
Ahmad memandang Fitri yang tertidur sambil bersandar di pundaknya, Ahmad mengusap lembut jejak air mata yang berada di pipi Fitri. Fitri pasti kelelahan, dia terus menerus berdiri sambil menatap cemas pintu UGD. Baru setelah dokter mengatakan Dayu sudah melewati masa kritis dan meskipun lemah janinnya juga berhasil di selamatkan. Baru lah Fitri merasa lega, setetes air mata keluar dari mata Fitri yang terpejam. Sepertinya kejadian ini memberikan dampak yang besar bagi Fitri sehingga meskipun tertidur dia masih merasa sedih. Saat ini hanya tinggal Ahmad dan Fitri saja yang tinggal di rumah sakit, orang-orang yang datang bersamanya tadi sudah pulang semua. Mereka juga mengatakan akan mengabari orang tua Dayu. Ahmad melirik tangan dan pakaian Fitri yang terkena darah Dayu, Fitri pasti tidak akan nyaman memakai pakaian yang kotor.
Ahmad menidurkan Fitri di kursi panjang yang mereka duduki, Ahmad menjadikan jaket nya sebagai bantal untuk Fitri tidur, lalu melepaskan kemeja yang di pakainya untuk menyelimuti Fitri. Untungnya dia masih memakai kaos di dalam kemejanya.
"Gue pergi beli barang sebentar ya Ri, lo tidur saja yang nyenyak" Bisik Ahmad pelan di telinga Fitri, Ahmad mengecup sayang kening Fitri lalu beranjak dari sana.
Setelah membeli apa yang di butuhkan Ahmad kembali menghampiri Fitri, namun saat dia datang ada seorang lelaki yang sedang mengelap tangan Fitri dengan tissue basah. Ahmad yang tidak mengenal siapa lelaki, itu langsung menghampiri mereka dengan panik. Lalu dengan segera menarik lelaki tersebut menjauh dari Fitri
"Siapa lo?" Tanya Ahmad sambil menatap lelaki itu tajam.
Melihat Ahmad yang seperti nya marah membuat lelaki itu mengira Ahmad adalah pacar Fitri "Tenang bro gue nggak bermaksud jahat, gue cuma mau mengelap darah di tangan Fitri. Fitri bisa terkena serangan panik bila melihat tangannya berlumur darah seperti itu" Ujar lelaki tersebut berusaha menjelaskan
"Lo kenal Fitri?" Tanya Ahmad memastikan dan menatap lelaki tersebut curiga
Seseorang menepuk pundak Ahmad dari belakang "Ahmad kan?" Tanya Rayan
Ahmad mengangguk "Rayan?" Tanya Ahmad memastikan, Rayan mengangguk.
"Jangan salah faham Mad, dia benar-benar nggak ada maksud buruk, Dia Fian sahabat gue. Dia sudah menganggap Fitri seperti adiknya sendiri. Dan yang dia katakan tadi benar, Fitri bisa terkena serangan panik, jika melihat tangannya berlumuran darah seperti tadi" Ujar Rayan menjelaskan.
Pandangan Ahmad tertuju pada Fian "Maaf bro gue sudah nggak sopan" Ujar Ahmad kepada Fian
"Nggak apa-apa bro, gue paham" Jawab Fian sambil tersenyum
Pandangan Ahmad beralih kepada Rayan "Apa maksud ucapan lo tadi, Riri bisa terkena serangan panik?" Tanya Ahmad menuntut penjelasan.
__ADS_1
"Ah itu karena Fitri, dulu dia per-" Ucapan Rayan terhenti karena Fitri yang bangun dari tidurnya.
Mendengar suara orang yang sedang berbincang, membuat tidur Fitri terganggu. Perlahan mata Fitri terbuka, di lihatnya Ada tiga orang lelaki di hadapannya. Posisi Fian yang paling dekat dengan Fitri membuat Fitri langsung mengenali nya
"Kak Fian" Panggil Fitri lirih
Fian langsung menengok "Lo udah bangun Fit?" Ujar Fian menghampiri Fitri
Ahmad yang melihat Fitri bangun pun dengan segera menghampiri Fitri " Sudah bangun Ri?" Tanya Ahmad lembut
Fitri mengangguk pelan Fitri memandang kesekitar ternyata selain Rayan dan Fian, Orang tua Rayan dan Dayu pun sudah datang.
"Kalian kapan datang?" Tanya Fitri mengucek matanya yang masih sedikit mengantuk
"Kita baru saja sampai, kalo lo masih ngantuk mending tidur lagi saja" Ujar Rayan yang tidak tega melihat penampilan Fitri yang berantakan
Rayan menghela nafas panjang, lalu menatap Ahmad melirik seakan memberikan kode
Ahmad yang mengerti langsung mengangguk "Ri gimana kalau lo ganti baju dulu?" Tanya Ahmad sambil menyodorkan kantong plastik yang berisi tissue basah dan pakaian baru untuk Fitri
Fitri yang menyadari, jika pakaian nya kotor oleh darah Dayu sempat terperanjat kaget, namun dengan cepat dapat mengendalikan diri.
Fitri menerima kantong plastik tersebut "Terimakasih" Ujarnya pada Ahmad, lalu pergi untuk membersihkan diri
Setelah Fitri pergi Ahmad langsung menghampiri Rayan "Yan bisa tolong jelasin apa maksud lo tadi?" Tanya Ahmad menuntut penjelasan
__ADS_1
Rayan menggelengkan kepalanya pelan "Gue minta maaf, gue nggak punya hak untuk mengatakan itu ke lo. Hanya Fitri yang punya hak menceritakan apa yang terjadi" Jawab Rayan menyesal
Ahmad kecewa namun dia paham, ini pasti hal yang sangat sensitif. Memang tidak pantas jika dirinya mendengar nya dari orang lain
"Baiklah" Jawab Ahmad mengerti
"Terimakasih ya Mad, gue dengar lo yang nolongin Dayu, gue benar-benar berterima kasih. Gue nggak bisa bayangin apa yang terjadi sama Dayu dan anak gue kalau lo nggak ada" Ujar Rayan dengan mata yang berkaca-kaca menahan tangis.
Ahmad menggeleng pelan "Nggak perlu berterima kasih Yan, gue cuma kebetulan saja ada di dekat rumah Riri" Ujar Ahmad pelan
"Nggak, gue tetap harus berterimakasih. Kalau nggak ada lo mungkin Dayu nggak bisa tertolong. Tadi dokter mengatakan jika telat sedikit saja mungkin Dayu dan bayinya akan sulit di selamatkan" Ujar Rayan Air mata yang sedari tadi di tahannya akhirnya jatuh juga.
Ahmad diam tidak menjawab, dia hanya menepuk bahu Rayan pelan, mencoba memberi nya kekuatan
"Lo tenang saja Dokter bilang Dayu dan bayinya sudah melewati masa kritis. Sekarang Dayu hanya perlu di rawat secara intensif di ICU, kemungkinan besok sudah bisa di pindah kan ke ruang rawat biasa" Ujar Ahmad kepada Rayan
Rayan mengangguk mengerti, tidak lama kemudian Fitri datang setelah mengganti pakaiannya.
"Terimakasih kasih Fit" Ujar Rayan pada Fitri
Fitri mengangguk "Emm" Gumam Fitri pelan, Fitri tidak sanggup berkata-kata. Fitri merasa jika dia membuka mulutnya sekarang dia pasti akan menangis.
Ibu Dayu menghampiri Fitri dan langsung memeluk nya "Terimakasih kasih ya nak, kamu selalu ada setiap Dayu membutuhkan. Terimakasih Kamu sudah mau menerima dan menjaga Dayu selama ini" Ujar Ibu Dayu sambil menangis, lalu mengelus sayang rambut Fitri
Fitri yang sedari tadi sudah menahan tangis, mendapatkan pelukan dan ucapan Ibu Dayu membuat tangisannya pecah "Hiks Hiks Fitri takut tante hiks, Fitri benar-benar takut hiks, bagaimana jika Fitri tidak bisa membawa Dayu kerumah sakit hiks, bagaimana jika Dayu juga meninggalkan Fitri tante, Fitri benar-benar nggak sanggup jika harus kehilangan Dayu" Ujar Fitri sambil menangis putus asa, siapapun yang mendengarnya pasti akan ikut merasa sedih.
__ADS_1
"Nggak apa-apa sayang hiks, Kamu hebat, Kamu sudah berusaha semampu Kamu hiks, justru Kami yang bersalah. hiks hiks Seharusnya yang menjaga Dayu adalah Kami orang tua nya hiks , semua ini terjadi karena kelalaian Kami sebagai orang tua hiks hiks" Ujar Ibu Dayu sambil menangis. Ibu nya Rayan yang berada di sana pun, hanya bisa menyaksikan dan menangis di pelukan suaminya.