Flower Of War

Flower Of War
Chapter 65 : Apa Aku Berlebihan?


__ADS_3

Keduanya saling berpandangan dengan wajah penuh tanda tanya.


Wu Xiao menyambar gulungan itu dan mulai memeriksa detailnya. Detail peta itu digambar sangat jelas dan akurat.


"Apakah peta ini bisa dipercaya?"


Wu Xiao masih terdiam sebelum sesaat kemudian menggelengkan kepalanya cengo.


"Ini bisa menjadi dua kemungkinan, orang di balik ini ingin membantu kita secara diam-diam atau kemungkinan yang paling umum adalah, ini sebuah jebakan."


"Apa kau mempercayainya?"


Wu Xiao menggelengkan kepalanya sekali lagi membuat Yiu semakin menekuk dalam keningnya.


"Lebih baik kita bawa peta ini pada ayahku dan biarkan mereka yang menyelidikinya."


Wu Xiao segera menarik tangan Yiu menuju tangga. Bertepatan dengan itu sebuah kerumunan menaiki dan memenuhi jalan di tangga.


Sepertinya mereka mendengar bunyi aneh dari atas dan melihat seseorang berlari seperti orang kesetanan, timbullah rasa penasaran tetapi juga menimbulkan perasaan mencekam.


Di paling depan kerumunan, berdiri sang pemilik kedai. Ia celingukan sebelum bertanya pada Yiu dan Wu Xiao.


"Maaf, Tuan dan Nona, keributan tadi ...."


Wu Xiao segera menempatkan Yiu tepat di belakang punggungnya lalu bergegas membelah kerumunan dengan tubuh kekarnya sembari berteriak sebelum menghilang di balik dinding kedai, "Hanya pertengkaran kecil. Aku akan mengirimkan ganti rugi secepatnya!"


♣♦♣


"Dimana kalian mendapatkan ini?"


"Seseorang menyerang kami dengan panah saat kami sedang berada di kedai arak, Ayah."


Kaisar Wu menekuk turun alisnya. "Aku sepertinya sedikit mengenal daerah ini. Ayah akan kirimkan mata-mata untuk mengintai."


Wu Xiao tersenyum cerah dan membungkuk diikuti oleh Yiu.


"Sebelum kalian kembali aku ingin memberi sebuah kabar pada Putri Ying. Kaisar Qiu Wang baru saja mengirimkan pesan untukmu dan kakakmu untuk segera menuju Guang Ming. Kamu akan berangkat dengan pasukan pemanah terhebat milik Zhang Wu, tolong didik mereka dengan baik, Putri Ying."


Yiu segera mengerti ucapan Kaisar Zhang Wu dan menunduk patuh. "Perintah diterima."


Mendengar itu, Wu Xiao tak mau kalah. "Kalian merencanakan apa, Ayah? Kenapa aku tidak ikut? Aku juga termasuk pemanah terbaik di kerajaan ini, kenapa aku tidak diikutkan?"


Kaisar Wu menghela napas. "A-Xiao, kamu lebih baik tetap disini dan melatih pasukan berpedang, biarkan Putri Ying dan Pangeran Ming Zijing yang melatih pasukan pemanah kita."


Mendengar nama Ming Zijing membuat fantasi Wu Xiao berkeliaran tak tentu arah yang membuatnya semakin keras kepala.


Ia beralih pada Yiu, menggoyang-goyangkan lengannya sembari merengek layaknya anak kecil tanpa rasa malu, "Liying... boleh aku ikut? Aku ingin ikut! Aku bisa jadi pesuruhmu tenang saja!"


Yiu mengalihkan wajahnya yang putus asa pada Kaisar Wu, membuat sang kaisar yang terkenal penuh wibawa itu ikut memijat pelipisnya sembari mengayunkan tangan pasrah.


Melihat itu, Wu Xiao bersorak senang sebelum berterima kasih pada sang Ayah dan menarik Yiu keluar dari ruang kerja kaisar tanpa sempat memberi hormat.


♣♦♣


Perjalanan mereka menuju ibu kota Guang Ming dipimpin oleh Wakil Jenderal Rong beserta dua puluh pasukan pemanah elite dan selusin pasukan khusus dari Kerajaan Zhang Wu yang bermandikan cahaya oranye dan hawa dingin di pagi itu.


Pasukan itu berangkat pagi-pagi sekali agar segera dapat sampai sebelum matahari terbenam.


Hal itu dikarenakan kekhawatiran Pangeran Huang akan senjata ciptaan adiknya akan dirampas di tengah perjalanan jika mereka nekat menerobos malam.


Di dalam kereta kuda sederhana duduklah Pangeran Huang, Yiu, dan Wu Xiao dalam suasana canggung.


Huang dan Yiu duduk bersebelahan sedangkan Wu Xiao berada di bangku seberang. Suasana begitu canggung sampai membuat Yiu heran bagaimana bisa dua orang gila yang ada di hadapannya ini bisa menjadi setenang ini.


Mereka hanya saling berpandangan satu sama lain tanpa ekspresi dan tak nampak niat dari keduanya untuk membuka topik terlebih dahulu.


Apakah mereka sedang melakukan telepati? Bagus sekali! Mereka bertengkar lewat telepati tanpa mengajak ataupun mengajariku caranya!, batin Yiu.


Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, pasukan itu telah sampai di gerbang ibu kota Guang Ming tepat sebelum matahari terbenam seutuhnya.


Pasukan mereka yang membawa dua kereta kerajaan itu segera disambut hormat dan di jaga ketat menuju istana.


Huang turun lebih dulu disusul oleh Wu Xiao lalu Yiu. Baru saja hendak melangkahkan kakinya ke tangga kereta, dua telapak tangan terulur padanya.

__ADS_1


Yiu menatap kedua tangan yang hendak membantunya untuk turun itu. Uluran tangan itu tak lain dan tak bukan berasal dari kakaknya dan Wu Xiao.


Yiu terdiam beberapa saat sebelum Hwang menampar tangan Wu Xiao agar tidak menyentuh adiknya, tak lupa dengan tatapan matanya yang seolah-olah bola mata itu akan keluar dari tempatnya.


Yiu yang melihatnya sedikit merinding dan memilih menggapai tangan sang kakak untuk menuruni tangga, itu lebih baik daripada memperpanjang masalah.


Ketiganya berjalan mendekati Ming Zijing yang berdiri tak jauh dari ketiganya dengan pakaian putih berkilaunya.


"Selamat datang Pangeran Huang, Pangeran Wu Xiao, dan Putri Ying."


Setelah acara penyambutan singkat, ketiganya diarahkan oleh Ming Zijing untuk bertemu dengan Kaisar Ming yang sudah menunggu di ruang kerjanya.


Pertemuan itu tidak terlalu memakai banyak ritual penyambutan, pertemuan pribadi itu lebih mengarah ke diskusi penting.


Kaisar Ming segera mempersilakan mereka duduk kemudian mempersilakan Yiu untuk menjelaskan maksud kedatangannya atas surat dari sang kakak.


"Saya membenarkan surat Kaisar Wang Xiao Ce tentang penemuan senjata baru saya, Yang Mulia. Ijinkan saya memperkenalkannya senjata yang akan menjadi poin unggul kita dari Bai Qing."


Yiu membuka sebuah kotak kayu besar di sampingnya. Pertama, ia mengeluarkan sebuah gelang yang di atasnya terpasang sebuah mekanisme pipih lalu memasangkannya di pergelangan tangan.


"Ini adalah senjata yang pernah saya berikan pada Pangeran Ming Zijing dan Pangeran Wu Xiao, Yang Mulia. Senjata ini telah berkontribusi banyak dalam perang di Zhang Wu. Senjata ini ringan dan sangat mudah dibawa sebagai perlindungan diri. Jika jarum senjata ini diluncurkan dapat membunuh target sejauh puluhan kaki."


Yiu membalikkan badannya kemudian menembak tiga guci yang telah disiapkan di aula tersebut hingga serpihannya berserakan di lantai, membuat Kaisar Ming semakin antusias.


Yiu lalu mengeluarkan pistol berkerangka kayu dengan pelatuk yang terbuat dari rangkaian besi.


"Selanjutnya adalah senjata dengan cara kerja hampir sama dengan panah, Yang Mulia. Bedanya, kecepatan tembak dari senjata ini seratus kali lebih cepat dari panah biasa, tak tertangkap mata."


Seluruh orang yang berada di ruangan itu terpaku sejenak melihat penampakan benda yang tampak asing itu. Yiu mengambil amunisi dari kantung pinggangnya dan memasukkannya ke dalam pistol miliknya.


Ia mengangkat lurus kedua tangannya, bersiap membidik. Sebelum menarik pelatuk, Yiu menolah pada Kaisar Ming. "Mungkin suara dari benda ini akan cukup keras, Yang Mulia. Jadi, saya harap Anda untuk menutup telinga."


Sang kaisar diikuti para pangeran pun menutup kedua telinga mereka. Sebuah ledakan terdengar sangat sangat keras, membuat jantung mereka berdebar sangat keras. Nyala lilin-lilin kecil yang menerangi penjuru ruangan itu mulai mengeliat.


Ming Zijing memberanikan diri untuk mendekati meja penuh serpihan guci yang hancur, maniknya seketika membulat.


"Ayah, ini menembus dinding."


Tanpa pikir panjang ia segera keluar untuk mencari kemana peluru itu mendarat, ketiga pangeran mengekor di belakangnya.


Yiu menyambar obor yang dilewatinya dan mulai mengukur garis lurus dari lubang dinding itu dan menemukan peluru itu tersangkut di salah satu pagar batu tak jauh dari ruang kerja sang kaisar.


Beruntung ini tidak mengenai seseorang.


Para pangeran yang mengekor pun lagi-lagi dibuat takjub, terutama Huang.


"A-Ying, dari mana kamu mendapatkan ide membuat monster kecil ini...."


Yiu tak membalas, ia berbalik dan segera kembali menuju ruang kerja sang kaisar.


"Maaf, Yang Mulia. Saya merusak tempat kerja Anda. Tolong hukum saya, Yang Mulia."


Kaisar Ming hanya tersenyum kecil lalu menjawab, "Baiklah, ini kamu sendiri yang meminta. Aku akan memberikan hukuman yang pantas untukmu."


Wu Xiao dan Huang sudah bersiap ingin mengajukan semprotan andalan keduanya. Namun, sang kaisar lebih dulu menginterupsi.


"Hukumannya adalah melatih para prajurit khusus yang dikirim oleh lima negara untuk berlatih senjata terbarumu itu. Semua biaya pembuatan senjata ditanggung oleh lima kerajaan jadi kamu tidak perlu khawatir."


Yiu yang hampir panas dingin itu menghela napas lega mendengarnya. Ia membungkuk hormat dan berterima kasih.


"Putri Ying, tolong ajari para pangeran yang sekiranya memenuhi syarat, terutama Ming Zijing, ia yang paling berpengalaman dalam hal memanah."


"Dengan senang hati, Yang Mulia."


Keempat orang itu keluar dari ruang kerja kaisar. Wu Xiao berlari kecil menyusul Yiu yang berjalan didepannya lalu menyikut ringan lengan Yiu.


"Liying, kamu juga akan mengikutkanku di pasukan, 'kan?"


Yiu merasa jantungnya seketika berdegup kencang entah karena kehadiran Wu Xiao yang tiba-tiba atau karena hal lain, ia tidak tahu pasti.


Meski begitu, ia mencoba tetap memasang wajah datarnya. "Tidak. Kamu seharusnya tidak ikut kemari, kamu lebih mahir dalam berpedang."


Wu Xiao seketika menekuk turun bibirnya, ia lagi-lagi menarik-narik ujung lengan pakaian Yiu.

__ADS_1


"Liying, kamu kenapa jahat sekali padaku.... Aku juga ingin berlatih senjata itu. Boleh, ya?"


Yiu menoleh malas dengan pertahanan hati yang sudah hampir runtuh, jika dibiarkan lebih lama lagi Wu Xiao akan bersikap seperti bayi dan mengekorinya sepanjang malam.


Tidak! Itu tidak baik untuk pertahanan yang sudah ia bangun sekuat tenaga, kini kondisinya nyaris ambruk hanya karena hal sederhana?


Itu tidak boleh terjadi!


Yiu menghempaskan lengan bajunya kasar, menjawab dengan wajah kesal, "Baiklah! Tapi ingat, jangan mengacaukan latihan."


"Siap, Putri Ying yang cantik!"


Ucapan itu sontak mendapat hadiah jitakan maut ke kepala Wu Xiao yang langsung benjol seketika. Yiu mempercepat jalannya menjadi berlari menyusul kakaknya yang jauh di depannya tengah asik berbincang dengan Ming Zijing, meninggalkan Wu Xiao yang meratapi kepalanya sendirian.


"Liying kau kejam sekali! Tapi tenang saja aku tetap menyukainya!"


♣♦♣


Pagi-pagi sekali Yiu sudah duduk di anak tangga di pojok lapangan kerajaan, mengawasi beberapa prajurit yang tengah menyiapkan hal-hal untuk latihan perdana hari ini.



Tak berselang lama, sebuah langkah kaki penuh semangat mendekat.


Tanpa perlu menoleh Yiu sudah tahu siapa pemilik langkah kaki itu. Tepat sebelum seseorang itu ingin mendudukkan diri di samping Yiu, Yiu sendiri sudah lebih dulu menggeser duduknya beberapa langkah membuat wajah orang itu memelas.


"Liying! Apa aku berbuat sesuatu yang salah? Kenapa kamu jahat sekali padaku akhir-akhir ini?"


"Berhenti merengek seperti anak kecil."


Wu Xiao tanpa malu kembali mendekat dengan senyum nakal di wajahnya. "Akui saja kamu suka diriku yang seperti ini, 'kan? Liying, wajahmu mungkin bisa membohongi orang lain tapi tidak untukku."


Yiu menghadiahkan tatapan nyalang pada Wu Xiao yang seketika membuatnya bergidik sebelum kembali mencondongkan badannya dengan kepala dipangku tangan. "Baiklah baiklah, aku diam saja di sini sambil melihatmu."


"Tidak bisakah kau serius disaat-saat seperti ini?! Ini bukan waktu untuk bercanda! Berhenti membuat kepalaku pusing!"


Bentakan itu terlihat tidak main-main. Wajah Wu Xiao terpaku tak percaya. Namun, setelah itu ia hanya diam dan mengubah duduknya menghadap lapangan dengan ekspresi murung.


Yiu sedikit merasa ia terlalu berlebihan pada Wu Xiao. Namun, ia merasa bahwa Wu Xiao hanya akan merajuk seperti biasa dan kembali mengacaukan segalanya nanti.


Tak lama, sekitar dua puluh prajurit pemanah terbaik milik Guang Ming sudah berbaris rapi dengan seragam lengkap di tengah lapangan yang mulai panas.


Disusul oleh Hwang dan Ming Zijing yang datang bersamaan dengan pakaian berlatih mereka.


"Hari ini aku ingin menguji kemampuan kalian dalam membidik sasaran yang memiliki guncangan kuat. Mari kuperkenalkan dulu dengan senjata baruku, senjata ini sangat berbahaya sehingga hanya orang-orang hebat saja yang bisa mengoperasikan benda ini, semoga orang-orang itu adalah kalian."


Yiu mulai mendemonstrasikan bagaimana cara memegang pistol dan cara kerja benda itu. Seluruh prajurit memperhatikan dengan penuh minat sekaligus takjub.


Seluruh prajurit itu lolos uji tembak meski masih jauh dari ekspetasinya, dan dari ketiga pangeran, sementara hanya Ming Zijing yang memiliki nilai paling tinggi bagi Yiu sehingga ia akan melatih Ming Zijing lebih ketat lagi sehingga ia dapat membantunya melatih pasukan lain.


Yiu sedikit salah fokus pada Wu Xiao yang wajahnya hampir sedatar papan penggilas. Ia merasa aneh jika Wu Xiao bisa seserius sekarang, tidak seperti biasanya.


Setelah selesai berlatih, Wu Xiao menjadi yang pertama pergi tanpa sedikit pun bicara, membuat Huang dan Yiu sedikit heran.


Setelah melatih Ming Zijing menembak beberapa kali, Yiu kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian. Di tengah jalan ia tak sengaja mendengar gosipan para pelayan harem.


"Aku sangat jarang sekali melihat Putri Ming Lihua sebahagia ini. Senyumannya seindah kuarsa biru."


"Apakah karena kedatangan Pangeran Wu Xiao? Setahuku mereka adalah sahabat dekat saat kecil. Apakah Putri Ming Lihua menyimpan rasa pada Pangeran Wu Xiao?"


"Bisa jadi, tadi pagi Putri Ming Lihua menyuruhku untuk memberikan teh buatannya pada Pangeran Wu Xiao. Dia bilang jika teh ini bagus untuk meningkatkan fokus tapi sayang, saat aku tiba Pangeran Wu Xiao sudah berada di lapangan dan sepertinya ia terlihat sangat marah tadi."


"Benarkah? Kita harus memberitahu Putri Lihua tentang ini. Siapa tahu kita dapat bahan obrolan baru lagi."


Beberapa pelayan itu bergosip cukup keras di sisi bangunan lain yang bersebrangan dengan Yiu.


Yiu tidak terlalu menaruh peduli pada Putri Lihua karena ia sendiri tidak mengenalnya, hanya saja ia sedikit penasaran tentang Wu Xiao yang benar-benar marah? Apa ucapannya menyakitinya? Padahal Yiu tidak serius saat mengatakan hal itu. Kepala Yiu semakin berdenyut sakit memikirkan hal itu.


"Aku akan meminta maaf padanya nanti."


TBC


A/N: Maaf ya karena dua bulan hilang kabar karena akun mangatoonku tiba-tiba keluar dan ga bisa log in dan hari ini baru bisa. maaf atas ketidaknyamanan ya😊🙏🏻

__ADS_1


__ADS_2