
“Aku menginginkan kamu untuk menjadi anggota OSIS karena aku merasa kamu dapat menyelesaikan banyak masalah” ucap Lisa kepadaku.
Lalu Eli juga berkata kepadaku “ya kami menginginkan kamu bergabung ke OSIS karena kamu itu orangnya pandai dalam mencari kesalahan orang lain, dan pandai dalam mengkritik seseorang, walaupun memang perkataanmu terkadang menyebalkan, tetapi aku rasa kamu itu cocok jika bergabung menjadi OSIS”.
“Em baiklah aku pikir-pikir dulu penawaran kalian ya, dan sekarang aku ingin cepat pulang dulu karena mataku sudah sangat lelah dan ingin tidur” ucapku.
Lalu aku memutuskan untuk keluar dari ruangan ini dan melangkahkan kakiku menuju keluar sekolah, saat perjalanan menuju rumahku, aku kepikiran sejenak tentang permintaan dari Lisa dan Eli yang menginginkan aku menjadi anggota OSIS.
Padahal aku merasa tidak memiliki kemampuan untuk menjadi anggota OSIS, dan mungkin saja aku malah jadi penghambat kinerja OSIS karena sikapku ini yang suka mengkritik orang lain.
Entahlah apa yang di pikirkan dua perempuan itu yang menginginkan aku untuk menjadi anggota OSIS, padahal aku sama sekali malas untuk melakukan kegiatan di sekolah saat aku menjadi anggota OSIS.
Walaupun jika aku menjadi anggota OSIS, pasti akan membuatku bisa lebih dekat dengan Eli, tetapi entah kenapa aku lebih memilih untuk tidak bergabung menjadi anggota OSIS meskipun nantinya jika aku menjadi anggota OSIS akan lebih sering berkontrak dengan Eli.
Tetapi aku berpikir sejenak, kenapa aku ingin selalu berada di dekat Eli, padahal pasti Eli tidak menyukaiku, dan Eli ingin mendekatiku hanya karena dia ingin membuatku bergabung menjadi anggota OSIS.
__ADS_1
Ya aku memutuskan untuk menolak permintaan Eli tersebut walaupun memang aku berharap bisa selalu dekat dengan Eli, karena saat ini aku memutuskan untuk tidak terjebak lagi dengan perasaan cinta kepada seorang perempuan, karena aku takut kejadina memalukan saat SMP terulang lagi saat aku menyatakan perasaan kepada Tina si teman sekelasku, dan setelah aku menyatakan perasaanku kepada Tina, aku langsung di tolak oleh dia dan aku merasakan malu seumur hidupku.
Aku memutuskan untuk tidak akan mudah terpengaruh lagi oleh pesona seorang perempuan cantik seperti Eli, Lisa bahkan Bu Yuni, karena mengharapkan cinta dari seorang perempuan cantik hanyalah hal yang sia-sia, mengingat karena aku adalah seseorang yang aneh di mata banyak orang sehingga sungguh tak mungkin untuk mendapatkan cinta seorang perempuan cantik.
Perempuan cantik di zaman sekarang pasti memilih cowok yang ganteng, kaya atau pintar, dan aku tidak termasuk golongan dari kriteria itu karena aku merasa bukanlah cowok yang ganteng, kaya ataupun pintar.
Baiklah aku memutuskan untuk tidak akan terjebak lagi dengan perasaanku terhadap wanita cantik, dan meskipun ada perempuan yang mencoba mendekatiku, pasti perempuan itu hanya iseng saja mendekatiku dan tidak ada keseriusan sama sekali saat mendekatiku.
Aku juga merasa kalau Eli dan Lisa mendekatiku hanya karena mereka membutuhkan anggota baru di OSIS, dan jika mereka sudah mempunya anggota OSIS yang baru, pasti kedua perempuan cantik itu tidak akan lagi mendekatiku.
Aku memutuskan untuk langsung pulang saja ke rumahku saat ini dan mencoba melupakan harapanku agar bisa selalu dekat dengan Eli, cinta yang kurasakan saat ini pasti hanya akan membuatku sengsara, karena cinta itu yang aku dengar bisa membuat seseorang menjadi bodoh bahkan mampu melakukan bunuh diri karena sakit hari di khianati cintanya.
Aku tiba-tiba teringat tentang turnamen bole basket yang akan di adakan tiga hari lagi pada hari sabtu, yaitu pada saat hari libur sekolah.
Aku yakin pasti turnamen tersebut tidak akan berjalan lancar karena pastinya akan banyak masalah saat turnamen tiba, karena waktu persiapan turnamen tersebut sangat sedikit dan hanya menyiapkan waktu tiga hari saja.
__ADS_1
Tetapi aku percaya dengan adanya Eli di OSIS, pasti dia akan membuat acara turnamen tersebut berjalan sebaik mungkin meskipun hasilnya pasti tidak akan maksimal, dan sebenarnya aku ingin membantu turnamen tersebut, tetapi entah kenapa ragaku ini malas untuk melakukan itu dan lebih suka bersantai di rumahku saat hari libur.
Aku juga memutuskan untuk tidak akan datang ke turnamen tersebut, karena pastinya aku hanya sebagai penonton saja disana, dan lebih baik aku habiskan waktu liburku dengan beristirahat di rumah saja sepanjang hari sambil membaca novel atau bermain game.
Esok hari telah tiba dan kini aku telah berada di gerbang sekolah dan melangkahkan kakiku menuju kelasku, dan hari ini aku bangun pagi dengan tepat waktu sehingga aku bisa bersantai saat pergi ke sekolahnya.
Banyak murid di SMA 5 juga yang berjalan santai menuju kelasnya, tetapi ada juga yang berlari ke arah kelasnya dengan terburu-buru karena mungkin dia belum mengerjakan PR nya sehingga dia buru-buru ke kelasnya untuk menyalin PR milik temannya itu.
Padahal PR yang di berikan guru akan sangat mudah di kerjakan saat malam hari, dan pastinya saat malam hari itu waktu yang sangat luang sekali untuk mengerjakan PR, dan aku selalu mengerjakan PR ku saat pulang sekolah atau saat malam hari sebelum aku tidur.
Aku harus mengerjakan PR ku sendiri, karena jika aku tidak bisa mengerjakan PR ku, maka aku pasti tidak akan mendapat nilai dari guruku yang memberikan PR itu, dan aku juga tidak mungkin bisa menyontek tugas PR ku itu karena aku tidak memiliki teman dekat di kelasku.
Lagian mengerjakan PR itu tidak akan memakan waktu yang lama jika kita serius mengerjakannya, dan paling lama mengerjakan PR itu paling bisa memakan waktu satu jam saja, dan itupun jika mengerjakan PR nya sambil bersantai.
Saat aku berada di kelasku, aku melihat para murid di kelasku yang sedang sibuk menyalin PR nya, aku berpikir bahwa mereka itu bukannya kesulitan mengerjakan PR nya di rumah, tetapi mereka itu hanya malas saja menyisihkan waktu untuk mengerjakan PR.
__ADS_1
Padahal mereka semua pasti sangat bisa menghabiskan waktu berjam-jam saat bermain game atau mengobrol dengan temannya, dan jika mereka mengerjakan PR sepertinya mereka malas untuk melakuakan itu dan memilih mencontek PR temannya saja saat di kelas.
Sungguh aneh cara pikirkan mereka itu, tetapi entahlah mungkin itu adalah sudah menjadi sebuah tradisi bagi kebanyakan murid di setiap sekolah, oleh karena itu aku yang malas untuk bersosialisasi, aku harus memaksakan diriku untuk bisa melakukan segalanya sendiri, agar aku tidak membutuhkan bantuan orang lain dan tidak mudah mengalami kesulitan.