Flower Of War

Flower Of War
Chapter 51 : Gege Ini Suami Yan Jiejie!


__ADS_3

"Aku tahu mereka dimana!"


Yiu spontan menggapai pergelangan tangan Wu Xiao, matanya berkilau sekaligus berkobar, dengan suara lirih tetapi sedikit tegas ia berkata penuh penekanan, "Katakan!"


Wu Xiao mencondongkan badannya mendekat dan berkata, "Mereka kemungkinan besar berada di utara tapi-"


Belum sempat Wu Xiao menyelesaikan perkataannya, Yiu tanpa pikir panjang segera bangkit dari duduknya. "Tunggu apa lagi? Ayo!"


Tangan Wu Xiao pada dasarnya lebih kokoh, ia melawan balik tarikan Yiu membuatnya menjatuhkan diri kembali tepat di samping Wu Xiao.


"Dengarkan aku dulu! Liu Yu sudah tahu kamu ada di ibu kota, kemungkinan paling besar kita bisa keluar ibu kota dengan selamat adalah sepuluh persen saja!"


Yiu menghindar dari kontak mata Wu Xiao, beralih menatap perapian di sebelah mereka. Raut wajahnya berubah diiringi perubahan suasana yang mencekam bagi Wu Xiao.


Yiu berkata dengan suara tegas, "Jangan lagi berani sebut nama sialan itu di depanku! .... Huhh sepuluh persen itu tetap lebih baik daripada nol persen! Kau punya otak kau gunakan untuk apa? Pajangan?"


Wu Xiao tersedak udara dan sempat naik pitam untuk sesaat sebelum menghela napas berusaha mengerti dengan emosi Yiu dan berujar pelan, "Baiklah, ... kita pikirkan caranya nanti tetapi sekarang habiskan makanmu dulu. Lihatlah dirimu ... kurus, pendek, pemarah pula. Mengerikan!"


"Hei ja-" baru saja Yiu membuka mulutnya ingin melayangkan banding, Wu Xiao segera mengambil irisan daging matang dengan sumpitnya lalu memasukkannya ke dalam mulut Yiu dan berujar tegas, "Makan!"


Dengan penuh paksaan Yiu mendorong masuk semua makanan di meja, mengunyahnya dengan gerakan ganas yang terkesan dibuat-buat untuk memperlihatkan kemarahannya pada Wu Xiao.


Setelah menyelesaikan urusan perut, keduanya kembali berjalan pelan akibat Yiu yang kekenyangan, menyusuri jalanan pasar yang mulai sepi karena cuaca semakin dingin dan hari semakin gelap.


"Nona Muda Yan!"


Tiba-tiba terdengar suara pria berteriak, suaranya cukup keras menembus jalanan pasar yang hanya ada sedikit sekali warga yang berlalu lalang, hanya tersisa beberapa penjual saja.


Suara itu terdengar tak asing bagi Yiu dan nama Yan juga merupakan salah satu nama dari kebanyakan nama samarannya.


Yiu menoleh mencari sumber suara ke segala arah dan mendapati seorang pemuda berdiri tak jauh dari mereka dengan pakaian musim dingin sederhana ditambah kain yang melilit kepalanya agar tetap hangat dan membawa tas kayu di punggung kuatnya.


"Xu Lan?" gumam Yiu rendah.


Pemuda itu segera menghampiri Yiu dengan senyum sumringah tercetak jelas di wajahnya. Wu Xiao entah mendapat dorongan darimana seketika melangkah di depan Yiu, menyambut pemuda itu dengan tatapan tajam sembari berkata dengan suara rendah, "Kau siapa? Nyalimu besar juga menyebut kami perempuan!"


Pemuda yang ternyata adalah Xu Lan tersentak mundur selangkah akibat terhalang aksi blokade tiba-tiba dari Wu Xiao. Xu Lan menatap binggung sekaligus malu karena menyebut Putri Ying dengan sebutan "Nona" padahal ia jelas tahu jika Putri Yinh tengah dalam penyamaran pria.


"Maaf, maaf, Tuan. Saya tadi terlalu senang bisa melihat Put ... ah bukan. Saya terlalu senang masih diberi kesempatan melihat tuan yang tampan ini lagi," ucap Xu Lan sambil melirik Yiu yang berada di balik punggung Wu Xiao.


Wu Xiao, "Aku tanya, Kau si-"


"Minggir!" Wu Xiao yang belum sempat menyelesaikan ucapannya sudah lebih dulu di dorong kuat ke samping oleh Yiu hingga bergeser beberapa langkah.


Xu Lan terdiam sesaat sebelum segera bersuara rendah, "Putri, anda baik-baik saja? Anda pergi kemana saja? Istana sudah dikuasai oleh dia! Anda bilang akan segera kembali ta-tapi anda ... jika terjadi sesuatu pada anda maka saya .... Ah maaf saya lancang saya salah, Putri."


Yiu menggeleng. "Ini bukan salahmu dan terima kasih telah mengkhawatirkanku, aku baik-baik saja. Maaf karena aku membuat kalian khawatir tapi memang beberapa hari ini aku tidak bebas bergerak. Bagaimana kabar Tuan dan Nyonya Xu?"

__ADS_1


Xu Lan tersenyum dan segera menanggapi dengan semangat, "Syukurlah. Ayah dan ibu baik tapi ibu sangat mengkhawatirkan keadaan Nona apalagi setelah penggeledahan kemarin, itu membuat ibu pagi tadi terkena demam ringan."


"Ayo tunjukkan jalan! Aku akan mampir sebentar," ucap Yiu sembari menarik pergelangan tangan Xu Lan dan berjalan pergi.


Wu Xiao yang sedari tadi menyaksikan interaksi keduanya yang begitu hangat sembari 'meminum sebotol cuka' bertambah menjadi dua botol setelah melihat Yiu yang menggandeng dan menarik tangan pria asing yang tidak dikenalnya itu.


A/N: 'meminum cuka' merupakan idiom terkenal dari Tiongkok yang artinya adalah cemburu atau tidak suka.


Wu Xiao mengikuti keduanya di belakang lalu berdehem ringan, "Dua orang pria berjalan sambil bergandengan tangan seperti orang yang tengah kasmaran, menurutku itu adalah hal yang sangat langka ...."


Yiu menoleh dengan manik elangnya, tangannya diam-diam juga melepas pegangan pada pergelangan tangan Xu Lan.


Ketiganya akhirnya sampai di pagar rumah kayu sederhana yang terletak di tengah kompleks pemukiman. Xu Lan masuk lebih dahulu disusul Yiu lalu Wu Xiao.


Perkarangan rumahnya tidak terlalu luas dan rumah yang juga tampak sederhana menyambut keduanya. Memasuki rumah terdapat kedua adik kecil Xu Lan--Xu Bai dan Xu Ruo--tengah asik bermain boneka dari jerami, melihat kedatangan Xu Lan dan dua orang asing keduanya menatap penuh kebingungan.


"Xu Bai! Ruoruo!" Yiu setengah berjongkok menghampiri Xu Ruo yang masih kebingungan nyaris takut hingga mundur selangkah.


Yiu melanjutkan, "Ini jiejie."


Setelah mendengar nada yang familiar itu Xu Ruo segera berseru, "Yan Jiejie?!" Yiu mengangguk membuat Xu Ruo segera memeluk erat pinggang Yiu.


"Xu Bai, dimana ibu?" tanya Xu Lan.


Xu Bai, "Ibu sedang istirahat di kamar, Ge."


Yiu mengelus pelan rambut Xu Ruo. "Maaf, jiejie ada sedikit urusan belakangan ini. Jiejie boleh menjenguk ibu?" RuoRuo mengangguk.


Xu Lan membimbing mereka menuju ke kamar tempat dimana Nyonya Xu berada, Yiu meminta masuk sendiri lalu dengan perlahan mendorong pintu kayu yang berderit pelan itu dan melangkah masuk dengan perlahan.


Kamar itu cukup sempit. Namun, tetap hangat dan tak banyak perabotan di dalamnya. Terdapat ranjang dari bambu yang di atasnya terbaring seorang wanita yang tengah tertidur.


Yiu perlahan berjongkok di samping tempat tidur, pergerakan kecilnya ternyata disadari oleh wanita yang sedang tertidur itu.


Nyonya Xu atau yang biasa Yiu panggil Madam Ning itu membuka matanya dan sedikit terkejut melihat seorang pria asing tiba-tiba berada di kamarnya.


Lagi-lagi Yiu merutuki penampilannya hari ini. "Madam Ning ... ini aku."


Madam Ning mematung sesaat. "Putri? Ini sungguh Anda?" Yiu mengangguk lagi.


Madam Ning kemudian bangkit duduk dari tidurnya sedikit tergesa-gesa lalu menyentuh kedua lengan Yiu, menamati setiap inchi tubuh Yiu memastikan dia benar-benar nyata dan sehat.


Keduanya berbicara di dalam penuh haru cukup lama. Sementara itu Xu Lan dan Wu Xiao yang berada di luar diterpa angin kesunyian. Hingga Xu Lan membuka suaranya lebih dulu, "Tuan, mari duduk dan menikmati teh."


Nada suaranya memang santun tetapi ekspresinya jelas sedikit takut ditambah melihat bayangan pria ini tadi saat menghadangnya cukup membuat lutut Xu Lan gemetar sesaat.


Wu Xiao mengangguk dan keduanya berjalan menuju ruang tamu dengan meja dan kursi yang sederhana. Xu Lan mempersilahkan Wu Xiao duduk. "Saya akan membuatkan teh sebentar. A-Bai, A-Ruo temani Tuan ini sebentar ya."

__ADS_1


Xu Bai dan Xu Ruo perlahan mendekat dengan penasaran. Xu Ruo menunduk untuk mengintip Wu Xiao yang menunduk lalu bersuara, "Gege ini namanya siapa?"


Wu Xiao ada diambang kebingungan dan akhirnya memilih berkata bohong, "Ji YunShi."


Xu Ruo makin penasaran. "Ji Gege datang bersama Yan Jiejie hari ini. Ji Gege terlihat begitu kuat, umm pasti gege ini pengawalnya Yan Jiejie, 'kan?"


Refleks Wu Xiao menatap binggung pada Xu Ruo karena merasa tidak terima dan membalas, "Apa pria setampan aku ini cocok menjadi pengawal?"


Xu Bai membuat gestur seakan ingin menutup mulut adik kecilnya, mencoba memperingatkan. Namun, Ruoruo segera beralibi dengan suara pelan, "Tapi Ji Gege memang tidak terlihat tampan ...."


Xu Bai yang terpaut lima tahun lebih tua dari Xu Ruo segera mengambil giliran, "Maafkan meimei-ku ini, Tuan, dia selalu saja berbicara asal. Tolong jangan diambil hati."


Wu Xiao mengangguk maklum. Xu Bai yang terlihat juga penasaran akhirnya ikut bertanya menggantikan adiknya yang pasti akan berbicara ngasal.


"Maaf jika saya lancang tapi ... Tuan Ji ini siapanya Yan Jiejie?"


Wu Xiao mengerutkan keningnya sebelum menjawab dengan ringan, "Suaminya."


Kedua kakak beradik itu spontan membuka lebar mulutnya lalu Xu Ruo yang pada dasarnya cerewet dan ingin tahu segala hal kembali bertanya, "Wah! Jadi Ji Gege dan Yan Jiejie sudah seperti ayah dan ibu? Itu berarti Ruoruo bisa minta adik? Yey akhirnya Ruoruo akan punya adik nanti!"


Xu Ruo berteriak kegirangan dan melompat-lompat dengan kaki kecilnya. Wu Xiao seketika panik lalu menarik tangan Xu Ruo dan berujar pelan, "Aish jangan berteriak! Pokoknya ini rahasia kita bertiga, setuju? Ah kita buat permainan saja nanti jika ada salah satu dari kita yang membocorkan nanti akan ada hukuman, bagaimana? Setelah ini gege juga akan belikan manisan."


Tertarik dengan kata "permainan" dan "manisan" membuat keduanya segera mengangguk bersemangat dan Wu Xiao bernapas lega.


Bertepatan dengan itu Xu Lan datang membawa nampan berisi beberapa cangkir dan teko kecil yang masih mengepulkan asap berisi teh didalamnya lalu menyajikannya untuk Wu Xiao dan juga menyuruh kedua adik kecilnya untuk bermain lagi di pojok ruangan.


Wu Xiao meniup cangkir tehnya, Xu Lan menekuk bibirnya terlihat memendam sesuatu dalam benaknya tentang Wu Xiao. Namun, ia tak berani mengungkapkannya sehingga Wu Xiao bertanya, "Kenapa melihatku seperti itu? Punya pertanyaan? Katakan saja tak perlu sungkan."


Xu Lan dengan gelagapan menjawab, "Maaf jika ini terkesan tidak sopan tapi saya tadi di dapur mendengar Anda bilang bahwa Anda adalah ... suami dari Putri Ying, apakah itu benar?"


Wu Xiao seketika tersedak, Xu Lan langsung bereaksi dengan berkata, "Aiyo yo yo tidak perlu seserius ini, Tuan. Anda tidak harus menjawabnya."


Bertepatan dengan itu terdengar derit pintu terbuka yang berasal dari arah belakang keduanya membuat fokus mereka segera teralihkan. Wu Xiao sedikit bernapas lega.


Yiu dan Madam Ning keluar dari kamar dan segera menghangatkan tempat duduk yang ada diantara Xu Lan dan Wu Xiao.


Madam Ning yang melihat pemuda asing menatap pemuda itu dengan ekspresi binggung dan bertanya, "Anak muda ini siapa? Putri, apakah ini pengawal anda?"


Lagi-lagi Wu Xiao merutuki kalimat itu dalam hati sembari mengutuk, "Bagaimana bisa wajah setampan ini disebut pengawal? Aku ini termasuk ranking tiga pria paling tampan di wilayah Barat!"


Yiu segera menyahut, "Ah bukan, dia adalah Wu Xiao, dia temanku dari barat."


Xu Lan yang masih mengira Wu Xiao dari kalangan rakyat biasa bergumam, "Sepertinya saya pernah sekali mendengar marga Wu tapi entah berasal dari keluarga mana .... Ibu, bukankah supir keluarga adipati di kota kita bermarga Wu juga ya? Apakah dia anaknya?"


Madam Ning memukul tangan Xu Lan dengan ekspresi mengerikan sebelum kembali tersenyum dan menatap Wu Xiao untuk memastikan. "Pemuda bermarga Wu ini cukup tampan, sepertinya seorang tuan muda? Sebentar saya perlu waktu ... Wu dari wilayah barat ... Wu dari Kerajaan Zhang Wu?! Apakah ini ... Pangeran Kedua Zhang Wu, Pangeran Wu Xiao?!"


TBC

__ADS_1


__ADS_2