Fitria Si Gadis Berlesung Pipi

Fitria Si Gadis Berlesung Pipi
Part 78


__ADS_3

Motor yang di bawa Ahmad melaju dengan kecepatan sedang, namun sepanjang perjalanan Ahmad dan Fitri hanya diam, tidak ada sepatah katapun yang mereka ucapkan. Ahmad hanya merasa jika Fitri membutuhkan waktu untuk tenang. Sedangkan Fitri, perasaannya saat ini sedang campur aduk antara marah, kecewa dan benci.


Setelah kurang lebih 25 menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah Fitri. Ahmad memarkirkan motor di depan rumah Fitri. Saat mereka turun dari motor, terlihat beberapa orang yang langsung keluar dari rumah Fitri dan menghampiri Fitri.


Mayang dan Ely langsung memeluk Fitri erat "Fit lo kemana saja sih, Kita semua khawatir" Ujar Mayang setelah melepaskan pelukannya.


"Lo nggak apa-apa kan? ada yang luka nggak?" Tanya Ely sambil memindai tubuh Fitri dari ujung kaki sampai ujung kepala.


Fitri menggeleng pelan "Gue nggak apa-apa" Jawab Fitri pelan.


Mayang menyentuh kelopak mata Fitri yang bengkak "Berapa lama lo nangis sampai mata lo jadi bengkak begini?" Tanya Mayang khawatir.


Ely langsung menyikut Mayang pelan, memberi nya kode untuk jangan menanyakan hal yang sensitif. Karena melihat dari ekspresi dan penampilan Fitri, bisa Ely pastikan jika Fitri pasti mengalami hal yang berat hari ini.


"Kalian bawa Fitri masuk, ini sudah malam tidak baik lama-lama di luar" Ujar Rayan yang sedari tadi hanya menonton interaksi 3 gadis di hadapannya, sedangkan Fian yang berdiri di sebelah Rayan hanya diam, melihat tanpa berkomentar.


Setelah itu Mayang dan Ely membawa Fitri masuk, Setelah ke 3 gadis tersebut masuk, Rayan langsung menghampiri Ahmad.


"Apa yang terjadi dengan Fitri?" Tanya Rayan menatap Ahmad serius.


Ahmad yang terlihat murung hanya menggeleng pelan "Gue juga nggak tahu, waktu gue temui dia sedang menangis sendirian di teras ruko yang tutup" Jawab Ahmad sambil mengepalkan tangannya, dirinya merasa tidak berguna. Karena hanya bisa melihat gadis yang di cintai menangis pilu, tanpa bisa melakukan apapun.


Rayan menghela nafas panjang "Apa yang harus gue bilang kalau Dayu tanya nanti" Ujar Rayan frustasi. Ketika dia pulang nanti istrinya pasti akan mencecarnya dengan berbagai pertanyaan tentang Fitri.


"Apa kalian tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada Riri hari ini?" Tanya Ahmad yang sebenarnya juga sangat penasaran, hal apa yang bisa menyakiti Fitri sampai membuat nya menangis separah itu.


"Tadi gue sempat tanya Mayang dan Ely" Ujar Fian


"Katanya siang tadi mereka memang berencana untuk pergi bermain bersama, tapi karena Andi katanya tiba-tiba tidak enak badan, jadi Fitri pergi ke rumah nya. Tidak tahu apa yang terjadi disana, tapi tadi ketika Mayang dan Ely mencari Fitri ke rumah Andi. Mereka seperti mendengar pertengkaran di rumah Andi. Mereka juga hanya bertemu dengan Adik Andi yang keluar rumah sambil menangis, Katanya Andi membuat Fitri marah besar. Karena khawatir adik nya Andi menelepon orang tuanya untuk segera pulang, tapi setelah orang tua Andi pulang. Ayah nya justru memukuli Andi, sepertinya adik nya Andi juga tidak begitu paham apa yang sedang terjadi" Jelas Fian panjang lebar.

__ADS_1


Ahmad mengepalkan tangannya marah "Ini pasti ada hubungannya dengan Andi, Brengsek!" Umpat Ahmad marah.


Ahmad kembali memakai helm nya, dan hendak menaiki motor yang di bawanya. Namun Rayan langsung menahan tangan Ahmad.


"Mau kemana lo?" Tanya Rayan menyelidik


"Gue mau cari si brengsek Andi itu, ini semua pasti gara-gara Dia" Geram Ahmad marah.


"Lo jangan gegabah dulu, lo mau cari dia? memangnya lo tahu di mana rumahnya. dan meskipun tahu, lo punya hak apa untuk ikut campur. Fitri bahkan belum mengatakan apapun tentang kejadian hari ini, tapi kalau lo tiba-tiba cari masalah sama Andi tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi, lo hanya akan membuat Fitri semakin marah nantinya" Ujar Rayan mencegah Ahmad untuk bertindak gegabah.


"Rayan benar, Kita tidak punya hak apapun untuk ikut campur masalah pribadi Fitri. Tunggu Fitri cerita sendiri, dan kalau misalkan dia meminta bantuan dari kita baru kita bantu. Lo pasti tahu, Fitri tidak suka orang lain ikut campur masalah pribadi nya, karena dia lebih suka menangani masalah nya sendiri" Ujar Fian ikut memberi saran.


Ahmad kembali melepaskan helm nya "Cckk Sial!" Umpat Ahmad kesal.


Rayan melirik jam tangannya "Sudah hampir jam 11 malam, gue harus pulang sekarang, Dayu pasti sudah menunggu dirumah" Ujar Rayan pamit.


"Gue juga sudah harus cabut" Ujar Fian, yang memang datang dengan motor yang sama dengan Rayan. Ahmad hanya mengangguk saja.


"Sebentar lagi gue pulang, gue mau ke dalam dulu lihat kondisi Riri sebentar, setelah itu gue pulang" Jawab Ahmad.


Fian mengangguk pelan "Oke, tapi jangan malam-malam, tetangga disini agak reseh. dan juga orang tua Fitri tidak di rumah, jangan sampai Fitri jadi bahan omongan yang tidak enak" Ujar Fian memperingatkan.


Ahmad mengangguk "Iya gue paham" Jawab Ahmad.


Setelah Rayan dan Fian pergi, Ahmad langsung masuk ke dalam rumah Fitri, di ruang tengah ada Andre dan ke-2 teman Fitri.


"Riri mana?" Tanya Ahmad kepada Mayang


"Riri?" Ujar Mayang tidak paham.

__ADS_1


Ely langsung berbisik "Maksud dia Fitri" Bisik Ely pelan.


"Ah Fitri lagi mandi sebentar lagi pasti keluar" Jawab Mayang.


"Riri pasti belum makan malam, Dek dirumah ada makanan nggak?" Tanya Ahmad kepada Andre.


Andre menggeleng "Nggak ada mas, cuma ada mie instan saja" Jawab Andre yang sedari tadi hanya diam, tidak seaktif biasanya.


Ahamd mengangguk mengerti "Kamu sudah makan belum Dek?" Tanya Ahmad lagi


Andre mengangguk "Andre sudah makan Mas" Jawab Andre dengan wajah yang murung.


Pandangan Ahmad beralih ke arah Mayang dan Ely "Kalian sudah makan malam?" Tanya Ahmad sopan.


Mereka berdua mengangguk "Kita sudah makan" Jawab Ely.


Ahmad mengangguk paham "Dek, Mas boleh pinjam dapur nya? Mas mau masakin makanan buat Mbak Kamu, setelah mandi dia pasti lapar" Ucap Ahmad meminta ijin, Andre Hanya mengangguk, mengijinkan.


Setelah itu Ahmad langsung bergegas ke dapur, di lemari dapur ada banyak stok mie instan berbagai rasa. Lalu Ahmad membuka kulkas, ada telur dan beberapa sayuran. Ahmad pun memutuskan untuk masak mie instan di tambah telur dan juga sedikit sawi putih.


Setelah selesai masak Andi berniat untuk memanggil Fitri makan, namun di ruang tengan hanya ada Andre sendirian.


"Mbak Kamu belum selesai mandi?" Tanya Ahmad.


"Sudah, lagi di kamarnya sama teman-temannya" Jawab Andre sekedar nya.


Ahmad langsung pergi ke kamar Fitri, Ahmad hendak mengetuk pintu kamar Fitri, namun tangannya terhenti ketika mendengar suara Fitri yang sedang menangis, sambil bercerita tentang apa yang terjadi hari ini. Seketika amarah Ahmad meluap, Ahmad mengepalkan tangannya marah setelah itu langsung pergi dan menghampiri Andre.


"Dek, Mas harus pulang sekarang, tolong Kamu panggil kan Mbak Kamu untuk makan ya" Pinta Ahmad.

__ADS_1


"Iya Mas" Jawab Andre menurut.


Setelah itu Ahmad langsung pergi, Fitri pasti tidak nyaman jika harus bertemu dengannya sekarang.


__ADS_2