Felix Sang Naga Hitam

Felix Sang Naga Hitam
Cara Pandang Yang Salah Bab 16


__ADS_3

Beberapa saat kemudian akhirnya tibalah jam pulang sekolah, dan tiba-tiba aku di hampiri oleh seorang murid laki-laki di kelasku ini yang bernama Toni.


“Eh Devan aku ingin bicara sebentar sama kamu boleh gak?” tanya Toni kepadaku.


“Oh iya kamu mau nanya apa?” tanyaku dengan heran.


“Sebenarnya kamu dengan Lisa punya hubungan apa?” tanya Toni.


Aku langsung bingung kenapa Toni bertanya tentang hubunganku dengan Lisa, apa mungkin Toni merasa cemburu ketika aku sering berbicara dengan Lisa di kelas ini, tetapi yang aku tau Toni itu bukan pacarnya Lisa jadi dia tidak berhak untuk cemburu, apa jangan-jangan si Toni menyukai Lisa ya jadinya dia cemburu saat aku dekat dengan Lisa.


“Kenapa kamu bertanya seperti itu Toni? apa kamu cemburu?” tanyaku dengan heran.


“Em iya sebenarnya aku suka sama Lisa, dan aku cemburu saat kamu sering mengobrol dengan Lisa, oleh karena itu aku ingin tau sebenarnya kamu pacaran dengan Lisa atau engga?” tanya Toni.


Aku langsung terkejut ketika mendengar Toni yang berbicara terbuka kepadaku tentang dia yang menyukai Lisa, dan sebaiknya aku jujur saja ke Toni tentang hubunganku dengan Lisa.


“Kamu tak perlu cemburu begitu Toni, karena Lisa bukanlah pacarku, jadi jika kamu ingin mendekati Lisa silahkan saja” ucapku.


“Syukurlah kalau kamu bukan pacar Lisa, dan sebenarnya aku sudah lama ingin mendekati Lisa, tapi aku selalu gagal saat aku mencoba mendekatinya” ucap Toni.


“Ya mungkin kau bukanlah orang yang mampu membuat Lisa tertarik” ucapku.


“Eh serius? kenapa kamu berbicara seperti itu?” tanya Toni dengan kesal.


“Karena yang aku tau Lisa itu mudah di dekati oleh cowok mana saja asalkan cowok itu menarik bagi Lisa, dan jika kau gagal mendekati Lisa, berarti kau tidak memiliki kelebihan yang mampu membuat Lisa tertarik kepadamu” ucapku.


“Oh okey terimakasih untuk sarannya” ucap Toni dengan kesal.

__ADS_1


Toni langsung pergi meninggalkanku dengan wajah yang kesal ketika aku menasihatinya dengan kata-kata yang kejam, padahal semua ucapanku tadi belum tentu semuanya benar, dan aku hanya berbicara sesuai dengan apa yang aku pikirkan saja.


Tetapi aku memutusakn untuk tidak peduli terhadap Toni yang marah kepadaku, lagian aku benci kepada seseorang yang ingin mendekatiku karena ada maunya saja.


Oleh karena itu aku berbicara kejam kepada Toni agar dia tak berani bertanya dan mendekatiku lagi, dan aku tidak peduli jika Toni mau memusuhiku, karena bagiku punya teman atau di musuh di dunia ini tidak akan berpengaruh dalam hidupku selama aku bisa mencari uang sendiri.


Beberapa saat kemudian akhirnya aku memutuskan untuk menjalankan tugasku sebagai penjaga ruangan peralatan OSIS, dan aku sebenarnya menerima permintaan Lisa itu agar aku selalu bisa membaca novel di ruangan itu dengan tenang.


Meskipun tugas untuk menjadi penjaga runganan penyimpanan terdengar aneh, tetapi aku memutuskan untuk menerima tugas itu karena tugas itu tidak membuat aku merasa di sibukkan, dan tugasku disana hanyalah sebagai penjaga ruangan itu.


Aku berjalan langkah demi langkah menuju ruangan penyimpanan, dan beberapa saat kemudian akhirnya aku telah sampai di ruangan itu.


Seperti biasa ruangan ini sangat sepi sekali dan tidak ada satupun orang yang sedang disana, dan jika ada orang yang mau berdiam diri disana mungkin hanya orang yang aneh saja, dan orang yang aneh tersebut adalah aku.


Dan ada satu orang aneh lagi yang mau berada di ruangan ini sendirian, dan orang itu adalah Eli si murid populer dari kelas 1A yang sekarang telah menjabat menjadi anggota OSIS.


Aku juga belum tau jabatan apa yang di peroleh oleh Eli di OSIS, dan mungkin aku akan bertanya kepada Eli ketika aku bertemu dengannya.


“Eh ternyata kamua ada disini Devan” ucap Eli yang sepertinya dia kaget ketika melihatku ada disini.


“Ya aku akan selalu berada di ruangan ini karena saat ini aku sudah di resmikan menjadi penjaga ruangan ini oleh Lisa” ucapku.


“Eh serius Lisa berkata seperti itu?” tanya Eli dengan heran.


“Iya aku serius, oh iya aku ingin bertanya kepadamu Eli” ucapku.


“Eh kamu mau nanya apa Devan?” tanya Eli dengan penasaran.

__ADS_1


“Kamu kan saat ini telah menjadi anggota OSIS, lalu jabatan yang kamu peroleh di OSIS itu apa?” tanyaku dengan penasaran.


“Sebenarnya aku ingin menjadi anggota biasa saja di OSIS, tetapi Lisa memaksaku untuk menjadi wakil ketua OSIS, dan akhirnya aku terpaksa menjadi wakilnya si Lisa” ucap Eli.


“Ya kurasa kamu sangat cocok untuk menjadi wakilnya si Lisa, karena Lisa itu terkadang orangnya ceroboh, dan jika dia selalu berada di dekatmu, pasti kamu bisa menasihatinya dan memperingatinya saat si Lisa melakukan hal yang ceroboh” ucapku.


“Wah ternyata kamu sangat mengenal Lisa ya, apa kamu suka sama dia Devan?” tanya Eli.


“Sudah ku bilang berkali-kali, bahwa aku tidak akan mengharapkan Lisa untuk menjadi pacarku, karena aku tau orang yang seperti Lisa itu hanya mendekati seorang cowok sekedar penasaran saja, dan jika dia sudah bosan, maka cowok tersebut akan di tinggalkan oleh Lisa” ucapku.


“Wah ternyata kamu sangat pandai menilai orang ya” ucap Eli.


“Ya aku sangat pandai sekali menilai orang, dan aku juga bisa menilaimu” ucapku.


“Oh jadi kamu bisa menilaiku ya? lalu menurutmu aku itu orang yang seperti apa?” tanya Eli.


“Menurutku kamu adalah orang yang kesal kepada orang-orang di sekitarmu, karena orang-orang di sekitarmu terutama dari kamu perempuan banyak yang membencimu karena iri kepadamu” ucapku.


“Ya benar sekali, lagian aku tak heran kamu bisa menebak aku seperti itu, karena aku sebelumnya pernah menceritakan kepadamu” ucap Eli.


Aku baru ingat kalau Eli pernah menceritakan kehidupannya kepadaku pada waktu itu di ruangan ini, padahal aku sama sekali tak mengingat kalau Eli pernah berbicara seperti itu saat aku berpendapat tentangnya barusan.


“Oh iya benar juga ya kamu pernah menceritakan kehidupanmu kepadaku” ucapku.


“Oh iya lalu apa kamu beneran mau menerima tugas dari Lisa?” tanya Eli.


“Ya menurutku tugas yang di berikan Lisa tidak akan membuatku sibuk, karena dengan tugas yang di berikan Lisa aku bisa membaca novel disini saat waktu luang di sekolah” ucapku.

__ADS_1


“Oh begituh ya, ya sudah deh aku juga mengizinkanmu berada disini” ucap Eli.


Ya aku baru ingat kalau ruangan sebelumnya ruangan milik Eli saat dia menjadi ketua eskul konsultan, dan pastinya aku memerlukan izin dari dia juga untuk menempati ruangan ini.


__ADS_2