
Pangeran Xiao Ce yang mendapat tatapan memohon dari Yiu akhirnya menggerakan kepalanya sedikit walau masih setia dengan wajah dinginnya.
Merasa mendapat persetujuan dari DaGe-nya Yiu menarik nafas dalam-dalam sebelum memulai membuka suara.
"Baiklah akan saya ceritakan. Saat itu saya baru saja kembali dari Kerajaan Zhang Wu kemudian malamnya saya tak sengaja melihat Permaisuri pingsan saat berbicara dengan Jenderal Rong saat itu keadaan Permaisuri sangat lemah hingga membutuhkan istirahat total selama beberapa hari kedepan, saat akan kembali menuju paviliun dahlia Jenderal Rong datang kemudian memberi tahu jika Pasukan Tian Lu akan menyerang istana diperkirakan akan tiba saat fajar dari arah tenggara-"
Yiu menunduk sembari mengambil nafas lebih dalam dari sebelumnya.
"Di situ saya merasa kebingungan karena saat itu Istana hanya ada saya dan Permaisuri dengan sedikit pasukan yang tersisa, akhirnya saya memutuskan untuk mengevakuasi penduduk sipil terlebih dahulu setelah itu meminta Jendral Rong untuk menanyakan kepada penduduk pria dewasa untuk sukarela ikut bertarung dengan prajurit lainnya. Saat itu saya tidak punya pilihan lain karena hampir semua perbatasan sudah di blokade Pasukan Tian Lu sehingga sangat sulit meminta bantuan dari luar, saya juga menugaskan pelayan kepercayaan saya untuk membawa Permaisuri melarikan diri ke Istana Musim Panas-"
"Saya juga meminta pelayan wanita untuk membuat bubuk cabai dan memanaskan air serta minyak untuk di lemparkan ke arah Pasukan Tian Lu dari atas gerbang sedangkan para tabib bertugas membuat ramuan yang dapat mencegah seseorang meninggal setelah menyetuh racun mematikan dari divisi racun, dan untuk racun di oleskan pada pedang para prajurit untuk mempermudah mereka mengalahkan Tian Lu dan membuat penawarnya untuk diminumkan pada prajurit agar tidak terpengaruh oleh racun tersebut sekaligus berusaha mengulur waktu selama mungkin."
Jenderal Yao, Jenderal Xuan maupun tamu kerajaan lainnya menatap takjub ke arah Yiu.
"Wah wah anda sungguh cerdas, Putri, saya baru sekali ini mendengar siasat seperti itu bahkan saya tak pernah memikirkan itu saat sedang berperang ... saya sangat kagum pada anda, Putri Ying."
Jendral Xuan bertepuk tangan sebentar di ikuti oleh semua orang yang duduk di meja tersebut kecuali Pangeran Xiao Ce yang masih dengan santainya menyeruput teh hangat di cangkirnya seakan tak perduli akan obrolan mereka dan juga jangan lupakan wajah dingin yang tengah berdamai untuk saat ini.
Jenderal Rong menyeka sudut mulutnya kemudian segera bersuara, wajahnya terlihat seperti sudah memendam sesuatu yang membingungkan terlalu lama hingga akhirnya memutuskan untuk menanyakannya secara langsung.
"Putri, saya juga ingin bertanya. Saat anda menyuruh saya mengumpulkan pria dewasa untuk bergabung dengan pasukan, anda menugaskan mereka yang tidak bisa menggunakan senjata untuk melemparkan sebuah kotak ke arah Pasukan Tian Lu dan saat mereka melemparkan benda itu terdengar suara ledakan yang cukup keras sebenarnya benda apa itu? Kenapa saya baru melihatnya?"
Yiu, "Ah itu mmm ... itu adalah kotak besi yang di dalamnya berisi bubuk khusus dan tali pelatuk yang apabila tali pelatuknya di tarik atau mendapatkan sebuah guncangan yang cukup kuat maka kotak itu akan meledak dengan sendirinya dalam beberapa jeda waktu."
"Apa nama benda itu? Siapa penciptanya? Apakah ada bubuk yang bisa meledak? Apa itu adalah bubuk ajaib, Putri?"
Pangeran Wu Xiao juga tak kalah mengambil giliran seperti yang lainnya karena ia juga melihat sendiri bagaimana cara kerja kotak berisi bubuk itu.
"Untuk nama saya belum memikirkannya. Yang jelas bubuk itu terbuat dari beberapa bahan herbal kimia dan setelah melakukan beberapa riset serta eksperimen akhirnya terciptalah bubuk yang memiliki daya ledak yang cukup untuk menjangkau hingga radius 1 li (500 kaki atau setengah km)."
Yiu mulai menunjukan senyumnya, ia semakin menikmati obrolan antara mereka hingga melupakan rasa takutnya pada Pangeran Xiao Ce.
"Putri Ying memang seorang yang Jenius, selain mahir berpedang ia juga pandai membuat siasat dan menciptakan barang-barang yang luar biasa ... sepertinya Kaisar Wang di masa lalu telah membuat bakti yang begitu luar biasa sehingga di kehidupan saat ini diberkati langit dengan kehadiran seorang Putri cerdas seperti Putri Ying yang sangat berbakat ini."
Jenderal Yao memuji Putri Ying hingga membuat Yiu tersipu malu di balik raut wajah tenang yang terpatri di wajahnya.
"Ya anda benar, Jenderal, Putri Ying memang bagaikan Dewi Sembilan Langit*."
*Dewi Sembilan Langit (feng shui) dewi perang, dewi kesuburan, dan dewi panjang umur.
"Aku setuju, Putri Ying memang titisan dari Dewi Sembilan Langit."
"Aku juga setuju dengan anda, Pangeran."
Suara Pangeran Huang di balas ucapan setuju dari ke-empat jendral yang berkumpul malam itu dan seisi ruangan yang mulai saling bersahutan.
"Kalian terlalu berlebihan." Yiu tersenyum sembari menundukkan kepalanya.
"Tidak, anda memang pantas mendapatkan gelar itu, Yang Terhormat Dewi Sembilan Langit," ucap Pangeran Wu Xiao membungkuk singkat setelah itu kembali meminum arak yang berada di cangkirnya.
Mereka melalui malam itu dengan obrolan-obrolan santai dan tak lupa menghabiskan sekendi arak untuk diri mereka sendiri hingga larut malam akibatnya mereka tumbang satu persatu.
Yiu yang tidak bisa meminum terlalu banyak arak segera meninggalkan aula kerajaan dan memilih untuk berkeliling sendirian menyusuri koridor istana menuju taman di barat kerajaan yang merupakan tempat favorit nya menikmati bintang.
Yiu melangkah menuju pohon apel yang menjulang tinggi di antara pohon-pohon lainnya.
Setelah memastikan keadaan sekitar aman Yiu segera menaikkan dan menggulung hanfu-nya dan bersiap menaiki pohon apel yang tidak terlalu tinggi itu.
Yiu memanjat pohon hingga akan mencapai dahan pohon yang dirasa kuat untuk menahan beban tubuhnya.
Tangan kanannya menggapai dahan itu dan tangan kirinya masih memeluk batang pohon sedangkan kaki kanannya dengan susah payah menggapai dahan pohon itu agar Yiu bisa segera duduk disana.
Namun, sebuah wajah tiba-tiba muncul dari kegelapan diantara daun-daun pohon dengan ekspresi senyum yang malah terlihat mengerikan, spontan Yiu terlonjak kaget dan secara tidak sadar melepaskan pelukannya di batang pohon.
Beruntung tangan kanannya masih berpegangan pada dahan itu, Yiu mencoba menetralkan detak jantungnya. Maniknya perlahan kembali melirik wajah itu yang ternyata sudah meledakkan tawanya.
__ADS_1
"Wu Xiao? Sialan kau!" Yiu merutuk ditengah acara bergelantungnya.
"Ahahaha lihatlah wajahmu sekarang ini, Ying. Ahahahaha," tawa Pangeran Wu Xiao masih meledak dibarengi dengan tangannya yang terukur untuk membantu Yiu naik.
"Pegang pundakku cepat! Atau kau ingin jatuh saja? Terserah padamu sih," ucap Pangeran Wu Xiao sembari memegang tangan kiri Yiu.
Yiu tak punya pilihan lain sehingga segera memeluk leher Wu Xiao tapi akibat badan Wu Xiao yang terlalu mencondong ke depan sehingga keduanya jatuh bersamaan dengan suara 'gedebuk' yang cukup keras.
Keduanya jatuh bersamaan dengan posisi saling berpelukan dan tubuh Wu Xiao yang menghantam tanah lebih dulu dengan Yiu yang berada di atasnya. Keduanya terdiam diposisi saling menatap dan berpelukan untuk beberapa saat sebelum akhirnya Wu Xiao bersuara terlebih dahulu.
'"Astaga pinggang berhargaku ... aaaa tulang rusukku patah ah kerenamu tulangku patah! Kau harus mengganti tulang rusukku yang patah dengan tulang rusukmu ah sakit sekali."
AN: idiomnya tahu sendirilah ya.
Yiu yang mendengar ocehan gila dari pria gila di hadapannya itu segera menyingkir dari atas tubuhnya setelah itu memeriksa apakah ada tulang yang patah.
Mengetahui tidak ada yang patah sama sekali, Yiu segera menjitak kepala Wu Xiao yang masih menggeleng kesakitan di tanah.
"Tidak usah bersandiwara, ayo ku antar menemui tabib," ucap Yiu sembari menarik tubuh gajah Wu Xiao dan memapahnya.
"Kau ini kenapa bisa tiba-tiba ada di pohon? Kau membuatku terkejut!"
Pangeran Wu Xiao terkekeh, "Aku sudah dari tadi berada di pohon itu. Awalnya aku ingin menyapamu tapi kau malah terkejut dan membuat kita jatuh."
Yiu menghela napas, "Kau sepertinya sangat bebas di istana ini. Memangnya kau pemilik istana ini?"
Wu Xiao menjawab dengan santai, "Aku sebelum kau lahir sudah sering bermain di sini bersama kedua kakakmu, Jadi kau tahu sendiri kelanjutannya."
♣♦♣
Keesokan harinya. Satu persatu sekutu kembali ke Kerajaan mereka masing-masing.
Yiu yang baru saja mengantar kepulangan mereka bersama kedua pangeran kembali menuju paviliun miliknya untuk beristirahat sebentar.
Sebuah suara datar nan halus membuat Yiu menghentikan langkahnya yang cepat dengan tiba-tiba.
Ia kenal betul suara dingin yang khas itu, jantungnya berdegup kencang dan rasa takut perlahan menjalar ke seluruh tubuhnya.
Yiu menghembuskan nafas kasar mencoba bersikap tenang lalu membalik tubuhnya menghadap arah suara.
"Ikut aku sebentar. Kau juga, Huang."
Pangeran Huang yang sedari tadi berdiri di tempatnya menoleh ke arah Pangeran Xiao Ce dan beralih ke arah Yiu yang wajahnya sudah mulai memucat sebelum mengangguk dan mengikuti langkah Pangeran Xiao Ce.
Mereka akhirnya sampai di taman dengan meja bundar dan kursi sejumlah lima buah berada di tengah taman bunga Peony berwarna putih, pink, dan ungu yang menghampar luas.
Yiu duduk diantara Pangeran Huang dan Pangeran Xiao Ce. Yiu menduga jika Pangeran Xiao Ce akan memarahi atau menghukumnya karena telah melanggar janjinya untuk tidak menggunakan pedang lagi.
Walau wajahnya setenang air seolah ia tak takut apapun tapi keringat dingin mengucur deras di tubuhnya.
Ia merasa aneh, saat bekerja di Angkatan Darat ia tak pernah sekalipun takut akan seseorang maupun kematian sampai seperti ini tapi mengapa saat ia melihat wajah dingin Pangeran Xiao Ce keberaniannya mendadak berubah menjadi ketakutan yang teramat sangat.
Apakah bagi Putri Ying Pangeran Xiao Ce sangat menakutkan?
Masih setia dengan suara dinginnya, Pangeran Xiao Ce berbicara sembari melirik kedua adiknya, "Aku ingin mendiskusikan tentang beberapa hal dengan kalian."
"Keadaan Ayah dan Ibu sedang tidak memungkinkan untuk memimpin Kerajaan selama beberapa bulan ke depan sehingga aku akan sementara mengurusi urusan kerajaan."
"Apakah DaGe akan mengurusi ini sendirian? Aku bisa membantu DaGe jika perlu," ucap Pangeran Huang yang membuat dahi Pangeran Xiao Ce berkerut.
Terdiam sebentar, akhirnya Pangeran Xiao Ce membuka mulutnya, "Aku bisa mengurusi urusan Kerajaan sendiri, aku sudah terbiasa akan hal itu namun kau bisa tetap membantuku. Aku berencana menempatkanmu di menara pengawas dengan Jendral Rong ... kau bisa mengawasi keamanan di seluruh wilayah Kerajaan di Balai Pengawasan Nanjing."
"Baiklah DaGe aku menerimanya tapi bagaimana dengan meimei?"
Yiu yang sudah bernafas lega akibat tidak jadi mendapat amukan dari Pangeran Xiao Ce kembali terkejut akibat ucapan Pangeran Huang.
__ADS_1
"Untuk A-Ying, dia akan mengurusi urusan harem istana sementara waktu."
Sekali lagi Yiu bernafas lega.
"Baiklah DaGe, apa masih ada yang lain untuk dibicarakan ge?"
"Tidak," ucap Pangeran Xiao Ce datar.
"Baiklah kalau begitu aku akan bersiap siap untuk pergi ke Nanjing."
Pangeran Huang berdiri dan membungkuk memberi hormat kepada Pangeran Xiao Ce. Yiu yang melihat Pangeran Huang hendak pergi juga segera berdiri dan memberi hormat bersama Pangeran Huang.
"Tunggu ...."
Saat akan berbalik, tiba-tiba suara Pangeran Xiao Ce membuat mereka membalik badan lagi.
"Ada apa Ge?" tanya Pangeran Huang.
Tak menghiraukan ucapan Pangeran Huang, Pangeran Xiao Ce menatap tajam ke arah Yiu yang sudah entah sejak kapan membeku layaknya patung.
"Untuk Putri Ying ... kau sudah tahu apa kesalahanmu?"
"A ... aku ... tahu," Yiu menundukan kepalanya.
"Huang kau boleh pergi," ucap Pangeran Xiao Ce.
"Tidak ge, saat itu keadaannya sangat genting dan mendesak. A-Ying tak punya pilihan lain saat itu, lagipula itu semua salahku harusnya aku datang lebih cepat sehingga A-Ying tak perlu bertarung dengan musuh. Maafkan dia, Ge," bujuk Pangeran Huang.
Mendapat itu, Yiu mendapat kembali keberaniannya untuk mengangkat kepalanya lalu mengangguk menyetujui ucapan Pangeran Huang.
Pangeran Xiao Ce menunduk, "Kalian tidak salah ... aku yang salah karena tidak bisa melindung kalian berdua dan salahku juga tak bisa melindungi ayah ibu."
Yiu dan Pangeran Huang menatap tak percaya ke arah Pangeran Xiao Ce.
"Aku yang salah ... karena aku kalian berdua terluka dan A-Ying harus menghadapi situasi seperti itu sendirian ... semua salahku maafkan aku," ucap Pangeran Xiao Ce serak.
Yiu, "Tidak DaGe, tidak ada yang bersalah dalam masalah ini jadi mari kita anggap ini semua hanya angin lalu dan mari kita bangun kembali QiuWang bersama-sama."
Yiu tersenyum manis, ia menyangka akan kena hukuman tapi siapa sangka jika yang terjadi diluar dugaannya.
Pangeran Xiao Ce menatap kedua adiknya dan tersenyum sedikit.
"Terima kasih."
♣♦♣
Satu minggu kemudian ...
Yiu sedang berjalan berkeliling istana untuk menjalankan tugasnya sehari-hari sebagai pengawas harem, yaitu mengawasi keadaan istana supaya tetap terkendali.
Sembari berjalan ia terus memikirkan Pangeran Huang yang berada di Nanjing selama 3 bulan ke depan. Ia merasa kesepian karena tidak ada lagi yang bisa ia ajak bercanda selain Chichi.
Biasanya jika ia sedang bosan ia akan menyamar menjadi prajurit dan mengikuti kelas memanah Pangeran Huang.
Yui tersenyum saat sebuah ide muncul di benaknya, "Kenapa aku tidak menyusul Huang Ge ke Nanjing saja? Ah tapi pasti Xiao Ge tak akan mengijinkanku pergi ... ahh aku akan pergi diam-diam, lagipula hanya perlu waktu setengah hari saja untuk ke sana dengan berkuda."
"Tapi bagaimana kalau Huang Ge marah nantinya? Ahh masa bodo aku bisa beralasan apa saja," racau Yiu.
Kau pintar juga Yiu. Jadi mari jalankan rencananya.
TBC
Chapter terbanyak dari sebelumnya hoho... 2100 kata huft..
Janga lupa jejaknya ya makasih:*
__ADS_1