Fitria Si Gadis Berlesung Pipi

Fitria Si Gadis Berlesung Pipi
Part 71


__ADS_3

Fitri terus menerus melirik jam tangannya, Sudah jam 2 siang namun Andi masih juga belum datang. Fitri merasa gelisah karena selama ini Andi selalu tepat waktu. Mereka sudah janjian untuk pergi bermain bersama hari ini, padahal pagi ini Andi sempat pengiriminya pesan, jika dia akan menjemput Fitri jam 1 siang, tapi sampai sekarang masih belum datang juga.


"Kok belum berangkat mbak?" Tanya Andre yang heran melihat Mbak nya masih duduk di ruang tamu.


Fitri melihat Adiknya yang datang sambil menenteng sepatu bola "Masih nungguin jemputan" Jawab Fitri.


"Katanya jam 1 berangkat nya, ini sudah jam 2, Mas Andi pasti lupa itu" Ujar Andre mengejek.


Fitri menatap Adiknya tajam "Mana mungkin lupa, tadi pagi masih ngabarin bakal jemput" Sangkal Fitri tidak terima.


Andre mengedikkan bahunya tidak perduli "Terserah deh" Ujar Andre lalu hendak pergi.


"Mau kemana Kamu?" Tanya Fitri


Andre menghela nafas malas "Mbak nggak lihat Andre lagi pegang sepatu bola, ya jelas mau main bola lah" Ujar nya kesal.


Fitri juga tahu, hanya saja karena Andi belum juga datang fikirannya jadi kacau "Yasudah pulang nya jangan sore-sore" Ujar Fitri


"Hmmm" Jawab Andre malas lalu berlalu pergi.


Dering ponsel Fitri berbunyi, Fitri melihat ponselnya lalu segera mengangkatnya.


'Fit kok lo belum sampai juga sih? semuanya sudah pada datang ini, tinggal nungguin lo sama Kak Andi saja' Ujar Ely di seberang telepon


"Kak Andi belum datang jemput gue" Jawab Fitri lesu.


'Lo sudah telepon Kak Andi belum, mungkin saja dia lupa' Ujar Ely.


"Sudah gue telepon, tapi nggak di angkat, Kak Andi nggak mungkin lupa. Pagi ini dia masih hubungi gue bakal jemput jam 1" Jawab Fitri tidak semangat.


'Tapi ini sudah jam 2 lebih, gimana? kalian jadi datang nggak?' Tanya Ely memastikan.


Fitri menghela nafas pelan "Kita pasti datang kok, tapi mungkin telat. Gimana kalau kalian pergi makan dulu nanti gue sama Kak Andi menyusul" Ujar Fitri memberi saran.

__ADS_1


Terdengar helaan nafas Ely 'Yasudah Kita tunggu kalian di Sunsine cafe ya' Ujar Ely setuju.


"Iya" Jawab Fitri pelan, lalu mematikan panggilan nya.


Fitri kembali gelisah, Andi tidak pernah seperti ini sebelumnya. Fitri khawatir takut terjadi sesuatu kepada Andi. Karena semakin khawatir Fitri kembali menelpon Andi, 1 kali 2 kali namun panggilan nya tetap tidak ada yang menjawab. Fitri tetap tidak ingin menyerah dan kembali menelepon nya, pada panggilan telepon yang ke 3 ini untung nya panggilan nya di angkat.


'Halo' Jawab suara di seberang telepon.


Mendengar suara Andi membuat Fitri merasa lega "Halo Kak, Kakak di mana?" Tanya Fitri khawatir.


'Aku di rumah sayang' Jawab Andi di seberang telepon.


"Kakak belum berangkat?" Tanya Fitri


'Apa Andi benar-benar lupa ada janji dengannya' Batin Fitri heran


'Maaf Sayang hari ini Aku ngerasa nggak enak badan, terus ketiduran makanya lupa nggak ngabarin Kamu' Ujar Andi di seberang telepon. Suara Andi memang terdengar sedikit serak.


"Bukannya pagi ini Kakak masih telepon, sepertinya masih baik-baik saja, kenapa tiba-tiba jadi nggak enak badan?" Tanya Fitri yang Khawatir.


"Yasudah nggak apa-apa hari ini Kakak istirahat saja di rumah" Ujar Fitri.


'Maaf ya sayang, Aku benar-benar bukan sengaja nggak datang' Ujar Andi menyesal.


Fitri menghela nafas panjang "Iya nggak apa-apa Kak, Aku cuma khawatir Kakak kenapa-kenapa karena nggak ada kabar sama sekali" Jawab Fitri yang memang takut terjadi sesuatu kepada Andi.


'Aku nggak apa-apa sayang, istirahat di rumah saja, besok pasti sudah sembuh' Ujar Andi


"Kalau begitu Aku ke rumah Kakak ya, biar Aku temani" Ujar Fitri.


Karena Fitri tahu Andi pasti sendirian di rumah. Karena orang tuanya sedang pergi ke rumah kerabat nya, beberapa hari lagi baru pulang. Sedangkan Putri di hari minggu seperti ini pasti sedang pergi les matematika, biasanya sore baru pulang.


'Eh nggak usah sayang Aku sedikit Flu, kalau Kamu kesini takut nya nanti Kamu ketularan juga' Ujar Andi yang terdengar khawatir.

__ADS_1


"Nggak apa-apa Kak, Anti bodiku kuat kok. Aku juga jarang kena Flu, pasti ngga ada masalah kalau cuma temani Kakak saja" Ujar Fitri tetap ingin datang.


'Nggak perlu sayang, Aku nggak apa-apa. istirahat saja seharian besok pasti sudah sembuh, Kamu nggak perlu kesini. Lebih baik Kamu pergi bermain saja dengan teman-teman Kamu, mereka pasti sudah menunggu. Herman dan Irwan juga sudah di sana. Tidak enak kan kalau kita berdua tidak ada yang datang sama sekali' Ujar Andi panjang lebar melarang nya datang.


"Tapi Kakak kan sendirian di rumah" Ujar Fitri sedih.


'Nggak apa-apa Sayang, lagi pula Aku kan laki-laki cuma sakit ringan seperti ini saja bukan masalah' Ujar Andi di seberang telepon.


"Tapi..."


'Aku benar-benar nggak apa-apa sayang, Kamu pergi bermain saja dengan teman-teman Kamu ya' Bujuk Andi lagi.


Fitri menghela nafas panjang "Baiklah, Kakak jangan telat makan, dan ingat untuk minum obat" Ujar Fitri yang akhirnya menyerah.


'Pasti Sayang' Jawab Andi lembut.


"Yasudah Kakak istirahat saja, Aku akan berangkat sekarang" Ujar Fitri. Lalu mengambil tas selempang nya di Sofa.


'Iya Sayang, hati-hati di jalan ya I love you' Ujar Andi di seberang telepon.


Fitri tersenyum manis "Iya Kak I love you too" Jawab Fitri sambil tersenyum. Setelah itu mereka mengakhiri panggilan telepon nya.


Fitri bergegas ke belakang untuk mengambil motornya, namun langkah Fitri terhenti.


"Nggak bisa! gue tetap harus temani Kak Andi, kan kasihan kalau lagi sakit sendirian di rumah" Gumam Fitri pelan


Fitri mengambil Ponselnya lalu mengirimkan pesan kepada Ely 'Maaf gue nggak bisa datang, Kak Andi lagi sakit dan sendirian di rumah. Jadi gue harus pergi temani dia' Pesan Fitri lalu setelah mengirim nya Fitri bergegas mengambil motornya untuk pergi ke rumah Andi.


Setelah 30 menit Akhirnya Fitri Sampai di rumah Andi, setelah menaruh motornya Fitri segera menuju pintu rumah Andi.


Fitri mengetuk pintu rumah Andi namun tidak ada jawaban. Fitri mengambil ponselnya dan menelepon Andi, namun lagi-lagi tidak ada jawaban.


"Kenapa nggak di angkat sih!" Ujar Fitri makin khawatir. Tanpa sengaja Fitri melihat ada sepatu warna merah muda di depan pintu.

__ADS_1


Fitri menatapnya heran "Sejak kapan Putri menyukai warna merah muda" Gumam Fitri pelan, namun tidak terlalu perduli mungkin saja selera Putri sudah berubah.Fitri kembali Fokus ke ponselnya, berusaha menghubungi Andi.


Andai Fitri lebih memperhatikan lagi sepatu merah muda di depan pintu itu, dia akan menyadari jika ukuran sepatu itu jauh lebih besar dari ukuran sepatu yang biasa Putri gunakan.


__ADS_2