
Padahal pagi hari ini cuacanya sangat cerah, dirinya juga memulai harinya dengan senyuman, namun kenapa hanya berlalu beberapa jam saja. Semua nya berubah, Fitri tidak menyangka hari yang dia fikir akan menjadi hari yang menyenangkan, berubah menjadi hari yang sangat buruk. Penuh luka dan kekecewaan, Fitri hanya ingin dicintai dan menjalani hidup yang sederhana. Namun kenapa terasa sangat sulit. Seperti Cuaca yang mudah berubah, apakah hati seseorang juga mudah untuk berubah.
Fitri menunduk menyembunyikan wajahnya sambil meringkuk, setelah itu Fitri menangis tergugu sendirian. Suara tangis Fitri yang menyayat hati tertutupi oleh suara deras nya hujan dan gelegar langit yang saling menyahut.
Sekelebat ingatan-ingatan terus bermunculan di kepala Fitri
'Kalian sadar nggak sih tatapan Fia ke Andi itu nggak biasa?' Tanya Rayan
Dayu dan Fitri menggeleng tidak tahu, 'Menurut pengamatan Gue Fia naksir sama pacar lo Fit, lo harus hati-hati' Ujar Rayan memperingati Fitri
'Masak sih, kelihatan nya baik kok anaknya' Ujar Dayu tidak yakin
'Fia baik dan manis kok anak nya, jangan berprasangka buruk deh Yan' Ujar Fitri tidak percaya.
Rayan menatap Fitri serius 'Gue serius! Fia pasti naksir Andi, meskipun sekarang gue lihat Andi beneran sayang sama lo, tapi lo harus hati hati, gue ngerasa sifat Andi itu nggak beda jauh sama gue, bahkan lebih pintar dari gue jadi nggak gampang ketahuan' Ujar Rayan memperingati.
Seharusnya saat itu Fitri mengingat baik-baik peringatan yang di katakan Rayan, Fitri seharusnya tahu jika beberapa orang dapat mengenali orang-orang yang sejenis dengan mereka. Mungkin jika saat itu Fitri menyikapi peringatan Rayan dengan serius, dirinya tidak akan terluka sampai seperti ini.
Fitri jadi teringat dengan kejadian saat dirinya tanpa sengaja seperti melihat Andi di sunrise cafe, juga perkataan yang di katakan oleh Panji
'Tadi habis dari toilet gue kayak ngeliat ada lelaki yang mirip Andi, tapi setelah gue cari nggak ketemu. Mungkin gue cuma salah lihat' Ujar Fitri yang merasa tidak yakin
'Kemarin lo ke sunsine Cafe nggak?' Tanya Panji kemudian
'Iya emang nya kenapa?' Tanya Fitri jutek sambil menerima uang dari Panji setelah di hitung dan dirasa jumlahnya tidak kurang Fitri memasukkan uang tersebut ke saku seragam nya.
__ADS_1
'Benar berarti, kemarin gue liat Kak Andi sama cewek di sana, cuma cewek nya kelihatan lebih kurus dari lo, gue fikir lo kurusan ternyata enggak' Ujar Panji sambil melirik Fitri sebentar
'lo yakin yang lo lihat itu Kak Andi?' Tanya Fitri menyelidik
'Yakin lah jelas banget gue liat nya, tadi nya gue mau nyamperin nyapa dia, tapi karena dia nyamperin cewek yang pake seragam sekolah kita, gue nggak jadi nyapa gue takut lo nagih hutang pulsa ke gue. Uang gue kan kemarin cuma cukup buat jajan aja disana' Ujar Panji menyebalkan
Saat itu Fitri Sebenarnya sudah mulai curiga, namun kenapa akhirnya dirinya justru melupakan semua kecurigaan itu. Padahal setelah itu dirinya jadi mengetahui jika Andi bahkan berbohong kepadanya.
'Oh iya Kak, teman Kakak yang kemarin mau ke universitas lampung juga?' Fitri penasaran
Andi sempat terdiam 'Mungkin, tapi dia masih belum memutuskan'Jawab Andi sekenanya
Fitri mengangguk mengerti 'Kakak kemarin ketemu teman Kakak dimana?' Tanya Fitri sambil tersenyum, Fitri ingin memastikan apakah Andi akan berbohong padanya
'Ohhh begitu' Ucap Fitri mengangguk, namun sudah tidak ada senyum di wajah Fitri
Padahal saat itu dirinya sudah curiga, namun karena masalah Dayu membuat dirinya melupakan semua kecurigaan nya terhadap Andi. Apalagi setelah apa yang terjadi dengan Dayu, Sikap Andi jadi berubah menjadi lebih baik. Setelah Andi tau apa yang di alaminya, Andi sudah tidak pernah berlebihan saat menyentuh dirinya, bahkan dia bersikap sangat hati-hati, seolah dia takut tindakannya akan menyakiti dirinya. Betapa bodohnya dirinya berfikir Andi melakukan itu demi melindungi dirinya, Andi melakukan itu karena mencintai nya. Siapa yang akan menyangka Andi begitu karena sudah memiliki tempat pelampiasan yang lain, sehingga dia tidak membutuhkan gadis bodoh seperti dirinya.
Tangis Fitri semakin tergugu, karena suara hujan yang deras dan gelegar langit yang terus menyambar membuat Fitri bisa menangis dengan keras. Yang ingin Fitri lakukan saat ini hanyalah menangis dan mengeluarkan semua emosi, amarah, kekecewaan dan kesedihan yang di rasakanya.
Entah sudah berapa lama dirinya menangis di sana, tetapi tengisan nya langsung berhenti ketika merasakan suara langkah kaki yang berhenti di hadapannya.
Fitri mengangkat wajahnya ada seseorang yang berdiri di hadapannya, Fitri merasa sedikit takut. Fitri mendongak menatap wajah orang yang berada di hadapannya, namun orang tersebut mengenakan jas hujan, orang itu membelakangi cahaya sehingga membuat nya sulit untuk melihat wajahnya. Apalagi saat ini matanya bengkak karena kebanyakan menangis, membuat penglihatannya menjadi kurang jelas.
"Riri?" Panggil orang di hadapannya.
__ADS_1
Fitri mengenali suaranya, itu suara Ahmad dan hanya Ahmad lah yang memanggil nya dengan panggilan itu. Setelah mengetahui jika yang di hadapannya adalah Ahmad, membuat Air mata Fitri yang tadi sempat berhenti kembali menetes.
"Hiks hiks huaaaaaa" Tangis Fitri pecah menjadi lebih besar.
Otomatis Ahmad yang berada di hadapannya menjadi panik, Ahmad langsung berjongkok.
"Riri lo kenapa? apa lo terluka? atau ada yang sakit? Riri?" Panik Ahmad yang kebingungan. Ahmad ingin menyentuh Fitri untuk menenangkan nya, namun Ahmad takut Ririnya tidak suka jika dirinya menyentuh nya.
"Riri?" Panggil Ahmad lagi
"Hiks hiks hiks huaaaaaa" Namun tangis Fitri tidak terlihat akan berhenti.
Ahmad melihat Fitri yang menangis, menjadi frustasi sendiri "Aisshhh terserah lah" Gumam Ahmad lalu segera menarik Fitri ke dalam pelukannya. Ahmad akan menerima jika setelah ini Fitri akan marah atau memaki dirinya. Yang terpenting bagi Ahmad saat ini hanyalah menenangkan Fitri.
"Shhhtttt nggak apa-apa, ada gue disini lo bisa menagis sepuasnya" Ujar Ahmad sambil mengelus kepala Fitri lembut, mencoba untuk menenangkan nya.
"Jangan takut ada gue disini" Ujar Ahmad lembut. Fitri tidak berusaha mendorong nya, Fitri justru semakin menenggelamkan wajahnya dalam pelukan Ahmad.
Entah sudah berapa lama Fitri menangis dalam pelukan Ahmad, setelah puas menangis Fitri melepaskan pelukan Ahmad. Fitri baru tersadar apa yang baru saja di lakukan nya sungguh memalukan.
"Maaf" Ujar Fitri pelan tidak berani menatap Ahmad, karena merasa malu dengan tingkah nya barusan.
"Lo nggak perlu minta maaf, yang seharusnya minta maaf itu gue" Ujar Ahmad pelan
"Maaf gue sudah memeluk lo tanpa ijin" Ujar Ahmad sambil menatap Fitri. Fitri hanya mengangguk tanpa menjawab
__ADS_1