
“Menurutku masa SMA adalah masa paling buruk didalam sebuah kehidupan, karena banyak orang-orang yang terlalu menikmati kehidupan masa sekolahnya tanpa berfikir panjang”
“Banyak orang-orang yang selalu berbuat salah dan kejahatan di masa itu dan orang-orang disekitarnya malah memakluminya dan dibilang itu hal yang wajar karena sedang mencari jati diri”
“Bagi yang gagal didalam kehidupan sekolahnya, dia menganggap bahwa sekolah bukanlah satu-satunya jalan untuk menjadi sukses”
“Ya memang benar sih, tetapi aku benci dengan perkataan yang seperti itu karena menganggap merendahkan dunia pendidikan”
“Aku tidak membenci sekolahnya, tetapi aku membenci orang-orang yang sedang menjalani masa itu”
“Semua kejahatan seperti pembullyan dan aksi tawuran yang dilakukan oleh orang-orang dimasa itu dianggap sebagai catatan kecil dan hanya disebut sebagai bumbu kehidupan”
“Padahal itu sangat berdampak buruk bagi lingkungan sekitarnya dan bahkan juga bisa sampai merenggut nyawa”
“Aku yang memilih tidak ingin berteman dan menjadi penyendiri malah disebut aneh oleh orang-orang disekitarku”
“Yang lebih aneh justru orang-orang yang selalu berbuat jahat tetapi bangga dengan hal itu”
“Seharusnya orang-orang jahat seperti itu dihukum mati, bukan malah dilindungi dengan alasan masih dibawah umur”
“Aku memilih jalan hidup yang menyimpang dengan cara menjadi penyendiri dan juga berharap agar masa ini segera berakhir”
Begitulah isi karya tulis yang aku buat dengan judul “Realita Kehidupan SMA”.
Suatu saat Guru Bahasa Indonesia yang bernama Bu Yuni memanggilku ke ruangannya dan dia terlihat marah dan emosi setelah membaca tugas karya tulis milikku.
Dia membaca sangat keras sehingga suaranya terdengar sampai keluar ruangan, dan setelah aku mendengarnya, ternyata cara menulisku sudah lumayan bagus.
Aku bingung apakah ada yang salah dengan karya tulisku?
Atau mungkin ada beberapa kata yang tidak dimengerti oleh Bu Yuni?
Mungkin saja ada alasan lain yang tidak aku sadari, dan setelah Bu Yuni selesai membaca, dia langsung menyimpan karya tulis milikku dimejanya dan berkata.
“Sekarang kamu sudah paham kan kenapa Ibu memanggil kamu kesini?”
“Menurutku karya tulisku sudah lumayan baik ketika dibaca oleh Ibu”
“Ya cara menulismu memang baik, tetapi isi dalam karya tulismu sangat buruk”
“Eh begituh ya?”
“Ya kenapa kamu membuat tulisan buruk seperti ini Devan?”
Tatapan Bu Yuni seperti mata elang yang akan memangsa seekor tikus ketika sedang melihatku.
Akupun semakin tertekan dengan tatapannya, dan aku merasakan aura pembunuhan disekitarku.
Lalu Bu Yuni berkata lagi dengan aura yang sangat menakutkan.
“Devan, tolong jelaskan alasan kamu kenapa menulis seperti ini?”
Wajah cantik Bu Yuni berubah menjadi wajah seorang wanita pembunuh, hal itu membuat seluruh tubuhku gemetar.
__ADS_1
“Aku hanya menulis sesuai dengan realita yang ada Bu”
“Dengar ya Devan, cuma kamu saja satu-satunya murid yang menulis pengalaman buruk seperti ini”
“Saya hanya menulis kehidupan sekolah sesuai dengan yang saya lihat Bu”
“Seharusnya kamu menulis kehidupan sekolah yang baik, bukan yang buruk seperti ini”
“Meskipun buruk, tetapi itu memang kenyataannya Bu”
Bu Yuni langsung memegang kepalanya seperti sedang merasa frustasi, tetapi dia terlihat sangat imut.
Dia adalah guru paling muda dan cantik di sekolahku, umurnya baru 25 tahun.
Tetapi sampai saat ini dia belum menikah, mungkin itulah alasan kenapa dia memegang kepalanya dan terlihat frustasi.
Aku sempat naksir kepada Bu Yuni ketika melihat wajah imutnya yang sedang frustasi, tetapi aku sadar umurku terlalu muda untuknya.
Bu Yuni kemudian tersenyum kepadaku dan senyuman tersebut bagaikan senyuman penyemangat dalam hidupku.
Kemudian dia berkata lembut kepadaku sehingga aura menyeramkan disekitarku langsung hilang.
“Devan tolong tulis ulang karya tulis kamu lagi ya dan jangan gunakan kata-kata buruk seperti ini lagi”
“Oh iya siap Bu”
Bu Yuni tersenyum kepadaku dan menandakan bahwa dia sudah tidak marah lagi kepadaku.
Aku baru sadar alasan Bu Yuni marah kepadaku karena aku menulis hal-hal buruk tentang kehidupan sekolah.
Okey saatnya aku menulis kebohongan dengan judul yang sama.
Aku langsung kembali ke kelas dan langsung menulis karya tulis lagi, dan inilah isinya.
“Realita Kehidupan SMA”
“Kehidupan ini adalah kehidupan yang paling indah karena timbulnya benih-benih cinta”
“Banyak yang mengalami jatuh cinta dan ada juga yang melakukan perselingkuhan”
“Perselingkuhan dan pengkhinatan cinta adalah hal wajar yang sering dilakukan anak-anak muda”
“Karena mereka sedang mencari jati diri dengan cara hal itu”
“Ada juga yang sedang mencari jati diri dengan cara melakukan tawuran dan pembullyan kepada temannya”
“Wah sungguh indah kehidupan SMA ini, sampai-sampai aku tak ingin lulus SMA”
“Aku ingin terus mengalami hal-hal indah ini”
“Terkadang aku melihat murid yang mencuri pulpen temannya dan menyontek saat ujian”
“Aku salut dengan keberanian mereka karena berani melakukan hal itu”
__ADS_1
“Kesimpulannya aku ingin punya banyak teman dan akan melakukan tawuran agar jati diriku tumbuh”
Begitulah isi karya tulis yang aku buat tentang realita kehidupan SMA, dan aku langsung menyerahkannya kepada Bu Yuni.
Setelah itu Bu Yuni langsung membaca karya tulisku, dan dia langsung tersenyum seperti menahan tawanya.
“Devan kamu sadar gak apa yang kamu tulis?”
“Iyah sadar Bu, saya menulis hal-hal yang baik dikehidupan sekolah”
“Kamu bisa membedakan gak hal yang baik dan hal yang buruk?”
“Menurutku sama saja Bu, hal yang buruk bisa menjadi baik jika kita melihatnya dari sisi tertentu”
“Oh jadi seperti itu ya menurut pendapatmu”
Bu Yuni sambil memegang dagunya seperti sedang memikirkan sesuatu, dan dia berkata.
“Apa kamu punya teman dekat Devan?”
“Tidak punya Bu”
“Kalau pacar punya?”
“Tidak punya Bu, sama seperti Ibu”
Bu Yuni langsung tertunduk malu setelah aku berkata seperti itu, dan dia langsung berkata.
“Kamu tau darimana kalau saya tidak punya pacar?”
“Karena Ibu belum menikah, seharusnya diumur segitu Ibu sudah menikah”
Bu Yuni langsung tertunduk malu lagi dan terlihat kerutan didahinya,dia pun berkata.
“Devan kamu sadar gak, kamu sudah berbicara tidak sopan kepada Ibu?”
“Maaf Bu, saya cuma berbicara sesuai realita saja”
“Jujur saya sulit menghadapi cara berfikir kamu, untuk itu kamu harus diberi hukuman”
Akupun takut ketika aku akan mendapat hukuman dari Bu Yuni, seketika tubuhku menjadi lemas karena takut mendapat siksaan yang mematikan.
Akupun sadar kenapa aku harus mendapat hukuman, karena aku menyadari banyak kebohongan yang aku tulis di karya tulisku.
“Ya sudah ikut Ibu sekarang”
“Eh baik Bu”
Akupun mengikuti langkah kaki Bu Yuni dari belakang, dia berjalan sangat anggun bagaikan seorang putri.
Aroma pafumnya tercium jelas ketika ada angin yang berhembus, sungguh sangat wangi.
Apakah ini adalah wangi bidadari surga?
__ADS_1
Seketika rasa takutku mendapat hukuman menjadi hilang, dan akupun merasa bahwa Bu Yuni akan menuntunku menuju surga.