Flower Of War

Flower Of War
Chapter 61 : Kehancuran Zhang Wu


__ADS_3

"Apa yang kau lakukan pada kerajaanku?!"


Hai Ran menatap Wu Xiao yang menatapnya tajam dengan santai sebelum beralih ke Yiu. "Putri, aku mengakui kecerdikanmu tapi, ... untuk mendeklarasikan diri sendiri menjadi Dewa Siasat? Hmm... rasanya dirimu terlalu berbangga hati dan naif."


Wu Xiao mengencangkan cengkramannya pada kerah Hai Ran dengan tangan kanan yang terus memukul wajah babak belur Hai Ran.


Yiu mematung beberapa saat di tempatnya sebelum mundur perlahan dengan punggung menabrak jeruji penjara.


Pikirannya seketika kosong, ia tidak tahu harus berbuat apa. Seisi ruangan seakan terasa sangat hampa, kosong, walau sebenarnya sangat riuh oleh suara amukan Wu Xiao.


Tidak! Ini tidak boleh terjadi! Aku bodoh! Aku lengah! .... Aku harus berbuat sesuatu!


Yiu menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, mendorong pikirannya sedikit lebih tenang.


Ia mendongak dan segera memeluk punggung Wu Xiao yang bergetar hebat lalu menariknya mundur sekuat tenaga. "Wu Xiao, tenanglah! Berhenti!"


Wu Xiao terus memukuli dan berteriak pada Hai Ran yang wajahnya sudah hampir tak berbentuk, wajah Wu Xiao merah padam. Yiu dengan sekuat tenaga menyeretnya mundur hingga beberapa langkah dan dalam sekali gerakan melangkah maju untuk menghalangi Wu Xiao mendekat kembali.


Pelukannya sangat erat dan kakinya mengunci pada tanah dengan tubuh condong yang terus mendorong ke depan, layaknya pertandingan gulat. Ia bertaruh apakah kekuatan kecilnya dapat mengalahkan kekuatan tak terkendali milik Wu Xiao.


"Wu Xiao, kau bisa membunuhnya! Tenanglah dulu! Pikirkan kerajaan dan keluargamu, mereka menunggumu! Pikiran aku juga! Kau membuat masalah di kerajaanku!"


Wu Xiao yang sebelumnya terus mengumpat mulai menurunkan suaranya, perlahan ia menatap tangannya yang berlumur darah sebelum menunduk pada Yiu yang masih dengan erat memeluknya.


Merasa Wu Xiao sedikit tenang, ia mendongak dan menyentuh kedua pipi hangat Wu Xiao sejenak. Menatap manik hijau zamrud itu lekat-lekat.


"Aku disini. Kedua kakakku juga disini. Kami siap membantumu. Kita lewati ini bersama-sama."


Bibir Wu Xiao sedikit gemetar, maniknya sedikit menyipit untuk beberapa saat. Wajahnya semakin mendekat membuat Yiu merasakan sinyal aneh, tubuhnya semakin membeku melihat jarak antara keduanya perlahan tapi pasti semakin menipis.


Ia merasa deja vu, perasaan aneh ini kian menguat. Di sisi lain, Wu Xiao kian mendekat, menyisakan jarak satu inchi antar keduanya.


Yiu menutup matanya, ia tidak tahu harus berbuat apa lagi selain itu. Ia takut salah langkah atau gegabah sehingga ia hanya dapat menunggu apa yang akan terjadi nanti.


Ia terpaku untuk waktu yang panjang menurutnya dan tidak ada yang terjadi. Tiba-tiba, ia merasakan pundak kirinya terasa sangat berat.


Yiu membuka mata dan mendapati Wu Xiao yang telah menenggelamkan wajahnya di pundaknya sedangkan kedua tangan Wu Xiao memeluk erat punggung Yiu posesif seakan ia tidak akan membiarkan orang lain merebut miliknya.


Meski memeluknya dengan erat. Namun, telapak tangannya yang penuh darah ia sembunyikan di balik kain lengannya yang panjang.


Ia tidak ingin darahnya atau darah Hai Ran mengenai sedikit pakaian cantiknya.


Yiu yang setengah terkejut membalas pelukan itu dengan kaku, ia lebih terfokus pada pundak kirinya yang basah.


Wu Xiao menangis!


"Berjanjilah jangan tinggalkan aku apa pun yang terjadi."


Yiu mengerutkan alisnya sebelum menjawab canggung, "Aku berjanji. Sekarang jernihkan pikiranmu dan beri tahu kakakku, dia pasti akan membantu."


Wu Xiao mengusak-usak wajahnya di ceruk leher Yiu tanda setuju, menghirup aroma wangi peony miliknya sebelum berlari meninggalkan Yiu yang masih terpaku dengan beberapa patah kata yang semakin samar seiring jarak antar keduanya semakin lebar.


"Tetaplah di sini dan tunggu aku kembali, Jiefang Yiu."


♣♦♣


Braak...


"Kurang ajar! Kita harus kirim pasukan sekarang juga! Akan kuberi pelajaran anjing-anjing itu!"


"Pangeran Huang, tolong jaga bicaramu."


Huang yang saat itu tengah berada dalam diskusi darurat dengan beberapa petinggi kerajaan, para pangeran negeri barat, dan tentunya sang kepala pemerintahan tak dapat mengontrol emosinya.


Di ruangan diskusi yang tidak terlalu besar itu, ia menggebrak meja besar di depannya sembari mendesis tak lupa dengan asap imajiner yang keluar dari kedua telinganya sebelum ditegur untuk kembali menekan emosinya yang sudah di puncak.


"Maaf, Yang Mulia."


Xiao Ce yang melihatnya hanya menghela napas kecil, ia tahu jika adiknya sangat sensitif dengan nama Liu Yu beserta antek-anteknya.


Luka di hatinya lebih parah dibandingkan dengan Yiu atau dirinya sendiri, dan Xiao Ce mau tak mau harus menerima perubahan itu. Ia tidak bisa menyalahkan adiknya.


Walau kini adiknya berstatus Jenderal Besar Kerajaan tetapi pikiran adiknya saat ini sedang terbawa arus panas emosi sehingga ia harus menghindari pertanyaan untuk didi-nya.


"Wakil Jenderal Rong, silahkan beri masukan."


"Mohon ijin, Yang Mulia. Saya memiliki saran membagi pasukan untuk berjaga di dua daerah Zhang Wu serta satu pasukan susulan. Pasukan pertama harus segera diluncurkan mengingat ini merupakan keadaan genting, mereka akan diposisikan di perbatasan dan inti kerajaan sedangkan untuk pasukan tambahan adalah pasukan bantuan dengan persiapan yang matang dan peralatan yang lebih siap."


Xiao Ce menganggukkan kepalanya sebelum mengalihkan atensinya pada Ming Zijing.

__ADS_1


"Pangeran Ming Zijing, karena ini keadaan genting kamu bisa kembali ke kerajaanmu untuk memperingatkan kondisi saat ini pada Kaisar Ming sekaligus berjaga-jaga untuk menyiapkan pasukan di sana."


"Baik, Yang Mulia."


"Apakah ada masukan kembali?"


Semuanya terdiam tanda persetujuan akan rencana sang wakil jenderal.


"Baiklah. Pangeran Huang, silahkan pimpin pasukan bersama dengan Pangeran Wu Xiao."


Diskusi singkat itu pun akhirnya berakhir, Qiu Wang akhirnya mengirimkan bantuan lima ratus pasukan yang siap meluncur dengan komando Pangeran Huang sedangkan pasukan cadangan dipegang oleh Wakil Jenderal Rong.


"Yang Mulia, Jenderal Rong, maaf karena saya menganggu. Ada beberapa hal yang perlu dan harus saya bicarakan dengan kalian."


Xiao Ce dan Jenderal Rong menghentikan langkahnya sesaat setelah Yiu dengan wajah datar yang tertunduk menghalangi jalan keluar.


"Tolong ikut saya menuju kediaman saya."


Mendengar itu, Jenderal Rong sedikit terkejut dan merasa tak nyaman. "Maaf, Putri. Apakah itu ... saya tidak berani."


Mengerti akan pandangan itu, Yiu menjawab dengan suara lirih yang terlalu tenang serta tanpa ekspresi, "Saya hanya ingin menunjukan sesuatu .... Sesuatu yang bisa merubah sejarah."


Kedua pria itu membeku untuk beberapa saat. Jenderal Rong menunduk menghadap Xiao Ce untuk meminta persetujuan. Sebab, seorang laki-laki tidak diperkenankan memasuki harem istana apalagi kamar seorang putri kecuali sang kaisar atau keluarga inti kerajaan.


Xiao Ce lagi-lagi harus memijat kepalanya yang mendadak terasa pusing akibat kelakuan kedua adiknya.


Jika dipikir-pikir, meimei-nya juga bersikap aneh hari ini. Ia belum pernah melihat adiknya setenang, bukan, sedatar ini wajahnya setelah sekian lama, membuatnya sedikit merasa takut karenanya.


Ia juga tidak berbicara atau protes meminta diikut sertakan dalam misi kali ini seperti sebelum-sebelumnya. Sepanjang diskusi, wajahnya sedikit tertunduk dengan tatapan kosong dan bibir yang sedikit pucat.


"Yang Mulia, mohon ijinkan saya untuk memperlihatkannya pada Anda dan Jenderal Rong."


Xiao Ce dengan terpaksa menyetujuinya sehingga ketiganya kini berjalan menuju Paviliun Dahlia yang merupakan kediaman Yiu.


Ketiganya memasuki sebuah lorong yang cukup sempit dan berbelok-belok sebelum bertemu dengan sebuah pintu kayu usang di ujung jalan.


Yiu yang berjalan paling depan menghentikan langkahnya dan berbalik. "Saya ingin memberitahu satu hal lagi. Hal yang akan saya tunjukan hari ini berpotensi menyebabkan kekejaman perang dan kerugian yang semakin banyak. Oleh karena itu, saya ingin meminta satu hal yang harus dilakukan."


Kedua pria itu saling berpandangan sebelum mengangguk penasaran.


"Musnahkan dua senjata ciptaan saya ini setelah 'dia' dan kerajaannya musnah dan dunia kembali aman."


♣♦♣


Jarak antara Qiu Wang dengan Zhang Wu sekiranya adalah setengah hari perjalanan dengan kecepatan sedang, dengan kecepatan sekarang Wu Xiao memperkirakan ia akan sampai sebelum matahari terbenam.


Pasukan mereka terus berjalan tanpa henti, seolah tengah bertaruh dengan waktu.


Tidak sesuai perkiraan, mereka tiba di perbatasan saat matahari telah terbenam.


Benar saja. Keadaan di perbatasan sangat kacau, dari atas gerbang masuk banyak api yang berkobar, sebagian batu gerbang terlihat hangus dan retak, kemungkinan besar akibat ledakan.


Banyak jasad-jasad bertebaran, sungai darah mengalir deras diiringi bau besi yang menyengat. Suasana sudah sangat sepi, hanya menyisakan kekacauan di sana-sini.


Mereka terlambat.


Tidak ada yang tersisa.


Seseorang mendekati mayat prajurit di dekatnya, ia menyentuh nadi di lehernya lalu beralih menyentuh luka tusuk yang sudah berlumuran darah.


Ia bangkit berdiri kemudian mendekati titik bekas ledakan terjadi, hanya dengan sekali sentuh pria itu berkata pada Pangeran Huang, "Tubuh mayat itu masih hangat dan darah di tubuhnya masih mengalir, belum mengental. Abu ledakan ini belum terlalu dingin. Saya memperkirakan mereka baru saja pergi tepat saat matahari terbenam dan itu belum terlalu jauh untuk menyusul sekarang."


Pangeran Huang mengangguk menanggapi, maniknya tertuju pada Wu Xiao yang berjarak tidak terlalu jauh di depannya.


Wajah Wu Xiao seketika kehilangan warnanya, ia berhenti menarik napas saat mengedarkan pandangannya, tangan kanannya yang memegang tali kekang kuda sedikit gemetar.


Maniknya seketika berkabut, pandangannya memudar, kaki dan punggungnya terasa lemas sehingga ia bahkan berpikir akan menjatuhkan dirinya ke tanah.


Derap langkah kuda mendekat ke arah Wu Xiao berada. Tepukan ringan dari orang itu mendarat di bahu Wu Xiao sembari berkata, "Ini bukan waktunya bersedih. Masih ada yang harus kamu selamatkan, mereka masih belum jauh dari sini."


Wu Xiao melirik dari sudut matanya dan mendapati Huang sudah berada di sampingnya. Wu Xiao mengangkat kepalanya, ia mempererat genggamannya pada tali kekang kuda sebelum menyentakkan kaki dan tangannya.


Melihat Wu Xiao yang telah memacu cepat kudanya menembus jalanan yang gelap, Huang segera melakukan hal yang sama bersama dengan sebagian pasukannya sesuai dengan rencana awal.


Tak lama kemudian, mereka mulai memasuki kawasan hutan lebat, Wu Xiao masih memacu cepat kudanya bahkan sudah meninggalkan prajuritnya yang sudah berlari sekuat tenaga di belakang.


Tiba-tiba kecepatannya melambat, Wu Xiao memacu kembali kudanya untuk berlari lebih cepat. Namun, sia-sia saja.


Kudanya berhenti dan kemudian ambruk ke tanah dengan perut yang mengembang kempis dengan cepat ditambah ia menindih kaki Wu Xiao yang ikut terjatuh bersamanya.

__ADS_1


Beruntung, Wu Xiao tidak mengalami luka dan berhasil menarik kakinya keluar. Tak lama, pasukannya datang menyusul dengan Huang yang sampai lebih dulu.


Ia turun dari kudanya dan menghampiri Wu Xiao. Wajahnya tampak tenang di bawah sinar rembulan, sebab hanya dan harus dia yang dapat berpikir jernih untuk sekarang ini mengingat kondisi Wu Xiao yang tidak stabil.


Ia mengamati Wu Xiao yang nampak frustasi, Huang lagi-lagi hanya dapat menepuk-nepuk pelan pundak Wu Xiao. Hanya itu yang dapat ia lakukan, menghibur laki-laki jauh lebih susah daripada menghibur wanita.


Cara menghibur mereka tidak dapat disamakan, tidak mungkinkan ia menghibur pria kekar dengan pelukan atau bahu untuk bersandar serta elusan lembut di rambut sepanjang malam.


Bisa-bisa ia akan habis babak belur!


"Kita harus istirahat. Lihatlah kudamu, dia kelelahan, begitu juga prajuritku. Mereka sudah berlari separuh hari, setidaknya biarkan mereka beristirahat hingga pagi."


Wu Xiao menatap tajam Huang penuh intimidasi seakan menolak penawarannya.


Huang yang ditatap begitu segera memutar otak untuk beralasan. "Pasukan Hai Ran pasti juga tengah beristirahat, mereka baru saja menaklukkan gerbang dan pasti sangat kelelahan .... Kita akan berangkat sebelum matahari terbit, bagaimana? Dengan begitu kita bisa menyusul mereka, 'kan?"


Wu Xiao masih tidak menjawab. Namun, dirinya segera mendudukkan dirinya ke tanah sembari mengacak-acak rambut panjangnya yang sudah tak berbentuk.


Huang menghela napas dan memberi isyarat untuk istirahat dan membangun kemah.


.


.


.


Sinar samar sang mentari mulai menghiasi langit di ufuk timur, pasukan Huang dan Wu Xiao memulai perjalanan mereka.


Mentari semakin naik dan terus naik. Namun, udara dingin khas pagi hari masih setia menyelimuti.


Tepat ketika udara mulai memanas, pasukan Huang memasuki ibu kota. Lagi-lagi mereka kalah selangkah.


Prajurit Bai Qing sudah berhasil menerobos ibu kota yang sebenarnya adalah yang paling sulit untuk diterobos jika dibandingkan dengan negara barat lainnya.


Jalanan ibu kota nampak sepi, seluruh jendela dan pintu warga tertutup rapat, dan terdapat beberapa mayat prajurit yang tergeletak malang di pinggir jalan.


Pasukan itu terus berjalan tak kenal gentar hingga suara denting pedang yang bersahutan semakin terdengar jelas berada di kawasan istana.


Pemandangan yang selanjutnya telah dapat ditebak. Istana telah diterobos! Awalnya pasukan Zhang Wu berada dikeadaan yang sulit. Namun, bala bantuan yang di bawa Wu Xiao sedikit membantu mereka.


Seperti perkiraan, pasukan Bai Qing datang dengan persiapan yang sangat matang. Buktinya mereka dapat menerobos pertahanan Zhang Wu yang terkenal sangat kuat.


Meski mendapat bala bantuan, itu hanya mengurangi sedikit kemungkinan menjatuhkan kerajaan lebih cepat.


Wu Xiao menerobos kerumunan dengan kudanya sembari tangan kanannya sibuk mengayunkan pedang pada prajurit Bai Qing.


Ia kemudian turun dari atas kudanya dan segera berlari melewati aula utama menuju harem istana. Ia harus segera menemui Kaisar dan Permaisuri.


Ia terus mengedarkan pandangannya selagi tangannya tak henti untuk menebas prajurit Bai Qing yang berusaha menghadangnya.


Saat melewati taman istana di pojok timur kerajaan ia sekilas melihat siluet dua wanita tengah berlari dari kejaran prajurit Bai Qing tak jauh di belakang mereka.


Mereka tampak tak asing, membuat Wu Xiao semakin berlari mendekati mereka dengan susah payah.


Tunggu.


Prajurit itu sudah tepat di belakang mereka dan siap mengayunkan pedang.


"Ibu! A-Yi!"


*Ting....


Sring....


Sring...


Bruk*...


Seseorang datang menghalau pedang itu dan kemudian menghindar untuk melakukan tebasan kilat dua kali sebelum menendang prajurit itu ke tanah hingga tak dapat mengerakkan ujung jarinya.


Kedua wanita itu menengok ke belakang, salah satu wanita itu berteriak, "Ayah!"


"Lari!!"


Belum sempat mereka lari, prajurit Bai Qing datang dari arah belakang dan mencoba menusuk jantung Kaisar Zhang Wu itu.


Wu Xiao yang melihat dari jauh spontan berteriak, "Ayah, awas!"


*Jleb....

__ADS_1


Dor dor dor*....


TBC


__ADS_2