
Fitri mengusap air matanya yang sedari tadi tidak mau berhenti menetes, Fitri tidak bisa mengerti kenapa meskipun seseorang sudah berkorban banyak hal, sudah melakukan segalanya agar orang yang di cintainya bisa hidup lebih bahagia. Tapi kenapa sering kali semua itu tidak di hargai, kenapa sering kali orang yang lebih mencintai selalu berakhir terluka. Kenapa sering kali seseorang yang dicintai dengan sepenuh hati, justru menghianati dan lebih memilih seseorang yang belum tentu bisa mencintainya sepenuh hati. Kenapa Kisah cinta seringkali berubah menjadi sebuah tragedi.
"Hiks hiks kenapa tega banget sih, hiks hiks padahal yang diinginkan hanyalah di cintai apakah sesulit itu hiks hiks hiks" Ujar Fitri Sambil menangis
Sedangkan Andre adik nya menatap nya prihatin
"Udah gila ya Mbak!" Ketus andre sambil memainkan ponselnya
"Dek kok kamu tega sih ngatai Mbak gila, Mbak ini lagi sedih tahu" Ucap Fitri berusaha untuk berhenti menangis
Andre memutar bola matanya malas "Cuma nonton drama aja Mbak, nggak perlu sampai nangis juga kali" Kata Andre malas, Mbak nya benar-benar berlebihan, hanya nonton drama saja sampai sesedih itu. Apalagi jika hal yang membuat nya sedih itu terjadi di dunia nyata, bisa-bisa dia menangis darah.
Fitri menutup laptop di hadapannya dan menatap serius ke arah adik nya yang sedang berbaring di ranjang sambil bermain ponsel "Dek kamu ini nggak ngerti, meskipun hanya sekedar drama tetap saja itu menyedihkan. drama itu kan kebanyakan juga menceritakan kisah yang terjadi di dunia nyata" Ujar Fitri menjelaskan
"Ya ya ya terserah Mbak aja lah" Jawab Andre tidak perduli
Mendengar jawaban Adik nya membuat Fitri kesal "Dek Kam-" Belum selesai Fitri mengucapkan kalimatnya terdengar suara ketukan pintu
"Dek buka pintu sana" perintah Fitri lalu ikut berbaring di samping adik nya
"Malas" Jawab Andre cepat
"Buka dulu sana, jam segini yang datang pasti teman Kamu" Ujar Fitri
"Malas Mbak! malas, buka saja sendiri" Jawab Andre
"Bentar saja dek, Mbk capek nih abis nangis" Ucap Fitri memelas
"Bodok suruh siapa cengeng" Balas Andre tidak perduli
Karena suara ketukan pintu tidak juga berhenti, akhirnya dengan malas Fitri bangun dari kasurnya.
"Dasar adek durkaha!" Hardik Fitri lalu bangun
__ADS_1
Saat Fitri membuka pintu 'Brukkk' Seseorang langsung memeluk nya sambil menangis, Meski kebingungan Fitri membalas memeluk dan mengelus rambut nya.
"Kenapa yu?" Tanya Fitri pada Dayu di pelukannya, Dayu hanya menangis tidak mau menjawab
Pandangan Fitri beralih ke dua lelaki di belakang Dayu "Kenapa?" Tanya Fitri pelan. Rayan hanya menunduk diam, sekilas Fitri melihat Mata Rayan memerah seperti menahan tangis dan wajahnya pun sepertinya terluka
Pandangan Fitri beralih kepada Kak Fian sahabat baik Rayan menuntut jawaban, Fian menggeleng "Kita bicarakan di dalam" Jawab Fian
Fitri mengangguk mengerti "Masuk dulu" Ujar Fitri, tidak nyaman memang jika sampai ada tetangga yang melihat Dayu menangis sambil di antar 2 lelaki seperti ini
"Jadi apa yang terjadi?" Tanya Fitri kemudian
Kedua lelaki di hadapannya terlihat ragu untuk menjawab, Fitri melepaskan pelukannya lalu menatap Dayu yang masih sesenggukan menangis
"Jawab kenapa?" Tanya Dayu tegas
Dayu menatap Fitri takut "Ma- Maaf Fit" Jawab Dayu terbata
"Maaf kenapa?" Tanya Fitri tidak mengerti
Dayu menunduk "Gu-gue Ha-hamil" Jawab Dayu pelan terbata
Bagai di sambar petir di siang bolong Fitri langsung berdiri "APA? LO GILA YA" Teriak Fitri marah, di tatapnya dua lelaki di hadapan nya meminta kepastian apakah ucapan Dayu benar. Tapi kedua lelaki itu hanya diam menunduk tidak berani menatap Fitri. Melihat reaksi mereka Fitri tahu apa jawaban nya. Air mata Fitri menetes dadanya tiba-tiba terasa sangat sesak.
Karena mendengar teriakkan Fitri andre yang sedang berbaring dengan nyaman di kamar Fitri pun bangkit dan mendatangi Fitri "Kenapa Mbak?" Tanya Andre sambil menatap penasaran ke arah Dayu yang sedang menangis
"Masuk ke kamar Kamu sendiri dan tidur!" Perintah Fitri tegas
Andre menatap Mbak nya takut. Baru kali ini Andre melihat Mbak nya semarah itu, ekspresi Fitri benar-benar menakutkan, dia terlihat sangat marah. Andre yang takut pun langsung masuk ke kamarnya.
"Jelaskan sekarang juga apa yang terjadi?" Fitri menatap mereka tajam
Dayu yang tahu Fitri sedang marah besar membuat tangisannya semakin besar. Fitri yang melihat itu menghela nafas lelah.
__ADS_1
"Yu lo ke kamar gue dulu istirahat" Perintah Fitri berusaha melembutkan suaranya
Dayu mengangguk dan pergi ke kamar Fitri. Sekarang pandangan Fitri Fokus sepenuhnya kepada Rayan dan Fian
"Bangun Lo!" Perintah Fitri tajam, Rayan yang tahu jika yang di maksud Fitri adalah dirinya langsung berdiri patuh
'Plaakkk' Fitri menampar keras Rayan "Bajingan lo yan!" Marah Fitri sambil memukuli Rayan sedangkan Rayan hanya diam tidak melawan.
Fian dengan cepat memeluk Fitri untuk menghentikan nya "Fit tenang dulu" Ujar Fian
Fitri berusaha memberontak "Lepas kak! hiks biar gue bunuh Bajingan itu!" Marah Fitri sambil menangis
"Maaf Fit" Ucap Rayan menyesal sesekali air matanya pun menetes
"Maaf Lo bilang, lo udah hancurin hidup Dayu BRENGSEK!" Marah Fitri, Fitri luruh ke lantai kaki nya serasa sudah tidak bisa berpijak dengan benar
"Hiks Hiks Kenapa Dayu juga harus mengalamai ini, Kenapa Hiks" Fitri menangis histeris hati Fitri terasa hancur, dia sudah kehilangan Raya tapi sekarang Dayu mengalami hal yang sama. Apa yang harus Fitri lakukan sekarang.
Fian hanya diam sambil mengelus bahu Fitri berusaha menenangkan. Fian tahu Kehilangan Raya memberikan pengaruh besar kepada Fitri, Apalagi saat itu Raya meninggal di dalam pelukan Fitri. Fitri menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Raya sangat menderita sampai akhirnya meninggal. Saat orang lain menemukan Mereka saat itu Raya sudah meninggal dengan berlumuran darah dalam pelukan Fitri. kejadian itu meninggalkan trauma yang besar untuk Fitri.
Sekitar setengah jam kemudian Fitri baru bisa sedikit lebih tenang. Fian membantu Fitri bangun untuk duduk di sofa
"Sekarang jelaskan apa yang terjadi?" Tuntut Fitri tajam
"Fit gue khilaf, gue salah. lo benar gue ini bajingan, gue Brengsek" Ujar Rayan mengakui kesalahannya
"Apa gunanya lo ngomong itu sekarang?" Ujar Fitri tajam
"Gue nggak tau Fit harus gimana" Ujar Rayan yang juga sedang kebingungan
Fian menghela nafas lelah, saat ini Rayan sendiri tidak bisa berbicara dengan benar
"Fit" Panggil Fian pelan
__ADS_1
Pandangan Fitri beralih kepada Fian sepenuh nya "Biar gue yang jelasin" Ujar Fian akhirnya
Fitri mengangguk tanpa suara, Fitri memandang Fian dengan mata yang berkaca-kaca menahan tangis. Melihat itu membuat Fian kesulitan dari mana dia harus mulai menceritakannya.