku akan berjanji tidak akan menulis hal-hal yang buruk lagi walaupun memang itu adalah realitanya.
Setelah mengetahui bahwa Bu Yuni adalah Guru Pembina OSIS, aku dan Lisa langsung keluar dari ruangan OSIS dan berencana untuk pulang.
Saat perjalanan pulang, Lisa berkata padaku.
“Makasih ya Dev udah menemani aku sampai sore begini”
“Iyah Lisa, lagian ini semua karena salah aku juga yang minta kamu buat jadi Ketua OSIS”
“Oh iya benar juga ya, yang penting kamu harus bantu aku ya”
“Eh bantu apa?”
“Ya bantu kegiatan OSIS lah, kan kamu udah janji”
“Oh iya maaf lupa, eh emang kamu yakin minta bantuan aku?”
“Sebenarnya kurang yakin sih, tapi kan ini semua karena salahmu juga yang membujuk aku buat jadi Ketua OSIS, pokoknya kamu harus tanggung jawab Dev! Kamu harus bantu aku!”
“Eh iya iya”
__ADS_1
Akupun terpaksa menuruti keinginan Lisa.