Flower Of War

Flower Of War
Chapter 13 : Adu Domba


__ADS_3

Yiu hanya pasrah tangannya ditarik oleh seseorang entah dari mana datangnya seperti hantu itu, yang terpenting dia bisa lari dari ketiga putri itu.


Yiu masih ditarik menjauh dari ketiga putri itu, karena larut dalam lamunannya Yiu tak sadar jika sekarang dia sudah berada disisi paling barat taman yang tempatnya sedikit temaran dan lumayan jauh dari kerumunan pesta ditaman itu.


Yiu yang tersadar merasakan tangannya sudah berhenti ditarik namun masih dalam gengaman pria yang tengah membelakanginya.


Yiu melepaskan paksa tangannya dari cengkraman pria didepannya itu yang masih celingak celinguk mengamati keadaan sekitar.


"Hei apa yang kau.... mppphhhh"


"Ssstt jangan berisik Pria aneh, aku sudah menyelamatkanmu dari komplotan teman meimeiku yang tergila gila denganmu harusnya kau berterima kasih padaku" ucap pria itu sembari menyekap mulut Yiu agar tidak berteriak.


AN: meimei itu panggilan buat adik perempuan.


Pangeran Wu Xiao lupa jika Yiu bukanlah gadis biasa yang akan patuh pada orang lain apalagi dengan orang yang sudah membuatnya kesal.


Brukkk..


Pangeran Wu Xiao tersentak kaget saat merasakan tubuhnya tiba tiba melayang dan terjatuh terlentang kedepan akibat bantingan dari Yiu.


"Akhh.."


Pangeran Wu Xiao meringis menahan sakit dipunggungnya, mungkin tulangnya ada yang bergeser atau bisa saja malah patah.


Kenapa aku bisa lupa kalau dia itu bukan gadis biasa yang lemah bahkan aku lupa aku pernah dikalahkan oleh dia oh astaga gadis ini sungguh mengerikan.


Yiu tersenyum kecut melihat keadaan mengenaskan pangeran gila yang kini sedang berguling kekanan dan kekiri dibawah kakinya karena menahan sakit dari bantingan yang ia lakukan.


"Rasakan itu.. Siapa suruh kau menyeretku ketempat ini dan membekap mulutku seakan kau ingin menculikku huh"


Pangeran Wu Xiao berdiri perlahan, menatap tajam wajah Yiu intens dan mendekatkan dirinya lebih dekat kearah Yiu.


"Apa yang akan kau lakukan hah?! berhenti atau kubunuh kau"


Ancaman dari Yiu tak membuahkan hasil, Pangeran Wu Xiao terus berjalan mendekat kearahnya.


Yiu yang merasa terdesak terus mundur selangkah demi selangkah, maniknya tak lepas dari manik elang milik Pangeran Wu Xiao berwarna hijau gelap yang sungguh mempesona.


Yiu terus mundur namun langkahnya terhenti saat punggungnya menabrak sesuatu yang keras bernama dinding.


Sial.. Siapa yang menaruh dinding disini hah! Apa yang harus aku lakukan menghadapi pria gila ini ya dewa, aku mohon selamatkan aku.


Kini jarak antara wajah Yiu dan Pangeran Wu Xiao hanya tinggal sejengkal, bahkan mereka bisa merasakan hembusan nafas mereka satu sama lain.


Otak Yiu berpikir keras bagaimana caranya ia lari dari situasi ini namun kali ini otaknya sedang buntu tak dapat memikirkan cara meloloskan diri dari Pangeran Wu Xiao.


Yiu menahan nafasnya saat wajah Pangeran Wu Xiao semakin dekat dengan wajahnya, pikiran negative memenuhi otaknya.


Hidung mereka saling bersentuhan, dengan segera Yiu memalingkan wajahnya. Tangan kiri Pangeran Wu Xiao mencengkram wajah Yiu, memaksa wajahnya untuk menatapnya lagi.


Yiu tak berdaya, otaknya seketika buntu, ia tak tau harus berbuat apa sekarang. Wajah Pangeran Wu Xiao masih seserius sebelumnya membuat Yiu hanya bisa pasrah dan menutup kedua matanya.

__ADS_1


"Aaaawww"


Yiu terkejut dan mengaduh saat merasakan hidungnya ditarik secara tiba tiba oleh Pangeran Wu Xiao.


Wu Xiao terkekeh melihat reaksi lucu Yiu dan mundur selangkah menjauhi Yiu, ia hanya berniat mengoda gadis itu saja tak lebih karena gadis didepannya ini sama sekali bukan tipenya ingat itu.


"Kau ingin hidungku ini putus hah! Hidungku terasa sakit karena ulahmu!"


Yiu meracau sembari mengelus hidungnya yang mulai memerah.


"Dasar lemah begitu saja sakit.. Aku hanya ingin membatumu memancungkan hidungmu yang mancung kedalam itu, seharusnya kau berterima kasih padaku!"


"Oh kau mengejekku ya?! Awas kau! Akan ku cincang habis dirimu, Wu Xiao!!" Yiu berteriak sembari mengejar Pangeran Wu Xiao yang juga berlari menghindari amukan Yiu.


Yiu terus berlari sembari berteriak memanggil nama Pangeran Wu Xiao untuk berhenti, untung keadaan sekitar terbilang sepi jadi mereka tidak akan takut kalau tingkah mereka sedari tadi yang bertingkah layaknya anak kecil akan dilihat seseorang dan mungkin juga mengira mereka adalah pasangan homo! Oh jangan sampai itu terjadi.


Duk..


"Aww"


Yiu mundur selangkah akibat tubuhnya yang menabrak sesuatu dengan keras.


Pangeran Wu Xiao berhenti tiba tiba membuat Yiu yang berlari kencang dibelakangnya menubruk punggung tegap Pangeran Wu Xiao.


"Heiii.. Apa yang.." belum sempat Yiu meluapkan rasa marahnya Pangeran Wu Xiao menempelkan jari telunjuknya dibibirnya menyuruh Yiu untuk diam.


"Sstt kemari dan lihat" ucapnya pelan dan hati hati kemudian menarik tangan Yiu mensejajarkan dirinya dengan Pangeran Wu Xiao.


Yiu melihat kemana arah pandang Pangeran Wu Xiao dan disana terlihat seorang dayang dan seorang pria dengan jubah hitam yang panjang, mereka tidak bisa melihat dengan jelas wajah sang pria karena minim cahaya.


"Apa kau sudah melakukannya?"


"Sudah tuan, sesuai dengan perintah anda"


"Bagus ini imbalan dariku dan akan ku tambah setelah Kaisar sialan itu dan keluarganya itu sekarat setelah meminum minuman dengan gula yang sudah dicampur racun itu dan menjebak putranya seolah dialah yang telah meracuni Kaisar dengan begitu akan sangat mudah menyingkirkan Kaisar dan penerusnya dari istana." ucap pria berjubah hitam sembari menyerahkan sekantung uang sembari tertawa rendah.


"Terima kasih tuan, sebelum ada yang melihat saya permisi dulu" ucap pelayan itu lalu melangkah pergi disusul pria berjubah itu yang berjalan berlawanan arah.


Pangeran Wu Xiao segera mendekap Yiu kedalam pelukannya dan berjongkok saat pria berjubah itu mulai mendekat kearah mereka, bersembunyi dibalik dinding bangunan istana.


Yiu yang sedikit syok saat Pangeran Wu Xiao tiba tiba mendekapnya agar bersembunyi dan tak banyak bergerak hanya bisa terdiam dan terpaku saat merasakan hembusan nafas Wu Xiao dan detak jantungnya dalam dekapannya.


Maniknya terus menatap wajah dengan pahatan sempurna didepannya ini tanpa berusaha memberontak atau mengalihkan arah pandangnya dari pria yang kini sedang mendekapnya, ia memeriksa keadaan sekitar apakah situasi sudah aman atau belum.


Hati Yiu berdegup kencang seakan ingin meloncat keluar dari tempatnya, perasaan yang baru pertama kali didapatkan oleh Yiu.


Ada apa dengan diriku?


"Menurutmu pembicaraan pria itu adalah rencana untuk membunuh Ayahku dan Keluargaku, Zhou Li?" ucap Pangeran Wu Xiao melepaskan dekapannya dari Yiu tanpa raut wajah berdosa sedikitpun.


Yiu tergagap entah kenapa otaknya yang biasanya sangat encer dengan hal seperti ini sekarang sedang tidak berfungsi sama sekali.

__ADS_1


"Ah.. Iya menurutku juga seperti itu, dan itu berarti Keluargamu sedang dalam bahaya! Ayo cepat kita harus memberitahu Yang Mulia tentang hal ini" ucap Yiu lugu yang sudah bersiap akan berlari menuju taman istana.


"Jangan bertindak bodoh! Kita harus punya rencana dan mendapatkan bukti sebelum memberi tau Yang Mulia, namun kita tak punya banyak waktu karena sebentar lagi acara minum teh akan segera dimulai" ucap Pangeran Wu Xiao menganalisa.


"Ya kau benar, ah aku ada ide kemarilah"


Yiu menarik lengan Wu Xiao agar dirinya mendekat dan kemudian membisikan sesuatu ditelinga Wu Xiao.


"Ide bagus, ayo kita sudah kehabisan waktu"


Wu Xiao berlari kecil dan diikuti oleh Yiu dibelakang menuju taman istana dimana pesta minum teh akan segera berlangsung, mereka akan menjalankan siasat yang mereka susun.


♦♣♦


Beberapa dupa pembakaran kemudian...


"Sebelumnya saya sangat berterima kasih kepada para sekutu dan sahabat sahabatku yang sudah kuanggap saudaraku sendiri, untuk mengakhiri acara perayaan peringatan Penobatanku sebagai kaisar dikerajaan ini, mari kita bersulang bersama"


"Selamat Yang Mulia, Semoga berumur panjang"


Kaisar kini telah duduk disinggasananya, menganggkat tinggi cawan emas berisi arak keatas disusul oleh anggota kerajaan dan tamu undangan yang berada ditaman istana.


Pangeran Wu Xiao juga telah duduk dikursi pangerannya, ia nampak tenang namun manik elangnya terus memperhatikan kursi bagian pejabat keuangan istana, mencari seorang diantara mereka yang terlihat mencurigakan.


Pangeran Wu Xiao sempat melihat kearah tangan kanan sang pria berjubah tadi yang terdapat cincin giok berbentuk oval dengan lambang kerajaan yang menjadi ciri bahwa pria berjubah itu adalah salah satu pejabat keuangan istana.


Dan untuk Yiu, ia kini sedang mengikuti dayang tadi yang berjalan menuju dapur kerajaan, ia membisikan sesuatu ke Chi Chi yang juga tengah membantu persiapan perayaan istana.


Chi chi mengangguk paham dan pergi menjauh dari Yiu untuk menjalankan tugas yang diberikan Sang Putri padanya.


Setelah mengangkat gelas mereka masing masing dengan tinggi, mereka semua menenguk arak itu sebagai awal dimulainya perayaan ditaman istana, kemudian dilanjutkan dengan meminum teh hijau dari cawan yang berbeda.


Kaisar dan anggota kerajaan seperti Permaisuri, Para Selir, Para Pangeran, Para Putri, dan Kerabat Kerajaan Zhang menenggak habis teh hijau manis yang disajikan para pelayan.


Tak berselang lama, Para Putri dan Selir terbatuk batuk sembari memegang perut mereka seperti orang yang kesakitan, Para Pangeran juga sebagian memegang dada mereka yang terasa sesak dan sulit bernafas.


Kaisar Zhang dan Permaisuri Yun Sin mengeluh kepalanya terasa sangat sakit hingga mereka pingsan dikursi mereka.


Para penjaga dan pelayan terlihat panik begitu juga dengan dengan tamu undangan terutama para wanita bangsawan yang sudah berteriak histeris akibat ketakutan dengan apa yang mereka lihat.


Atmosfer di Taman Istana berubah menjadi sangat mencekam akibat Kaisar Zhang beserta Keluarga Besar sudah tak sadarkan diri dikursinya. Namun hanya Pangeran Wu Xiao yang terlihat baik baik saja seperti tak terpengaruh apapun setelah meminum teh yang disajikan oleh pelayan.


Beberapa Pejabat kerajaan nampak membantu mengangkat tubuh para Pangeran dan Kaisar yang sudah tak sadarkan diri dan terbaring lemah dibawah kursi mereka dengan posisi meringkuk seperti menahan sakit.


Dayang para wanita kerajaan juga tak tinggal diam mereka juga membantu mengangkat tubuh para putri, selir serta sang permaisuri, mendudukan mereka dikursi masing masing.


Menteri Keamanan Istana terlihat sibuk memberi komando kepada para bawahannya untuk mengurusi Keluarga kerajaan yang sudah tak sadarkan diri, menenangkan tamu undangan agar tak semakin panik dan menyuruh beberapa prajurit menyelidiki siapa dalang dibalik kasus ini dengan meminta bantuan dari pasukan khusus istana.


"Tahan Pangeran Wu Xiao sekarang! Dia adalah seorang pengkhianat!"


TBC

__ADS_1


**Tinggalkan jejak berupa vote like dan komen ya jangan tinggalkan kenangan bersama dia yang sudah bahagia dengan yang lain disini.


makasih whehe😅**


__ADS_2