Felix Sang Naga Hitam

Felix Sang Naga Hitam
Air Mataku Menghilang Bab 2


__ADS_3

Aku berjalan sendirian dari parkiran menuju ruang kelasku, biasanya aku selalu bareng dengan Liya, berhubung dia sedang marah kepadaku, jadinya aku berjalan sendirian, tak butuh waktu lama akhirnya aku sampai di kelasku.


Aku duduk di barisan paling belakang dan berada di pojokan, aku sengaja memilih duduk disitu agar aku bisa belajar dengan fokus, karena jika aku duduk paling depan, aku menjadi tegang karena harus berhadapan langsung dengan guruku.


Hari ini jam pelajaran telah dimulai, dan guruku membagikan hasil ujian tengah semester minggu kemarin, aku mendapatkan nilai 100 di semua mata pelajaran dan menjadi murid satu-satunya yang mendapatkan nilai sempurna diantara semua murid kelas 1.


Semua murid di kelasku heran kepadaku kenapa aku bisa mendapatkan nilai tersebut, karena selama di kelas selalu terlihat diam, jarang mengobrol dan selalu terlihat murung, apalagi ditambah aku duduk di pojokan kelas, kini aku menjadi pusat perhatian di kelasku, tetapi aku menghiraukan mereka dan bersikap seperti biasa saja.


Saat jam istirahat, Clara yang menjadi ketua kelas di kelasku menghampiriku.


“Hey Felix”


“Iyah ada apa Clara?”


“Kok kamu bisa mendapatkan nilai sempurna di semua mata pelajaran sih?”


“Ya aku cuma belajar saja di rumah”


“Oh gituh ya, aku gak nyangka sama kamu, ternyata kamu siswa yang pintar ya”


Clara memujiku sambil tersenyum kepadaku, dan membuat semua murid cowok di kelasku cemburu, karena Clara merupakan siswi yang sangat cantik dan selalu aktif berorganisasi, walaupun dia masih kelas 1, tetapi dia sudah menjadi anggota OSIS karena memang dia suka berorganisasi dan pandai berbicara di depan umum, oleh karena itu dia menjadi salah satu siswi populer di sekolah, dan kabarnya dia sulit didekati oleh cowok manapun dan sudah banyak cowok di sekolahku yang ditolak olehnya ketika mencoba menembaknya.


“Tetapi kamu masih jauh lebih hebat daripada aku Clara”


“Eh kenapa kamu ngomong gitu?”


“Ya soalnya kamu pandai bicara di depan umum dan sudah jadi anggota OSIS”


“Walaupun begitu, aku tak sepintar kamu Felix, nilai ujianku saja cuma beberapa pelajaran yang mendapatkan nilai tinggi”


“Orang seperti kamu pasti bisa menjadi orang hebat, sedangkan orang sepertiku hanya bisa dimanfaatkan saja”


Aku memiliki pikiran seperti itu karena teringat pembicaraan aku dengan Liya waktu pagi tadi, dia mau berteman denganku karena aku bisa dimanfaatkan untuk membantunya mengerjakan tugasnya.

__ADS_1


“Hey kamu kok bisa bicara seperti itu sih Felix?”


“Hehe aku hanya berbicara sesuai dengan pengalamanku saja”


“Ya sudah gini saja, aku mau minta diajari oleh kamu boleh?”


“Eh kamu yakin Clara?”


“Ya aku yakin, karena aku juga ingin menjadi pintar seperti kamu”


“Ya tak masalah sih, cuma aku khawatir saja kalau mengajarimu di sekolah, takutnya orang lain mengira kalau kita ada hubungan”


“Hmm iya sih, mungkin nanti akan ada gosip yang aneh-aneh”


Ya aku tau kalau orang seperti Clara itu sangat menjunjung tinggi kepoopulerannya, dan jika ada gosip bahwa Clara sedang dekat denganku, maka kemungkinan akan membuat dirinya menjadi malu mengingat karena dia adalah siswi pupuler dan menjadi primadona.


“Kalau mau diajari, lebih baik kita lakukan di tempat yang tidak bisa dilihat oleh banyak orang, seperti di rumahku atau di rumahmu”


Aku sengaja memberi saran seperti itu agar dia tidak jadi memintaku untuk mengajarinya, karena sejujurnya aku sangat malas untuk mengajari seseorang, apalagi harus mengajari orang yang tak begitu aku kenal seperti Clara.


“Eh ke rumah aku? Mau ngapain?”


“Ya kan kamu mau mengajari aku, soalnya nilai matematika kecil, dan aku harus ikut perbaikan”


Aku sangat terkejut dengan perkataan Clara, karena aku pikir dia akan menolak saranku, kemudian aku juga kepikiran sebuah ide agar dia tidak jadi mampir ke rumahku.


“Ya sebenarnya boleh saja sih, tapi hari ini di rumahku sedang tidak siapa-siapa, karena orang tuaku dua-duanya pergi bekerja”


Memang benar keadaan di rumahku selalu sepi karena aku adalah anak tunggal, kedua orang tuaku pergi bekerja dan pulang malem, sehingga aku yakin Clara akan tidak jadi mampir ke rumahku karena kondisi rumahku yang sedang sepi.


“Okey deh tak masalah Felix”


“Eh kamu serius Clara?”

__ADS_1


“Ya aku serius Felix, ini juga demi diriku sendiri”


“Maksudku kamu serius mau ke rumahku? Emang kamu gak takut kalau nantinya kita hanya berduaan saja di rumahku?”


“Haha gak usah cemas Felix, lagian aku percaya kok kamu orang baik, ya sudah nanti pulang sekolah kita langsung ke rumahmu ya”


Setelah berbicara seperti itu, Clara langsung pergi meninggalkanku dan kembali ke tempat duduknya, aku sangat kaget ketika Clara akan mampir ke rumahku, tetapi aku berfikir kalau Clara mungkin hanya bercada saja ketika akan mampir ke rumahku, karena mana mungkin cewek secantik Clara mau mampir ke rumah cowok yang tidak begitu di kenalnya, apalagi keadaan rumah si cowok tersebut sedang dalam keadaan sepi.


Jam pulang sekolah telah tiba dan aku bersiap-siap untuk pulang, ketika aku sedang berjalan menuju arah parkiran, ternyata ada Clara yang mengikutiku dari belakang, ya aku baru ingat kalau Clara akan mampir ke rumahku untuk belajar, tetapi aku juga sebenarnya tak yakin kalau Clara sungguh-sungguh akan ke rumahku, dan aku juga berfikir kalau Clara mengikutiku dari belakang cuma kebetulan saja.


Biasanya aku pulang sekolah bareng dengan Liya, tetapi berhubung dia sedang marah kepadaku dan katanya ingin pulang sendiri saja, akhirnya aku memutuskan untuk langsung pulang dan tidak menunggu Liya dulu.


Saat aku sudah berhenti di dekat motorku, Clara yang selalu mengikutiku dari belakang menghampiriku dan berkata.


“Yuk Felix langsung ke rumahmu”


“Eh kamu serius? Aku pikir kamu cuma bercanda”


“Ya aku serius lah Felix, soalnya nilai matematika buruk sekali”


Kemudian kami langsung menaiki motorku dan melaju ke arah rumahku, aku sempat tak percaya bisa memboncengi cewek secantik Clara, walaupun aku sudah terbiasa memboncengi Liya yang tak kalah cantiknya dengan Clara, tetapi aku rasa ini berbeda, karena Clara bukanlah orang yang dekat denganku, dan berbicara di kelas pun jarang kami lakukan.


“Eh Felix kamu kok bisa dekat sama si Liya?”


“Ya karena kami tetanggaan, eh tapi kenapa nanya itu Clara?”


“Oh tetanggaan, aku pikir kalian pacaran hehe”


“Kami sebenarnya sudah temanan dari kecil, eh kamu kok bisa kenal si Liya?”


“Ya pasti kenal lah, soalnya dia terkenal suka ganti-ganti pacar dan biasa jadi bahan gosip para cewek hehe”


“Oh gituh ya, pantes saja kamu kenal dia”

__ADS_1


“Eh tapi jangan bilangin si Liya ya kalau teman-temanku suka gosipin dia”


“Ya tenang saja Clara”


__ADS_2