Flower Of War

Flower Of War
Chapter 50 : Shicuan Hot Pot


__ADS_3

Bayangan hitam dengan postur tegap perlahan terlihat semakin mendekat memasuki halaman dengan derap dari sepatu kulit mereka.


Terlihat pula dua postur tubuh lebih kecil mengalir di belakang lima pria tegap berseragam petugas keamanan, menyapu lantai dengan ujung gaun biru tua mereka yang mengombak pelan.


Memasuki ambang pintu, ada tiga pelayan Wu Xiao yang menyambut di sisi kanan kiri pintu dengan menundukkan kepala mereka, kelima prajurit itu melirik malas sebelum melangkah lebih jauh menuju sebuah kursi di tengah ruangan yang menampakkan sosok wanita yang cukup tinggi berpakaian merah muda yang tampak berdiri anggun dengan kipas bulat menutupi setengah wajah putihnya.


"Selamat datang tuan-tuan sekalian. Silahkan duduk."


Pemimpin mereka segera duduk bersamaan dengan Wu Xiao dan tanpa berbasa-basi segera membuka nada tegasnya, "Kami petugas keamanan wilayah Qiu Wang sedang menjalankan perintah mulia dari Yang Mulia Kaisar untuk mencari keberadaan seorang buron wanita yang berpotensi membahayakan keamanan negara dan memicu kericuhan negara. Tolong kerjasamanya!"


Wu Xiao diam-diam mengepal erat telapak tangan yang bersembunyi di balik kain lengannya hingga buku-buku jarinya memutih. Lalu menjawab dengan ringan dan suara sedikit meninggi, "Silahkan ajukan, Tuan."


Pemimpin kelompok itu mencondongkan badannya sedikit. "Siapa namamu?"


"Nama yang rendahan ini Ji HongYi, putri keluarga Ji dari kota Yan Cheng dari negara ZhangWu. Saya kemari karena tertarik mempelajari seni meracik teh yang merupakan keahlian warga Qiu Wang."


Petugas itu mengangguk dan melanjutkan dengan anak buahnya membuka gulungan yang di atasnya tergambar wanita berbaju besi dengan sepasang mata tajam, alis seruncing pedang, dan garis hidung yang tegas. Mengerikan!


"Kami mencari wanita ini ... apa Nona pernah melihatnya?"


Wu Xiao memandangi dengan seksama lukisan wanita yang terlihat hampir mirip dengan Yiu itu sebelum menggeleng pelan penuh kepolosan, "Tidak ... tidak pernah berjumpa."


Petugas itu tidak langsung percaya sebab telinganya terlalu jenuh mendengar pengakuan yang sama terus-menerus dari setiap rumah yang sudah mereka lalui.


Petugas itu kembali membuka mulutnya, "Berapa pelayan wanita yang ada?"


Bersamaan dengan itu sisa prajurit menyebar mengeledah seisi rumah mengantisipasi jika ada yang tengah bersembunyi.


Wu Xiao diam-diam mengutuk pelan dalam hati, "Bagaimana aku bisa lupa tentang pelayan wanita?!"


Ia terdiam sejenak penuh khidmat berbanding terbalik dengan otaknya yang tengah panas mencari alasan.


"Kami baru tiba di sini selama tiga hari dengan sangat terburu-buru. Saat perjalanan kemari kami beristirahat siang sebentar di hutan yang tak begitu jauh dari kota tapi kami dirampok sekelompok bersenjata dan saya hanya peduli untuk berlari saja ... Jadi tinggallah kami yang berhasil menyelamatkan diri. Beberapa kantung teh berharga milik saya pun turut dirampas, saya terlalu sedih dan terkejut bahkan saya hampir belum sempat menelusuri pasar untuk membeli beberapa budak. Jadi ... jadi ... yang rendahan ini mohon belas kasihan Tuan yang bijaksana."


Petugas itu mengerutkan alis ke bawah mendengar suara yang sedikit centil dan setelah melihat wajah rekannya yang menggeleng pelan ia pun melanjutkan, "Kalau begitu kami akan memeriksa pelayan pria. Semuanya tolong lepaskan pakaian kalian!"


Yiu yang berada di pojok ruangan bersama beberapa orang lainnya mengangkat kepalanya spontan, Terlalu terkejut hingga hampir terhuyung ke belakang.


Wu Xiao meliriknya sedikit sebelum gelagapan sebagai pengulur waktu berpikir, "A-aiyo ... ba-bagaimana Tuan bisa selancang itu! Hamba yang rendahan ini adalah wanita!"


"Hanya pelayan pria saja."


"Tidak! Ah bukan ... hanya saja saya masih terlalu kecil dan polos, mohon Tuan menggantinya menjadi sedikit lebih sopan untuk menghargai tuan rumah yang lemah ini."


Nadanya terdengar begitu lembut dengan sedikit suara serak yang entah mengapa terdengar seolah ia akan menangis walaupun yang sebenarnya terjadi adalah Wu Xiao tersedak pita suaranya sendiri.


Petugas itu sedikit tertegun dengan wajah putih yang kini sedikit memerah, melihat gadis cantik yang hampir menangis karena ulahnya, muncullah perasaan sedikit tidak tega di hatinya.


Petugas itu berdiri dan mendekat ke arah Wu Xiao yang masih tertunduk, perlahan jemari kasarnya mengangkat dagu itu membuat mereka beradu pandang sejenak, "Baiklah saya mempercayai Nona Cantik ini tapi saya tidak bisa melalaikan tugas ... Jadi bagaimana dengan meneliti wajah?"


Diperlakukan seperti itu, Wu Xiao merasa ingin memukul wajah busuk petugas sialan itu. Namun, dengan berat hati ia kembali mengurungkan niatnya lalu mengangguk menyetujui tanpa berucap.


Keempat petugas segera memeriksa pelayan di ruangan itu dan dua petugas wanita berjalan menghampiri Wu Xiao, mendekatkan wajah mereka dan mengamati setiap inchi lekuk wajah Wu Xiao.


Seumur hidupnya Wu Xiao tidak pernah merasa sehina ini! Dia tidak pernah dekat dengan wanita mana pun dan sekarang dua wanita berdiri terlalu dekat dengannya membuatnya menarik napas dan terpaku dengan keringat dingin mengucur deras di punggungnya.


Ia merasa ingin muntah saat ini juga!


Di lain sisi, Yiu berusaha setenang mungkin melihat petugas yang semakin mendekatinya, petugas pria itu mengamati wajahnya dan sedikit terdiam sembari membuka lukisan dan melebarkannya di samping wajah Yiu.


Bergiliran memandang cermat antara wajah dan lukisan itu, Yiu berusaha setenang mungkin menjaga raut wajahnya.


"Apa kau punya adik perempuan?" petugas itu berseru pada Yiu. Spontan Yiu menggeleng mantab.


"Kalian terlihat mirip tapi berbeda .... Kau punya janggut tipis," ucap pria itu sembari mengelus-elus singkat janggut Yiu untuk memastikan.


"Kita berbeda, Tuan. ... Saya sungguh tidak mengenal siapa Nona Ying."

__ADS_1


Petugas itu terlihat sedikit bodoh dan dengan cepat menyimpulkan dangkal dengan tidak memperhatikan kebocoran dari Yiu yang menyebut namanya sendiri lalu berlalu pergi.


Yiu bernafas lega.


Setelah tak menemukan apa pun mereka segera mengangkat kaki menuju rute selanjutnya.


Wu Xiao yang berdiri di ambang pintu segera menutup pintu kasar dan segera mengutuk, "Sialan! Berani sekali mereka! Cuih! Akan kubalas seribu kali lipat!!"


Yiu mendekat dengan langkah goyah, kakinya sedikit lemas untuk sesaat. Wu Xiao segera mengambil sapu tangan di lengan bajunya dan mencengkram dagu Yiu spontan, mengusap kasar dagu serta kedua pipinya hingga sedikit memerah.


"Berani sekali mereka menyentuh wajahmu! Mereka tidak berhak! Mereka pikir meraka siapa?!"


Lalu kau pikir kau siapa?!, batin Yiu.


Yiu merasa wajahnya semakin panas segera menampar turun tangan Wu Xiao sekaligus berusaha menyadarkannya.


Wu Xio sedikit tersentak, mengedarkan pandangannya menyapu sekeliling yang menatapnya penuh tanda tanya. Wajahnya berubah pucat dan dengan kasar berujar, "Bantu aku menghapus riasan sialan ini! Kalian cepat kembali bekerja!"


Blamm!


Wu Xiao menutup pintu kasar lalu mendudukkan dirinya di tepi ranjang kamarnya dengan wajah rumit selayaknya anak kecil yang tengah merajuk.


Yiu menarik turun ujung alisnya. "Apa yang salah denganmu?"


"Tidak ada!"


Yiu memutar bola matanya sembari mengangkat kedua bahu acuh tak acuh, berjalan ke luar kamar dan kembali membawa baskom berisi air hangat dengan kain putih tersampir di sisi baskom sebelum menyodorkannya ke Wu Xiao, "Bersihkan wajahmu."


Wu Xiao sedikit tersentak dan mendongak kemudian mengangguk.


"Ya! Menenggelamkan diri!"


Tangannya segera terulur mengambil baskom di tangan Yiu dan ....


Byurr ....


Yiu spontan menjambak rambut Wu Xiao, membuatnya mendongak.


"Apa kau gila?!"


Wu Xiao menarik napas besar, menoleh dengan wajah cengo. Yiu tidak mengerti ada apa dengannya. Namun, apa tadi Wu Xiao berniat bunuh diri? Otaknya memang sudah ingin bersatu dengan lautan!


Wu Xiao menggeleng cepat membuat tetesan air di wajahnya memercik ke segala arah setelah itu tersenyum cengo ke arah Yiu.


"Hah? ... Oh a-a-aku eh apakah riasannya sudah hilang?"


Yiu merasa tingkahnya sedikit aneh tetapi memilih tidak memikirkannya dan menggeleng rumit lalu mencela, "Kau terlihat mengerikan."


Wu Xiao kembali membenamkan wajahnya beberapa kali membuat air memercik kembali ke segala arah sembari berseru, "Kenapa tidak bisa hilang?! Kau apakan wajahku!"


Yiu berada di puncak kesabarannya. "Kau ini bodoh apa bagaimana! Membersihkan wajah saja tidak bisa!"


Tangan Yiu bergerak mengambil kain putih dan mencelupkannya ke baskom lalu memerasnya. Menarik wajah Wu Xiao untuk menghadapnya dengan sedikit kasar kemudian membersihkan perlahan wajah Wu Xiao dengan terampil.


Wu Xiao mematung beberapa saat, wajahnya terlihat sedikit memerah mungkin karena efek air hangat yang membasuh wajahnya.


Pandangannya tidak bisa lepas dari wajah Yiu yang tengah serius membasuk wajahnya. Ia berkedip beberapa kali untuk memastikan ini nyata atau hanya khayalan.


Menyadari ini bukanlah bagian dari fantasinya, Wu Xiao merasa jantungnya entah mengapa memacu begitu cepat, dan perasaan aneh dan asing menjalar ke seluruh tubuhnya bagai petir.


Apa yang terjadi denganku? pikirnya tidak mengerti.


"Nah selesai. Sekarang kau ganti pakaianmu. Jangan bilang kau tidak tahu caranya!"


Yiu beranjak sembari membawa baskom itu bersamanya dan segera keluar kamar menyisakan Wu Xiao sendirian yang sedari tadi menjadi pendiam di dekat Yiu.


Keesokan harinya.

__ADS_1


Wu Xiao dan Yiu mengunjungi pasar kota dengan menggenakan pakaian menyamar mereka, berjalan menyusuri pasar untuk menyelidiki situasi kota dan mendapatkan petunjuk tentang kedua giok Qiu Wang.


"Ingin makan dan menghangatkan diri?" Wu Xiao tiba-tiba bersuara dan langkah kaki mereka terhenti di rumah makan yang cukup terkenal di kawasan ibu kota.


Yiu mengangguk dan keduanya melangkah masuk. Di ambang pintu, terlihat seorang pelayan yang segera mengarahkan mereka di meja dekat perapian sembari berkata, "Kedua Tuan Muda ini ingin memesan apa?"


Yiu melepaskan jubah bulunya lalu menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari mantelnya, "Satu Sichuan Hotpot saja."


"Ekstra pedas, tolong," tambah Wu Xiao.


Pelayan itu mengangguk dan segera pergi setelah menuangkan teh hangat ke cangkir untuk keduanya.


Tak menunggu lama pesanan mereka pun tiba akibat keadaan rumah makan yang tidak terlalu ramai. Pelayan mulai menyusun piring dan menaruh set alat makan dengan rapi di atas meja.


Wu Xiao merasa sedikit heran dan bertanya, "Kenapa tempat ini begitu lenggang? Bukankah rumah makan ini adalah nomor satu di kota?"


Pelayan itu selesai dan segera berjongkok di bawah Wu Xiao sebelum menjawab dengan ringan, "Apa Tuan pendatang baru? Keadaan ibu kota sedang tidak aman karena pengambil alihan kekuasaan kerajaan secara tiba-tiba. Di tambah kebijakan menantu kaisar begitu menyulitkan rakyat dan akhirnya membuat beberapa turis menjadi kehilangan minat untuk mengunjungi Qiu Wang."


Wu Xiao mulai memainkan perannya. "Benarkah?! Lalu, bisa kau ceritakan bagaimana bisa semuanya terjadi? Kami baru saja tiba di sini dari Zhang Wu."


Pelayan itu sedikit gugup karena tiba-tiba disodorkan dengan pertanyaan sensitif seperti itu.


Melihat keraguan di wajahnya, Wu Xiao segera mengeluarkan uang perak dari kelepak bajunya membuat ekspresi pelayan itu sedikit terkejut.


"Berita ini terlalu sensitif jika ada prajurit yang mendengarnya kita semua akan dihukum mati detik itu juga," jawabnya dengan nada gugup yang canggung.


Wu Xiao menghela napas dan mengeluarkan dua uang perak lagi, mata pelayan itu berbinar terang. Ia berbicara sembari memasukkan kepingan perak ke dalam lengannya, "Ahaha tidak perlu repot-repot, Tuan, dengan senang hati saya ceritakan."


Pelayan itu menceritakan kabar burung yang beredar secara garis besar mulai dari awal kedatangan Liu Yu hingga hari pengumuman penggantian posisi kaisar dengan dalih Kaisar Wang yang jatuh sakit setelah mengetahui kabar bahwa Putri Ying berkhianat dan membunuh seluruh saudara Liu Yu.


Sang Kaisar meninggal diduga karena terkejut sekaligus syok mengetahui putri kesayangannya itu merencanakan kudeta pada keluarga calon suaminya, ditambah fakta kedua pangeran yang tiba-tiba menghilang setelah kematian sang kaisar.


Berita ini menyebar sangat cepat. Namun, rakyat menganggap bahwa Liu Yu hanya mengarang cerita fiksi untuk menguasai kerajaan.


Walaupun tidak sedikit juga yang berpihak pada Liu Yu. Kondisi ini menimbulkan keretakan masyarakat dan konflik sosial lain yang terus terjadi.


"Bagaimana mereka tiba-tiba menghilang?" Yiu memotong cerita.


Alis pelayan itu berkerut. "Menurut berita yang beredar keduanya sempat berdebat dengan Yang Mulia Liu Yu dan perdebatan tentang apa, tidak ada yang tahu pasti."


Ia berpikir sebentar sebelum melanjutkan, "Ada yang berkata tentang Yang Mulia yang berkhianat pada Qiu Wang dan ada juga yang mengatakan kedua pangeran itu adalah dalang di balik tragedi pembantaian keluarga Kerajaan Bai Qing Liu dengan menjadikan adik mereka sebagai boneka. Yang Mulia datang kemari untuk menyelesaikan skor dan akhirnya keduanya melarikan diri ke utara tetapi menuju kemana tidak ada yang tahu."


Tangan Wu Xiao diam-diam menggenggam tangan Yiu yang sudah mengepal di bawah meja, mencoba memasuki celah tangan Yiu agar gadis di sebelahnya ini tidak melukai tangannya sendiri.


Jemari kasarnya itu memasuki celah-celah jari Yiu dan menggenggamnya dengan erat sekaligus memberikan sinyal bahwa dia ada bersamanya sehingga ia tidak perlu khawatir atau takut.


Ekspresi keduanya masih tetap tenang seolah mereka sangat tertarik dengan cerita itu, seolah itu adalah dongeng kerajaan yang melegenda.


Jemari mereka saling bertautan menyalurkan perasaan kuat untuk Yiu. Wu Xiao merasa sudah jelas tentang semuanya dan berseru, "Baiklah kamu bisa kembali bekerja."


Pelayan itu bergegas pergi dan keduanya kemudian memakan hot pot yang berkaldu pedas dengan asap beraroma kuat rempah yang membumbung tinggi serta terdapat isian irisan daging sapi, ayam dan domba di sebelah tungku.


Yiu terdiam sejenak, merasa familiar dengan masakan ini. Kakaknya, Pangeran Huang sangat menyukai hidangan hot pot kuah pedas khas Shicuan ini. Pikiran-pikiran masa lalu berdatang terus-menerus seolah menyerang pikirannya yang kosong.


Terlalu terlarut dengan memori indah itu, Yiu secara tidak sengaja menjatuhkan sumpitnya, spontan Yiu menunduk untuk mengambilnya meski Wu Xiao sudah bereaksi cepat dengan meminta set sumpit baru.


Apa itu?


Yiu meraih sebuah liontin kecil berbentuk burung phoenix yang terlihat berkilau tersembunyi tergantung di kaki meja. Ia sedikit linglung dan memilih menunjukkannya pada Wu Xiao.


"Aku tahu mereka ada dimana!"


TBC


**Maafkan aku yang menghilang tiba-tiba karena aku sedang fokus dengan UTBK jadi tidak sempat mengurusi cerita hehe. Duibuqi, kedepannya mungkin seminggu sekali kok.😉


Terima kasih sudah mau bersabar. Kalian yang terbaik!♥**

__ADS_1


__ADS_2