Fitria Si Gadis Berlesung Pipi

Fitria Si Gadis Berlesung Pipi
Part 60


__ADS_3

"Fit gimana kalau lo pulang dulu, nanti kalau Dayu sudah bangun, gue kabarin" Saran Rayan karena sejak kemarin malam Fitri belum pulang, hanya Aa Juna saja datang mengantar pakaian ganti untuk Fitri


"Nggak apa-apa gue mau tunggu disini saja, kalau Dayu sudah sadar baru gue pulang" Ujar Fitri keras kepala


Rayan mengehela nafas pelan "Yaudah gue beli makanan dulu untuk kita makan malam" Ujar Rayan lalu pergi


Tidak lama kemudian Ahmad datang menghampiri Fitri, yang sedang duduk di kursi luar ruangan kamar inap Dayu "Ri sudah makan malam belum?" Tanya Ahmad sambil memperhatikan wajah Fitri, terlihat kondisi Fitri hari ini terlihat lebih baik


Fitri menggeleng "Rayan lagi beli makanan" Jawab Fitri pelan


Ahmad duduk di samping Fitri "Gimana kalau gue temenin cari makan keluar?" Tanya Ahmad


Fitri menggeleng "Nggap perlu, gue tunggu Rayan saja" Ujar Fitri menolak


"Lo kenapa balik kesini lagi?" Tanya Fitri , sore tadi Ahmad memang sempat pulang, tapi setelah mandi dan ganti pakaian dia langsung kembali ke rumah sakit


"Gue mau temenin lo di rumah sakit" Jawab Ahmad santai


Fitri menatap Ahmad bingung "Gue berterimakasih banget, Karena lo udah nolongin Dayu kemarin. Tapi sepertinya lo nggak perlu ikut nemenin di rumah sakit, lo juga pasti harus kerja kan?" Ujar Fitri yang merasa tidak enak jika terus menerus merepotkan Ahmad


Ahmad menggeleng "Gue lagi nggak ada kerjaan kok, lagian Dayu juga kan teman gue. nggak apa-apa dong kalau gue disini buat jenguk dia yang lagi sakit" Ujar Ahmad yang tidak ingin pergi


"Tapi-" Ucapan Fitri terpotong karena Ahmad menyahutnya duluan

__ADS_1


"Gue udah ijin kok sama Rayan, dia justru bilang terima kasih karena gue mau temenin disini, jadi dia juga ada teman mengobrol" Ujar Ahmad beralasan


Ahmad tidak sepenuhnya berbohong dia memang sudah ijin kepada Rayan, namun dia mengatakan alasan nya karena ingin menemani Fitri disini, sedangkan Rayan tidak merasa keberatan sama sekali.


Saat Fitri dan Ahmad sedang berbincang tiba-tiba ada suara menginterupsi


"Fitri" Panggil seseorang


Fitri menoleh ke arah asal suara "Kak Andi!" Teriak Fitri lalu dengan segera menghampiri dan memeluk Andi erat, Andi membalas pelukan Fitri


Fitri melepaskan pelukannya "Kok kakak bisa datang kesini?" Tanya Fitri menatap Andi penasaran


Andi mengelus lembut rambut Fitri "Kamu dari semalam nggak bisa di hubungi, hari ini juga kamu nggak datang ke sekolah. Mayang dan Ely juga waktu aku tanya mereka bilang nggak tau, karena khawatir jadi aku kerumah Kamu, tapi kata Andre kamu di rumah sakit" Jelas Andi panjang lebar


Fitri mengangguk mengerti, Fitri menatap Andi lalu matanya mulai berkaca-kaca ingin menangis "Dayu" Ujar Fitri lirih


Mendapatkan pelukan dari Andi membuat air mata yang sejak tadi di tahannya jadi tumpah "hiks hiks aku takut banget kak hiks hiks" Ujar Fitri sambil menangis dalam pelukan Andi


Andi mengelus sayang rambut Fitri "Sudah tidak apa-apa Dayu akan baik-baik saja" Ujar Andi menghibur Fitri.


Setalah agak tenang Fitri melepaskan pelukannya, Fitri teringat jika di sana masih ada Ahmad. Saat Fitri menoleh ke kursi yang tadi mereka duduki, Ahmad sudah tidak ada. Perasaan Fitri menjadi sedikit tidak nyaman, sepertinya tanpa sengaja Fitri sudah melukai Ahmad.


"Kenapa sayang?" Tanya Andi yang melihat Fitri seperti kebingungan mencari seseorang

__ADS_1


Fitri menggeleng lalu tersenyum "Nggak apa-apa Kak" Jawab Fitri singkat


Andi mengangguk mengerti, namun Andi sedikit penasaran siapa lelaki yang tadi duduk bersama dengan kekasihnya, cara pandangan lelaki itu kepada mereka tadi, membuat Andi merasa sedikit tidak nyaman. Namun Andi enggan menanyakan hal itu pada Fitri.


Andi menggandeng Fitri lalu membawa nya duduk di kursi. Mereka terdiam cukup lama "Saat pertama kali menemukan Dayu tergeletak di lantai Aku sangat ketakutan, Tapi saat tanpa sengaja Aku menyentuh darah Dayu menggunakan tanganku aku merasa duniaku seolah berhenti. Fikiran ku jadi kosong dan ingatan-ingatan yang ingin aku lupakan, seolah menghantam kepalaku secara tiba-tiba" Ujar Fitri pelan tanpa sadar air matanya sudah membasahi pipinya


Andi menggenggam tangan Fitri mencoba memberi nya kekuatan, Andi memilih untuk diam karena Andi rasa Fitri belum menyelesaikan perkataannya


"Setelah kesadaran ku kembali, pertama kali yang aku fikirkan adalah, kali ini aku harus menyelamatkan Dayu, kali ini aku tidak boleh kehilangan Dayu. Saat melihat darah Dayu yang terus mengalir, Aku yang tidak bisa melakukan apapun saat itu sangat putus asa. Jika Dayu juga pergi, mungkin aku tidak akan bisa melanjutkan hidupku lagi hiks hiks" Ujar Fitri lalu menangis tersedu


Andi mengelus tangan Fitri yang berada dalam genggaman tangannya "Dayu akan baik-baik saja" Hibur Andi lembut


"Kak, Kakak pasti sadar kan selama ini aku selalu menolak setiap kali kita mulai bertindak melewati batas" Ujar Fitri menatap Andi pilu


Andi diam namun mengangguk "Semua itu ada alasan nya. itu bukan karena aku yang mau bersikap sok suci, namun Aku benar-benar tidak bisa melakukannya" Ujar Fitri menunduk. Andi diam ingin mendengarkan lebih lanjut


"Setiap kali kita hampir melewati batas, wajah Raya selalu muncul dalam benakku, Wajahnya yang menatap ku putus asa, dan perkataan nya untuk tidak melakukan kesalahan yang sama sepertinya, tidak bisa aku lupakan" Fitri menyeka air matanya yang tidak mau berhenti menetes, setiap kali mengingat Raya dada Fitri selalu sesak


"Ingatan-ingatan itu menjadi seperti alarm untukku, selalu mengingatkan untuk berhenti sebelum menyesal" Ucap Fitri pelan


Fitri menatap wajah Andi, Andi menatap nya dengan pandangan seperti ingin menanyakan banyak hal


"Kakak pasti baru pertama kali mendengar nama Raya kan?" Fitri menatap Andi, Andi hanya mengangguk pelan

__ADS_1


"Raya adalah sahabat ku dan Dayu sejak kecil, Kami bertiga kemana-mana selalu bersama. Raya bermimpi ingin menjadi seorang pengacara , Dayu selalu bermimpi ingin menjadi seorang dokter. Sedangkan aku, mimpiku dulu hanya ingin menghasilkan uang yang banyak, tanpa memiliki spesifik ingin menjadi apa. Dulu Kami berjanji setelah lulus kuliah kami akan menyewa sebuah rumah kecil bersama, kami akan tinggal bersama disana, dan bersama-sama berjuang untuk mewujudkan mimpi masing-masing. Namun saat SMP Aku terlalu sibuk mengikuti segala eskul dan kegiatan di sekolah sampai tidak menyadari Raya yang tengah kesulitan" Fitri menghentikan sejenak kata-katanya Air matanya seolah banjir.


"Karena terlalu sibuk dengan duniaku sendiri, aku tidak bisa menyadari jika dunia Raya mulai hancur" Ucap Fitri sedih, Rasa sakit saat itu terasa kembali menghantam dada Fitri


__ADS_2