Flower Of War

Flower Of War
Chapter 4 : Senyum Itu Hadir Kembali


__ADS_3

Suara Permaisuri yang terkesan menakutkan berhasil membuat nyali gadis yang disebut Permaisuri tadi menciut dan tubuhnya berubah gemetar.


"Ibunda? Apa yang ibunda lakukan disini? Dan apa maksud ibu memanggil Putri Ying disini? Aku tidak melihat Putri Ying disekitar sini dari tadi."


Permaisuri tak menggubris pertanyaan Pangeran Huang dan langsung menarik telinga prajurit yang berada didepan Pangeran Huang.


"Kenapa kau tak mengenali adikmu sendiri A-Huang? Dia adalah Putri Ying. Lihatlah tanda lahir dibelakang telinganya."


"Aduh sakit bunda.. Akhh.." Yiu meringis kesakitan.


Yiu terkejut sembari menahan sakit, kini di dalam hati ia bertanya tanya bagaimana bisa wanita ini bisa mengenali penyamarannya?


Permaisuri langsung menyibak rambut Yiu yang menutupi bagian belakang telinganya dengan tangan kanan memperlihatkan tanda lahir berbentuk bulan sabit dibawah telinga kanan Putri Ying.


Apa?!! Bagaimana bisa dia menipuku? Aku bahkan nyaris tak mengenalinya sama sekali lalu Sejak kapan Ying bisa memanah bahkan caranya memanah terlihat asing dari mana dia belajar itu semua?


"Jadi dia Putri Ying ibunda? Kenapa dia menyamar sebagai prajurit lalu memperkenalkan diri sebagai prajurit baru bernama Hua Zhou?."


Pangeran Hwang masih belum percaya prajurit yang sangat pandai memanah ini adalah Putri Ying begitu juga Jendral Sui dan semua prajurit yang berada dilapangan tersebut, satu hal yang membuat Pangeran Huang yakin tanda lahir yang berada dibelakang leher Putri Ying adalah tanda lahir yang hanya dimiliki dirinya.


"Kau ini bagaimana bisa tak mengenali adikmu sendiri apakah ada orang yang memiliki tanda lahir yang sama persis seperti milik Ying didunia ini? Dan kau malah mengajaknya bertanding memanah kalau Ying terluka bagaimana!"


"Ma.. Maafkan Huang Ibunda, Huang sama sekali tidak tau bahwa Hua Zhou adalah Putri Ying ibunda" ucap Pangeran Hwang sambil menundukkan kepala.


Permaisuri menghela nafas.


"Ya sudah, Kembalilah berlatih dengan prajuritmu, biar anak nakal ini menjadi urusanku"


Permaisuri berjalan meninggalkan tempat berlatih prajurit dengan tangan kanan yang bertengger manis ditelinga Yiu.


Pangeran Hwang yang melihat Permaisuri pergi dengan Putri Ying hanya bisa terpaku melihat kejadian yang tak dipercayainya hingga tubuh mereka berdua hilang dibalik dinding istana.


Yiu hanya bisa pasrah dan mengikuti tarikan permaisuri ditelinganya sembari sesekali meringis menahan sakit di telinga kanannya.


Beberapa prajurit dan pelayan yang tak sengaja berpapasan dengan mereka berdua memberi salam namun dengan raut muka binggung kenapa telinga seorang prajurit bisa ditarik oleh Permaisuri bukankah hal itu dilarang?.


Kenapa aku tak dapat melawan? Bukankah dia hanya menarik telingaku kenapa aku malah menurut dengannya? Ada apa dengan dirimu Yiu kenapa kau menjadi selemah ini.


♣♦♣


Setelah berada dikamar milik Putri Ying, permaisuri melepaskan tangannya dari telinga Yiu.


Sontak Yiu memegang telinga kanannya yang sudah memerah, ia harus memastikan telinganya tidak terlepas dari tempatnya.


"Kenapa kau menyamar sebagai prajurit dan mengikuti latihan memanah hah?!"


"Kenapa kau kabur dari pelajaran tata krama dan sopan santun seorang putri bangsawan?! Jawab pertanyaan ibunda Ying."


Pertanyaan yang bertubi-tubi dari Permaisuri membuat Yiu semakin bungkam dan tak bisa berkata kata.


"Itu.. Itu.. Eghh itu.."


Yiu menunduk dalam tak berani menatap wanita didepannya, Lidah Yiu terasa kaku dan tak bisa digerakan, ia masih mencari jawaban untuk menjawab pertanyaan wanita didepannya ini.


"Maafkan ibunda Ying, Ibunda sangat khawatir denganmu dan keselamatanmu karena keselamatanmu adalah yang terpenting di hidup ibunda, maafkan ibunda ya"


Suara permaisuri melembut sembari memeluk Putri Ying yang masih berdiri kaku seperti terkunci.


"Ibunda tadi panik saat bertemu dengan Chi chi yang terlihat resah seperti mencari seseorang dan ternyata dia mencarimu"

__ADS_1


Permaisuri mulai menceritakan kejadian tadi.


Flashback on...


Chi chi telah selesai belajar pelajaran yang sungguh membuat dia pusing, dengan segera ia mengganti pakaiannya dengan pakaian pelayan lalu bergegas menuju kamar sang putri.


Saat tiba dikamar Putri Ying, Chi chi tak menemukan keberadaan tuannya dan mencarinya hingga sudut sudut kamar namun nihil, ia tak menemukan tuannya.


Chi chi pun bertanya ke prajurit yang berjaga didepan pavilium milik Putri Ying.


Prajurit tersebut tak melihat Putri Ying keluar namun mereka curiga saat melihat seorang prajurit keluar dari pavilium Putri Ying dan wajahnya sedikit cantik. Padahal seorang prajurit dilarang masuk ke dalam pavilium wanita bangsawan tanpa persetujuan kecuali seorang kasim.


Dengan langkah yang tergesa-gesa Chi chi segera menuju ke tempat pelatihan prajurit, ia menduga putri menyamar menjadi prajurit agar ia bisa mengikuti latihan prajurit tanpa dicurigai bahwa dia seorang putri. Chi chi mulai mengerti perilaku baru sang putri.


Ditengah jalan Chi chi bertemu dengan Permaisuri yang baru datang setelah 3 hari berada diluar kota menemani Kaisar berkunjung menjalin kerjasama dengan sekutu barunya.


Permaisuri yang ingin mengunjungi Putri Ying pun menanyakan kemana Putri Ying berada dan kenapa Chi chi berjalan seperti orang yang kehilangan sesuatu.


Chi chi pun mulai menceritakan semuanya kepada permaisuri mulai dari Putri Ying yang menyuruh dirinya mengantikan dirinya saat pelajaran tata krama dan sopan santun hingga dugaannya jika Putri Ying berada di tempat pelatihan prajurit


Permaisuri, Chi chi dan para dayang yang menemani permaisuri segera menuju ke tempat pelatihan prajurit.


Sesampainya disana, permaisuri binggung mencari keberadaan Putri Ying namun maniknya menangkap 2 pemuda yang sedang memanah ditengah lapangan, dia adalah Pangeran Huang dan seorang prajurit biasa.


Tapi tunggu, saat prajurit itu melepaskan anak panahnya dan tak sengaja membuat rambut yang menutupi telinga kanannya bergerak kebelakang memperlihatkan tanda lahir berbentuk bulan sabit dibawah telinganya.


Permaisuri langsung dapat mengenali siapa prajurit itu, ia yakin bahwa prajurit itu adalah Putri Ying yang sedang menyamar.


"Putri Ying apa yang kau lakukan disini?!"


Flashback Off.


Ying tertunduk dalam tak berani memandang manik coklat terang ibundanya itu.


Permaisuri tersenyum tulus sembari membelai rambut Ying yang berantakan.


"Sudahlah sekarang cepat mandi dan ganti pakaianmu, ibunda ingin mengajakmu berkeliling istana, Ying"


"Tapi Ying masih dihukum oleh ayahanda dan tidak dibolehkan keluar dari pavilium ini ibunda."


"Tak apa Kaisar pasti akan mengerti jika ibunda jelaskan penyebabnya dan juga selama kau tidak kabur dari sisi ibunda"


Yiu tersenyum sembari mengangguk, ia bergegas mandi dan berpakaian rapi.


Setelah melewati beberapa dupa pembakaran, Yiu sudah siap dengan mengenakan hanfu perpaduan warna hitam dan merah dengan rambut disanggul kecil dan diberi hiasan manik manik, dan tanpa menggunakan make up menambah kesan natural dan sederhana.


"Ying sudah siap ibunda mari kita berkeliling" ucap Yiu bersemangat.


Entah sejak kapan sikap manja Yiu muncul, ia merasa nyaman berada didekat wanita yang merupakan ibunda Ying.


"Baiklah, mari kita keluar" Permaisuri tersenyum manis bahkan sangat manis menurut Yiu.


♣♦♣


Matahari jingga bersinar terang diufuk barat, langit berawan berwarna jingga nan ungu serta hembusan angin sore melengkapi indahnya sore hari.


Yiu terlihat bahagia saat menghabiskan waktu bersama Permaisuri. Yiu belum pernah tersenyum sebanyak ini saat berada di Akademi Kemiliteran, bahkan bisa Yiu hitung dengan jari berapa kali ia tersenyum tulus setiap harinya.


Permaisuri adalah sosok ibu yang perhatian dan penyayang, terkadang Yiu merasa iri dengan Ying yang bisa mendapatkan kasih sayang seorang ibu berbanding jauh dengan dirinya yang hidup hanya dipenuhi dengan latihan latihan dan latihan dengan sang kakek, terkadang Yiu kecil hanya bisa menangis sendirian saat melihat teman sebayanya bermain dengan ibunya.

__ADS_1


Setelah bercerita sambil berkeliling istana dengan sang permaisuri, akhirnya Yiu kembali ke pavilium. Ekspresi datar nan dingin kembali ditunjukan oleh Yiu, saat perjalanan Yiu tak sengaja bertemu dengan Pangeran Huang.


"Hei Ying, tunggu sebentar"


Yiu yang mendengar namanya disebut mulai melambatkan langkahnya.


"Ada apa?" ucap Yiu datar.


"Aku hanya ingin bertanya dari mana kau bisa belajar memanah sehebat itu?" Pangeran Huang terlihat sangat penasaran.


"Bukan urusanmu" Yiu masih tetap datar sembari mempercepat langkahnya membuat Pangeran Huang sedikit berlari mengejar Yiu.


"Kenapa kau berubah tak biasanya kau cuek, apa kau marah padaku?"


Yiu tak menghiraukan ucapan kakaknya itu


"Hei aku bicara padamu bodoh!"


Yiu yang tak terima akan ucapan sang pangeran menghentikan langkahnya dan beralih menatap tajam manik mata coklat gelap milik Pangeran Huang.


Tanpa pikir panjang Yiu segera melanyangkan tinju dan membanting tubuh Pangeran Huang kelantai.


Bugh..


Brukkk..


"Jaga ucapanmu itu Pangeran!"


Yiu bangkit dan melanjutkan langkahnya menuju pavilium menyisakan Pangeran Huang yang masih belum percaya bahwa adiknya Ying telah berubah drastis.


"Dia pasti jelmaan moster, tenaganya begitu kuat akh" ucap Pangeran Hwang berusaha berdiri sambil memegang pinggangnya yang terasa sedikit sakit.


♣♦♣


"Chi chi apa kau mengetahui dimana tempat pembuatan senjata dikerajaan?"


Yiu bertanya pada chi chi yang berdiri dibelakangnya tanpa menoleh dan masih sibuk menggambar sesuatu.


"Hamba mengenal satu tempat pembuatan senjata yang cukup bagus dipusat kota Putri, apakah putri ingin membuat senjata?"


"Ya aku ingin membuat senjata yang akan sangat membantuku. Besok tolong kau antarkan aku ke tempat itu ya" Yiu berbalik dan tersenyum singkat pada Chi chi sebelum berkutat dengan gambarnya lagi.


"Bukankah putri masih dihukum? Bagaimana caranya putri bisa keluar tanpa seizin kaisar?" Chi chi terlihat masih binggung dengan pemikiran Yiu.


"Apa kau lupa bagaimana caraku menyamar kemarin? Apakah itu kurang membuktikan diriku ini sangat pintar dalam hal menyamar?" Yiu tertawa sombong. Pelayan Chi chi menggaruk lehernya yang tak gatal.


"Baiklah putri apapun yang membuat putri bahagia" Chi chi tersenyum manis kepada Yiu dan dibalas pelukan singkat dari Yiu.


"Terima kasih sahabatku."


Disisi lain sejak tadi terdapat seseorang berbaju serba hitam bersembunyi diantara dedaunan dan memperhatikan aktivitas mereka berdua. Orang itu mengeluarkan smirknya dan berlari menjauh dari pavilium Putri Ying.


TBC


**Jangan lupa tinggalkan jejak..


Terima kasih sudah mau baca.


Salam hangat dariku😊**

__ADS_1


__ADS_2