
Fitri mengusap air matanya yang terus mengalir, di hadapannya duduk kedua sahabatnya Ely dan Mayang yang menemani nya dalam diam. Padahal Fitri sudah bertekad untuk tidak mengeluarkan Air matanya yang berharga, demi seorang penghianat seperti Andi, tapi entah mengapa begitu melihat Ely dan Mayang Air matanya kembali mengalir tanpa bisa di bendung.
Ely mengelus bahu Fitri lembut "Lo bisa menangis sepuasnya, setelah menangis perasaan lo pasti akan jadi lebih baik" Ujar Ely, yang tau jika Fitri berusaha untuk menghentikan tangisannya.
Mendengar perkataan Ely otomatis tangis Fitri menjadi lebih besar, Ely terus mengelus bahu Fitri berharap setidaknya Fitri bisa jadi lebih nyaman.
Sedangkan Mayang hanya diam sambil menggenggam tangan Fitri, Mayang tidak tahu apa yang bisa di lakukan nya untuk bisa membantu Fitri, yang bisa Mayang lakukan sekarang hanyalah menemani di sisi Fitri.
Setelah tangisan Firti sedikit reda, Mayang tidak bisa menahan rasa penasarannya lagi "Fit sebenarnya apa yang terjadi hari ini?" Tanya Mayang penasaran.
Ditanya seperti itu, ingatan menyakitkan yang di alaminya hari ini kembali melukai perasaannya, lagi-lagi Air mata Fitri kembali mengalir deras. Ely langsung menyikut Mayang, sudah susah payah Fitri berusaha tenang, tapi Mayang justru membuatnya kembali menangis.
"Sudah nggak apa-apa, kalau lo belum siap untuk cerita nggak usah di ceritain" Ujar Ely berusaha menenangkan.
"Maaf Fit, gue nggak maksud untuk buat lo sedih" Ucap Mayang merasa bersalah.
Fitri menggeleng kan kepalanya "Nggak apa-apa hiks, gue memang mau cerita ke kalian hiks" Ujar Fitri sambil menangis.
Ely mengelus bahu Fitri lembut "Nggak apa-apa kalau lo belum siap, nggak perlu di ceritain" Ujar Ely yang tidak tega melihat sahabatnya yang biasanya terlihat kuat, menjadi begitu rapuh.
__ADS_1
Fitri menggeleng pelan "Hari ini karena Kak Andi tiba-tiba batalin janji Kita hiks, dan bilang nggak enak badan jadi gue bilang gue mau kerumahnya untuk jagain dia hiks" Ucap Fitri mulai bercerita dengan nada yang sengau karena sambil menangis.
"Gue tau dirumah dia sendirian, karena orang tuanya lagi nggak di rumah, adiknya pun ada jadwal les hiks, tapi Kak Andi ngelarang gue untuk datang hiks" Cerita Fitri terbata-bata
Mayang dan Ely diam serius mendengarkan cerita Fitri.
"Tapi hiks karena gue khawatir, gue pergi kerumahnya tanpa bilang-bilang hiks, sampai disana rumahnya sepi, gue sudah ketuk pintu dan Panggil Kak Andi tapi nggak ada yang buka pintu hiks, terus nggak lama Putri pulang les lebih awal hiks hiks. Jadi putri yang buka pintu dan gue yang terlalu khawatir Kak Andi Kenapa-napa hiks langsung masuk dan lari ke arah kamar Kak Andi hiks ta-tapi hiks" Kata-kata Fitri terpotong karena mengingat lagi apa yang di lihatnya di kamar Andi, membuat suaranya terasa tercekat.
Melihat Fitri yang terlihat kesulitan Ely langsung memeluk Fitri "Sudah nggak apa-apa, Jika sulit nggak perlu di lanjutkan" Ujar Ely mengelus punggung Fitri lembut.
Sedangkan Mayang hanya diam dan Air matanya ikut menetes, meskipun dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi melihat Fitri yang terlihat begitu menderita hal tersebut pastilah sangat melukai Fitri.
"Hiks Gue tetap pengen cerita" Ucap Fitri ingin menyampaikan apa yang di lihat dan di rasakan nya hari ini.
"Saat gue sampai di depan pintu kamar Andi, Tangan gue yang hampir membuka pintu kamar Andi langsung terhenti, tubuh gue terasa kaku, jantung gue terasa seperti di tikam benda tajam rasanya sakit banget hiks" Ujar Fitri dengan pandangan yang sangat terluka.
"Lo tahu Ly, bagi gue Kak Andi itu seperti secercah cahaya di hidup gue, dia baik hati, perhatian dan gue bisa ngerasain dia sayang sama gue, Kak Andi juga nggak pernah memaksakan hal yang tidak gue inginkan. Saat bersamanya gue ngerasa di cintai, gue ngerasa diri gue berharga, saat bersamanya gue sangat bahagia. Buat gue Kak Andi sudah menjadi separuh dunia gue, gue berharap banyak kepada nya, gue bahkan sampai berfikir kelak gue hanya akan mau menikah sama dia tapi- hiks hiks hiks begitu gue mendengar suara ******* dia dengan gadis lain hiks hiks dunia gue seolah hancur! gue bahkan cuma bisa diam terpaku, karena seluruh tubuh gue seolah terkejut dan sulit untuk mempercayai kalalu gue di khianati Hiks hiks hiks" Tangis Fitri pecah, Ely langsung memeluk Fitri erat, sedangkan Mayang ikut menangis, dia ikut merasa sedih melihat Fitri yang terlihat begitu menderita.
"Tapi apa lo tau siapa gadis yang berada di kamar Kak Andi hiks gue benar-benar terpukul saat tau jika gadis yang sedang Andi peluk adalah Fia, gadis yang sudah gue anggap seperti adik gue sendiri hiks hiks hiks" Fitri menangis tergugu jantungnya seolah sedang di remas, ini terlalu menyakitkan baginya.
__ADS_1
Ely mengepalkan tangannya ikut merasakan sakit hati mendengar cerita Fitri, Air mata yang sedari tadi di tahannya pun akhirnya menetes juga.
Ely sangat mengerti definisi hubungan dan cinta bagi Fitri adalah sesuatu yang murni, apalagi Fitri pernah mengalami kehilangan sahabatnya dengan tragis, membuat nya memiliki prinsip nya sendiri dalam menjalin hubungan. Meskipun menurut Ely hal tersebut membuat Fitri terlihat begitu Naif, namun Ely cukup kagum akan pandangan hidup dan prinsip yang dimiliki Fitri. Wajar saat dirinya di khianati oleh orang yang sangat di percayai dan di cintai olehnya, dirinya merasa hancur, dan sesakit ini. Bagi Fitri penghianatan Andi dan Fia merupakan pukulan yang cukup berat untuknya.
"Dasar lelaki Bajingan! dasar brengsek! dasar gadis nggak tau diri! hiks, padahal selama ini lo sudah perlakukan Fia dengan begitu baik hiks. Tapi bisa-bisanya dia setega ini sama lo hiks hiks, mereka benar-benar nggak punya hati" Umpat Mayang sambil menangis, Mayang ikut kesal dan benci akan penghianatan Andi dan Fia.
'Tok tok tok' terdengar suara ketukan pintu di kamar Fitri
"Mbak, makan dulu Mas Ahmad sudah selesai masaknya" Ujar Andre meminta Fitri untuk makan.
Fitri mengusap Air matanya dan menatap Ely bingung "Ahmad masak?" Tanya Fitri pelan menatap Ely.
Ely mengangguk lalu mengusap air mata Fitri "Iya Ahmad takut lo lapar karena belum makan malam, jadi dia masakin apa yang ada di dapur buat lo" Ujar Ely menjelaskan.
Fitri menunduk "Gue nggak lapar" Ujar Fitri pelan.
Ely menggeleng "Sepatah hati apapun lo, lo tetap harus makan, apalagi Ahmad sudah susah payah masakin buat lo" Ujar Ely
Fitri menatap Ely "Tapi-"
__ADS_1
"Nggak ada tapi-tapian, lo harus makan sekarang, lo harus punya kekuatan untuk melawan kedua penghianat nggak tahu diri itu" Ujar Mayang berapi-api.
Fitri menatap kedua sahabatnya terharu, mata Fitri berkaca-kaca "Terimakasih" Ucap Fitri pelan kepada kedua sahabat baiknya.